Cari Blog Ini

Jumat, 30 November 2012

Klasifikasi Manusia

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW (semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau) bersabda:
عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289). (sumber di sini)

Sehubungan dengan hal tersebut (manfaatnya bagi manusia), maka manusia bisa dikelompokkan menjadi 5 tingkatan, yakni sebagai berikut:
  1. manusia wajib : adalah pribadi yang kehadirannya dibutuhkan oleh orang lain. Ketika ada dia, kerjaan beres, semua ceria, bawa banyak makanan, temen-temen dibantuin, pokoknya nyenengin. Ketika dia nggak ada, maka kondisi kaca, orang-orang pada galau, nggak ada loe nggak rame, pada kelaperan karena nggak ada yang bawain makanan . . .
  2. manusia sunnah : adalah pribadi yang kehadirannya membuat segalanya lebih baik, meskipun kalau nggak ada dia pun, temen-temennya juga nggak masalah sih. Dalam pergaulannya dengan teman-temannya, dia ini ibarat NOS pada mobil; kalau ada dia, mobil bisa melaju lebih kenceng, kalaupun nggak ada juga, mobilnya bisa tetep melaju sebenarnya. Tapi kalau ada dia lebih baik lagi jadinya;
  3. manusia mubah : adalah orang yang kehadirannya nggak ngaruh ke komunitasnya. Ada nggak pa pa, nggak ada pun nggak pa pa. Dia datang nggak ada yang terganggu, kalau nggak ada juga nggak ada yang kangen sama dia;
  4. manusia makruh : adalah tipikal orang yang membuat temannya merasa kalau ada dia, nggak pa pa, tapi kalau nggak ada dia, akan lebih baik (misalnya ada yang mau nraktir temen se-geng dengan uang 100ribu untuk 5 orang, semuanya doyan makan. Eh ternyata ada satu orang, sebut saja si fulan, yang nggak hadir, naah, dengan ketidakhadirannya itu orang-orang jadi lebih seneng soalnya bujet makan sebesar 100ribu nggak jadi dibagi 5, tapi dibagi 4 saja, jadi lebih untung)
  5. manusia haram : adalah manusia yang kira-kira bikin temennya (setidaknya) membatin "lu tuh, ngeselin, resek, habis-habisin makanan, nggak guna, nggangguin orang lain mulu, idup lagi. . . ". Kehadirannya membuat orang-orang merasa terganggu, sementara kalau dia nggak ada, maka teman-temannya akan lebih bahagia. Naudzubillah deh kalo jadi kayak gitu . . .
Nah, nggak  usah lirik kanan kiri deh, nggak usah mengklasifikasikan teman sekelas/sekantor/sekosan ke dalam 5 kategori tadi deh, kita pake buat cerminan diri aja. Kalo kita sendiri, sekarang masuk kategori mana nih? Wajib kah, atau sunnah, mubah, atau yang lain . . .

*5 tingkatan manusia ini, pernah saya dengan dari seorang penceramah (entah khotib Jumat atau ceramah di even lain). ditulis ulang dengan modifikasi seperlunya tanpa mengubah esensinya

Senin, 26 November 2012

Saya Anggap Itu Doa

Setelah sekian lama menghilang dari dunia pergundulan, akhirnya saya kembali menggunduli rambut kepala ini. Risih, udah sekitar sebulan nggak potong rambut, terakhir kali potong rambut sebelum 30 Oktober kemarin, pas mau ikutan upacara peringatan Hari Oeang (itupun nggak saya gundulin, cuma cepak ala tentara). Nah, ketika saya kembali ke style gundul ini, seperti biasa, reaksi orang kantor pun bermacam-macam. Ada yang bilang "lu stres ya", "gila, keren amat rambutnya", habis ketangkep hansip, sensi, macem-macem deh pokoknya. Untung saya udah kebal dengan komentar semacam itu.
 
