Cari Blog Ini

Selasa, 31 Desember 2013

"Kemeriahan" Tahun Baru dari Beberapa Belahan Dunia



31 Desember 2013.
23.45 GMT +7, Jakarta
Ahmed(15), pemulung remaja di pinggiran Jakarta terbangun dari tidurnya. Dor dor dor, terdengar suara letusan membahana di langit malam. Ahmed keluar dari kamarnya, melihat puluhan, bahkan ratusan kilatan cahaya merah naik ke langit, kemudian diiringi suara letusan, berubah menjadi percikan-percikan penuh warna. Teriakan warga membahana, gembira. Ahmed hanya bisa terpana, baginya, kembang api hanyalah barang mewah yang hanya mampu dibeli oleh orang kaya yang tak tahu duitnya harus dikemanakan. Maka mereka memilih untuk membakarnya di langit, demi berbagi keindahan cahaya di malam akhir tahun.

kembang api tahun baru (sumber)
23.45, GMT +2, Aleppo (Syiria)
Ahmed(15), pengungsi perang saudara di Suriah terbangun dari tidurnya. Dor dor dor, terdengar suara letusan membahana di langit malam. Ahmed keluar dari tenda pengungsian yang menjadi tempat tinggalnya sejak berbulan-bulan lalu, melihat puluhan, bahkan ratusan kilatan cahaya merah dari langit, kemudian diiringi suara ledakan, berubah menjadi bola-bola api yang menghanguskan. Bukan kembang api, melainkan rudal-rudal Hellfire yang ditembakkan dari helikopter-helikopter Cobra milik rezim bashar assad yang menyasar wilayah pemukiman sipil. Teriakan warga membahana, berdoa. Ahmed pun hanya bisa ikut berdoa, semoga tak ada lagi warga sipil di wilayah yang dibombardir tersebut.

malam setelah pemboman (ilustrasi, sumber)
23.45, GMT +2, Gaza (Palestina)
Ahmed(15), warga Gaza terbangun dari tidurnya. Dor dor dor, terdengar suara letusan membahana di langit malam. Ahmed keluar dari rumahnya, melihat puluhan, bahkan ratusan kilatan cahaya merah dari langit di sela-sela perumahan warga, kemudian diiringi suara ledakan, berubah menjadi bola-bola api yang menghanguskan. Bukan kembang api, melainkan peluru meriam kaliber 120 milimeter yang ditembakkan dari tank-tank merkava milik penjajah yang menyasar wilayah pemukiman sipil. Teriakan warga membahana, histeria massa dan kepanikan melanda. Ahmed pun hanya bisa ikut berdoa, semoga tak ada lagi warga sipil di wilayah yang dibombardir merkava tersebut.

23.45, GMT +2, Kairo (Mesir)
Ahmed(15), warga Kairo terbangun dari tidurnya. Dor dor dor, terdengar suara letusan membahana di langit malam. Ahmed keluar dari rumahnya, melihat belasan, bahkan puluhan kilatan cahaya merah dari gedung-gedung tinggi di kota. Bukan kembang api, melainkan peluru-peluru tajam yang ditembakkan oleh tentara kudeta yang menyasar demonstran damai, warga sipil tanpa senjata. Teriakan warga membahana, histeris. Ahmed pun hanya bisa ikut berdoa, semoga kudeta militer segera berakhir dan tak ada lagi letusan peluru militer yang diarahkan pada warga sipil, warganya sendiri yang harusnya mereka lindungi.

*imaji penulis saat menjelang tidur terganggu oleh letusan ratusan kembang api tahun baru di langit jakarta

Akhir Tahun 2013... What Have You (We) Done?

Tahun 2013 akan segera berakhir dalam hitungan jam. Lalu apa saja yang telah kita lewati tahun ini? Beberapa orang mungkin telah melewati tahun ini dengan pencapaian-pencapaian menakjubkan (topskor kompetisi elit eropa dalam satu tahun kalender, misalnya, atau menjuarai beberapa kompetisi pramusim), sementara orang kebanyakan seperti penulis mungkin tak banyak yang bisa dibanggakan. Well, bagaimana dengan para pembaca sendiri? Puaskan dengan apa saja yang telah dilakukan sepanjang tahun ini? Adakah peningkaan kualitas diri yang telah dilakukan? 
Oke, ini bukan menghakimi. Namun coba kita sejenak introspeksi diri. Mari sejenak melakukan refleksi akhir tahun bagi diri kita sendiri (bukan pijat refeksi ya). Ilmu kita, meningkat kah? Kinerja kita? IP udah bagusan nggak (buat yang masih kuliah)? Ibadah, makin rajin apa makin anjlok? Sedekahnya udah rutin nggak? Apa lagi nih, prestasi yang udah kita raih tahun ini?
Hmm.. tentu masing-masing dari kita memiliki jawaban tersebut dalam hati. Ada yang mampu menjawab dengan bangga dan lantang, ada pula yang malu-malu karena wanprestasi. Apapun itu, tahun ini sudah terlewati. Kalau ada kebaikan yang telah kita lakukan di tahun ini, mari kita istiqomahkan, dan kita tingkatkan lagi. Kalau masih ada kekurangan dan kesalahan, mari kita kurangi dan hilangkan, ganti dengan yang lebih baik. Jangan sampai deh, mengulangi waprestasi di tahun sebelumnya ya. Yuk, nanti malam, daripada kita keluar hura-hura, sejenak luangkan waku untuk bermuhasabah, renungkan kembali apa-apa yang telah terjadi. Agar jangan sampai kesalahan-kesalahan yang telah lalu terulang lagi. Agar tak lagi target-target tinggi meleset lagi. Ayo menyusun strategi menyongsong tahun depan, yang tak akan mudah. Tahun 2014 menanti kita, tentu dengan banyak tantangan dan ujian di sana. Kita tak tahu apa saja yang akan menghadang kita ke depannya, namun, mau tak mau kita harus mempersiapkan diri kan?
Barangkalai masih ada yang susah move-on dari kejadian-kejadian tahun ini. Tapi 2013 akan segera berakhir dan 2014 siap menyongsong. Siapkah kita??

Jumat, 20 Desember 2013

Peradilan Teradil

Di dunia kini, peradilan bukanlah tempat dimana keadilan yang sebenarnya dapat ditegakkan setegak-tegaknya. Masih ada kemungkinan hakimnya bisa disuap, pengacara berjuang demi yang bayar, ayat-ayat konstitusi bisa dipelintir sesuai kemauan, saksi-saksi bisa memberikan keterangan palsu penuh tipu daya. Peradilan dunia nampaknya tak lebih dari panggung sandiwara di mana penulis skenario adalah siapa yang mampu membayar lebih besar, yang bisa mengubah si salah menjadi saleh, dan si korban menjadi terdakwa. Di mana yang kuat dompetnya bakal kuat juga di meja hijau, dan yang tertindas akan makin tergilas. (tentu saja, masih ada hakim, pengacara, jaksa, saksi, dan perangkat peradilan lain yang benar-benar adil menjalankan amanatnya, insya Allah masih ada)
Namun yakinlah, kelak, akan ada sebuah peradilan yang mana hakimnya tak bisa disuap, barang buktinya tak akan terbantahkan, dan saksi-saksinya tak akan berdusta. Sebuah peradilan ideal dimana setiap butir kebaikan akan dibalas dengan adil, serta tiap butir kejahatan akan dibalaskan dengan adil pula. Itulah peradilan akhirat, di mana Allah SWT menjadi hakimnya, saksinya adalah anggota tubuh kita, dan barang buktinya adalah catatan amal perbuatan kita yang dicatat oleh malaikat Rokib-Atid yang lebih detil daripada kamera CCTV tercanggih sekalipun.
Lalu siapkah kita dengan peradilan teradil, dimana tak ada pengacara yang bisa membela, tak ada saksi yang akan berdusta, bahkan mulut pun tak bisa membela diri? Di mana setiap catatan perbuatan kita akan dibukakan sedetil-detilnya, ketika setiap jengkal tanah menjadi saksi kemana kita melangkah, ketika anggota tubuh berbicara tanpa dapat dikompromikan? Siapkah kita?
ketika mulut tak bisa lagi berkata dusta (sumber)
#petikan khotbah jumat

