Cari Blog Ini

Jumat, 29 Juni 2012

Obat Anti Galau

Ada yang bilang, galau lagi tren sekarang. Lihat aja ke situs jejaring sosial, dan hitung berapa banyak teman Anda yang meng-update status galau. Mau ujian semester dan belum belajar, galau. Kuliah nggak pulang-pulang padahal ada janjian ama temen, galau. Dapet tugas di kantor terus disuruh lembur, galau. Cuaca mendung dan gak bawa payung, galau. Belum nikah tapi udah telat 3 bulan, galau, salah sendiri nggak nikah-nikah. Tapi pembaca sekalian jangan tanya siapa yang mencetuskan ide alay 'galau lagi tren' yang jadi populer itu, saya juga nggak tahu.

Omong-omong, apakah ada di antara pembaca sekalian yang lagi galau? Taraaa . . . Saya punya solusinya, saya punya obat anti galau. Tapi bukan dengan kartu operator seluler yang bintang iklannya lucu itu. Meski saya pakai kartu dari provider itu, postingan ini bukan postingan promosi kok. Silahkan lanjutin dulu baca artikel ini.

Jadi begini, coba pembaca sekalian ambil mushaf masing-masing. Kalo nggak ada boleh pinjem kok, atau pakai aplikasi Al-Qur'an untuk Java. Cari surat ke tiga belas, alias surat Ar-Ra'du. Ayat 28. Udah ketemu? Coba baca terjemahannya. Udah? Eh, ada yang belum dapat mushaf atau Java Qur'an? Yaudah deh, sini saya tulisin terjemahan ayat tadi :
"...orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra'du ayat 28)

Mengingat Allah, atau dzikrullah. Itulah yang saya maksud obat anti galau tadi, nggak pakai unsur promosi operator kan? Dzikrullah sendiri, memiliki dua makna. Yang pertama adalah dzikrullah dengan arti 'mengingat Allah'. Dan yang kedua, dzikrullah dengan makna 'menyebut Allah melalui Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya, serta bukti-bukti keagungan dan kemuliaan-Nya'. Nah, kedua makna ini harus kita penuhi, karena sama-sama penting. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati". (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779).

Nah, mau nggak, kita disamakan dengan orang mati? Nggak mau, kan? Makanya ayo kita perbanyak dzikir. Baik secara baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat; yaitu waktu, bilangannya dan caranya terikat sesuai dengan keterangan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, tidak boleh bagi kita untuk menambah atau mengurangi bilangannya, atau menentukan waktunya tanpa dalil, atau membuat cara-cara berdzikir tersendiri tanpa disertai dalil baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang shahih/hasan) maupun yang bersifat muthlaq (yaitu dzikir di setiap waktu, tempat dan keadaan baik berbaring, duduk dan berjalan sebagaimana diterangkan oleh 'A`isyah bahwa Rasulullah berdzikir di setiap keadaan - kecuali di tempat najis seperti di kamar mandi). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.(QS Al-Ahzab ayat 41-42)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS Ali Imron ayat 190-191)

Fleksibel bukan? Bahkan sambil duduk-duduk, kita bisa berdzikir. Sambil tiduran pun boleh. Sambil melihat langit, bintang, awan, matahari (jangan lama-lama, ntar matanya sakit), tumbuhan, hewan, semua ciptaan-Nya yang lain, kita bisa lakukan sambil berdzikir. Bahkan kalau dilihat lebih dalam, seluruh ibadah wajib pun juga mencakup dzikir di lamanya. Sholat, seluruh bacaannya adalah dzikir. Puasa dan berhaji, juga dipenuhi dzikir. Ditambah lagi, dzikir juga mampu menutup kekurangan-kekurangan dalam ibadah kita yang lain.
Dari Abdullah Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at Islam telah (terasa) banyak bagiku (sehingga aku takut tidak bisa memenuhinya), maka beritahukan kepadaku sesuatu (amalan) yang dapat aku jadikan sebagai pegangan (yang bisa menutup kekurangan-kekuranganku)! Beliau bersabda: “Hendaknya senantiasa lidahmu basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Masih kurang ampuh gimana lagi coba? Udah bisa untuk menenangkan hati dan mengusir galau, membuat kita makin dekat dengan Allah, bikin kita masuk golongan orang berakal, trus berpahala dan mampu 'menambal' kekurang-sempurnaan ibadah kita lagi. Sudah cukup banyak manfaat dan keutamaan dzikir yang kita bahas kali ini. Tunggu apa lagi? Yuk kita basahkan lisan kita dengan ucapan dzikir secara kontinyu. Insya Allah lebih dari manjur untuk sekedar obat anti galau :D

*sumber rujukan :
- mentoring Kamis pekan lalu
- http://wawasanislam.com/kajian/pentingnya-dzikrullah/
- http://inspirasiislami.com/index.php/2012/02/tidak-berdzikir-berarti-mati/
- http://inspirasiislami.com/index.php/2012/02/rambu-rambu-berdzikir/
- http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/29.htm