Cuma, ada beberapa orang yang reaksinya agak berbeda. "Habis dari Haji ya?", begitu kata beberapa orang. Kebetulan ini musimnya orang habis hajian pada pulang kampung. Dan orang habis ibadah haji, biasanya kan gundul, habis tahallul. Saya mah cuma senyum-senyum aja dan mengamini. Siapa sih yang nggak kepingin naik haji? Mungkin tidak tahun ini, tidak, ini bukan gundul karena habis tahallul. Mungkin kali ini cuma gundul biasa, tapi siapa tahu, tahun depan, atau tahun depannya lagi, saya benar-benar menggunduli kepala karena habis menunaikan ibadah haji. Insya Allah :)
 
 prosesi tahallul.

Selasa, 20 November 2012

Palestina Diserang, Kita Bisa Apa?

Untuk kesekian kalinya, zionis israel menggempur Palestina. Untuk kesekian kalinya, darah warga sipil tertumpah di tanah Palestina. Mereka itu saudara-saudara kita, jangan campakkan mereka.

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menganiayanya, menelantarkannya, mendustakannya dan menghinanya..." (HR Muslim)

"Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka." [HR. ath-Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari].

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, selain hanya menonton beritanya di TV dan internet, lalu menyerapahi kebiadaban israel?? Apakah harus kita datang ke sana dan ikut berperang, sementara peralatan saja kita belum mencukupi . . . Lalu apa???
Mengutip kata-kata dari Ustadz Feri Nur, intinya ada 3 hal yang dapat kita lakukan, yakni:
  • pertama dan yang paling mudah, kita harus mendoakan mereka di setiap sholat kita. "Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, "Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa." (HR. Muslim no. 2733, Abu Daud no. 1534, Ibnu Majah no. 2895 dan Ahmad no. 21708)
  • kedua, lakukan penggalangan dana. ada banyak organisasi yang peduli pada palestina, dan kita dapat memberikan infaq melalui organisasi tersebut. Di antaranya melalui KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina; organisasi ini ikut mengirim relawan dalam misi Mavi Marmara beberapa waktu silam), MER-C ( Medical Emergency Rescue Committee; memiliki program membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina) atau KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina; dengan program 'one man one dollar to save Palestine')
  • ketiga, jika kita memiliki lebih dari sekedar dana, maka bisa ikut turun dalam mobilisasi aksi relawan ke Gaza, seperti aksi Mavi Marmara atau gerakan Viva Palestina. Insya Allah, saya optimis umat muslim di Indonesia akan segera mencanangkan aksi untuk turun ke sana, mungkin melalui organisasi-organisasi yang saya sebutkan di atas tadi.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Apapun itu, mari melakukan yang terbaik untuk membantu saudara-saudara muslim kita di Palestina.

Beberapa rekening untuk menyumbangkan bantuan ke Palestina :
  • Infaq Al- Aqsha Palestina via Bank Muammalat Indonesia No Rek : 311.01856.22 (an. Nurdin QQ KISPA)
  • Infaq untuk operasional relawan KISPA untuk Palestina via Bank Syariah Mandiri (BSM) No Rek : 116 70246 96 (a.n Muhendri)
  • One Man One Dollar; Rek. BCA  No.7600 325 099 cab. Kelapa Gading, atau Rek. Bank Syariah Mandiri (BSM) No. 18000 22210 cab. Kelapa Gading, a.n. Komnas untuk Rakyat Palestina
  • RS. Indonesia di Gaza, Bank Syariah Mandiri (BSM), cabang Kramat Acc. No. 700.1352.061, atau Bank Central Asia (BCA), cabang Kwitang Acc. No. 686.0153678, a.n. Medical Emergency Rescue Committee
Semoga Allah merahmati Palestina, umatnya yang berjuang di sana, serta kita, sesama muslim yang membantu perjuangan mereka di Palestina. Allahu akbar,  save Palestina!!!

Selasa, 13 November 2012

Masih tentang Iblis . . .

Masih terkait dengan postingan sebelumnya, kali ini saya masih membahas tentang Iblis.