Minggu, 15 Desember 2013

Tentang Dakwah (Lagi)

  • Dakwah itu mengajak kepada kebaikan, namun tak selalu ditanggapi baik; meski demikian teruskanlah, karena itu (mengerjakan kewajiban dakwah) adalah urusan antara kita dan Sang Pencipta
  • Memang nggak semua orang mau ke arah yang baik, tergantung azam-nya masing-masing; jangan terpengaruh dengan reaksi orang lain, hiduplah dengan menetapkan standar-standar Islam, bukan standar-standar manusia yang bersifat relatif semata
  • Dakwah tetap wajib, meski kita sibuk oleh keluarga, pendidikan, pekerjaan, harta dan lainnya; tidak ada kata cuti dalam dakwah
  • Dakwahilah diri sendiri lebih dulu sebelum keluar mendakwahi orang lain
  • Pendakwah hanya mengajak, bukan pemberi hidayah; jangan mengharap hasilnya, karena Allah telah menetapkan hasil akhirnya, namun fokuslah pada proses yang kita lalui, jalani sebaik mungkin karena Allah menilai usaha kita

*kompilasi ilmu dari para pemateri Program Peningkatan Disiplin dan Penyambutan Jamaah Baru CCPNS KP DJBC, 11-15 Desember 2013

Rabu, 11 Desember 2013

Be The Best

"...menjadi yang terbaik itu tidak melulu soal mengalahkan orang lain, namun memaksimalkan potensi yang kamu miliki sepenuhnya demi memberi manfaat sebaik-baiknya pada orang lain..."


*Pak Noeg, pada sesi pembekalan CCPNS KP DJBC pagi tadi
Maka jika konsepnya demikian, 100 orang pun bisa menjadi 'the best' semuanya, tanpa harus saling mengalahkan. Gimana, Pembaca, bisa kan?

Kamis, 28 November 2013

Cerewet Banget Sih

Dalam hidup, kadangkala kita berhadapan dengan orang yang cereeeewet abis. Semuamuanya dikomentarin. Dari gaya rambut sampai kaos kaki, dari bulu mata sampe bulu hidung orang lain nggak luput dari komentarnya. Pokoknya dia lebih jeger, lebih jebret dan lebih ahay dibanding komentator lain.
Pasti risih kan ngadepin orang kayak gitu? Ngomong kok kayak nggak ada filternya. Nggak masalah, mungkin dia belum membaca tentang filter mulut di postingan saya kemarin. Tolong ya, ntar kasih liat ke dia tentang postingan saya kemarin.
Nah, sambil dia baca tips tentang filter mulut kemarin, ayo kita bahas tentang filter kuping, yang merupakan produk variasi dari filter mulut. Teknik ini, pada prinsipnya merupakan kebalikan filter mulut, kemudian dipasang di telinga. Begini cara kerjanya:
  • coba cek kebenaran perkataannya, apakah benar/fakta, atau nggak? Kalo misalnya dia bilang rambut anda nggak rapi padahal potongan rambut anda gundul, misalnya, udah nggak usah digubris deh...
  • coba dengar perkataannya, baik nggak isinya? Kalo  cuma ngebahas keburukan-keburukan oranng lain, misalnya, jauh-jauh deeh...
  • trus apakah yang dikatakannya itu penting? Kalo nggak penting, udah nggak usah didengerin. Coba, apa pentingnya ngomongin bulu ketek artis, misalnya. So dont waste your time, tinggalin aja
 Nah, yang penulis tekankan di sini adalah kualitas omongannya tadi. Kan ada juga tuh orang cerewet yang memang ngebahas hal yang penting, baik, dan benar. Misalnya ketua tim, konsultan atau sahabat. Kalo yang ini, dengerin gapapa, bisa jadi kecerewetannya berguna buat kita. Tapi kalo udah cerewet, nggak penting, bahasnya keburukan mulu, kebenarannya nggak valid pula, hmm... anggep aja motor butut lewat; nggak usah dimasukin ati deh :)

Rabu, 27 November 2013

Mulutmu Harimaumu

Pembaca sekalian udah sering kan denger/baca ungkapan di atas? Barangkali malah ada di antara kita yang pernah termakan oleh kata-kata kita sendiri. Naah, maka dari itu, kali ini penulis pengen bahas tips agar tidak termakan  oleh mulut sendiri. Yuuk mari...
Tips ini bisa kita sebut sebagai filter mulut, untuk menyeleksi kata-kata apakah yang akan keluar dari mulut kita. Sayangnya filter ini tidak tersedia dalam bentuk masker ajaib yang otomatis menyeleksu perkataan kita, jadi kita perlu berlatih agar terbiasa melakukannya.
Caranya gampang kok, sebelum bicara cuma perlu melakukan 3 langkah yakni:
  • apakah yang akan Kita katakan itu benar? Jika tidak benar alias bohong, maka jangan katakan. Kalau memang perlu membahas sesuatu yamg belum tentu kebenarannya, katakan sumber dan jenisnya (opini kah, mitos, dongeng, prediksi atau imajinasi semata?) agar orang tak merasa ditipu oleh omongan tadi
  • meskipun benar, apakah itu baik? Jika itu tidak baik (dalam hal bahasa, isi maupun tujuan), maka jangan katakan. Memang apa pula perlunya membahas ke-tidakbaik-an orang lain, misalnya
  • meski baik, apakah itu penting? Jika tidak, maka sebaiknya tinjau ulang untuk mengungkapkannya di saat yang tepat. Bisa jadi, kalau waktu, tempat dan situasinya tidak tepat, belum tentu kata-kata yang baik bisa diterima dengan baik
Ketika kita mencoba hal ini, mungkin kita mendadak jadi agak pendiam. Nggak masalah, bukankah diam lebih baik daripada banyak bicara tapi minim kualitas?

Sabtu, 23 November 2013

Epic Fail, Lvl: ITB

Siapa nggak kenal ITB? Sebagai salah satu kampus terbaik di negeri ini, rasa-rasanya pasti pembaca sekalian pada tau lah ya...paling nggak denger namanya doang udah pernah kan?
Bagi penulis yang nggak pernah kuliah di sana, yang paling diinget kalo lagi ngomongin ITB adalah kudanya.

