Cari Blog Ini

Minggu, 05 Maret 2017

Diklat Kesamaptaan Bea Cukai (III)

Latihan di Cihampea

Saat pekan-pekan pasca minggar, siswa samapta sebenarnya menjalani tiga macam latihan, yang tujuannya adalah untuk atraksi penutupan samapta. Umumnya ada tiga macam latihan, sesuai dengan tiga macam atraksi yang akan ditampilkan saat penutupan, yakni kolone senjata, baris berbaris, dan bela diri. Pada angkatan penulis, baris-berbaris digantikan dengan senam senjata. Nah, saat pecan-pekan pasca minggar, seluruh siswa samapta mengikuti seluruh jenis latihan. Sampai tiba saatnya latihan outdoor di luar kota, tepatnya di daerah Cihampea, kompleks latihan TNI. Bagi siswa samapta yang hidupnya sehari-hari di pusdiklat tanpa boleh keluar kompleks pusdiklat, latihan di Cihampea serasa outbond yang menyegarkan (meski tetap melelahkan).

Tujuan utama latihan di Cihampea adalah latihan menembak dengan peluru beneran, bukan sekedar membawa senapan ke sana kemari, sekaligus latihan scenario peperangan (bagi kami seperti latihan perang-perangan yang lebih nyata dibandingkan main perang-perangan jaman kecil dulu). Di Cihampea, para siswa tidur di tenda panjang, di tengah lapangan. Dan mengingat lokasi Cihampea berada sekian ratus meter di atas permukaan laut, suhunya sangat dingin, kontras dengan saat di Jakarta. Untung saat penulis di sana, pas nggak hujan sama sekali. Jadi relatif aman. (Beda dengan saat minggar, di mana saat tidur di kuburan, sering hujan hingga basah jkuyup tanpa ada tempat berteduh. Dan itu sampai pagi, sampai besoknya lagi sampai minggar usai, baju itu dipakai terus. Jadi baju itu akan dimulai dari kering, lalu basah, sampai kering lagi, sampai basah lagi). Kalau pas di Cihampea, bawa baju ganti juga kok. Berdoa aja supaya nggak hujan.

Saat latihan menembak di sana, siswa menggunakan senapan SBC buatan PT Pindad, varian dari SS1 v5 yang tidak digunakan oleh TNI, dan akhirnya menjadi senapan organik di DJBC. Dengan bobot lebih ringan dari senapan velmet yang sehari-hari dipegang, SBC sebenarnya merupakan senapan yang bagus akurasinya, namun agak sering macet (entah karena yang dipakai ini memang sudah berkali-kali digunakan saat latihan dan perawatannya kurang sehingga kurang optimal).

Teori menembak dengan senjata laras panjang akan diajarkan pada saat fase satu, tapi saat memegang senapan beneran di lapangan, biasanya siswa akan lupa teori, sehingga menembaknya pun sekenanya . . . atau lebih buruk lagi, nggak kena sasaran.

Selain latihan menembak, beberapa siswa akan menembak bersamaan, berjajar ke samping (sekitar 8-10 siswa kalau tidak salah), dengan sasaran yag diletakkan sekitar 50 meter (kalau tidak salah). Siswa akan diberi tiga peluru percobaan, dan 10 peluru penilaian. Saat menembak, seringkali para siswa hilang fokus karena mendengar letusan senapan kawan di kanan-kirinya, lalu terbawa emosi dan langsung menembak tanpa membidik. NaH, ini haram hukumnya. Karena bukan adu cepat, melainkan adu akurat, maka jangan keburu menembak hanya karena kawan yang lain udah nembak duluan. Tetap fokus, bidik, tahan nafas, lalu perlahan tekan pelatuknya. Kalaupun nggak kena lingkaran yang di tengah (10 poin), paling tidak jangan sampai pelurunya ngga ada satupun yang kena sasaran. Malu. Dan dihukum. Untuk tiap kloter, siswa dengan poin terendah akan dihukum dua kali. Pertama, setelah perhitungan poin, akan disuruh menggendong pelatih kembali ke titik semula (50 meter). Kedua, dua orang dengan poin terendah akan disuruh mengenakan daster dan topeng (wajah monyet). Memang Cuma sebentar, setidaknya sampai ada siswa dari kloter berikutnya yang mendapat nilai terendah (pasti ada), tapi setidaknya jangan sampai dapat nol, alias samasekali nggak kena sasaran. Itu aib bagi siswa samapta.