Rabu, 27 Juni 2012

Epic Rare Phyton Has An Epic Price

Another side story from pameran flona ahad kemaren. Namanya juga pameran flona alias flora fauna, jadi ya nggak cuma stand tanaman yang dipajang, tapi juga hewan. Ada stand ayam serama, ayam ketawa, ayam ekor panjang dari Jepang (entah apa namanya), kucing, anjing, sugar glider, burung hantu, katak pohon, ikan, kelomang dan tentu saja reptil. Kura-kura, biawak, iguana, dan ular. Nggak ada buaya kok, selain munkin buaya darat yang berkeliaran di antara para pengunjung. Dan di salah satu stand reptil, saya melihat ini :



Ini adalah seekor Ball Python (Python regius). Sejenis ular pembelit berukuran relatif kecil, kalo nggak salah, di VCD Reptiles & Amphibians punya saya jaman SD dulu, hewan ini panjang maksimalnya cuma sekitar 1 meter, jarang yang lebih dari 1,5 meter. Kecil kan, kalo dibandingin Boa Constrictor yang (katanya) bisa mencapai 6 meter atau Python reticulatus yang bisa melampaui panjang 10 meter (katanya juga sih). Kenapa dinamakan ball phyton? Apakah karena dia suka main bola? Tentu tidak pembaca sekalian, ular berbeda dengan kucing atau anjing yang suka main bola (tentu bukan bola sepak) atau obyek mainan lainnya. Dinamakan begitu karena ular ini memiliki kecenderungan untuk menggulung dirinya menjadi menyerupai bola ketika merasa terancam. Jangan tanya saya kenapa, mengingat cara ini sepertinya nggak akan membuat predator pergi atau memberikan pertahanan tambahan. Lain halnya dengan trenggiling, armadillo, landak susu, kadal armadilo, atau hewan lain yang memiliki punggung-berduri-tapi-perutnya-lunak; ketika menggulung dirinya, lawan hanya mendapati punggung berduri mereka, sementara perutnya yang tak berduri, aman di bagian dalam 'gulungan' tubuhnya.

Ular kecil ini termasuk salah satu jenis yang cocok untuk peliharaan - setidaknya menurut para pecinta reptil- karena berukuran kecil dan temperamennya relatif jinak. Dan tentu saja karena motif batik khas ular piton (barangkali para pengrajin batik harus membuat batik motif ular suatu saat nanti). Apalagi spesimen yang saya foto di atas, termasuk spesimen yang cukup jarang, rare item. Lihat saja warnanya, batiknya nggak full seluruh badan, malah ada bagian badannya yang putih polos. Kalau menurut saya, malah terlihat seperti ular albino, yang diberi tambalan batik namun nggak lengkap. Istilahnya adalah piebald. Merupakan ciri resesif yang menimbulkan unpigmentasi pada sebagian tubuhnya, sementara sebagian lainnya berwarna normal.

Kalau di alam liar, individu seperti ini justru memiliki kemungkinan besar untuk mati dilahap predator (karena warna putih itu akan mencolok di antara habitatnya, merusak pola batik yang juga berfungsi sebagai kamuflase), lain halnya jika di dunia pecinta reptil. Individu dengan mutasi seperti ini bakalan dihargai lebih mahal dari individu normal. Lihat aja berandol harganya ini.

Mahal kan?

Jadi ingat, di salah satu stand ada juga tanaman yang mengalami mutasi. Yang saya ingat, ada sebatang monadenium dengan warna dominan kuning dengan sedikit corak hijau pada batang dan daunnya. Padahal, monadenium normalnya berwarna hijau tua. Ketika saya tanya harganya, memang nggak sampai jutaan, 'cuma' 25 ribu aja sih. Tapi dibandingin dengan harga normalnya yang 'cuma' 5 ribu aja, ini sudah 5 kali lipat. Apalagi yang 5 ribuan, umumnya nggak cuma sebatang, tapi udah segerombol tanaman tuh.


Well, di dunia penghobi, emang barang yang langka, unik, aneh, emang dihargai lebih mahal daipada yang biasa saja. Sedikit tambahan (tapi agak maksa) untuk nyambung-nyambungin antara tanaman & hewan aneh (dan unik) dengan pemikiran aneh (atau unik), bagaimana dengan kita? Berani berpikir dan bertindak 'out of the mainstream'? Yah menurut saya, sah-sah aja sih melawan pemikiran umum, 'to think outside the box' asalkan tidak menentang aturan yang benar, boleh-boleh aja sih :)

Warteg : Sitting Like A Boss

Biasanya, tiap jenis rumah makan memiliki table manner yang khas dari orang-orang yang makan di sana. Kalau di restoran mahal, umumnya orang makan dengan sangat sopan, pakai pisau garpu sendok, pokoknya lengkap. Duduknya tegak, siku tangan nggak boleh nempel di meja. Pokoknya ribet dan sok eropa gitu deh.
Kalau di warung lesehan, tentu lebih bebas. Makan pakai tangan alias muluk oke, nggak bisa muluk pun bisa pinjem sendok garpu. Duduknya pun bebas, bisa selonjor, bisa bersila, atau cangkruk (satu kaki diangkat) pun juga nggak masalah, kan tanpa kursi . Kalau di warteg, rasanya wajar kalo ngeliat orang makan dengan posisi duduk cangkruk di kursi, meski nggak semua begitu.
Kalau makan di rumah model begitu, umumnya bakal dimarahin. "Duduk yang sopan dong, emang di warteg apa". Begitu mungkin kata orang tua kita.