Ojok kuda
Penulis nggak pernah naik kudanya sih, tapi ngeliatnya tuh udah bikin ketawa aja. Unik, karena nggak tiap kampus punya kuda sebagai daya tarik wisata xp
Nggak tau juga sih, kali aja ada siswa  SMA yang pengen masuk ITB gara-gara kuda. Dialog sama ortunya bakal absurd banget tuh xp
Anak: Ayah, aku pengen kuliah di ITB
Ayah: Kenapa nak?
Anak: Supaya nanti aku bisa naik kuda tiap hari
Xp

Ok,kembali ke topik. Di salah satu sudut kampus ini, ternyata ada rambu-rambu unik yang isinya adalah larangan bagi pemilk kuda untuk membuang 'limbah' kuda mereka di area tersebut. Dan ironisnya, rambu-rambu ini dilanggar dengan telak karena tepat di belakangnya, terdapat tumpukan limbah biologis kuda. Well done, Indonesian...

Indonesian style, pelanggaran dan rambu larangan yang bersebelahan
Kalo bukan punya kuda, lalu ini punya siapaaaa?

Minggu, 03 November 2013

Tentang Dakwah

Assalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh
Kali ini penulis mencoba merangkum beberapa ilmu yang sempat didapatkan yang terkait dengan dakwah dalam artikel bertema "Tahukah Anda". Yuk mari disimak:
  • dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim, berdasarkan Al-Qur'an dan Al Hadits. Allah SWT berfirman: 
    "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran [3] : 104).  (mengenai beberapa dalil lain lihat di sini, juga di postingan saya sebelumnya di sini)
  • da'i adalah julukan bagi orang berdakwah, jadi seharusnya setiap muslim adalah da'i, bukan cuma yang nongol di TV membawakan acara siraman rohani
  • tujuan dakwah adalah untuk menguatkan keimanan diri sendiri, bukan untuk menguatkan keimanan orang lain, karena masalah keimanan dan hidayah, itu hak prerogatif Allah. Kita hanya bertugas menyampaikan masalah keEsaan Allah, masalah kebenaran Al-Qur'an, Al Hadits, kenabian Nabi Muhammad, kemuliaan ajaran Islam, dan lain-lain, namun hanya Allah yang bisa memberikan hidayah keimanan bagi orang tersebut. Dakwah adalah ikhtiar kita, namun masalah keimanan orang tersebut, kita hanya bisa mendoakan.
    Jangan niatkan berdakwah untuk memperbaiki iman orang lain, karena dikhawatirkan hal itu membawa perasaan bahwa kita lebih baik dari orang tersebut, dan itu termasuk kesombongan. Inget, kesombongan membawa kepada neraka, jadi kita juga mesti berhati-hati dalam meluruskan niat berdakwah kita :)
  • Islam adalah milik Allah. Dengan atau tanpa kita, Allah akan mentakdirkan Islam kembali bangkit meski sekarang tengah terpuruk. Tanpa kita terjun dalam dunia dakwah pun, itu akan terjadi kelak. Masalahnya adalah, apakah kita mau terlibat dalam kebangkitan Islam atau tidak. Mengingat dakwah adalah perkara wajib, maka justru kita yang rugi jika tak berdakwah. Ingat, bukan dakwah yang butuh kita, tapi kita yang butuh dakwah demi menambah amal ibadah kita (jangan lupa, niatkan untuk memperbaiki keimanan diri sendiri, bukan untuk sok-sok memperbaiki orang lain)
  • Dakwah tak melulu dengan berdiri di atas mimbar, tak melulu di hadapan banyak orang. Sekedar mengingatkan teman untuk berhenti menggunjing, atau sekedar mengajak teman untuk sholat ketika adzan berkumandang, juga termasuk bagian dari dakwah. Jadi nggak ada alasan untuk berkata "ah, ilmu saya belum seberapa". Bukankah Rasulullah bersabda Baliighu  annii walau ayyah (sampaikanlah walau 1 ayat).
Ada yang ogah ikut berdakwah dengan berprinsip bahwa "saya kan nggak sempurna, nggak pantes ah buat berdakwah".  Nah, ini nggak tepat kawan. Sekarang bayangkan, kalo mesti menunggu sempurna, kira-kira ada nggak yang bakal berdakwah? Bisa jadi nggak ada, kan nggak ada manusia sempurna selain Baginda Rasulullah SAW. Nah kalo kita menunggu untuk sempurna, sementara nggak mungkin melakukannya, trus nggak ada yang berdakwah dong? Imam Hasan Al Basri pernah mengatakan:
“Apabila aku menasihati kamu bukanlah artinya aku ini yang terbaik di kalangan kamu, bukan juga yang paling sholeh di kalangan kamu, karena aku juga pernah melampaui batas untuk diri sendiri. Seandainya seseorang itu hanya boleh menyampaikan dakwah apabila dia telah sempurna, niscaya tidak akan ada pendakwah, maka akan jadi sedikitlah orang yang memberi peringatan.” (versi lengkapnya bisa dilihat di sini, atau di sini). Nah, logikanya masuk kan?

Jadi sebenarnya nggak ada alasan untuk ngeles kan? Yuk sama-sama mengambil peran dalam dakwah di lingkungan kita masing-masing :)

Jumat, 01 November 2013

Hidup Ini Cuma "Mampir Ngombe"

"Innalillahi.. wa Inna ilaihi Raji'uun... Telah berpulang ke Rahmatullah, Fulan bin Fulan dalam usia sekian tahun..."
Hampir setiap dari kita, pasti pernah mendengar kalimat ini. Entah melalui speaker masjid, berita duka cita di media, atau kabar dari sanak saudara. Namun pernahkah kita memikirkan, mengapa disebut "berpulang"?
Tak lain karena sebenarnya kita adalah makhluk akhirat, yang kelak akan kembali ke akhirat. Maka semasa kita di dunia ini, hanyalah persinggahan sejenak, sebelum nanti kita kembali ke akhirat. Makanya ada ungkapan, "urip iki mung mampir ngombe" (hidup ini cuma mampir minum). Diibaratkan kita adalah orang yang berada dalam perjalanan, berhenti sejenak di suatu tempat untuk minum, kemudian melanjutkan lagi perjalanan kita. Sesingkat itulah hidup di dunia ini, sesingkat mampir minumnya seorang pengembara. Setelah kehidupan dunia yang singkat ini, maka kembalilah kita ke alam akhirat, rumah kita pertama kali. Ibarat seseorang yang meninggalkan rumahnya (akhirat) untuk pergi (ke dunia), maka ketika kita pulang kembali ke rumah kita (akhirat) pun wajar jika disebut "berpulang"
*inspirasi dari khotbah Jumat di Masjid Baitut Taqdis, Pusdiklat Bea Cukai Rawamangun.

Selasa, 29 Oktober 2013

tawakal setelah ikhtiar

Kita boleh, bahkan harus meminta bantuan pada sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari. Tapi jangan pernah menggantungkan harapan sepenuhnya kepada manusia. Karena kita pasti akan kecewa nantinya, karena manusia tak akan selalu mampu mewujudkan harapan orang lain. Meminta bantuan pada orang lain merupakan ikhtiar, namun pasrahkanlah hasilnya hanya pada Allah semata, karena Dialah, hanya Dialah yang Maha Mendengar setiap harapan, munajat dan doa. Hanya Dia pulalah yang mampu mewujudkan segala pengharapan kita. Tanpa ridho-Nya, bahkan bantuan dari seluruh manusia tak akan mampu menolong kita. Pun tanpa ridho-Nya, konspirasi dari seluruh umat manusia pun tak akan mampu mencelakakan kita. Hanya Allah lah yang memiliki kuasa mutlak atas segala sesuatu...

