Cari Blog Ini

Kamis, 23 Mei 2013

Belajar dari Orang-orang Nyebelin


Pernah nggak, ketika kita berangkat ke kantor mengendarai kuda poni putih seperti pangeran kesiangan kendaraan masing-masing dari rumah atau kosan,  trus ketika lewat jalan sempit, eh ada pejalan kaki yang jalannya rame-rame, bergerombol, gak di pinggir lagi, nutup-nutupin jalan gitu deh. Pernah nggak? Atau mungkin, di lain kesempatan kita lagi jalan di pinggir trotoar ketika cuaca habis hujan, trus dengan tanpa kita sadari, ada mobil yang melaju di jalan raya samping trotoar tadi, dan dengan kecepatan tinggi melibas genangan air di jalan sehingga kita kebasahan gitu, pernah nggak?
Di lain waktu, kita lagi di kelas pas kuliah, diklat atau seminar, eh narasumbernya kok ngebetein banget, ngomong kayak berkumur-kumur, kasih tugas aneh-aneh, bete banget nggak tuh? Trus di lain kesempatan, ketika kita lagi presentasi atau mengajar (barangkali ada yang punya murid les), eh kok pendengarnya pada nggak merhatiin, pada sibuk semaunya sendiri gitu, sebel banget kan?
Mungkin pernah juga, kita kena damprat atasan gara-gara ngerjain suatu tugas yang sebenarnya, sudah benar, tapi ternyata keinginan atasan yang nggak seperti itu, dan dia nggak mengungkapkan dengan jelas. Tau-tau ngedamprat aja gitu, keki banget nggak tuh? Trus pada satu kesempatan, ketika kita jadi leader sebuah tim pas ngerjain suatu tugas, eh ada aja anak buah yang kerjanya nggak becus-becus, salah mulu, padahal udah diingetin berkali-kali. Parah banget kan ya?
Oke, cukup pembukanya, karena kalau ditambah lagi, mungkin sebagian besar pembaca akan menutup tab ini karena dikira saya habis mengalami itu semua dan tiba-tiba blog ini jadi ajang curhat pribadi saya (lha emang selama ini enggak ya?). Sebagai klarifikasi, pembuka yang seperti sesi curhat tadi, hanya imajinasi saya sebenarnya, meski mungkin saya juga pernah mengalami yang serupa itu. Anyway. Saya yakin bahwa pembaca sekalian hampir pasti pernah mengalami satu atau dua macam kejadian nyebelin kayak tadi. Ya kan?
Nah, terus apa coba hubungannya dengan judul postingan kali ini? Emangnya ada pelajaran yang bisa diambil dari orang-orang nyebelin tadi?
Tentu ada, kalau kita nggak terlalu sibuk menggerutu ketika dihadapkan pada situasi macam itu. Saya termasuk orang yang yakin bahwa ada hikmah di balik semua peristiwa, dan tentu saja ada sebab peristiwa itu terjadi. Sayangnya, seringkali kita terlalu sibuk mengeluh, mengomel, menggerutu, marah, sedih, dan memunculkan seabrek jenis emosi negatif lainnya. Akibatnya, nggak ada hikmah yang kita sempat lihat. Padahal, dari kejadian nyebelin macam tadi, ada beberapa hikmah yang bisa diambil, setidaknya menurut penulis. Dan bukannya sotoy atau copas tulisan orang, penulis sudah mempraktekan hal ini ketika dihadapkan pada berbagai situasi meski sering gagal juga sih. Jadi tulisan ini lumayan berbobot lah, itung itung sebagai rujukan buat nulis skripsi tambahan untuk ngehabisin kuota internet :p
Monggo dibaca . . . .