Nah, kali ini, di salah satu warteg, penulis menemukan gaya duduk yang boleh dibilang lebih nggak umum lagi. Lebih tetaptnya, gaya nggak-duduk. Pose makan sambil ndodok alias jongkok, samasekali nggak duduk. Well, mungkin tuh orang udah enjoy banget pas makan di warteg ini ya . . .

Selasa, 26 Juni 2012

Ke Pameran Flona (Lagi)

Ahad kemarin, saya ke pameran flona lagi bareng Choi dan Mas Halim. Berangkat agak siang sebelum dzuhur, kami lumayan puas berkeliling di sana melihat-lihat berbagai flora fauna yang ada. Dan sekali lagi, saya membeli beberapa sukulen murah yang masing-masing diberandol lima ribuan (IDR lo ya, bukan USD). Setelah berkeliling ke beberapa stand dan kebingungan memilih, tentunya :D
Ini dia penampakan mereka :

Thia si Haworthia yang murah hati, rela berbagi pot dengan tanaman lain

Yang pertama, adalah Haworthia turgida , tapi saya nggak tahu dia varian yang apa, beberapa sumber di internet menyebut ini var subrecta, tapi kok yang subrecta, modelnya macem-macem, nggak cuman gini doang. Mungkin dia emang kultivar hasil biakan manusia, jadi macem-macem. Pokoknya saya lihat bagus, ambil deh. Saya lebih demen sama yang ini daripada yang cymbyformis yang jabrik-jabrik itu. Sebenernya pengen cari cooperi yang agak transparan juga, tapi nggak nemu. Ya udah, ambil pot ini aja. Kenapa saya ambil pot ini, padahal pot berisi H. turgida-nya nggak cuma ini? Jawabannya adalah, lihat foto, di salah satu sisi potnya, ada tanaman lain yang numpang hidup. Entah apa, mungkin Echeveria. Entah gimana dia ada di situ, yang jelas nanti kalo dia udah agak besar, bisa dipindah ke pot lain juga. Beli satu dapat dua. Hehehehe. Si Haworthia ini saya kasih nama panggilan Thia, sementara tanaman kecil di sampingnya, ntar aja deh dikasih namanya, kalo udah gede :p

Nana yang berdaun gemuk dibilang mirip pisang, sayang nggak dapet varian yang kuning

Yang kedua, sukulen dengan daun gemuk mirip pisang (kata Pijar). Awalnya saya kesulitan mencari nama tanaman ini, karena penjualnya pun nggak tahu. Cuma bilang 'ini jenis sukulen'. Dalam hati saya bilang "Ya iyalah, tokonya aja spesialis kaktus dan sukulen". Sialnya hampir semua stand yang jual tanaman sukulen bilang kayak gitu ketika calon pembeli bertanya 'tanaman apa ini?'. Dan beberapa konsumen tidak puas dengan jawaban itu, termasuk saya. Akhirnya berkat searching tanpa kenal lelah (yaiyalah, masa searching doang capek), saya nemu nama tanaman ini. Namanya adalah Pachyphytum compactum. Namanya berasal dari bahasa Yunani kuno pachys (tebal) dan phyton (tanaman) yang secara harfiah berarti 'tanaman tebal' mengacu pada daunnya. Penamaan yang pas, bukan? Karena dibilang mirip sama pisang (banana), saya panggil dia Nana :D

Almy yang mirip pohon palem kecil berdaun merah marun, tapi nggak berbuah

Nah, ini yang ketiga. Setelah kunjungan pertama ke pameran flona, saya kan jadi sering browsing ke situs taneman hias, trus udah nemu tanaman ini di situs ini dan naksir. Cuma lupa namanya. Dan ketika sudah hampir selesai berkeliling dan sudah hampir pulang, eh ngeliat tanaman ini di salah satu stand. Tanya harga ke penjaganya, katanya goceng doang. Woooo... Langsung samber deh. Aeonium arboreum var. atropurpureum nama lengkapnya. Merah marun warna daunnya. Lima ribu rupiah harganya. Nangkring di teras saya sekarang adanya. Hahaha. Oiya, karena mirip dengan tanaman bangsa palem-paleman, saya kasih nama dia Almy (diambil dari kata 'palmy'/kepalem-paleman;english ngaco :p )

Nggak cuma saya yang ngeborong taneman hias ahad kemarin. Mas Halim juga. Nggak tanggung-tanggung, langsung beli 8 pot. 6 maca kaktus, dan 2 macam sukulen lainnya. Nggak main-main. Hahaha. Nih penampakan belanjaan Mas Halim :

Formasi total puya saya & Mas Halim :


Ditambah Aloe vera punya Pijar :


Kosan kami (lantai 2) jadi lebih berwarna-warni, mengingatkan pada Zen's Garden dalam game Plants vs Zombies, hanya saja tanemannya nggak ngeluarin koin :D


:)

Untuk kamu yang lagi sedih di sana, ya, kamu yang wajahnya merana
Berhentilah bersedih, usap air matamu sampai bersih
Langit tak akan menjadi mendung hanya karena kau berkabung
Langit kan tetap biru tak peduli hatimu sedang sendu
Cerialah, tertawalah, maka kau akan melihat seisi dunia tertawa juga
Jika kau bermuram durja, tawa orang nanti kau bilang menghina
Tertawalah, berbahagialah
Maka kau akan merasa nyanyian alam menyambutmu dengan meriah

Sabtu, 23 Juni 2012

Things That I Learned Today

Ini hari Sabtu, akhir pekan, dan berarti libur bagi kebanyakan orang kantoran. But not for me today. Hari ini ane nglembur Guys. Mau gimana lagi, ada kerjaan yang harus kelar hari Senin dan belum kelar Jumat kemarin. Maklum, beberapa hari ini kantor ane sepi, banyak pegawai yang dapet tugas dinas luar, jadi ane kudu ngeback-up gawean beberapa orang. Dan jujur aja, ane lumayan keteteran (efek rendahnya manajemen waktu, jangan ditiru ya pembaca sekalian).
Jadi hari ini ane maksain diri buat lembur (udah bilang deh tadi).
Dan ada beberapa hikmah yang bisa diambil dari hal ini.