Jumat, 18 Oktober 2013

Ngurus Tugas Harus Ikhlas

Kadang kita bakal dapet tugas dari kantor, yang mana tugas itu ngeselin banget. Yaudah ikhlasin aja, niatin aja lagi ibadah, cari nafkah buat keluarga. Kalo nggak ikhlas ntar cuma dapet capek sama dongkol. Kalo ikhlas insyaAllah meski capek dapet pahala. . .

Negeri di Atas Awan

A view of a cloud field
Gunungan awan pembawa hujan
Lautan awan putih membentang

Meski sudah dewasa dan mengetahui dengan pasti bahwa awan di langit tidaklah seempuk kasur kapuk, melihat gumpalan awan di langit tetap saja membuat imajinasi meliar xD
Subhanallah...

Kamis, 17 Oktober 2013

Penting Nggak Penting

Kadang kita terlalu memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting, namun malah membuat kita lupa akan hal lain yang sebenarnya jauh lebih penting. Ketika itu terjadi, maka sudah saatnya kita menata ulang skala prioritas dalam keseharian kita. Mungkin ini terlihat sepele, namun bayangkan berapa waktu kita yang yerbuang untuk hal-hal tersebut. Jika saja dalam sehari kita "membuang" satu menit waktu kita untuk memikirkan atau bahkan melakukan hal yang nggak berguna tersebut, maka tiap tahun kita membuang 6 jam usia kita untuk hal yang sia-sia. Padahal 6 jam itu bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berguna. Katakanlah Anda penjaga warnet misalnya, dengan tarif 4 ribu per jam, maka dengan "nyampah" semenit perhari, Anda kehilangan potensi pemasukan 24 ribu pertahun. Oke ini cuma contoh ngasal sih, tapi anda tahu maksudnya kan? So, mari kita menata ulang mindset kita tentang konsep prioritas dalam menata waktu :-)

Rabu, 16 Oktober 2013

Antara Jakarta, Pekalongan dan (m)Blitar

Beberapa waktu yang lalu, penulis sempat DL ke Pekalongan, Jateng dan (m)Blitar, Jatim. Sebagai seorang warga perantauan di Jakarta, berada di kota kecil, mengunjungi kantor dengan jumlah pegawai sedikit (kantor KPKNL Pekalongan 30 orang, Kantor BC Pekalongan 11 orang, Kantor BC Blitar 17 orang), ada feeling yang berbeda dengan suasana keseharian di Jakarta (KP DJBC, sekitar 1000 orang). Mungkin ini adalah feeling bawaan orang yang lahir dan dibesarkan di kampung, lebih suka dengan suasana tenang pinggiran kota/pedesaan (penulis dari lahir sampai SMA tinggal di pinggiran Kabupaten Malang yang agak ndeso namun nggak ndeso-ndeso banget. Meski sekarang populasi penduduknya sudah lumayan padat, masih mending dibandingkan Jakarta).
Ketika di sana, rasanya senang banget gitu, ngelihat lalu lintas yang nggak begitu padat, nyaris nggak ada macet. Ngelihat kehidupan yang seolah berjalan begitu tenang, nggak grusa-grusu kayak di kota besar yang menuntut setiap orang untuk saling membalap satu dengan yang lain, demi menghindari macet dalam perjalanan. Seger banget ngelihat hamparan sawah di kiri kanan jalan. AH, dasar wong ndeso, betahnya kalo di daerah ndeso. Tapi tak mengapalah, biar orang ndeso kan yang penting nggak kampungan, daripada jadi orang kota tapi kampungan :)
Barangkali sekarang masih harus tinggal di kota besar ini, dengan segala sisi positif dan negatifnya. Namun tetap, dalam hati ini ada keinginan untuk tinggal di sebuah kota kecil yang tentram, mungkin nanti di hari tua . . .

Jumat, 04 Oktober 2013

Capek? Istirahat Sejenak Bung!

Kadang tekanan beban kerja di kantor bisa jadi begitu melelahkan. Dan percayalah, hal terbaik untuk dilakukan saat Anda sedang lelah (baik fisik maupun mental) adalah beristirahat sejenak. Oke, sejenak lupakan deadline yang terus mendesak; ambil 5 menit untuk duduk, relaks, pejamkan mata sejenak. Satu atau dua gelas air putih yang segar akan sangat membantu; barangkali Anda sedang dehidrasi, dan itu bukan kabar baik bagi kinerja otak Anda. Minumlah, karena ketika Anda kehilangan cairan tubuh, maka aliran darah ke seluruh tubuh (termasuk otak) akan terganggu, dan pada gilirannya akan mengganggu kinerja Anda secara keseluruhan.
Ini bukan menyia-nyiakan waktu untuk hal yang kontra produktif, justru in iakan memulihkan kondisi Anda sehingga siap untuk 'bertempur' lagi. Lebih baik daripada jika Anda memaksakan untuk menggarap semuanya tanpa istirahat, karena ketika Anda lelah, dehidrasi dan kurang konsentrasi, maka makin besar kemungkinan Anda melakukan kesalahan. Dan waktu serta energi yang dibutuhkan untuk memperbaiki kesalahan tersebut bisa jadi lebih lama dari 5 menit yang bisa Anda gunakan untuk istirahat tadi.
Trust me, it happens.

Selasa, 01 Oktober 2013

"...with great power, comes great responsibility"

Familiar with that phrase? Yeah, maybe most of us ever heard of it at least once, from a hollywood movie Spider-man (actually spoken by Spiderman's Uncle Ben). I don't really know who brought this phrase for the first time, and I don't really care bout it. But somehow I found that this phrase makes sense, especially when you are given more responsibility by other people.
At work, everybody have their own part, their own tasks, their own responsibility about some matters. And there're always exixt some individuals with more tasks to do, with more responsibility given to them by their bosses (or leaders).
Logically, people will only ask for a help to someone that they certainly know about, that the person will be able to help them. You won't ask a cook to repair your car, you'll ask a mechanist instead (unless the cook is a multitalented too). You won't ask a math teacher to cure a diseae, you'll have to count on a doctor to deal with diseae, right? That means, when a boss (or leader) ask someone to do more job than his/her friend, the boss/leader is certainly sure about the quality of that person. The boss/leader knows that he/she will be able to take that much of responsibility beyond other. The boss/leader knows that he/she has enough power, to be burdened with more responsibility. Well, that'sfair enough, right?
So when you feel burdened by so many tasks to do, while your friend's desk is clear of jobs, just be proud of yourself. It just means that YOU have such a great power, greater than any of your friend has! But off course you won't be able to pull out a spider web outta your hand, trust me.

Sabtu, 28 September 2013

Manado Jo

Pada Tanggal 23-27 September kemarin, penulis sempat melaksanakan DL ke kota ujung utara Pulau Sulawesi untuk melakukan asistensi SOP ke KPPBC TMP C Manado dan KPPBC TMP C Bitung. Well, seperti sebelumnya, penulis nggak minat nulisin tentang pekerjaan di blog ini (untuk hasil kerjaan terkait SOP, ada di blog kantor). Jadi di sini, penulis hanya akan menuliskan review perjalanan selama di sana. Check it out. . .

