Cari Blog Ini

Jumat, 08 Maret 2013

Papua Itu Indah

Pada tanggal 4-7 Maret kemarin, penulis mendapat sebuah kesempatan langka untuk menjalani DL (Dinas Luar) ke Jayapura. Penulis dan rekan-rekan (maksudnya, pegawai senior lainnya dan Kasubbag/atasan penulis) berangkat ke Jayapura dengan penerbangan Garuda Indonesia, dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, 4 Maret pukul 21.00 WIB. Pesawat transit di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar 5 Maret dini hari, sekitar 00.50 WITA (hampir tengah malam WIB), lalu transit lagi di Bandara Frans Kaseipo, Biak sekitar pukul 05.00 WIT, hingga akhirnya tiba di Bandara Sentani,Kabupaten jayapura sekitar pukul 07.00 WIT.
Dan, Jayapura ternyata sangat indah. Banyak hal menarik yang penulis alami sepanjang perjalanan. Dan Alhamdulillah penulis mendapatkan pinjaman kamera digital dari seorang rekan (credit to Bro Hisyam) sehingga sebagian momen indah dapat penulis abadikan melalui kamera. Sebagian, karena memang terlaaaalu banyak momen indah yang terjadi, dan tentu, tidak semua keindahan dapat ditangkap dengan kamera :)
Berikut sebagian momen yang dapat penulis abadikan. Monggo dinikmati :)
feel the Garuda experience. Penerbangan on-time, makanan banyak (dari Soetta, Makassar, dan Biak, dibagi 3x makanan), in-flight entertainment, dan sebagainya
Danau Sentani dilihat dari atas
masih banyak dataran hijau di Papua, hutan beneran dan bukan hutan beton
Onomi fokha, selamat datang di Sentani


Tiba di Bandara Sentani, penulis langsung disambut dengan indahnya pemandangan alam Papua. Bukit dan gunung hijau tinggi menjulang bermahkotakan kabut. Sepanjang perjalanan dari bandara ke kota Jayapura, bentang alam yang disajikan oleh bumi cendrawasih benar-benar memanjakan mata. Bukit padang rumput yang hijau, luasnya danau Sentani, hijaunya hutan gunung papua, terhampar bagaikan surga dunia (ngomongnya kayak udah pernah ke surga aja, aamiin).


Kota Jayapura ternyata ramai (meski nggak seramai kota-kota besar di Jaya), padat, multietnis dan tentu saja, imbasnya juga multi-kuliner. Maksudnya, berbagai jenis makanan ada di sini; nggak usah kuatir hanya makan sagu di sini. Ada masakan Padang, Warteg, masakan Jawa Timur-an, dan lain-lain. Menurut rekan pennulis yang bekerja di Jayapura, malah susah cari makanan khas Papua di sini, "palingan ikan bakar", katanya.

pemandangan Kota Jayapura dari hotel
Tiba di KPPBC Jayapura, penulis dan rekan-rekan serta para jajaran pejabat dan pegawai KPPBC Jayapura menyelesaikan pekerjaan yang sudah menanti. Tentu penulis nggak berniat membahas pekerjaan di sana bukan?! Oke, kita skip saja adegan di kantornya. Sepulang jam kerja, kami diajak oleh Mas Wahyu dan Bang Charles berjalan-jalan keliling kota Jayapura. Salah satu spot yang kami tuju adalah Angkasa. Bukaan, maksudnya bukan ke langit, tapi ini adalah nama sebuah bukit yang dikepras hingga menjadi permukaan datar. Konoon, ini adalah spot terbaik untuk melihat sunset di Jayapura (sayang, kami terlambat hingga nggak sempet lihat sunset). Tapi bukan masalah, karena dari Angkasa, kita bisa melihat luasnya Samudra Pasifik di sisi utara bukit. Disebut angkasa, konon katanya, di deket sini merupakan wilayah perumahan dinas pegawai Angkasapura, begitu loo... Acara hari ini ditutup dengan seaside dinner di salah satu rumah makan seafood di pinggiran kota Jayapura. 
tiba di Angkasa (bukan nama majalah juga nih)
panoramic view dari Angkasa (klik untuk memperbesar)
Jayapura di malam hari (lokasi di pantai depan kantor Gubernur)
Seaside dinner bersama jajaran pejabat KPPBC TMP C Jayapura
ini bukan Hongkong Bung, ini Jayapura di malam hari