Selain latihan menembak, biasanya akan ada kegiatan penjelajahan sekaligus tes materi membaca peta. Penulis dulu mengalami 3 kali penjelajahan. Yang pertama, sore-sore, menjelajahi area jalan kampong. Kedua, menjelajah area hutan dan bukit (ada materi turun bukit menggunakan tali; kalau ini, beneran asyik banget meskipun jauh dan capek), serta ada penjelajahan yang dibikin scenario. Jadi semacam main perang-perangan. Kita disuruh memakai kamuflase, bergerak dari satu titik ke titik lain, lalu seolah latihan berperang dengan segala cara. Mulai dari menggunakan senapan, lalu saat senapan kehabisan peluru maka senapan kosong itu dijadikan senjata, lalu beladiri tangan kosong. Seru tapi capek.

Oh ya, ada juga jelajah malam. Kalau ini sudah jelas, dilakukan di malam hari. Rutenya melewati hutan, lebih dekat disbanding rute penjelahahan yang lain. Tapi bedanya, kali ini jalan sendiri-sendiri (kalau yang lain tadi berkelompok). Bagi penulis sih biasa aja, tapi pasti aka nada beberapa siswa yang takut  gelap (ditambah hantu-hantuan bikinan pelatih), maka pasti akan ada teriakan-teriakan ketakutan di tengah malam. Seru.

Pasca Cihampea

Sepulangnya dari Cihampea, maka samapta akan terasa ringan. Sebenarnya bukan karena kegiatannya lebih ringan, tapi lebih karena fisik yang sudah terbiasa. Kalau di hari pertama sapamta, besok paginya badan akan terasa sangat kaku, pegal tak karuan karena badan kaget dengan intensitas kegiatan fisik yang meningkat pesat, maka setelah Cihampea, tubuh mulai terbiasa sehingga rasanya lebih ringan. Kegiatan fisik sih sebenarnya sama saja, nggak berbeda. Cuma porsi latihan yang berbeda. Biasanya pada fase ini, para siswa sudah dikelompokkan sesuai dengan atraksi apa yang akan ditampilkan. Yang tampil bagus saat latihan bela diri akan masuk skuad bela diri, yang bagus saat kolone senjata, akan tampil saat kolone, dan seterusnya. Kalau penulis sih, ikut bela diri. Mengapa? Karena latihannya lebih ringan, TIDAK PERLU BAWA SENAPAN. Hahahaha
Pekan-pekan terakhir begini biasanya siswa sudah dilanda kebosanan. Jadi pandai-pandailah menjaga mood. Kalau fisik, sudah hamper nggak ada yang dikuatirkan sih.

Penutupan

Puncak dari rangkaian Diklat Kesamaptaan adalah penutupan. Ini yang ditunggu-tunggu oleh para siswa (karena pasca penutupan sudah bisa kembali hidup normal). Bagi penulis, inti dari penutupan adalah sebisa mungkin tampil sempurna sesuai peran yang dijalankan. Jangan sampai kan, sudah latihan berminggu-minggu eh pas penutupan, elek-elekan. Kan sia-sia. Jadi fokuslah, karena kebebasan telah menanti di depan mata. Hehehe

Hikmah Samapta

Ada kawan penulis yang setelah menjalani samapta, bawaannya ngomel melulu. Dia mengatakan bahwa samapta ini nggak ada gunanya, hanya acara penyiksaan aja, sama seperti ospek tapi lebih terorganisir dan terencana. Dia berargumen bahwa okelah untuk yang tugasnya patrol laut, memang perlu. Tapi yang di kantor nggak perlu, karena ilmunya nggak relevan. Benarkah demikian?
Mari kita tilik pernyataan tersebut.

Saat samapta, kita diajari menggunakan senapan, bela diri (tangan kosong maupun dengan senapan), cara memarkir helicopter (kode pendaratan dll), ilmu P3K dasar, ilmu membaca peta, baris-barbaris, peraturan penghormatan, upacara, dan peraturan urusan dinas dalam dan sebagainya. Kita nggak diajarin caranya bikin presentasi, cara ilmu komunikasi dengan pengguna jasa, atau ilmu teknis Kepabeanan dan Cukai lainnya. Tapi bukan berarti nggak berguna. Tata cara penghormatan, baris berbaris dan PUDD berguna untuk menumbuhkan sikap tegas, lugas, tepat waktu serta menghormati senior (dalam artian siapapun yang pangkatnya lebih tinggi, ataupun yang lebih tua usianya, atau siapapun yang berada di kantor itu lebih awal dari kita). Ini adalah bagian dari komunikasi non-verbal di lingkungan DJBC. Semi militer memang, agak kaku memang, tapi inilah budaya kita. Senior kita, baik yang sudah menjadi pimpinan maupun tidak, juga mengalami ini. Ini budaya yang baik, bukan budaya balas dendam ala ospek yang tidak ada hasilnya. Sikap khas orang DJBC ini sudah diakui oleh saudara-saudara kita yang lain di Kemenkeu, bahkan saudara di Direktorat Jenderal Pajak juga meniru Samapta kita (judulnya DTU, DIklat Teknis Umum) meski tidak selama dan seintens samaptanya orang BC. Karena mereka menyadari, ada yang kurang dari sikap para pegawai DJP, bukan tentang kompetensi teknis, melainkan lebih ke soft competency. Dan kemampuan untuk peduli dan menghormati orang lain, itu tidak buruk, bukan?