- Ketika pesawat mendekati Bandara Sam Ratulangi, terlihat buanyak sekali pohon kelapa di daerah ini. Maklum, wilayah ini mrupakan salah satu daerah utama penghasil kopra di Indonesia.
pemukiman dan perkebunan kelapa saling bersandingan
aerial view, kelapa di mana-mana
di latar belakang, berhektar-hektar kebun kelapa (lagi)

- Di pinggir jalan, banyak terdapat halte ala Trans Jakarta (nama angkutannya trans Kawanua), tapi anehnya, selama 5 hari di sana, penulis nggak mendapati satupun bis dengan tulisan "Trans Kawanua". Dan banyak di antara halte tersebut yang terlihat kurang terawat, meski di beberapa tempat masih dipakai para penumpang angkutan umum. 
salah satu halte trans Kawanua di sudut kota Manado
Sebaliknya, mikrolet/angkot di sini banyak banget. Bentuknya macam angkot kebanyakandi Jakarta dan di Malang, mobil sekelas Carry, namun formasi tempat duduknya berbeda. Kalau di Jakarta/Malang, formasi duduknya berhadapan, deret memanjang bisa diisi 6 penumpang, dan sisi pendek diisi 4 penumpang (masih bisa ditambah posisi ngernet dan bangku kecil menghadap belakang). Di sini, penumpangnya menghadap depan semua, tiga baris horizontal (nggak berhadapan); paling belakang 3 kursi, tengah dan paling depan, masing-masing 2 kursi, total bisa menampung 7 orang. Angkot di sini kebanyakan full music, speakernya kayak orang kondangan di kampung. Dan kebanyakan diberi aksesoris blink-blink kayak lampu tujuh belasan; bahkan ada yang diberi lampu disco XD
Mungkin karena angkotnya relatif nggak uyel-uyelan, serta bisa badisco di angkot, jadi hampir selalu terlihat penuh.
torang samua bisa badisco basama di angkot jo
Dengan angkutan umum yang nyaman dan banyak (serta populasi kotanya nggak sepadat Jakarta), maka nggak heran kalau di sini pengendara motor agak jarang. Pejalan kaki yang mau nyebrang jalan pun jadi lebih nyaman dan aman daripada di Jakarta.
Meski mungkin bukan merupakan moda transportasi utama, populasi kuda di daerah Manado-Tondano lumayan banyak. Ada banyak sekali delman/dokar di daerah Tondano (saya lupa tepatnya daerah apa), dan kerennya lagi, ada banyak kuda penarik delman di sana yang macho banget. Postur lehernya tegak, nggak seperti kuda penarik delman kebanyakan. Mungkin kuda itu dulunya kuda pacuan yang sudah nggak terlalu kencang larinya, namun masih cukup perkasa untuk menarik delman. Banyak baliho di pinggir jalan yang menginfokan tentang adanya lomba berkuda dalam memperingati HUT ke 49 Provinsi Sulut, juga banyak kuda yang digembalakan di daerah padang rumput di sekitar Danau Tondano. Jadi asumsi tadi rasanya masuk akal. Sayang penulis nggak sempet dapat foto kuda macho tersebut.

- Kepolisian setempat nampaknya sedang gencar-gencarnya menggalakkan gerakan anti mabuk dengan tagline "brenti jo bagate" seperti yang pernah diulas oleh Hawkson di sini. Tulisan-tulisan ini dipajang di seluruh penjuru kota, dengan berbagai media (utamanya baliho, namun ada juga yang dalam bentuk tulisan di dinding (termasuk mural nggak ya? cuman tulisan doang sih). Yang agak unik menurut penulis, di salah satu sudut kota (entah, apa di bagianlain juga begini), ketika di tempat lampu merah, diputarkan rekaman suara berisi anjuran untuk menjauhi mabuk. "...kalo bawa oto deng motor, jang ba gate, kalao ba gate, jang bawa oto deng motor..." (kalo bawa mobil/motorjangan mabuk, kalo mabuk jangan bawa mobil/motor). Di berbagai toko swalayan (semacam Alfa/Indomart), miras dijual 'cukup' bebas, pun di berbagai cafe dan tempat makan. Kata salah satu pegawai KPPBC Manado, tiap pekan pasti adaaa aja kasus kecelakaan gara-gara pengemudi mabuk. Hmm, nggak heran . . .
satu dari sekian banyak baliho sosialisasi gerakan anti mabuk

- Ada beberapa makanan khas Manado yang sempat penulis cicipi, tapi yang paling berkesan adalah (ikan) woku, yakni ikan yang dimasak dengan bumbu berwarna kuning, yang kerasa banget rempah-rempahnya (pedasnya juga kerasa sih). Terus ada nasi kuning dengan abon ikan dan nike (semacam perkedel/bakwan ikan), es kacang merah, nasi goreng cakalang (nasi goreng biasa sih, tapi dikasih cakalang/tongkol). Beberapa lainnya, nggak sempet nyobain (bubur tinutuan, mi cakalang, paniki alias kelelawar juga banyak dijual dimana-mana, tapi kayaknya nggak halal deh). Untuk urusan oleh-oleh, di Manado cukup mudah mencari yang khas (jika dibandingkan dengan di Jayapura kemarin). Ada bagea (kue dari tepung sagu, dibungkus daun lalu dibakar), halua (semacam kue gula-kacang, terbuat dari kacang kenari dan gula aren), klappertart (entah ini masuk jenis apa, yang jelas bawahnya tuh vla yang agak padat, dengan potongan daging kelapa muda, bagian atasnya punya tekstur agak mirip roti, ditaburi keju, kismis dan potongan cari), dan manisan buah pala.
Sebenarnya penulis kepengen mengunjungi pasar Tomohon. Itu loh, yang jualan aneka hewan ekstrim untuk dimakan. Kalo anjing/babi, mungkin cukup umum di sini, tapi ada juga ular piton, kelelawar, tikus hutan, bahkan kucing. Sayangnya, kata pegawai di sana, pasar itu cuma buka pagi hari (kan ngantor dulu) jadi nggak sempet ke sana deh (kalo mau tau cerita dari yang pernah ke sana, intip di sini).

- Ikan purba coelacanth nampaknya akan dijadikan ikon daerah Sulut, menyusul penemuan ikan coelacanth di perairan Manado beberapa tahun yang lalu. Setidaknya, di pantai Malalayang ada sebuah patung ikan coelacanth menghadap ke laut, dan executive lounge di Bandara Sam Ratulangi menggunakan nama coelacanth.

Sepulang jam kerja, torang sempat diajak jalan-jalan ke beberapa tempat di daerah sini. Ada Pantai Malalayang yang lumayan bagus untuk lihat sunset, ada Bukit Mahawu dengan kapel dan amphiteater di puncaknya, juga Danau Tondano yang merupakan danau terbesar di Sulawesi Utara. Mungkin untuk postingan tempat wisata di Manado akan menyusul ya. Hehe

sunset di Malalayang
nampak Gunung Lokon dan Kota Tomohon dari puncak Bukit Mahawu
Kapel di atas bukit
ini bukit yang lain, lupa namanya
Danau Tondano, sejuk euy (700m dpl)
*Beberapa catatan lain dari perjalanan ke Manado:

- hotel di sini ful mulu (panulis ganti hotel 3 kali selama 4 hari di sini). Usahakan kalau mau ke sini, pesan jauh-jauh hari dan langsung pesan untuk sekian hari (lamanya kegiatan di sana)
hotelnya Pak Rusdi Kirana
view belakang Hotel Vina

- Mengingat mayoritas penduduk di sini beragama Kristen atau Katolik, maka (sama halnya dengan di Papua) wajar rasanya kalau di sini banyak sekali gereja. Tiap berapa ratus meter, ada gereja. Beberapa di antaranya memiliki arsitektur atap berbentuk kubah (sempet ketipu xp)

- Bahasa yang digunakan penduduk sini adalah bahasa Manado. Dialeknya mirip-mirip dengan di Papua dengan banyak kata yang disingkat-singkat (jang=jangan, deng=dengan, torang=kita orang/kitorang), tapi ada kosakata yang khas Manado (imbuhan ba untuk kata kerja, kamu=ngana). Di sini ada channel tv lokal, yaitu Manado TV yang isinya lagu bahasa Manado.