Keesokan harinya, kami diajak untuk meninjau Pos Pengawasan Lintas Batas di Skouw, sekitar 2 jam perjalanan ke arah timur. Wilayah ini merupakan salah satu perbatasan 'positif', dalam artian, warga dari negara tetangga (yaitu Panua New Guinea) yang lebih banyak berbelanja ke sini, bukan warga kita yang belanja ke luar negeri seperti terjadi di Entikong atau Jagoi Babang (perbatasan RI-Malaysia, di Kalimantan Barat).
Border Post of The Republic of Indonesia, Skouw
berjalan ke luar negeri
"ngapain motret kaki?", begitu mungkin pikir anda. Bukan sembarang foto kaki, ini langkah pertama penulis di luar wilayah kedaulatan NKRI bung xD
view dari tepi pantai
oleh-oleh dari PNG, tapi tulisannya 'made in Indonesia (Mas Wahyu tampak dalam gambar)
gerbang perbatasan PNG-Indonesia
Di Jayapura, ada sebuah bukit yang dipasangi konstruksi berbentuk huruf berukuran besar, seperti di Holywood, bertuliskan "Jayapura City". Katanya, ke Jayapura nggak lengkap tanpa ke bukit yang juga merupakan tempat berdirinya stasiun pemancar siaran TVRI ini. Beruntung, penulisa diajak mampir ke bukit ini sepulangnya dari Skouw. Dari bukit ini, kia bisa melihat seluruh lansekap kota Jayapura. Dari laut dan teluknya, hingga ke perbukitannya.


view dari bukit TVRI

panoramic view dari bukit TVRI, Pak Awan tampak dalam gambar  (klik untuk memperbesar)
Malamnya, penulis sempat berreuni dengan 2 teman penuilis yang bekerja di BPKP Jayapura. Menyempatkan main ke Mall Jayapura, penulis juga diajak keliling Jayapura di malam hari. Dan sungguh, dinginnya saingan kayak Malang.
reuni bersama Andika (bukan vokalis Kangen Band) dan Lek Hadi
Akhirnya, 7 Maret pun tiba. Artinya kembali ke Jakarta bung. Perjalanan pun dimulai lagi, dengan penerbangan pukul 8 pagi dari Sentani. Keuntungan perjalanan pagi adalah, anda dapat menikmati pemandangan yang indah dari atas pesawat, yang mana tidak dapat dilihat pada saat berangkat. Lebih seru daripada saat berangkat (karena pas berangkat kan, dilalui pada malam hari).

hijauuuuuuuu

Danau Sentani dan pulau-pulau unik di dalamnya
Kalau hijaunya alam Papua sempat penulis nikmati ketika perjalanan berangkat (pesawat tiba di Sentani sekitar jam 7 pagi, jadi hari udah terang), yang 'mengejutkan' bagi penulis adalah pemandangan di Biak. Maklum, ketika berangkat kemarin, pesawat take-off dari Biak sekitar jam 5 pagi, jadi masih gelap. Nah, di perjalanan pulang ini, pesawat landing di Biak sekitar jam 9 pagi, jadi keindahan laut dan pulau-pulau di sekitar Biak terlihat jelas. Bahkan, penulis sempat keluar bandara saat transit di Biak. Yang bikin keren, bandaranya tuh lokasinya di pinggir laut. Nggak sampai 50 meter dari pantai malah. Jadi waktu transit yang cuma setengah jam pun terasa sangat berarti bagi penulis. Ini dia keindahan yang sempat penulis abadikan dalam foto:

sesaat ketika akan landing
pantainya persis di samping bandara
tampak beberapa anggota marinir sedang mengecek kelayakan perahu karet mereka
sesaat setelah take-off
tampak formasi karang di lepas pantai Pulau Biak
Oh iya, sebenarnya ketika di Bandara Sentani tadi, sebelum berangkat, penulis sempat melihat tas para pemain Persipura di bandara, nampaknya mereka mau melakukan pertandingan tandang. Namun sampai sesaat akan take-off dari Sentani pun, penulis nggak melihat satupun pemain Persipura yang nampak. Namun      ketika pesawat transit di Makassar, penulis sempat bertemu beberapa punggawa Mutiara Hitam. Rupanya mereka naik maskapai Lion Air, menuju Samarinda (tour Borneo melawan Persisam dan Mitra Kukar), transit di Makassar. Dan betapa beruntungnya mereka sempat bertemu dengan penulis. Ini dia foto-fotonya:

Manu Wanggai, Ortizan Solossa, penulis, lalu entah siapa (maaf nggak apal bro)
Feri Pahabol, Patrich Wanggai, penulis, nggak tahu lagi xp dan Ian Louis Kabes
Demikianlah catatan perjalanan penulis selama DL ke Jayapura, semoga dapat menghibur dan menambah wawasan pembaca sekalian.Pesan moral yang dapat diambil dari cerita ini adalah, Indoneisa itu LUAS Bung :D

Fun facts tentang Jayapura:
  • banyak ornamental berbentuk tifa dan burung Cendrawasih dimana-mana. Mulai dari bangunan pemerintah, tembok di pinggir jalan, juga pertokoan
  • counter pulsa Simpati, kalo di tempat lain berwarna merah menyala, di sini warnanya belang, hitam-merah seperti jersey Persipura
  • di sini, orang-orang berbicara dengan Bahasa Indonesia dialek timur, dengan banyak singkatan. Misalnya, saya jadi 'sa', pergi jadi 'pi', punya jadi 'pu', sudah jadi 'su', dan sebagainya. Jadi jangan kaget kalau ada orang ngomong "SA-PI main bola" xp
  • Mengingat kebanyakan barang yang beredar di Jayapura didatangkan dari Jawa (dan itu jauh Bung), maklum jika makanan dan segala macem harganya mahal. Kata temen saya, makan tuh dengan mmenu normal, sekitar 10-30 ribu