Yang pertama, segera laksanakan tugas yang diberikan padamu. Jangan santai-santai, jangan tunda-tunda. Bersantai dan menunda hanya enak di awal tapi nggak enak di akhir guys, percaya deh sama ane. Santai kayak di pantai nggak selalu bisa diterapkan. Pentingnya untuk segera membereskan pekerjaan adalah, mungkin suatu ketika kita bakal dapet kerjaan lain atau hal lain yang memecah konsentrasi dan memakan waktu kita. Kalo kerjaan dah kelar kan, dapet tambahan lagi udah enteng, nggak ada tanggungan. Kesalahan ane adalah, bersantai-santai dengan target penyelesaian minimalis alias mepet. Dan ternyata sebelum pekerjaan itu kelar, malah ketumpukan ama kerjaan yang lain juga, jadi akhirnya terbengkalai dan keteteran.

Kedua, harus ada prioritas. Mungkin suatu saat kita akan menemui dimana ada beberapa hal yang harus sama-sama dikerjakan, dengan tenggat waktu masing-masing. Kalau lagi gitu, teliti dulu mana yang paling urgent. Prioritaskan yang darurat. Gapapa ngehabisin sekian menit untuk meneliti hal itu agar bisa menentukan prioritas mana yang dikerjakan lebih dulu. Jangan pilih untuk ngerjain yang gampang/yang enak dulu kalo ternyata itu nggak urgent banget. Kesalahan ane adalah, kemarin milih ngerjain yang enteng dulu, padahal pekerjaan itu nggak punya tenggat waktu yang mepet, jadi belakangan juga gapapa. Eh belakangan pas ngecek kerjaan yang lain, deadline-nya lebih mepet. Modar, makan tuh lembur.

Ketiga, loneliness is also stressful. Kagak enak ngerjain kerjaan dengan kondisi kantor sepi tanpa ada orang lain selain ente sendiri. Apalagi biasanya suasana kantor begitu meriah dengan berbagai tingkah polah pegawai-pegawai lain. Untung ada Mas Giyo yang bersedia mondar-mandir beberapa kali (plus utamanya, ngebukain pintu ruangan), jadi nggak sepi-sepi banget. I owe him much. Dan juga ada beberapa PKD yang lagi shift jaga kantor, jadi nggak bener-bener serasa kota mati, eh, kantor mati gitu deh.

Keempat, kelima dan seterusnya, mending pembaca sekalian nyobain sendiri deh. Hehehe. Yah sekali-sekali gitu gapapa, cuma jangan sampai lah mengulangi kebodohan yang sama.

so dark, so quiet, and i was there as Mr. Lonely

Rabu, 20 Juni 2012

Tenang Aja, Rejeki Udah Ada Yang Ngatur Kok :)

Seringkali kita galau perkara duit yang hilang, bayaran yang mepet, calon konsumen yang batal membeli, tender yang gagal, bonusan hangus, hadiah yang tak sampai, dan sebangsanya. Seringkali kita kecewa akan hal itu. Padahal sebenarnya, kalau memang begitu keadaannya, ya sudahlah, mungkin memang belum rizki kita mendapatkannya. Toh bukankah kalau sudah rizkinya, nggak akan lari ke mana. Dan kalau memang bukan rizkinya, dikejar sampai manapun nggak akan didapat.

Jika kita sedang gelisah dengan rizki kita untuk hari ini dan esok hari, ingatlah bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Pemurah telah menjamin rizki kita semua, dan seluruh makhluk lainnya. Allah Yang Maha Adil telah menetapkan bagian-bagian rizki masing-masing makhluknya sesuai kadarnya. Yakinlah bahwa rizki itu tahu keberadaan dan kebutuhan Kita melebihi pengetahuan kita terhadap diri sendiri. Ia akan terus mendatangi kita tanpa henti, dengan kadar yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan usaha kita menemukannya. Dan kita tak akan meninggal kecuali setelah seluruh rizki kita telah tersalurkan sepenuhnya kepada kita. Bukankah orang yang meninggal itu adalah orang yang telah mendapatkan seluruh hak-nya atas rizki Allah? Yang telah habis seluruh 'jatah' rizkinya, termasuk oksigen dalam setiap tarikan nafas, serta kekuatan tubuhnya.