*Insya Allah bersambung

Kamis, 19 September 2013

Kadang orang lain akan meremehkan kita. Tanpa perlu bicara banyak, hanya ada dua pilihan bagi kita untuk meresponnya: membuat mereka terlihat benar (bahwa kita memang layak diremehkan), atau membuat mereka sadar bahwa mereka salah karena meremehkan kita. Pilihan ada di tangan kita masing-masing

Rabu, 18 September 2013

Vicky dan Segala Kontroversi Hati dalam Berkomunikasi

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian, apa kabar semua? Pada ngikutin berita nggak nih? Oke deh, khusus buat yang nggak update akhir-akhir ini, penulis akan meng-update sedikit kabar dalam tulisan ini bagi pembaca sekalian.Baiklah, dengan mengucap bismillahirohmanirohim, saya mulai posting kali ini *ehm

Akhir-akhir ini berbagai media kita sering sekali mengulas seorang tokoh (mendadak) tenar yang mengaku bernama Vicky. Saya jujur saja, awalnya nggak mengikuti perkembangan beritanya, bagaimana dia melamar Zaskia Gotik, atau kasus penipuan yang membelitnya, atau sepak terjangnya dalam pemilihan kepala desa Karang Asih (nggak ngikutin tapi kok tau semua?). Tapi kebetulan, suatu ketika, penulis sedang browsing dan nyasar ke sebuah blog yang (tanpa penulis ketahui) membahas figur (mendadak tenar) tersebut. Awalnya agak bingung membaca tulisannya, namun melihat foto Zaskia, penulis baru ngeh, 'oh, ini toh yang katanya tunangan  itu'. Belakangan, seorang rekan penulis mempertontonkan video Vicky mencaalonkan diri sebagai kades 'Karang Asih City'. Ngakak saya dibuatnya XD (dan saya yakin, hampir semua pun merasakan hal yang sama). Bukannya saya sok pinter ngomong pake bahasa asing, tapi setidaknya, tahu dikit lah tentang grammar (and of course, there're a lot of grammatical errors in his speech - saya bukan niru-niru Vicky, sudah lama memang saya punya label khusus postingan keminglish)

Oke, cukup pembukaannya (panjang amat), masuk ke topik utama. Terlepas dari segala kontroversi hatinya, juga komentar mengenai pakar Bahasa Indonesia tentang penggunaan bahasa ala Vicky, ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari sosok (mendadak) tenar tersebut. Yuk kita simak satu persatu:
  • ucapan seseorang (biasanya) menunjukkan kualitas dirinya. Orang yang pandai, biasanya omongannya berkualitas. Namun ada pula orang-orang yang bicaranya terdengar 'intelek', namun sebenarnya tidak begitu juga sih . . . Berhati-hatilah saat berbicara, tidak usah memaksakan agar perkataan kita terdengar intelek, namun cukupkanlah dengan kalimat yang sederhana agar mudah dipahami orang lain. Bukankah tujuan komunikasi adalah agar komunikan (penerima pesan) mengerti tentang ide yang disampaikan oleh komunikator (pengirim pesan)? Jadi nggak usah dibikin 'rumitisasi' laah XD #ketularan
  • jika kita bicara di depan umum, pahamilah kondisi pendengar. Sesuaikan kosakata dan topik dengan mereka. Berorasi di depan para mahasiswa, tentu berbeda dengan pidato pada pekan karya ilmiah, berbeda pula dengan ceramah di Masjid, juga nggak sama dengan rapat RT, misalnya. Mungkin setiap orang punya karakter uniknya masing-masing dalam berbicara, namun alangkah bijaknya jika mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat kita akan berbicara
  • Beberapa orang berusaha menjadikan diri mereka berbeda dari kebanyakan orang (misalnya, saya dikenal dengan potongan rambut plontos) agar terlihat menonjol dan mudah dikenali.
    Well, being different isn't always related with right or wrong, it's just a personal choice (as long as we didn't break the rules). But there will always some social cost we they have to overcome. As for me, my skinhead is a laughing matter for most people (and some people are against it through). And I'm OK with that. Since I'm not using my skinhead to threaten people nor hurt them (well, some people got irritated with it), then it's not a real problem. And maybe Vicky also thinks this way (somehow, it's hard to accept the fact that I have some similiarities with him -,-). However, he's been making himself a far bigger laughing matter than I am, and still shows some guts to keep his style even when he's in the jail. #Respect #followed by hard LAUGH XD 
Bagi kita yang beragama Islam, sudah ada tuntunan Rasulullah terkait adab berbicara. Di antaranya sebagai berikut :
  • Hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat didengar. Tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu pelan. Ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.
عَنْ عَائِشَةَ رَحِمَهَا اللَّهُ قَالَتْ كَانَ كَلاَمُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَلاَمًا فَصْلاً يَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ.
Dari Aisyah rahimahallaahu, beliau berkata: “Bahwasanya perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu perkataan yang jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud 4839. Dinilai hasan oleh Al Albani dalam Shahih al Jaami’ no 4826) .
  • Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu ‘anhu disebutkan:
وإن أبغضكم إلي وأبعدكم مني يوم القيامة الثرثارون، والمشتشدقون والمتفيهقونز قالوا: يا رسول الله، ما المتفيهقون؟ قال: المتكبرون
“Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun”. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: “Orang-orang yang sombong”. (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
  • Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أنا زعيم بيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقا، وبيت في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحا
“Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
  • Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu ‘anha. telah menuturkan:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ
“Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya”. (Muttafaq’alaih).

Tambahan lagi, mengutip perkataan seorang filsuf terkenal, sebelum berbicara, pikirkanlah 3 hal. Yang pertama, apakah yang akan kamu ucapkan itu penting/perlu untuk diungkapkan. Kedua, apakah yang akan kamu ucapkan itu benar (bukan rumor yang belum jelas faktanya/kebohongan). Ketiga, apakah yang akan kamu bicarakan itu baik (topiknya baik, dampaknya dari pembicaraannya juga baik). Kalau tidak memenuhi ketiga kriteria itu, maka lebih baik jangan diungkapkan. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari 6018 Muslim 47)

Demikian posting kali ini saya persembahkan, semoga bermanfaat bagi para pembaca agar dapat terhindarkan dari segala bentuk kontroversi dalam komunikasi XD

Selasa, 10 September 2013

Diiriin Orang Lain? Bersyukurlah . . .

Judulnya aneh, mungkin begitu pikir sebagian pembaca. Tapi coba lupakan sejenak judul di atas. Coba ingat-ingat sejenak. Ada kalanya, seseorang iri padakita, dan kemudian tingkahnya nyolot mulu. Mugkin juga dia nggak nyolot di depan kita, tapi menggunjing di belakang punggung ketika kita nggak ada.