Sebagaimana kata saya orang bijak, seburuk-buruknya manusia pasti masih ada sisi baiknya, begitupun iblis (meskipun ia bukan manusia). Ya, benar, sebenarnya iblis pun masih punya sifat yang sebenarnya positif, hanya saja penerapannya yang salah sehingga membuahkan hasil vonis hukuman seumur akhirat di neraka jahanam bagi iblis. Padahal kalau sifat-sifat tersebut diterapkan sesuai dengan ajaran Agama, maka tentu hasilnya akan baik sekali. 

Yuk kita bahas satu-persatu :
  • Selalu menepati janji. Ketika iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam As, maka seketika itu juga Allah melaknat iblis, dan memberikan vonis neraka baginya. Dan iblis pun makin geram dengan Nabi Adam yang dianggapnya lebih hina daripada dirinya, kemudian berjanji akan menyesatkan setiap dari keturunan bani Adam. Dan sejauh ini, berapa ribu tahun setelah kejadian tersebut, kita dapat rasakan bahwa iblis masih konsisten menepati janjinya dalammenggoda umat manusia ke dalam kesesatan. Memang, menepati janji itu baik, hanya saja, janji macam apakah yang ditetapkan sebelumnya? Tentu, sebagai umat muslim, kita mana boleh mengucapkan janji-janji yang melanggar syariat, apalagi mengamalkannya.Yuk, kita berjanji untuk selalu memperbaiki kualitas iman dan taqwa kita . . .
  • Konsisten. Dari jaman nabi Adam sampai ke jaman detik-detik menjelang kiamat, iblis akan senantiasa konsisten menggoda umat manusia untuk melenceng dari jalan-Nya. Kita pun harus konsisten juga, namun beda dengan iblis, kita harus konsisten alias istiqomah dalam mengajak orang-orang ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT (dan juga menjalankan apa-apa yang kita ajak orang lain untuk melakukan, jangan ngajak doang tapi nggak ngelaksanain). 
  • Pantang menyerah dan kreatif dalam menggapai tujuannya. Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, iblis selalu punya berbagai cara untuk menggapai tujuannya. Satu cara gagal, dia pakai cara lain. Masih gagal lagi? Tenang, masih seribu cara yang lain. Tangguh kan? Kita pun harus seperti itu dalam menggapai tujuan kita. Hanya saja, kalau tujuan iblis untuk menyesatkan umat manusia, tujuan kita tentu untuk menggapai ridho Allah SWT agar mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.
  • Solid dan kompak. Iblis dan bala tentaranya, senantiasa tolong menolong dalam menggapai tujuannya. Mereka punya teamwork yang kuat, solid, dan memiliki visi yang sama, tanpa terpecah-pecah oleh kepentingan individu. Sementara kita? Sayang sekali, umat kita masih seringkali terpecah-pecah, bahkan oleh hal-hal yang kecil. Misalnya saja, masalah sholat subuh pakai qunut atau tidak, bisa membuat jama'ah ini menghindari masjid itu, jama'ah itu menghindari mushola ini, dan sebagainya. Nah, seharusnya kita, umat Islam, harus memiliki semangat kebersamaan yang kuat juga untuk menggapai tujuan bersama, membentuk kekhalifahan Islam, misalnya. Kalau terpecah-pecah, mana bisa tujuan bersama tercapai? Yang ada, tim besar ini (lebih dari 1 milyar umat Islam di dunia saat ini) menjadi pecahan-pecahan kecil yang punya tujuan dan kemauan sendiri-sendiri. Lalu, kapan tujuan bersama itu bisa tercapai?
Nah, itu tadi sebagian sifat iblis yang sebenarnya baik, namun salah dalam penerapannya. Hayo, bahkan iblis yang terlaknat pun, masih punya sifat baik (namun salah dalam penerapannya). Bagaimana dengan kita, umat manusia yang katanya merupakan makhluk paling mulia? Malu dong sama iblis, kalau kita nggak punya sifat-sifat seperti tadi (menepati janji, konsisten, pantang menyerah dan kreatif, serta kompak demi kepentingan kelompok). jangan mau kalah, kita pun harus kembangkan sifat-sifat mulia tadi, dan jangan lupa, harus diterapkan dalam  kegiatan yang sesuai perintah agama yaaa . . .