Mari kita belajar dari burung, salah satu ciptaan Allah yang paling ajaib dan mengagumkan. Ia mengawali hari dengan perut kosong, ia lalu terbang mencari makan. Ia selalu yakin bahwa rizkinya akan sampai kepadanya, sembari terus berusaha mengais rizkinya. Ia hanya akan terus berusaha memenuhi kebutuhannya tanpa pernah khawatir akan hari esok. Esok hari ia akan terbang lagi mencari rizki, dan tetap yakin rizki itu sampai kepadanya. Ia tak pernah bosan terbang ke sana kemari, karena ia tahu bahwa jika dia bergerak, akan makin banyak rizki yang datang kepadanya daripada jika ia hanya bertengger saja di dahan pohon.

bahkan burung pun tidak malas dalam berusaha memenuhi kebutuhannya (sumber)

Nah, kalau burung saja yang diciptakan tidak selengkap manusia, mempunyai naluri untuk terus berusaha memenuhi rizkinya, bagaimana dengan manusia yang diberi kelengkapan berupa akal pikiran?

*dikutip dengan perubahan dari Golden Words, Kata-Kata Penggugah Jiwa ( DR. Aidh Al Qarni), juga dari penggalan khotbah Jum'at beberapa tahun yang lalu (kisah mengenai burung)

Selasa, 19 Juni 2012

Berkebun (Lagi)

Ahad kemarin, saya dan 3 orang teman main-main ke Pameran Flona di Lapangan Banteng, di daerah Senen. Awalnya sih cuma pengen liat-liat hewan-hewan di sana doang (terutama reptil, kura-kura utamanya lagi). Eh nggak tahunya malah kesengsem sama dua tanaman sukulen ini. Berikut akan saya bahas satu persatu.


Yang satu ini, awalnya saya kira semacam kaktus. Ternyata bukan, jauh malah. Ini adalah Monadenium (tepatnya, dikenal dengan sebutan Monadenium ritchiei ssp. nyambense yang belakangan diedit menjadi Euphorbia ritchiei ssp. nyambensis pada sistem klasifikasi yang baru). Sejenis tanaman dari famili Euphorbiaceae alias getah-getahan, yang mencakup juga singkong (Manihot esculenta), pohon jarak (Jartopha curcas), karet (Hevea brasiliensis) dan lain-lain. Oke, pembaca pasti nggak suka dengan nama-ilmiah-yang-menyulitkan-lidah tadi kan? Kita lewati saja. Intinya, saya naksir sama si Mona ini (sebut saja begitu) karena bentuknya yang aneh, seperti kaktus pada umumnya dan dia nggak berduri tajam macam kaktus. Belakangan, saya pikir bentuknya lebih menyerupai gada siluman ketimbang tanaman. Awalnya mau saya namain Bumpy mengingat bentuk batangnya yang seperti benjol-benjol, tapi kayaknya lebih manis dipanggil Mona si Monadenium saja deh. Hehehe . . .
monadenium, mirip kaktus tapi bukan kaktus, tapi sama-sama sukulen

Sementara yang ini, diperkenalkan oleh si penjual (saya lupa nama booth penjualnya, yang jelas sama dengan si Mona tadi) sebagai Keladi Bawang, karena memiliki umbi seperti bawang. Namun ketika saya bertanya pada Mbah Google yang harusnya tahu segalanya di dunia maya, beliau tidak mampu memberikan jawaban memuaskan; tidak ada yang namanya keladi atau calladium bawang, pun keladi-totol-berdaun-ungu. Maka saya simpulkan bahwa Keladi Bawang hanyalah nama fiktif, atau mas-mas penjual tadi salah mengenali tanaman gara-gara habis makan bawang. Searching sana-sini, saya akhirnya mendapatkan titik terang. Dialah Ledebouria socialis, yang berasal dari subfamili Hyacinthaceae (dulunya disebut Liliaceae pas jaman saya masih SMP-SMA dulu) dari famili Asparagaceae. Berarti dia masih sekelompok sama Agave, Sansevieria, dan pohon darah naga dari pulau Socotra. Dari awal tanaman ini sudah membuat saya jatuh cinta sama daunnya yang totol-totol. Ditambah bagian bawah batangnya yang menggembung, menambah poin plus tersendiri. Saya namakan dia Chitra, berasal dari kata Sansekerta citrakāyah yang artinya mengacu pada corak/zona pewarnaan pada tanaman atau hewan (citah, hewan darat tercepat, namanya berasal dari kata tersebut, mengacu pada corak totol-totol pada tubuhnya). Saya nggak namakan dia Spotty karena nanti dikira anjing (saya nggak suka anjing) atau Dottie (karena ada teman angkatan saya yang namanya begitu) :p

silver/violet squill, atau leopard lily (di belakangnya, nampak bunga bougenvil tetangga)

Ada hal lain yang menambah daya tarik kedua tanaman ini. Mereka berdua adalah tanaman sukulen yang berasal dari benua kering Afrika (si Mona dari Afrika sebelah timur, si Chitra dari Afrika Selatan), sama-sama terbiasa dengan lingkungan yang jarang air. Si penjual sendiri juga mengatakan bahwa mereka gak perlu sering-sering disiram, cukup sepekan sekali. Dan juga gampang dibiakkan secara vegetatif dengan cara memisahkan anakan yang bergerombol di sekeliling tanaman induk. Secara keseluruhan, mereka cocok untuk orang sibuk yang kadang ingin menikmati waktu luang dengan merawat tanaman hias. Hahahaha, jadi merasa sibuk nih :p

