Cari Blog Ini

Rabu, 30 Mei 2012

Salah Pol

Pelajaran berharga bagi kita nanti jika sudah menjadi senior di tempat kerja.
Suatu ketika akan datang yang namanya anak magang, atau junior. Dan akan tiba saatnya Anda sebagai senior bisa menyuruh-nyuruh mereka melakukan beberapa pekerjaan sepele mulai ngeprint dan fotocopy, atau bahkan yang agak rumit seperti menginput database yang mungkin akan rumit bagi mereka atau yang lain.

Silahkan saja menyuruh mereka, hanya saja, sertakan instruksi yang jelas dan kalau perlu contoh yang jelas. Kalau tidak, bersiap saja mendapatkan pekerjaan tambahan karena pekerjaan yang mereka garap bukannya beres namun malah salah kaprah.

Memang mereka harusnya mengerjakan setiap tugas sebaik-baiknya, namun jangan lupa bahwa mereka nggak berpengalaman. Hal yang simpel bagi senior - karena sudah dikerjakan berkali-kali dan sudah cukup lama menangani bidang tersebut- bisa jadi rumit bagi junior yang belum pernah menangani pekerjaan 'remeh' tersebut.

Jadi, kalau Anda nanti jika sudah jadi senior dan mau 'menghibahkan' pekerjaan Anda ke junior yang sedang magang atau pegawai baru, alangkah baiknya jika Anda meluangkan waktu sejenak untuk memberi instruksi yang jelas dan mencontohi bahkan mengajari mereka, daripada nanti malah membuang banyak waktu untuk mengedit garapan mereka yang salah karena Anda kurang jelas dalam memberi instruksi.

Sekian catatan anak magang hari ini.

Senin, 28 Mei 2012

Rules : Made ​​To Be Broken


Foto diambil di terminal Tegal, saat penulis pulkam pekan kemarin. (Kalo nggak ngeh itu foto apa, itu foto orang lagi pipis di dinding, persis di samping tulisan larangan pipis sembarangan) Dan pembaca sekalian pasti sudah sering menyaksikan momen seperti ini. Hanya saja, yang satu ini terasa istimewa buat penulis (lho?) karena si pelaku, melakukan aksinya persis di samping tulisan 'Dilarang Kencing di Sini'. Lihat di foto pertama, ada tulisan larangan di kiri kanan pelaku. Dan si pelaku tetap enjoy aja menjalankan aksinya.

Luar biasa. Inilah Indonesia Bung. Negeri di mana aturan bisa dilanggar persis di samping tulisan tentang aturan tersebut, tanpa konsekuensi berarti. Mungkin ini memang hal yang sepele, toh satu dua orang pipis di pinggir jalan juga nggak bikin banjir, tapi kan tetap saja mengganggu, baunya itu looo. Dan esensinya adalah, ketika pelanggaran-pelanggaran kecil sudah dimaklumi dan dianggap biasa, lama-lama pelanggaran besar pun dimaklumi. Dan tampaknya hal-hal itu sudah terjadi dan makin menjadi di sekitar kita.

Mulai dari pelanggaran terhadap aturan tertulis macam 'lampu merah artinya berhenti' , hingga pelanggaran norma di masyarakat macam 'anak gadis dilarang keluar malam tanpa keluarganya'.
Entah mau jadi apa bangsa ini. Bukan penulis sok khawatir atau apa, justru jadi masalah kalau tidak ada yang mempermasalahkan hal semacam ini. Kalau bukan kita yang peduli dengan bangsa ini, siapa lagi yang peduli?

Ibarat Kaca Film

Sekitar seminggu terakhir di kantor sejak pulkam kemarin, ada suasana baru di ruangan tempat penulis magang. Suasananya sedikit aneh, rasa-rasanya cuaca kok mendung mulu. Padahal ketika melihat keluar ruangan, cuacanya cerah, langit biru ceria. Aha, rupanya kaca jendela di kantor baru saja dipasangi lapisan film biar teduh (penulis anggap mendung, maklum rek, wong ndeso).

kurang lebih seperti ini jadinya (ini bukan ruangan penulis, sekedar ilustrasi)

Ah, rupanya lapisan film itulah yang membuat suasana di luar tempak sedikit berbeda, lebih mendung kalau penulis rasakan. Jadi nggak silau memang, namun jadi nggak bisa menikmati birunya langit :)

Tiba-tiba penulis kepikiran sesuatu. Kaca film yang 'menghalangi' sebagian spektrum cahaya matahari ini, seolah (sebenarnya memang begitu, nggak seolah) menipu mata penulis. Membuat penulis nggak bisa melihat keadaan sesungguhnya di luar. Mengubah persepsi orang yang di dalam ruangan dengan memanipulasi banyaknya cahaya yang melewatinya dan masuk ke ruangan.