Mungkin reaksi kita pada umumnya jika menghadapi situasi seperti ini adalah dongkol. Tapi pernah nggak terpikir, bahwa seharusnya kita bersyukur kalo ada orang yang iri sama kita?
Karena ketika dia iri pada kita, berarti ada satu kelebihan pada kita yang tidak dimilikinya, sehingga dia jadi iri. Nah, maka wajar bukan, kalau kita harus lebih bersyukur atas segala kelebihan dan kenikmatan yang kita miliki-yang mana tidak dimiliki orang lain, yang menjadikannya iri pada kita?

Tentu bukan cuma sekedar mengucap alhamdulillah, tapi kalau bisa, berbagi kelebihan/kenikmatan tersebut dengannya. Misalnya ada kelebihan rizki, ya berbagilah, syukuran kecil-kecilan atau sekedar traktiran. Kalau punya kelebihan ilmu, ya sudilah kiranya berbagi ilmu. Dan sebagainya. Insya Allah kalau sikap kita seperti itu, si iri hati pun akan berubah-malah bisa jadi mendoakan kita agar senantiasa mendapat kenikmatan-supaya bisa berbagi, setidaknya.

Tentu, ini juga bisa jadi bahan koreksi diri, barangkali dulu kita terlalu 'pelit' ketika mendapat (ujuan) berupa (sesuatu yang dipandang orang lain sebagai) kenikmatan (duniawi, terutama). Barangkali karena itulah dia jadi si iri hati, si penggunjing, atau semacamnya lah. Toh justru lebih baik bagi kita untuk membalas keburukan orang lain dengan kebaikan, kan?
So, diiriin orang? Syukurin aja :D

Minggu, 01 September 2013

Epic Fail, Lvl: Cibolang

31 Agustus 2013, Cibolang (Bandung), sepulang menghadiri resepsi seorang rekan. 

kebun teh
Cibolang Hot Springs; bahkan air wudhunya aja panas
panas bro, jangan langsung nyebur
uniknya, masih ada tanaman yang bisa hidup di air hangat ini
well, kita emang lagi di tatar Sunda . . .
Melihat tanda 'inpormasi' di atas, penulis jadi penasaran seperti apa sih wahana 'Playing Fox' di sini. Apakah semacam mini zoo dengan rubah yang sedang bermain-main (playing fox) sebagai bintang utama? Ah, ternyata tidak, ini hanya penulisan "Flying Fox" gaya Sunda euy :D

my expectation, but it's not like this xp
(sumber)

Jumat, 30 Agustus 2013

Harusnya Kita Peduli, Bukan Mencaci

Islam merupakan agama yang penuh dengan kepedulian. Lihat saja dalam sholat, ketika sholat berakhir, kita mengucapkan "assalamu'alaikum waromhatullahi wabarokatuh" sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, menyimbolkan bahwa Islam harusnya menebarkan salam keselamatan. Ketika ada saudara kita yang bersin dan mengucapkan "alhamdulillah", kita merespon dengan "yarhakumullah". Jika dalam hal-hal yang nampak sederhana seperti itu saja kita harus peduli, apalagi dengan hal-hal yang lebih besar.

Saat ini, saudara-saudara kita di Mesir sedang terdzolimi oleh musuh-musuh Islam yang tak bisa tenang karena semangat kebangkitan Islam yang dibawa oleh Presiden sah, Mahmoud Moursy. Mereka yang konsisten dengan aksi damai tanapa senjata dan perlawanan, terus menerus dibantai, disiksa dan ditindas oleh rezim biadab as sisi dan antek-anteknya. Media massa diberangus agar tak bisa memberitakan kebenaran, yang ada hanyalah berita 'resmi' dari para pembuat makar, yang nampak jelas hanyalah merupakan kebohongan yang tak bisa ditutup-tutupi. Bantuan dari negara-negara lain tak diijinkan masuk, untuk sekedar mengobati luka para demonstran paling massal dan damai di dunia; bahkan rumah sakit pemerintah pun dilarang menerima para korban.

Mirisnya, ketika saudara-saudara kita di sana sedang kesusahan, masih ada saja segelintir orang yang kurang mengerti, mengatakan bahwa 'itu bukan urusan kita', atau 'itu salah mereka sendiri' dan komentar-komentar lain yang sejenis. Sungguh ironis, terlebih ketika komentar tersebut keluar dari sesama muslim yang notabene, memiliki ikatan persaudaraan dengan muslim lainnya. Bukannya menunjukkan keprihatinan atau sekedar perhatian, kok malah mencemooh Presiden Moursy, Ikhwanul Muslimin dan rakyat Mesir pada umumnya.
Jujur saja, tanpa melihat adanya konflik antara pihak yang ingin menegakkan syariah Islam di Mesir, dengan para kaum sekuler sekutu kaum kafir, kejadian di Mesir bukanlah kejadian yang bisa diabaikan. Bayangkan, jutaan demonstran damai, yang mengisi hari-harinya dengan sholat, mengaji dan dzikir, tanpa RPG, AK-47, atau bahkan batu untuk dilempar, dihadapkan pada peluru tajam dari tentara terlatih; mulai dari tembakan membabi buta sampai tembakan sniper diarahkan pada mereka. Bahkan orang ateis pun, bisa menilai bahwa ini adalah kekejaman serius dan jelas melanggar hak asasi manusia.
Sedikit mengingatkan, Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan NKRI, di saat  belum satupun negara-negara lain yang melakukannya.

Di mana kepedulian kita?
Mungkin kita tidak bisa berangkat ke sana , mungkin tidak semua di antara kita memliki kelebihan rizqi untuk disalurkankepada para korban di sana (sejauh yang penulis tahu, ACT dan Dompet Dhuafa sudah menyiapkan untuk mengirim bantuan kepada para korban kekerasan di Mesir), namun setidaknya kita semua sama-sama bisa berdoa, kan?
Setidaknya, daripada menghujat Ikhwanul Muslimin atau Presiden Moursy, bukankah lebih mudah dan indah jika kita berdoa untuk keselamatan mereka dan rakyat Mesir lainnya, kan?!
*sumber di sini

*dikutip dengan perubahan tanpa merubah esensi, dari khotbah Jumat 30 September 2013 di Masjid KP DJBC oleh Ust. Ferry Nur