Sebenernya sih saya dulu suka berkebun, ikut-ikutan mama saya. Namun ketika udah makin gede, lebih sering ngikutin kegiatan di sekolah jadi udah nggak pernah lagi. Apalagi pas di samping rumah udah dibangun sehingga menyusutkan luas kebun. Apalagi pas udah di Jakarta, nggak ada kos-kosan yang memiliki fasilitas kebun. Lalu pada suatu hari pas pertemuan English Club (we were talking about hobbies and collections) teman saya Choi (saya pernah sebut-sebut nama ini dalam beberapa postingan sebelumnya) membawa sanseviera miliknya yang ditanam dalam medium hydrogel. Sampai-sampai banyak yang tertarik untuk ikutan ber-hydrogel-ponik. Trus beberapa hari kemudian, Choi dan temen kosan saya yang lain, Pijar, pergi ke Pameran Flona, dan membawa pulang satu pot lidah buaya. Akhirnya saya pun ikutan tertarik ke pameran itu pas Ahad kemarin (meski niat awalnya hanya menonton binatang) dan akhirnya membawa pulang si Mona dan si Chitra dengan berandol IDR 5.ooo per pot. Hahahaha. Reviving old hobby is really fun :D

sumber :
http://www.cactus-art.biz/gallery/Photo_gallery_abc_cactus.htm
http://mutiarasansevieria.com/

Selasa, 12 Juni 2012

Mumpung Masih Sehat dan Sempat . . .

"Ah, coba kalau sehat, bisa ngapain aja", keluh kebanyakan kita ketika sudah disamperin penyakit.
"Ah, coba kalau sempat, bisa ngapain aja", keluh kebanyakan kita ketika sudah dihinggapi kesibukan

Itulah 2 macam kenikmatan yang paling sering dilupakan manusia, yakni nikmat kesehatan dan waktu luang. Sehat baru diingat ketika sudah jatuh sakit, dan waktu luang baru disayangkan ketika sudah terjebak kesibukan. Ketika sehat, melakukan banyak hal yang kurang bermanfaat dan tubuhnya disia-siakan. Ketika sudah sakit, mengeluh, berandai-andai akan melakukan apa kalau sudah sembuh. Ketika sempat, melakukan banyak hal yang kurang bermanfaat dan waktunya disia-siakan. Ketika sudah sibuk, menyesal, membayangkan berlibur di waktu luang untuk menghibur badan yang pegal-pegal.

Kenapa jarang terpikir, ketika sehat saya akan banyak berpuasa dan sholat malam. Kenapa jarang terpikir, ketika sempat saya akan banyak sholat dhuha dan mengikuti acara pengajian. Ketika sehat dan sempat, harusnya kita memperbanyak beribadah dan meninggalkan maksiat. Karena kita nggak tahu, kapan kita bakal kehilangan yang namanya sehat dan sempat, dan ketika kita baru menyadarinya, kita nggak bakal tahu apakah kita bakalan masih diberi nikmat sehat dan sempat sekali lagi . . .

*dari ceramah selasa siang tanggal 15 bulan lalu, baru diposting sekarang karena satu dan lain hal :p

Senin, 11 Juni 2012

Kutipan Kata-Kata Bijak Tentang Masalah

jangan meremehkan masalah kecil, tapi juga jangan dibesar-besarkan
jangan memperbesar masalah yang sudah besar, apalagi mengabaikannya
sikapi keduanya secara proporsional dan selesaikan

jangan cari masalah, tapi kalau ketemu, jangan lari, nanti malah makin besar
percuma menghindar, hanya menunda waktu penyelesaiannya

hidup itu selalu diiringi masalah, kalau nggak mau ketemu masalah ya jangan hidup

mengeluh nggak menyelesaikan masalah, jadi percuma mengeluh
kekerasan mungkin bisa selesaikan satu masalah, tapi nanti diabakal ngebawa beberapa masalah lain, jadi jangan dipakai
negative thinking membuat sesuatu yang bukan masalah terlihat seperti masalah, jadi jangan lakukan
curhat emang melegakan, dan kadang bisa dapat ide solusi dari yang dicurhatin. tapi kalo kebanyakan curhat, kasian yg dicurhatin

masalah nggak bisa dihilangkan, tapi resiko ketemu masalah bisa dikurangi

kalau kamu lihat masalah sebagai batu sandungan, maka kamu akan jatuh
kalau kamu melihatnya sebagai batu pijakan, kamu akan mencari cara untuk menginjak masalah itu dan terus maju

selalu ada pintu keluar dari tiap masalah, bahkan banyak
orang yang tersangkut dalam suatu masalah kadang susah menemukan solusi karena dia melihat satu pintu yang tertutup dan meratapinya, tanpa melihat pintu lainnya yang sedang terbuka
orang yang keras kepala akan mendobrak pintu yang tertutup, bahkan menjebol temboknya
orang yang jeli akan melihat banyak pintu yang bisa dipilih
orang kreatif bahkan tidak memerlukan pintu-mereka bisa keluar lewat jendela atau bahkan ventilasi

tidak ada masalah yang terlalu berat, karena Allah memberikan masalah kepada kita sebagai ujian yang kadarnya sesuai dengan kemampuan kita
yang ada hanyalah kita yang kadang terlalu malas untuk mencari solusi, maka masalah itu terasa berat

jangan mengeluh kepada Allah tentang seberapa besar masalahmu
tapi tunjukkan pada masalahmu seberapa besar Allah-mu, karena hanya Allah lah yang bisa membantumu menyelesaikan masalah-masalahmu :)

selamat menyelesaikan masalah :)

Kamis, 07 Juni 2012

English Club (Again)

Dear Readers, this is my first posting in English. I hope you guys don't mind to read it. If you ever visited my blog, you must have known that I never make any post in English-though sometime I wrote some English phrases in my previous postings.