Dan kadang, pemikiran manusia juga begitu. Kadang pikiran kita seolah ditutupi oleh selapis kaca film gelap, yang menahan, atau memfilter sebagian dari kenyataan dan fakta yang ada. Imbasnya, kita nggak bisa melihat fakta sesungguhnya.

Selapis film itu adalah pikiran negatif. Membuat seseorang tidak bisa melihat fakta yang ada, karena lebih memilih untuk 'melihat' kenyataan yang dibuat oleh pikirannya sendiri, alias prasangkanya sendiri.

Barangkali Anda pernah mengalaminya? Ketika sedang punya pikiran buruk, apapun fakta yang ada, maka kita cenderung menangkapnya sesuai prasangka kita sendiri. Sehingga kita pun melihat apapun itu, jadi serba buruk. Hayo ngaku, pernah ngalamin itu kan? Yakin deh, ketika pandangan kita sedang terhalang oleh selapis kaca film di pikiran kita itu, sikap kita pastilah sangat menyebalkan. Suer, kalo nggak percaya, tanya aja ke orang-orang di sekitar Anda. Ketika Anda dipenuhi pikiran negatif dan melihat segala sesuatu dengan prasangka Anda sendiri, pasti Anda berubah jadi sangat menyebalkan. Well, sebisa mungkin, hilangkanlah selapis kaca film itu Guys.

Maksud penulis, hilangkanlah selapis kaca film bernama negatif thinking yang ada di pikiran Anda, bukan kaca film yang melekat di jendela kantor Anda :p

Kamis, 24 Mei 2012

Ngecas Dulu Yuuuk. . .

Pernah denger kan kalimat 'keimanan seseorang itu naik turun ibarat gelombang di samudra'. Pernah denger gak? Ya kalaupun belum pernah denger, seenggaknya sekarang jadi pernah baca toh. Dan pastinya pernah mengalami naik turunnya iman kan?

Kalo iman lagi naik nih, sholat berjamaah di masjid, tepat waktu, masih plus sholat rowatib. Rasanya sehari ngaji 1 juz tuh, masih kurang, bisa lebih banyak lagi. Dateng ke pengajian tuh, semangat. Puasa sunnah rajin. Nih dompet jadi ramah ama kotak amal masjid. Pokoknya joss banget dah.
Sebaliknya, ketika iman lagi ngedrop, sholat aja sampe telat, akhir waktu. Boro-boro sholat sunnah, yang wajib aja mepet-mepet waktunya. Boro-boro puasa, subuh aja kesiangan. Terus nih dompet kalo deket kotak amal, kayak susah banget dibukanya. Ngaji? Malahan Al-Qur'an cuma dilirik aja kagak dibaca. Parah deh pokoknya.

Hayoo, pembaca sekalian ada yang lagi mengalami futur?

Sedikit tips dari saya, kalo lagi turun imannya, paksain aja ngaji ato datang ke majlis ilmu. Penulis juga pernah (sering) dihinggapi kemalasan macam ini. Dan penulis rasa, obatnya adalah dengan ilmu.

Ngajiin aja, insyaAllah ntar Allah akan menunjukkan 'sesuatu' pada kita lewat ayat yang kita baca (tentu baca terjemahnya juga, biar ngerti). Dan insyaAllah akan ada hal yang menarik buat kita. Dan akhirnya futur pun terkikis. Mushaf kita pun akhirnya kembali ke dalam genggaman, nggak cuma diliatin.

Kedua, ikutin aja mentoring atau pengajian apa gitu. Karena biasanya, akan ada ilmu baru yang kita dapat. Atau setidaknya akan merefresh suatu lmu yang pernah kita tahu namun terlupa. Dan setidaknya bisa sharing, cerita ke mentor, atau bertanyajawab dengan penceramah. Pokoknya insyaAllah bermanfaat. Dan futur pun terkikis.

