Jangan Lupakan Gaza

Gaza diserang selama Ramadhan. Dunia internasional tak sedikit yang mengecam. Namun setelah beberapa hari, berita tentang Gaza sudah mereda. Warga dunia lebih banyak yang disibukkan dengan hebohnya piala dunia. Masih adakah yang peduli dengan Gaza?

Dan jawabannya, tentu saja masih ada. Salah satunya adalah umat muslim di DJBC. Sebagai bentuk kepedulian sesama muslim, warga DJBC berhasil mengumpulkan dana untuk Gaza pada saat kegiatan buka puasa bersama Dirjen, 11 Juli lalu. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui KISPA, sebagai salah satu partner tetap DJBC (Ustadz Ferry Nur, Ketua KISPA secara rutin mengisi ceramah di MBT KPDJBC).

buka bersama dengan tema "save Gaza"

penyerahan secara simbolis bantuan dari DJBC (diwakili oleh Bapak Abdurrahman sebagai Ketua Panitia Bright Ramadhan) kepada Gaza melalui perwakilan dari KISPA

Tidak hanya umat muslim DJBC. Masih ada lagi sebuah komunitas yang juga sangat peduli dengan Gaza. Pada salah satu malam iktikaf kemarin (19 Juli 2014), Yayasan Sedekah Harian (salah satu yayasan yang ikut meramaikan MBT KP DJBC saat iktikaf 10 hari terakhir Ramadhan kemarin) juga berhasil mengumpulkan dana untuk disumbangkan ke Palestina, diserahkan melalui Bulan Sabit Merah Indonesia. BSMI sendiri memiliki program untuk menyekolahkan anak-anak Gaza agar mereka nanti kembali ke Gaza dengan ilmu yang mumpuni, salah satunya adalah Abderrahman. Yang mendapatkan beasiswa kedokteran di salah satu universitas di Jakarta. BSMI mengajak serta Abderrahman dalam kegiatan ini, karena sebagai warga Gaza asli, kesaksiannya tentu lebih memiliki makna bagi jama'ah jika dibandingkan dengan sekedar apa yang disiarkan oleh media massa. Abderrahman yang sudah cukup lancar berbicara dalam Bahasa Indonesia pun berkisah tentang keseharian mereka di Gaza.
penyerahan bantuan secara simbolis bantuan dari Yayasan Sedekah Harian kepada Gaza melalui perkawilan BSMI
Para jama'ah iktikaf terkesima, sangat khidmat mendengarkan tuturan dari seorang warga Gaza, meski sedikit terbata-bata ia berbicara. Para jama'ah seolah terhipnotis, meski waktu sudah mendekati pukul 12 malam namun mereka masih antusias mendengar cerita dari Gaza. Para jama'ah takjub, melihat semangat juang seorang pemuda Palestina, yang meninggalkan tanah airnya bukan karena tak cinta, namun demi menuntut ilmu agar ia dapat kembali pulang ke sana dengan ilmu dan keahlian yang sangat dibutuhkan warganya.Dalam hati banyak jama'ah yang merasa malu, karena masih setengah-setangah beribadah dan menuntut ilmu, padahal begitu banyak nikmat Allah pada mereka, dan mereka tidak harus didera perang berkepanjangan.
suara dari Gaza, asli warga Gaza, jadi bukan "katanya", tapi memang kesaksian nyata
Abderrahman meminta kepada kaum muslimin, bantulah Gaza dengan doa, dan dengan dana. Untuk urusan jihad, 'biar kami yang tangani sendiri'. Jangan hanya membantu Gaza saat sedang diserang Israel dan terekspos di media, namun Gaza memerlukan bantuan setiap waktu, setiap hari karena setiap terjadi serangan Israel, kerusakan yang ditimbulkan sangatlah besar dan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk re-recovery segalanya. Selain itu, anak-anak Gaza butuh penanggulangan psikis, karena pengalama traumatis yang dirasakan setiap kali terjadi serangan. Bayangkan saja, kalau setiap hari kita mendengar ledakan bom, bangunan runtuh, tangisan korban, juga melihat orang-orang di sekitar kita ditembaki, dan diserang, juga rumah-rumah, masjid, sekolah, dan rumah sakit dihancurkan. Siapa yang tidak tertekan coba, dengan keadaan seperti itu. Sementara kita enak-enakan bersantai, saudara-saudara kita di sana dibantai. Kalau masih punya hati nurani (bukan partai), harusnya kita tergerak untuk membantu mereka. Kalau masih punya hati . . .
Abderrahman dan rekan dari BSMI

Komentar