Actually, my grammatical skill is not so good, that's why I never make an English post. But since I joined with ICEC (an English club in my office) yesterday, i'm changing my mind. I will make some English postings from now on.

"This is the place to encourage yourself, thus increasing your skill in English". That's the point that I got from the first meeting of ICEC, yesterday. So, if I already have a place to speak in English, why can't I make an English post in my blog? Actually, my grammatical skill is not the main problem. It's just my own fear, I'm just too afraid to make some mistakes in my posting.
Ironically, my tutor in my senior high school's Debate Club, told me not to afraid of doing mistakes in English, it's normal since English is not our own language. His sayings encouraged me, so that I became the member of my school's debate team. And now, some years after he told me about that, I'm just stuck in my own fear.
So, since i've already joined ICEC, I will constantly make some posts in English. While ICEC improve my speaking skill, my blog will also improve my grammatical skill.

*I dedicate this post for some newbies who suffer the same problem with me : afraid of doing mistakes in English.

Senin, 04 Juni 2012

Oleh-oleh Dari Korea

Bukan, ini bukan saya cerita tentang plesiran ke Korea, toh nggak terlalu berminat ke sana. Ini saya cuma cerita tentang oleh-oleh dari senior di kantor yang sekosan, yang habis dari Korea. Semacam belajar dan tukar ilmu dengan Korean Customs.
Tentu saja, Mas Halim (nama sebenarnya) nggak cuman pulang dengan tangan kosong dan ngebawa cerita doang, melainkan membawa beberapa oleh-oleh dari Korea.

Yang pertama, adalah benda ini :
Benda apa itu? Kebanyakan yang melihat, mengira ini adalah kerikil warna-warni yang biasa dipakai untuk akuarium atau pot tanaman hias. Ternyata bukan. Ini adalah coklat yang dikasih warna sehingga menyerupai kerikil. Kayaknya bagus buat cemilan di ruang tamu, lalu di atasnya dikasih kembang plastik, dan para tamu nggak akan ada yang mengira bahwa itu camilan. Hahaha. Dalam hati mbatin aja, mungkin di negara maju kreatifnya beginian. Makanan yang dibikin mirip ama benda yang nggak bisa dimakan. Kalo kreatifnya negara berkembang, benda-benda yang nggak bisa dimakan, disulap jadi makanan rakyat. Misalnya, ikan berformalin, bakso kenyal boraks, donat goreng lilin, es warna tekstil, adn sebagainya.

Obyek kedua adalah ini :

Ini adalah 'kim', atau Bahasa Jepangnya 'nori'. Olahan rumput laut kering, tipis macam kertas, yang biasanya di negara asalnya sono noh, dipakai buat membungkus nasi atau ikan, terus dimakan (ya iyalah masak dipajang doang). Kalo yang suka nonton kartun Jepang, pasti tau onigiri alias nasi kepal. Nah, nori biasanya ditaroh di atasnya. Kalo di kartun keliatannya berwarna hitam, ternyata warnanya hijau tua. Dan permukaannya bergaram, trus agak licin berminyak gitu. Dan aromanya khas olahan laut. Karena penasaran, saya iseng aja ngebikin nasi bungkus 'kim'. Kek gini hasilnya :


Rasanya nggak seaneh yang saya bayangkan. Jadi asin-asin gitu, trus kayak kulit ikan gitu. Enak sih, untuk ukuran makanan aneh dari luar negeri. Hanya saja, cara pembuatan saya salah (langsung aja 'kim' saya balutkan ke nasi, jadi kayak lemper berbungkus rumput laut-tanpa isi daging), seharusnya 'kim'nya dibasahin dulu biar nggak kaku.

Hal lain yang dibawa oleh Mas Halim, adalah cerita tentang mahalnya biaya hidup di Korea. Katanya, beliau sempat beli makanan di salah satu gerai fastfood multinasional (no merk), beli lunch berisi ayam goreng, french fries sama burger, harganya sekitar 12 ribu won. Dan 1 won sekitar 8 rupiah. Di sini, 90 ribu lebih bisa makan di resto menengah tuh. Juga cerita tentang betapa tepat waktunya angkutan umum di sana (semacam transJakarta), juga tertibnya pengguna lalu lintas di sana meski nggak banyak polisi standby di jalanan (pengawasan kebanyakan pakai kamera CCTV, trus tiap pelanggar lalu lintas akan dikirimi catatan pelanggarannya ke rumah, untuk kemudian membayar dendanya).

Well, untuk saat ini saya belum terlalu tertarik untuk pergi ke luar negeri. Saat ini, mendengar cerita orang lain saja sudah cukup buat saya. Mungkin kapan-kapan giliran saya yang bercerita ke orang lain tentang negara lain yang saya kunjungi. Who knows . . . :)

Rasanya Gimanaaaa Gitu . . .