Pada dasarnya, memang adalah fitrah jika iman kita naik turun. Namun, jangan sampai kita terlena dengan penurunan iman itu, sampai-sampai terjerumus dalam jurang kesesatan. Naudzubullah. Ibarat HP, keimanan itu setara dengan daya batereinya. Ada yang awet, ada juga yang boros alias cepet futur. Nah, supaya nggak sampai ngedrop, ya kita harus rajin-rajin charging. Bedanya, kalau HP masih boleh lah baru ngecas baterenya pas bener-bener habis. Sementara keimanan, nggak boleh gitu doong. Ntar keburu sesat, bahaya.

Jadi, yuk kita rajin-rajin ngecas keimanan kita :)

*maaf kalo postingan kali ini agak nggak rapi. ada ide terlintas, dan saya emang lagi nggak minat bikin postingan panjang

Mentoring Kemarin : Kupas Ayat Surat Al-Mu'minuun

Seperti judulnya, mentoring kemarin malam membahas surat Al-Mu'minuun, khususnya ayat 1-11, yang mana isinya membahas sebagian ciri-ciri orang-orang beriman. Berikut pembahasannya :

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, *1

(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, *2

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, *3

dan orang-orang yang menunaikan zakat, *4

dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, *5

kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. *6

Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. *7

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, *8

dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
*9

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, *10

(yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." *11

(QS. Al-Mu'minuun ayat 1-11)

Dari terjemah surat di atas, dapat kita lihat beberapa ciri orang-orang beriman, yakni :
  • sholatnya khusyuk [bagaimana dengan kita -terutama penulis pribadi? sudah mampukah kita sholat dengan khusyuk? kayaknya sering banget kepikiran hal lain pas sholat]
  • menjauhkan diri dari segala yang sia-sia (tidak bermanfaat) [hayo coba kita hitung, berapa banyak hal sia-sia yang kita lakukan? mantengin fb atau twitter tanpa ada manfaat, dengerin lagu-lagu yang nggak bikin kita tambah pinter atau apa, melamun yang nggak menghasilkan apa-apa, ngobrol nggak jelas nggak ada ilmunya...lho kok masih banyak nih?]
  • menunaikan zakat [sekarang pas masih belum memenuhi syarat wajib mengeluarkan zakat, mungkin menganggap ini sepele, mungkin berpikir 'ah, sekian persen aja masak nggak mau ngeluarin'. tapi ntar kalo udah punya penghasilan, -katanya- bakal berat gitu ngeluarin zakatnya, apalagi kalo ntar udah berkeluarga -katanya-]
  • menjaga kemaluannya dan tidak melampaui batas [di jaman ini, bukan rahasia lagi bahwa begitu banyak godaan bagi kita untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, apalagi para pemuda yang belum nikah --hayoooo, buruan nikah kalo udah mampu, atau berpuasa]
  • memelihara amanat dan janjinya [pada bagian ini, entah kenapa jadi teringat para wakil rakyat atau yang maju pada pilkada..eh, kita juga ding, harus memelihara amanat dan janji kita. lagian, bukankah semua yang kita 'miliki' di dunia ini adalah titipan, milik Allah yang diamanatkan kepada kita. . . jasad, amanat. iman, amanat. ilmu, amanat. harta, amanat. pangkat, amanat. umur pun, juga amanat. harus kita jaga semua itu]
  • memelihara sholatnya [jaman sekarang, manusia mah adaaa aja kesibukannya, sampai-sampai banyak yang melalaikan sholatnya gara-gara sibuk. Insya Allah pembaca sekalian enggak gitu ya, pada rajin sholat pastinya :) ]
Dan orang-orang tersebutlah yang nantinya akan mewarisi dan kekal di dalam surga Firdaus. Wow, surga Firdaus Guys, nggak nanggung-nanggung Allah kasih reward buat orang-orang beriman. Surga yang tingkatannya paling tinggi lho.
So, mari kita -terutama penulis pribadi- berlomba-lomba meningkatkan keimanan kita, menjadi orang-orang yang memenuhi kriteria untuk mewarisi surga Firdaus dari Allah. Yuuk . . . :)

Selasa, 22 Mei 2012

Penipuan Berharga Mahal

Kajian siang di Masjid kantor pusat, tema yang dibahas tadi adalah pengusiran yahudi bani nadhir dari Madinah pada masa Rasulullah karena mereka merencanakan untuk berbuat makar/mengingkari perjanjian damai dan berniat membunuh Rasulullah, tapi sejenak tadi, sang penceramah sempat 'ngglambyar' sejenak, membahas sesuatu hal lain. Dan entah kenapa, saya lebih tertarik membahas topik sampingan itu ~~ ikutan ngglambyar...