  • Coba kita lihat diri kita dulu. Jangan-jangan ada yang salah dengan kita, sehingga orang lain bersikap nyebelin ke kita. Barangkali cara kita mengajar/presentasi terlalu monoton sehingga audiences terbius dalam kantuk? Mungkin juga kita terlewat ketika mendengar instruksi atasan, sehingga kita melewatkan hal penting yang membuat atasan marah? Atau kita pula yang menjelaskan dengan tidak jelas pada bawahan, sehingga dia melakukan kesalahan? Ayo, kita coba cek dulu diri kita sehingga mengurangi peluang su’u dzon pada orang lain...
  • Coba ingat-ingat masa lalu. Barangkali, kita pernah membikin jengkel orang lain, sehingga pada kesempatan ini kita yang ‘dibalas’ secara tidak langsung, melalui cara yang sama dengan yang pernah kita lakukan ke orang lain. Mungkin tanpa sengaja, ketika musim hujan tahun lalu kita pernah mengendarai kendaraan dengan agak ngawur sehingga ‘membasahi’ pengguna jalan yang ada di trotoar. Mungkin kita dulu seringkali nggak memperhatikan guru/dosen ketika mereka mengajar, sehingga ketika kita presentasi di hadapan orang lain, kok kita jadi dianggap seperti radio rusak alias nggak didengerin. Mungkin saja, ketika kita berbuat buruk ke orang lain, ‘korban’ kita mendoakan kita agar mendapat balasan setimpal, dan doanya diijabahi oleh Allah? Siapa tahu kan? Bukankah doa orang yang didzalimi itu termasuk doa yang diijabahi oleh Allah? Dan Bukankah setiap perbuatan akan mendapatkan balasan setimpal, entah di dunia atau di hari akhir kelak?
  • Mungkin saja, hal ini memang murni cobaan dari Allah untuk kita. Barangkali ini bukan ‘balasan dunia’ atas perbuatan kita di masa lalu, bukan pula akibat kesalahan kita pada orang lain tersebut, namun memang ‘murni’, hanya merupakan cobaan semata bagi kita. So? Stay cool aja, hadapi dengan tenang. Bukankah setiap cobaan pasti sesuai dengan kemampuan kita? Masa diuji dengan cobaan-cobaan sepele kayak tadi aja, kita udah melemah? Malu dong!
  • Barangkali, kejadian ini cuma merupakan ‘contoh’ bagi kita. Bahwa kalau kita bersikap seenaknya tuh, orang lain nggak bakal suka. Atasan yang suka nyalahin bawahan tuh, pasti deh digunjingin sama bawahannya, termasuk kita mungkin. Maka, kita harus ingat, ketika jadi atasan nanti, janganlah kita berbuat seperti atasan yang nyebelin tadi. Pengguna jalan yang sok-sokan tuh, pasti dibenci sama pengguna jalan yang lain, termasuk kita. Maka ketika kita berkendara nanti, janganlah sok-sokan dan meremehkan pengguna jalan lain yang juga berhak menggunakan jalan itu dengan nyaman. Audience yang nggak merhatiin pembicara tuh, ternyata bener-bener bikin dongkol sang pemateri, termasuk kita mungkin. Maka ketika jadi audience nanti, jadilah audience yang aktif dan nggak cuman tidur doang. Kalau ada contoh yang buruk, ya sudah, jangan dicontoh. Ya kan?
Being bad guy isn’t good, Guys. So let we be the good guys instead :)

Jumat, 17 Mei 2013

Khotbah Jumat: Tamu Kaget


“... Mati itu seperti tamu, kita nggak tahu kapan datangnya, yang penting adalah kita sudah menyiapkan ‘suguhannya’ ketika tamu itu datang...”

Itulah sepenggal kalimat dari khutbah Jumat tadi siang. Khutbahnya sederhana dan banyak diulang-ulang, intinya adalah bahwa kematian itu pasti datang pada kita. Sebagaimana firman Allah SWT: 

...Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati... (QS Ali-Imran ayat 185)

Sejauh apapun kita lari, yang namanya ajal pasti akan menyambut kita. Sehebat apapun dokter yang merawat kita ketika sakit, kalau sudah jadwalnya tertulis mati ya mati. Pun sebaliknya, sedekat apapun kita dengan maut, ketika kita mengalami suatu musibah, atau penyakit yang demikian kronisnya, kalau belum waktunya mati, ya kita nggak bakal mati. Malaikat Izrail gak bakal salah nyabut nyawa, kok. 

...Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditetapkan waktunya... (QS Ali-Imran ayat 145)

Tapi ya itu tadi, kita nggak tahu kapan datangnya kematian itu. Agak mirip sama tamu lah, kan kadang ada aja tuh, tamu kaget, alias tamu yang tiba-tiba datang tanpa diundang pulang tak diantar. Jadinya, ya klita sebagai orang yang akan didatangi ‘tamu’ itu ya harus bersiap-siap dengan ‘suguhan’ untuk menyambut tamu itu. Kan dalam Islam, kita diwajibkan untuk memuliakan tamu?!
Cuma ya tentu saja, suguhan untuk ‘tamu kaget’ yang satu ini beda dengan suguhan untuk tamu pada umumnya. Bukan ketupat sayur dan aneka kue seperti suguhan lebaran tentunya, melainkan amal ibadah dan stok pahala yang dapat memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak, tentunya.

Maka dari itu, mengingat ‘tamu’ kita ini bisa datang tanpa diduga, yuk kita sama-sama menyiapkan ‘suguhan’nya ^_^