Suatu ketika, saya naik mikrolet dan kebarengan seorang pengamen karaoke dan putrinya. Sang bapak, mungkin usianya sekitar 40 tahun, rambut di tepi kepalanya sudah banyak yang memutih. Putrinya mungkin sekitar 7 tahunan, mungkin usia SD. Entah mereka naik dari mana, nampaknya baru berangkat mengamen atau sudah mencari nafkah di tempat lain dan mau mencoba peruntungan di wilayah lain. Sesekali sang bapak mengelap wajahnya yang berkeringat dengan selembar handuk kecil lusuh yang disimpan di tas pinggangnya. Wajahnya tampak lelah, sorot matanya pun menyiratkan demikian, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.

Entah kenapa, tiba-tiba perasaan saya terasa campur aduk. Antara sedih, miris, nggak tega, kasihan, pokoknya jadi mellow gitu. Saya ngebayangin, itu speaker karaoke beratnya berapa kilo, digendong kesana kemari, sambil panas-panasan nyanyi-nyanyi di perempatan lampu merah, atau didepan pertokoan, atau di gang-gang kampung. Entah sampai jam berapa, dan kemana saja mereka akan mengamen. Entah berapa rupiah yang akan masuk ke kantungnya dari belas kasihan para pendengar, yang kebanyakan pun sebenarnya nggak menikmati musik dari koleksi kaset sang pengamen. Entah apa yang akan mereka makan hari ini. Juga besok..

Sepanjang perjalanan saya mengamati mereka berdua. Sang bapak beberapa kali mengobrol dengan putrinya. Tak tampak ekspresi mengeluh, atau bibir yang menggerutu, bapak itu tetap tersenyum. Tak terasa mikrolet sudah sampai di dekat Jatinegara, sang bapak turun di perempatan dekat stasiun. Mencoba mengais rizki di sela-sela kendaraan yang mengepulkan asap polusi. Mencoba memperdengarkan tembang-tembang lawas di sela-sela deru kendaraan dan hiruk pikuk Jakarta.

Dan saya tersadar, bahwa keadaan saya masih lebih baik dari mereka, jauh lebih baik. Saya dipekerjakan di sebuah kantor instansi pemerintah, meski masih berstatus calon dari calon pegawai. Saya bekerja di ruangan ber-AC, dapat makan siang dari kantor, dan dapat pesangon bulanan, meski masih di bawah UMR DKI Jakarta, meski nanti katanya uang itu nampaknya merupakan semacam pinjaman dari kantor, nanti ketika kami sudah jadi pegawai, akan dikembalikan dengan cara potong gaji. Saya cuma harus bersabar dan menunggu kapan diangkat jadi pegawai, tanpa perlu keliling kota sambil membawa surat lamaran ke sana sini-dan juga tanpa perlu membawa kotak karaoke seperti pengamen tadi.

Saya jauh lebih beruntung dari banyak orang seusia saya yang bingung mencari kerja, sementara saya hanya perlu menunggu pengangkatan sambil menikmati penempatan sementara. Apalagi jika dibandingkan dengan orang-orang pinggiran seperti pengamen karaoke yang saya lihat di angkot ketika itu. Lalu masih adakah alasan bagi saya untuk masih terus mengeluh dan tidak bersyukur? Hanya karena sedikit cobaan yang membuat saya harus lebih bersabar menunggu kapan jadi pegawai, haruskah itu membuat saya melupakan begitu banyak nikmat-Nya yang telah diberikan pada saya?

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban... (potongan dari QS Ar-Rahman, tersebar di 31 ayat)
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan...

#teruntuk kawan-kawanku BC 2012 yang merasa galau karena masih akan kerja bakti sampai oktober, bersabarlah :)

Jumat, 01 Juni 2012

'Terserah Gue Dong, Ini Kan HAM'

Anda punya mulut bukan berarti Anda boleh bicara apa saja yang bisa dikatakan
Anda punya mata bukan berarti Anda boleh melihat apa saja yang terlihat
Anda punya telinga bukan berarti Anda boleh mendengar apa saja yang bersuara
Anda punya perut bukan berarti Anda boleh makan apa saja yang tersaji
Anda punya tangan bukan berarti Anda boleh menyentuh apa saja yang bisa dijangkau
Anda punya kaki bukan berarti Anda boleh melangkah ke mana saja yang bisa dijelajahi
Anda punya keinginan bukan berarti Anda boleh melakukan apa saja untuk mendapatkannya
Anda punya uang bukan berarti Anda boleh membeli apa saja yang bernilai
Anda punya jabatan bukan berarti Anda boleh memerintah siapa saja yang tak punya posisi
Anda punya ilmu bukan berarti Anda boleh mengakali siapa saja yang belum mengerti
Anda hidup bukan berarti Anda boleh melakukan apa saja yang bisa dilakukan

Karena kita hidup bersama dengan manusia dan yang lainnya, semua juga punya kebutuhan-kebutuhan yang saling bersinggungan. Karena semua ada aturan dan batasannya, mana yang boleh dan mana yang tidak. Karena semua akan dipertanggungjawabkan, di hadapan Sang Pencipta

*sebuah bantahan terhadap orang yang mengatasnamakan HAM untuk melegalkan segala sesuatu yang dilakukannya, tanpa mau tahu aturan dan batasan agama, norma serta kepentingan orang lain. Contoh sederhana : perokok yang merokok di tempat umum. Contoh rumit : korupsi jabatan. Contoh ekstrim : nabi palsu dan orang-orang yang membengkokkan ajaran agama yang lurus. Contoh lain : cari sendiri . . .