Entah tiba-tiba sang penceramah ingat pada even kedatangan sekelompok pemuda Korea yang doyan bersolek dan joget-joget alay ke Indonesia beberapa waktu lalu. Sisi negatif yang dikhawatirkan adalah, bahwa tren yang merebak di Korea, akan mewabah pula di Indonesia seiring ngetrennya budaya Korea di negeri ini. Ditambah lagi, kunjungan langsung dari salah satu boyband paling terkenal, akan membuat para remaja labil di Indonesia makin kepincut, dan makin 'wanna be like them'. Lihat aja, makin banyak boyband-girlband lokal yang style nya ngejiplak boyband-girlband Korea. Dance nya, dandanannya. Ntar lama-lama bakalan pengen mukanya mirip juga. Namun karena faktor genetis udah beda, kan susah, ntar malah dikuatirin mereka ikutan tren operasi plastik (yang mana Korea Selatan adalah negeri dengan perbandingan jumlah pasien operasi plastik per jumlah penduduk terbesar di dunia).

Ditinjau dari Islam sendiri, operasi plastik tuh, bisa jadi boleh, tapi bisa jadi gak boleh.
Konsisten dong, boleh apa nggak, mungkin begitu pikir sebagian pembaca. Sabar, makanya baca dulu sampe habis, baru komen.
Jadi, intinya operasi plastik tuh ada dua sebab, yakni yang nggak disengaja sama yang disengaja.
Kalo yang nggak disengaja, alias accidental, ya namanya aja accidental, misalnya ada korban kebakaran, yang sebagian wajahnya rusak, kan nggak enak diliatnya, kasian kerabatnya dan juga kasian dia sendiri, maka boleh bagi dia (atau bahkan dianjurkan, kecuali dia yang menolak) untuk melakukan operasi plastik demi me-recovery wajahnya. Atau bagi mereka yang dilahirkan dengan (maaf) cacat bawaan lahir (tentu mereka nggak bisa memilih akan lahir seperti apa). Seperti (maaf) bibir sumbing atau kelebihan jari atau lainnya, maka boleh melakukan operasi plastik untuk memperbaiki penampilannya.
Sementara alasan yang disengaja, adalah yang kebanyakan terjadi di negara maju. Untuk membuat dirinya tampak lebih cantik (atau tampan, tapi jarang deh) atau lebih 'awet muda'. Intinya, untuk menjadikan diinya lebih menarik. Misalnya, operasi pembesaran payudara (jangan mikir ngeres ngeliat link ini), sedot lemak, pembukaan kelopak mata (biar gak sipit, terutama di Asia Timur), pengencangan pipi, pemancungan hidung dan sebagainya. Nah kalo alasan yang ini mah, nggak bisa diterima.

Menurut penceramah tadi, operasi plastik dengan alasan ini, adalah suatu jenis penipuan. Gimana enggak, ngerubah penampilan luar, sementara aslinya nggak begitu. Sama aja pakai topeng kalo menurut saya. Padahal, ciri-ciri fisik seperti mata sipit ato nggak, hidung mancung ato nggak, dagu menonjol ato gak, dan sebagainya, kan udah tercatat dalam DNA masing-masing orang, dan itu diwariskan ke generasi selanjutnya dari generasi di atasnya. Agak bingung? Maksud saya, diwariskan ke anak dan seterusnya ke bawah, dari orang tuanya dan seterusnya ke atas. Masih bingung? Coba tanya ke guru biologi mengenai materi genetika.
Hasil operasi plastik, sebagus apapun, tetap aja cuma nempel di pemiliknya, untung-untung kalo nggak tambah rusak wajahnya gara-gara silikon di balik kulitnya bocor atau sebab lain. Nggak bakal menurun ke keturunannya. Padahal, bisa jadi calon pasangannya memilih dirinya karena kesempurnaan fisiknya (salah sendiri milih pasangan hidup ngeliat fisik duluan). Dan juga berharap, keturunannya kelak akan memiliki fisik seindah pasangannya. Padahal, 'kesempurnaan' fisik yang didapat dari operasi plastik nggak akan menurun ke anaknya. Sifat yang menurun ntar ya sifat yang asli, yang bawaan orok, yang udah tercetak di DNA mereka.
Nah lo, udah bohongin orang lain dan diri sendiri (aslinya tampangnya nggak begitu), mahal, beresiko, nggak memperbaiki keturunan pula. Rugi banget kan?