Selain itu, samapta juga mengajarkan kita untuk menjaga ‘kelurusan’ rekan kita. Saat samapta, ketika satu orang salah, maka semua akan dihukum. Demi mencegah hukuman bersama, maka para siswa akan terbiasa untuk saling mengingatkan. Eh jangan lupa atribut, eh jangan salah menjalankan perintah, eh jangan telat barisnya, biar tidak dihukum semua. Sadar atau tidak, saat di dunia kerja, ketika ada satu pegawai yang salah, maka seluruh instansi itu akan kena dampaknya. Contoh nyata adalah kasus Gayus. Satu pegawai DJP yang salah, tapi seluruh pegawai DJP yang lain (bahkan se-Kemenkeu, termasuk anak STAN yang masih kuliah), akan mendapat imej negative darei masyarakat. BIsa jadi, ketika kita tidak peduli dengan apa yang dilakukan rekan kita, hal itu akan membawa dampak negative yang orang lain tidak akan mau tahu, mereka tahunya pegawai kemenkeu salah. Maka citra seluruh pegawai kemenkeu yang kena. Tentu kita tidak mengharapkan hal ini, bukan? Makanya kita harus peduli untuk saling mengingatkan, jangan sampai ada rekan yang salah dan dibiarkan, agar tak sampai merusak seluruh jajaran pegawai Kemenkeu (dan PNS pada umumnya juga sih). Tau sendiri, imej PNS secara umum sudah tidak terlalu bagus, apalagi ditambah kalau ada oknum yang salah, akan tambah parah.

Hukuman saat samapta, menurut penulis, juga merupakan hal yang penuh hikmah sebenarnya. Misalnya, Stealing (tidak tahu penulisannya bagaimana, yang jelas terdengar seperti ini). Merupakan kondisi di mana siswa samapta diharuskan untuk berkumpul di satu lokasi yang telah ditentukan, dengan atribut lengkap. Ya seragam, senapan, tas dan sebagainya. Kegiatan ini ditujukan untuk memupuk jiwa siap siaga saat bahaya menyerang. Misal saat siswa nantinya menjadi anggota kapal patroli, lalu dalam sekejap muncul sasaran yang harus langsung dikejar. Tanpa ba bi bu, harus siap mempersiapkan segalanya. Makan komando juga begitu. Kata pelatih, saat kondisi darurat (misalnya, perang, naudzubillah. Atau saat patrol dan tiba-tiba muncul target sasaran operasi), tidak ada waktu bersantai-santai, bahkan saat makan pun harus cepat-cepat. Maka dalam waktu sesingkat mungkin, kita harus sebanyak mungkin memasukkan makanan sebagai sumber energi tubuh. Intinya harus selalu siaga.

Hukuman lain, misalnya, saat hujan deras dan tidak ada tempat berlindung, atau saat panas terik disuruh berguling-guling di lapangan tanpa baju, bagi penulis akan memunculkan sifat tidak manja. Penulis sendiri, tidak akan bilang kehujanan kalau belum basah kuyup seperti saat tidur di kuburan dan kehujanan beberapa jam, dan harus tidur dengan kondisi basah kuyup. Kalau kondisinya nggak separah itu, penulis Cuma akan bilang kena gerimis, bukan kehujanan. Dan kalau belum kena aspal di siang hari tanpa pakai baju, itu nggak masalah. Jadi nggak ada alasan tidak mengerjakan sesuatu yang darurat hanya karena cuaca hujan atau panas, karena batasan kehujanan dan kepanasan yang paling parah pernah dialami saat samapta. Kalau sudah pernah mengalami kondisi setidakenak itu, maka kondisi sehari-hari di pekerjaan tentu tak akan seburuk itu, kan?

Intinya, Samapta itu memperkuat mental kita supaya nggak cengeng aja. DIkit-dikit ngeluh, dikit-dikit manja, macam nggak pernah samapta aja :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberi kritik, saran, usulan atau respon lain agar blog saya yang masih amatir ini bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi :)

Nuwus . . .