Kamis, 08 November 2012

Pria Itu (Mungkin) Jelmaan Malaikat Allah

Ardi galau, berkali-kali ia pindah tempat duduk. Kemudian berdiri lagi, berkeliling di area tunggu terminal, sesekali berjalan di antara bis-bis yang sudah tiba di terminal, melihat kalau-kalau bis yang ditumpanginya sudah tiba di terminal. Sudah pukul 6.30, artinya sudah setengah jam dari jadwal yang ditetapkan dan bis yang akan dinaikinya belum datang juga. Kembali ia duduk di salah satu kursi kosong di terminal.

Pikirannya gamang, masih terngiang di telinganya, suara tangis ayahnya tadi pagi, ketika mengabarinya bahwa neneknya telah tiada. Belum pernah dia mendengar ayahnya menangis seperti itu, dan itulah yang membuat pikirannya seharian ini kalut. Ia ingin segera pulang dan bertemu ayahnya. Hal inilah yang membuatnya memaksakan diri untuk pulang kampung secara mendadak.
Jumat malam artinya akhir pekan, dan harga tiket pesawat melambung bagai disuntik helium, tentu tak mampu ia membeli tiket pesawat yang hari itu, harga paling murah saja tinggal selisih 100 ribuan dari gaji bulanannya. Tiket kereta api pun telah ludes, karena sudah dipesan sejak jauh-jauh hari oleh para calon penumpangnya. Maka pilihan terakhir adalah bus malam, meskipun memiliki risiko mengalami kemacetan yang berakibat molornya waktu perjalanan.

Ardi meraba sakunya. Sisa duit di kantongnya hanya 40 ribuan, sudah habis dipakai untuk membeli tiket bis seharga 230 ribu rupiah, itupun dengan 70 ribu hasil memalak temannya sepulang dari kantor tadi. Sisa uang di ATM nya tak sampai 100 ribu, maka sudah tidak bisa tarik tunai lagi. Beruntung, kebetulan ada temannya yang melintas di dekat mesin ATM. Tanpa basa-basi, Ardi meminta pinjaman uang, dan beruntung temannya tadi masih lebih bagus kondisi finansialnya, dan bersedia meminjaminya uang 70 ribu. Dikurangi 30 ribu untuk membayar kekurangan harga tiket yang dibelinya siang tadi, hanya tersisa sekitar 40 ribu di kantongnya. Ongkos bis dari terminal Surabaya sampai rumahnya di Malang 20 ribu rupiah, dan tanpa memiliki bekal makanan, sisa 20 ribu itulah yang harus digunakannya dengan bijak untuk keperluan di perjalanan nanti.  
Sebenarnya bisa saja dia meminta subsidi transferan pada ayah atau kakaknya, hanya saja dia tak ingin merepotkan keduanya. Ayahnya sedang berkabung, sementara kakaknya sedang ada ujian, sehingga ia bungkam saja mengenai rencana pulang dan kondisi ATMnya yang tengah kritis.

Sesekali ia melihat ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada wajah yang dikenalnya di antara ratusan calon penumpang bus di terminal. Sedikit kecewa, karena ia tak mendapati satupun orang yang dikenalinya. Tentu saja, ini bukan tanggal favorit bagi teman-teman sekantornya untuk pulang kampung, kebanyakan temannya memilih pulang kampung pekan depan, karena ada dua tanggal merah pekan itu. Kali ini dia merasa kesepian di tengah ramainya suasana terminal. Setidaknya sampai ada suara yang menyapanya.