Selain itu, ini adalah salah satu bentuk mengubah ciptaan Allah SWT tanpa ada alasan yang dibenarkan, melainkan hanya agar dirinya lebih menarik dilihat bagi manusia lain, agar bisa berbangga diri, dan sebagainya yang lebih menjurus ke sifat negatif daripada positifnya.

Menurut saya pribadi, operasi plastik jenis ini adalah suatu bentuk kekurangan rasa syukur. Gimana enggak, udah memiliki tubuh yang sempurna tanpa cacat, lha kok masih pengen berubah menjadi 'lebih cantik/cakep' menurut versinya sendiri, menurut keinginannya sendiri. Padahal yang diinginkannya belum tentu yang terbaik bagi dirinya. Padahal dalam firman Allah :
"...sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS At-Tiin ayat 4)
Nah lho, padahal sudah diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya, masih kurang juga?

Bagaimana pendapat pembaca?

Senin, 21 Mei 2012

>24 Hours Adventures

Malang Jakarta vice versa, dengan jarak 924 Km jalur darat via jalan raya rute Pantura, atau 881 Km via rel kereta api jalur selatan. Bisa ditempuh melalui beberapa alternatif moda transportasi. Yang paling enak sih, naik pesawat dari Jakarta langsung ke Malang. Kedua terenak, terbang dari Jakarta ke Surabaya, dilanjut jalur darat ke Malang. Alternatif lain, naik kereta eksekutif Gajayana.

Tapi kalo saya (dan kebanyakan orang yang sering PP Malang-Jakarta), paling sering sih naik kereta Matarmaja atau ngebis lewat jalur Pantura. Perjalanan dengan Matarmaja yang tiketnya (terakhir beli) seharga 51ribu saja, normalnya berlangsung selama 18-20 jam. Berangkat dari Malang jam 3 siang, sampai jakarta sekitar jam 10 pagi. Dari Jakarta jam 2 siang, sampai malang jam 9 pagi. Kalau bis (biasanya naik Malino - bukan promosi) yang tiketnya paling tidak 4 kali lipat harga tiket Matarmaja, waktu tempuhnya kurang lebih sama sih. Dari Jakarta jam 3 sore, sampai Lawang sekitar jam 9-10. Kalo dari Lawang, berangkat sekitar setengah 3 sore, sampai Jakarta biasanya jam 8 pagi.