Rabu, 28 Agustus 2013

Tips: Agar Semangat Ramadhan Tidak Luntur

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian. Bagaimana kabarnya? Baik kan? Alhamdulillah deh kalo gitu. OK, kali ini penulis mau berbagi ilmu sedikit tentang tips supaya semangat ibadah kita pas Ramadhan kemarin nggak luntur. Mengingat fitroh keimanan manusia yang 'naik turun seperti ombak di lautan', maka selalu ada kemungkinan terjadinya penurunan keimanan kita setelah melewati masa Ramadhan. Berikut tips yang penulis dapatkan dari kajian rutin ba'da dzuhur di masjid kantor:
  • tekad kuat untuk beramal terus menerus, meski sedikit. Bukankah Allah paling suka dengan amalan yang kontinyu, meski sedikit-sedikit (apalagi banyak)? Mungkin sangat jauh bagi kita kalau harus mencontoh amalan Rasulullah Muhammad SAW, misalnya qiyamul lail sampai kaki bengkak karena panjangnya surat yang dibaca, namun kita bisa mencontoh perilaku para sahabat yang memiliki amalan unggulan. Misalnya sahabat Bilal yang rutin melakukan sholat 2 rokaat setelah berwudhu
  • sikap yang baik membutuhkan bi'ah/lingkungan yang baik. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang baik, Insya Allah akan lebih besar kemungkinannya kita ikutan baik, daripada kemungkinan kita 'melenceng' dari jalan yang benar. Maka dari itu kita harus pandai-pandai bergaul, utamakan bergaul dengan orang sholeh. Bukannya pilih-pilih teman, berteman dengan siapa saja boleh kok, asal kita pintar-pintar memfilter mana hal baik yang bisa kita tiru dan mana hal buruk yang nggak boleh kita contoh dari teman kita. Nah, kalau kita lebih banyak bergaul dengan orang yang baik, bukankah akan lebih banyak hal baik yang bisa kita contoh dari mereka?
  • senantiasa mengikuti kajian ilmu, sebagai penyegaran amalan kita. Diibaratkan bahwa keianan kita ibarat pohon, ia bisa saja tumbuh besar jika dirawat dengan baik, namun akan meranggas dan mengering, bahkan mati, jika kekurangan nutrisi. Nah, nutrisi bagi keimanan kita adalah ilmu agama, yang menambah wawasan bagi kita dalam beramal. Maka kita harus rajin-rajin mendatangi majlis ilmu. Entah kajian rutin di masjid, pengajian di mushola, atau mentoring dengan sahabat, insya Allah, akan ada ilmu baru dari sana. Kalaupun yang dibahas di sanan adalah 'ilmu lama' alias hal yang sudah pernah kita tahu, anggap saja sebagai pengingat di kala lupa. Nggak ada salahnya kan, memperkuat ingatan tentang ilmu tersebut?
  • memperbanyak doa agar dikuatkan imannya dan diberikn kekuatan untuk istiqomah dalam Islam. Hayo, apa saja yang Pembaca sekalian doakan ketika selesai sholat?Doa lancar rizqi, doa didekatkan jodoh, doa kelancaran urusan dunia akhirat, dll. Namun mungkin kita sering lupa untuk berdoa, meminta dikuatkan iman kita. Padahal ini penting lho. Karena ya itu tadi, karakteristik iman kita naik turun seperti ombak di lautan. Selain tentunya berusaha untuk memperbaiki iman kita, tentu juga lebih afdol kalo disertai doa. Bukankah setiap usaha kita harus disertai doa? Lagipula, doa akan dikabulkan oleh Allah selama tidak memohon tentang kemaksiatan dan pemutusan silaturahim kok. Yuk, selipkan doa agar dikuatkan iman kita tiap selesai sholat.
Pembaca sekalian, inilah tips-tips agar semangat ibadah yang kita dapatkan selama Ramadhan kemarin, tidak luntur ketika Ramadhan telah usai. Semoga kita dapat mengamalkannya dan menjadi insan yang memiliki keteguhan dalam beriman dan ber-islam. Mengutip lagi dari kajian Selasa kemarin (saya lupa, ini kata-kata dari Hadits Rasul, ucapan sahabat, atau perkataan ulama), "Jadilah hamba Allah, bukan hamba Ramadhan". Artinya, kurang lebih begini; kalau kita bhanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, tapi di luar itu kita malah jauh dari ajaran agama (naudzubillah), maka kita termasuk hamba Ramadhan-beribadah pas Ramadhan doang. Sementara hamba Allah, terus menerus/rutin beribadah, entah itu Ramadhan atau bukan. Mungkin sebagian dari kita berkata, Yaiyalah tiap hari juga harus ibadah, kan ada sholat wajib 5 waktu, puasa sunnah, sedekah, dan sebagainya. Namun sayangnya, masih ada juga oknum-oknum yang sholatnya rajin cuma pas Ramadhan doang, selebihnya, 5 waktu aja nggak lengkap. Hare gene nggak sholat 5 waktu, apa kata dunia??? Eh, bukan Anda kok yang saya sindir, tuh, oknum di luar sana tuh. Kalau Sahabat Gundul mah insya Allah rajin-rajin ya ibadahnya?
Yaudah, karena udah agak siang, saya stop dulu postingan ini sampai di sini. Insya Allah lanjut ke postingan lainnya. Wassalamu'alaikum wa rohmatullah wa barokatuh

Senin, 12 Agustus 2013

Hikayat Kupat

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian, bagaimana sasana lebaran di kampung? Atau ada yang nggek sempat pulkam? Nggak pa pa, yang penting silaturahim tetap terjaga. Bicara soal lebaran, rasanya nggak lengkap kalau nggak bicara tentang ketupat, atau kupat dalam bahasa Jawa. Ketupat merupakan salah satu menu khas bulan Syawal bagi masyarakat muslim di Indonesia dan beberapa negara lainnya di kawasan ASEAN. Bahkan di beberapa tempat, ada tradisi bernama "Riyoyo Kupat" atau Lebaran Ketupat, dirayakan pada tanggal 7 Syawal, dimana masyarakat mengadakan selamatan dan ater-ater ketupat kepada kerabat dan tetangga (kebetulan, meski di lingkungan penulis ada yang merayakannya, keluarga penulis nggak ikutan sih - males bikin ketupatnya xp). Namun tahukan pembaca sekalian, bagaimana filosofi yang ada di balik kupat tersebut? Yuk kita bahas bersama . . .
Ketupat (Sumber)
Ketupat dalam bahasa Jawa disebut kupat, bisa jadi merupakan akronim dari kata-kata "ngaKU lePAT" (mengaku bersalah), mengingat sajian ini muncul saat Idul Fitri dimana saling bermaafan adalah tradisi yang juga melekat pada momen ini.
Bisa juga berasal dari kata-kata "lelaKU paPATi" (empat perbuatan), mengacu pada 4 perilaku yang dimunculkan dalam masyarakat ketika momen Idul Fitri berlangsung, yakni Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan (bahasa Jawa semua tuh).
Lebaran berasal dari kata Lebar (huruf 'e' dibaca seperti pada 'elang', bukan seperti 'becak'), yang artinya kelar/rampung/selesai, yakni rampung menjalankan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan.
Luberan, berasal dari kata Luber, artinya, ya luber/melimpah/sampe tumpeh-tumpeh kalau kata Jupe, yang dimaksudkan bahwa kita barus melimpahkan kebahagiaan kepada sesama, dengan saling berbagi di 2 bulan yang mulia ini (bukankah pada saat bulan Ramadhan, biasanya masyarakat berlomba-lomba berbagi rizki dengan sesama? Buka puasa bersama, sedekah, infaq, zakat, dll).
Leburan, berasal dari kata lebur, mengacu pada momen di mana dosa-dosa kita dilebur, sehingga kita kembali kepada fitrah kita yang suci, bagai bayi yang baru lahir.
Sedangkan Laburan berasal dari kata Labur, yang berarti batu kapur/gamping, batuan lunak berwarna putih yang digunakan untuk menjernihkan air atau memutihkan dinding, memiliki filosofi bahwa dengan Ramadhan ini, kita menjernihkan dan memutihkan hati kita hingga kembali bersih.
Wallahu'alam bish showab.
Apapun itu, ketupat alias kupat merupakan salah satu tradisi tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat kita. Selamat berlebaran dan selamat menikmati ketupat, Pembaca sekalian :D

#sumber: LionMag edisi Lebaran tahun ini xp (gak tau edisi berapa)