'Pulang kemana Dik?', seorang pria muda dengan jaket kulit warna hitam menyapanya. raut mukanya ramah dan tampak bersahabat.
'Surabaya Mas', sedikit kaget Ardi menjawab, sembari mengingat-ingat wajah yang tampak asing tersebut. 'Sampean ke mana mas?'
'Semarang', jawab pria tersebut, senyumnya seolah seorang yang sudah kenal lama saja. Dan itu membuat Ardi semakin bingung karena ia tak berhasil mengingat siapa orang itu sebenarnya. Akhirnya ia berpindah duduk ke sebelah pria tersebut.
'Maaf mas, aku nggak inget samasekali ke Sampean, siapa ya?', tanyanya jujur, tanpa bermaksud SKSD.
Orang itu tersenyum dan malah balik bertanya, 'Kamu di kosan nomor 30 kan?'
'Kok tahu Mas, berarti sampean temennya Mas Heru juga? Atau malah satu kosan juga?', Ardi makin penasaran.
Si orang misterius mengangguk.
'Maaf Mas, saya beneran nggak tahu sama Mas. Saya Ardi', Ardi mengulurkan tangannya dan langsung disambut orang tersebut. 'Dodo', jawabnya sambil tersenyum. 'Saya emang jarang di kosan, wajar sih kalau kamu nggak tahu siapa saya, tapi saya pernah tahu kamu, temannya si Gatut kan? Aku di kamar nomor 6'.
'Iya Mas, wah, jadi merasa bersalah nih, masak sampai nggak kenal sama temen sekosan', Ardi salah tingkah jadinya. Gimana enggak, masa sama orang satu kos nggak kenal, eh malah dia yang menyapa lebih dulu.
'Magang di mana kamu Dik? Saya di gedung B lantai 4', kata pria itu lagi. Lagi-lagi membuat Ardi terkejut, berarti  dia juga sekantor dengan orang ini, dan dia belum pernah sekalipun melihatnya. 'Saya di lantai 4 gedung utama Mas, dan maaf banget Mas, saya beneran nggak pernah ngelihat Mas di kantor juga', Ardi makin kikuk.
'Hahahaha, wajar lah, saya sering dinas luar, di kantor jarang-jarang, di kosan juga jarang, tapi saya cepet hafal muka orang, makanya saya tahu kamu', jawab pria itu sambil terkekeh.
'Saya malah sebaliknya Mas, susah hafal kalo nggak sering ketemu, hehehe', Ardi terkekeh, sedikit tersindir juga karena kemampuannya menghafal muka orang memang payah, membuatnya seringkali lupa dengan orang-orang yang pernah dijumpainya.
'Ini angkatan kamu sama Gatut, masih magang ya? Kalau pemberkasan sudah kan?', tanya orang itu lagi, kali ini menyangkut topik sensitif bagi Ardi.
'Iya Mas, udah pemberkasan tapi masih magang', jawabnya pendek. Ia tak suka kalau sudah membahas masalah magang ataupun pengangkatan CPNS.
'Berarti gajinya masih yang di bawah UMR itu ya? Hahahaha. Nggak pa pa, semua dulu juga gitu kok. Anggap saja perjuangan sebelum pengangkatan, tirakat dulu', orang itu mencoba membesarkan hati Ardi. Ardi hanya sedikit menyunggingkan senyum, sedikit dan dipaksakan.
'Eh berapa tiket ke Surabaya?' tanya orang itu, mencoba mengalihkan topik. Ia menangkap tanda ketidaksukaan Ardi pada pembicaraan barusan.
'230 Mas. Kalo ke Semarang?', Ardi balik bertanya.
'180 Dik, nggak semahal ke Jatim, jadi lumayan bisa pulang tiap pekan', jawab pria itu santai.
Ardi ber 'oooh'. Baginya,  180 ribu pun masih terasa mahal. Kalau bukan karena ingin segera menemui ayahnya, tentu Ardi tak akan bela-belain pulang mendadak, naik bis lagi, yang harga tiketnya untuk sekali jalan bisa dipakai untuk naik kereta ekonomi 2 kali pualng pergi.

Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa bis jurusan Surabaya sudah tiba dan siap diberangkatkan. Ardi bergegas bangkit. 'Mas, bisa saya udah datang ini, saya duluan ya', pamitnya pada orang itu.
'Ati-ati ya Dik', orang itu menjabat erat tangan Ardi. Ada sesuatu di telapak tangan itu yang ditempelkan pada tangan Ardi. 'Buat ongkos bis', ucap pria tersebut dengan tersenyum.
Ardi melongo, tak sanggup berkata-kata, kaget karena tiba-tiba mendapatkan salam tempel dari seseorang yang baru saja dikenalnya.
'Udah buruan, bisnya keburu berangkat ntar Dik', seruan pria itu menyadarkan Ardi.
'Tapi Mas, saya . . .', Ardi bingung mau berkata apa. matanya bergantian memandang pria tersebut, lalu ke uang yang kini berpindah ke genggaman tangannya, lalu kembali ke pria tersebut. Logikanya masih sedikit sulit mencerna kejadian barusan.
'Udah, bawa aja. Ati-ati ya Dik. Salam buat keluarga di rumah', ujar pria itu sambil menepuk pundak Ardi, 'Bis saya juga udah datang tuh', ucapnya lagi sembari melangkah ke arah bis jurusan Semarang yang baru saja memasuki area terminal.
'Matursuwun Mas', kata Ardi buru-buru menyusul kemudian menjabat tangan pria itu. Pria itu membalas dengan senyuman. Ardi lalu bergegas berlari ke arah bis yang hendak ditumpanginya.
Sesekali ia menoleh ke belakang, mencari pria tadi di antara kerumunan penumpang bis ke arah Semarang lainnya, namun tidak didapatinya pria ramah yang memberinya ongkos pulang kampung tadi.

Ardi bergegas mencari tempat duduknya di bis, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi bis. Perlahan dibukanya genggaman tangannya lalu diambilnya salam tempel dari pria tadi. Dihitungnya, 2 lembar ratusan ribu dan selembar lima puluh ribuan. Berarti dua ratus lima puluh ribu, pas untuk mengganti ongkos bis jakarta-Surabaya ditambah Surabaya-Malang.
'Ya Allah. . .pertolonganmu sungguh datang dari arah yang tidak disangka-sangka', ucapnya lirih. Bibirnya komat-kamit mengucap syukur, matanya khusyuk terpejam. Dalam hati ia menduga, mungkin saja pria tadi adalah jelmaan malaikat Allah yang ditugaskan untuk membantunya. . .
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Adios, Amigos

Kemarin, saya dan para pegawai di Direktorat Cukai KP DJBC sedang punya gawe, yakni acara Pisah Sambut Direktur Cukai, bapak Iswan Ramdana yang memasuki masa purna tugas, digantikan oleh bapak Heri Kristiono, serta pelepasan Kasubdit Cukai Hasil Tembakau, bapak Muhammad Purwantoro yang ditugaskan menjadi Kepala Kanwil DJBC Jatim II di Malang. Nah, saya di sini nggak membahas karir beliau bertiga, ataupun pengalaman saya berduet dengan bapak Swensy menjadi MC di acara tersebut.

Saya hanya mencoba mengambil sebuah pelajaran dari acara tersebut, yakni perpisahan.
Perpisahan adalah suaatu sunatullah, alias suatu ketetapan Allah yang berlaku bagi makhluk-makhluknya. Setiap perjumpaan pasti akan dibarengi perpisahan, entah setelah berapa lama, dan entah apakah nantinya akan ada pertemuan lagi. yang pasti, perpisahan selalu ada, tinggal menunggu waktu.

Kalau diingat-ingat, sudah berapa kali kita mengalami perpisahan dalam hidup ini? Taruhlah, perpisahan sekolah, sejak TK, SD, SMP, SMA, kuliah, setidaknya kita sudah pernah mengalami 5 perpisahan yang 'dirayakan'. Belum lagi perpisahan dengan teman yang pindah sekolah, perpisahan dengan atasan, perpisahan dengan tetangga yang punya rumah baru, dan sebagainya. Hanya saja, kalau perpisahan ini, bisa dibilang hanyalah sementara dan masih ada kemungkinan untuk bertemu lagi suatu saat nanti. Namun bukan perpisahan ini yang akan saya bahas pada postingan ini.

Melainkan perpisahan antara raga seorang manusia dengan ruhnya, alias kematian. Setiap manusia, yang oleh Allah telah dipertemukan dengan 'dunia' dan seisinya, maka kelak akan mendapati perpisahan dengan dunia ini beserta seluruh isinya.
Ketika ini terjadi, tak ada lagi pertemuan kedua dengan teman, keluarga, tetangga, guru, dan sebagainya.

Mari sejenak kita renungkan, seberapa siapkah kita menghadapi perpisahan yang satu ini?
Hari di mana jiwa dan raga ini terpisah, di mana kita, manusia, berpisah dengan dunia dan seisinya. Hari ketika kita terpisah dari ayah ibu, saudara saudari, sanak famili, rekan dan kerabat, pasangan, anak dan cucu.
Seberapa siap kah kita?

What I Learned From 'That' Moment

Hal-hal yang saya pelajari dari acara Pisah Sambut Direktur Cukai dan Pelepasan Kasubdit CHT, kemarin :

  • there's always the first time for everything. Pada kesempatan itu, saya ditunjuk menjadi MC. Memang sih, penulis pernah juga ditunjuk sebagai MC ketika ada acara demo masak Ramadhan kemarin, namun itu kan acara santai. Nah ini, acara perpisahan direktur, banyak pejabat yang hadir. Sedikit grogi, saya meminta petuah Mas Iswandi yang sudah lebih dulu menekuni dunia per-MC-an. Dan satu kalimat yang saya tangkap dari beliau adalah, selalu ada 'pertama kali' dalam melakukan setiap hal. Jadi, ya udah enjoy aja lah.Namanya juga malam pengalaman pertama. Pasti nanti ada kekurangannya, namun karena baru pertama kali, ya pasti orang bisa memaklumi lah. Yang penting, untuk kesempatan-kesempatan berikutnya harus diperbaiki. Dan pengalaman pertama ini akan menjadi batu pijakan bagi penampilan kedua, ketiga, dan seterusnya. Siapa tahu nanti bisa punya kerjaan sampingan jadi MC atau ngegantiin Bung Towel jadi komentator ISl. Hehehe
  • always prepared. Pada kesempatan kemarin, Pak Iswan diminta untuk menyanyi setelah memberikan sambutan. Saya sendiri nggak inget lagu apa yang beliau bawakan, dan ketika beliau bertanya ke tim musik pun, mereka nggak punya database lagu tersebut (padahal udah bawa tablet PC buat OL loh, dan nggak ketemu). Mungkin karena beliau udah terbiasa menyanyikan lagu itu di setiap acara perpisahan, rupanya beliau pun sudah membawa catatan. Rupanya beliau sudah berjaga-jaga, kalau-kalau tim musiknya nggak punya database lagu tersebut, jadi beliau udah nyiapin sendiri. Jadi, selalu persiapkan dirimu ketika akan ada suatu kegiatan (ujian, presentasi, rapat, dll). Apalagi kalau acaranya nggak mendadak, pasti sebenarnya banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Kalau ngomong nggak sempet nyiapin, itu artinya cuma satu: MALAS.
  • non-stop learning. Giliran Pak Heri selaku direktur baru memberikan sambutan, beliau memaparkan bahwa sebagai orang baru di direktorat ini, maka harus banyak belajar kepada orang-orang yang sudah lebih dulu di sini. Beliau menyatakan kesiapan untuk mempelajari hal-hal baru yang diperlukan untuk bekerja di sini, dari siapapun. Meski di lingkungan ini beliau merupakan pimpinan teratas, namun tidak menghalangi kesungguhan beliau untuk terus belajar dari berbagai sumber. Padahal, biasanya manusia sudah malas belajar ketika sudah MERASA pintar (padahal belum tentu pintar), ogah belajar apalagi dari yang lebih muda, junior, atau lebih rendah pangkatnya. Nah, contoh macam inilah yang bagus;meski jabatan tinggi, usia sudah sepuh, namun tetap mau belajar dari bawahan/yang pangkatnya lebih rendah dan lebih muda. Ini yang namanya belajar tidak mengenal usia.
Nah, inilah beberapa hal yang dapaat saya petik dari acara perpisahan direktur kemarin. Semoga hal yang saya tulis bermanfaat bagi saya dan semua. Aamiin . . .