But however, kalo ada yang usual, asti ada juga yang unusual. Force majeur bisa saja terjadi kapan saja dan di mana saja, berakibat pada bonus lamanya perjalanan. Dan penulis pernah mengalami beberapa perjalanan Malang-Jakarta atau Jakarta-Malang yang melebihi waktu normal, bahkan tembus batasan sehari penuh.
Seingat penulis, ada 4 kali perjalanan yang tembus batasan 24 jam yang pernah dialami, yakni :
  • Malang-Jakarta, via Matarmaja, tanggalnya lupa, pokoknya pas jaman kuliah. Awal perjalanan dari Malang tampak normal-normal saja, bahkan melewati beberapa kota di Jatim dalam waktu relatif cepat (sehingga salah seorang matarmania optimis akan cepat sampai di Jakarta). Namun, semua berubah saat terjadi kecelakaan kereta di jalur Pantura, kalau tidak salah, Argo Anggrek vs senja Utama kalo gak salah. Saat malam, suatu ketika kereta berhenti di suatu wilayah antah berantah, selepas melewati Semarang (sudah lewat tengah malam itu). Sempat terbangun dan melihat keadaan di luar yang gelap gulita, tenang-tenang aja, wong biasanya emang berhenti di stasiun kecil, yang mana cuma loko dan gerbong depan aja yang 'muat' di stasiun, sementara gerbong-gerbong lain, cuma kebagian hutan atau sawah di kiri-kanan, tanpa menyadari adanya stasiun (kecuali setelah melewati stasiun tadi). Paginya, ketika banyak yang sudah terbangun karena kepanasan, sekitar jam 5 pagi, para pedagang asongan berteriak-teriak 'kecelakaan, rel e gak iso dilewati'. Penasaran, beberapa orang turun dan mengecek kebenaran kabar asongan tadi. Dan ternyata benar. Di depan loko Matarmaja, tergeletak bangkai kereta yang habis tabrakan tadi, melintang menutupi rel. Otomatis kereta lain gnggak bisa lewat. Yasudah, para penumpang memilih untuk menghibur diri sendiri (kebetulan lokasi rel berada di pinggir pantai, jadi penulis dan teman-teman pada main-main di pingir laut tadi). Matahari terbit, kami foto-foto. Matahari makin tinggi, kami makin panik. Hingga akhirnya, loko penyelamat datang dari arah Semarang (kalo nggak salah, penulis sempet turun di Semarang, dan hampri ketinggalan kereta). Jadi pas itu, rangkaian loko Matarmaja, ditarik ke belakang sampai stasiun Weleri. Trus penumpang pada dioper ke stasiun berikutnya (pokoknya setelah melewati zona kecelakaan tadi) yakni stasiun Pekalongan. PT. KAI menyediakan akomodasi berupa bis-bis lokal yang disewa untuk mengangkut ratusan atau mungkin ahkan lebih dari seribu penumpang Matarmaja. Karena bisnya terbatas, maka banyak penumpang yang nggak segera terangkut. Singkat cerita, akhirnya seluruh penumpang eks-Matarmaja tiba dengan selamat distasiun Pekalongan, dinaikkan ke gerbong Matarmaja yang seharusnya dari Jakarta ke Malang, malah balik lagi ke Jakarta. Berangkat dari Pekalongan sekitar jam 1 siang. Dan ketika tiba di stasiun Jatnegara, kalo nggak salah sudah terdengar suara adzan isya. Total waktu perjalanan, sekitar 28 jam.
  • Trip lainnya, juga via matarmaja Malang-Jakarta, juga lupa tanggalnya. Yang bikin lama, lagi-lagi di wilayah pantura. Tapi alhamdulillah kali ini bukan karena kecelakaan, melainkan stasiun Semarang kebanjiran (wtf, stasiun banjir?). Jadi rangkaian kereta Matarmaja sempat berhenti cukup lama sebelum stasiun Semarang (kalo nggak salah, stasiun Alastuwo), demi menunggu banjir agak surut hingga rel cukup aman untuk dilewati. Untuk perjalanan ini saya lupa berapa lama, namun karena rasa sebelnya masih cukup lekat di ingatan, berarti yang kali ini telatnya parah juga dan lebih dari 24 jam.

Dua kejadian di atas dialami penulis ketika menaiki Matarmaja dari Malang ke Jakarta. Dua kejadian di bawah, terjadi ketika penulis pulkam ke Malang sekaligus balik ke Jakarta, dengan cara 'mengecer' bis. Alias nggak langsung naik bis yang menuju tujuan akhir, melainkan 'nyicil' menggunakan bis jurusan kota yang disinggahi, baru lanjut ke tujuan akhir. Dan penulis mengatakan, cara semacam ini sangat tidak direkomendasikan, kecuali tidak ada cara lain.

  • Kepulangan ke Malang dari Jakarta, 16 Mei kemarin. Naik Bis Setia Bakti (udah gagal mendapatkan tiket kereta, plus cari yang berangkatnya di atas jam 5 sore, setelah pulang kantor) dari terminal Rawamangun tujuan akhir Surabaya. Karena loket dikuasai calo, akhirnya dapat tiket seharga 260 ribu (tertulis di tiket, 250 ribu). Dijanjikan berangkat jam 7 malam, sampai Surabaya jam 10 pagi. Faktanya, bis baru tiba diterminal jam 9 malam (memang kondisi macet banget, long weekend sih), dan masih ditambah keruwetan pengaturan tempat duduk penumpang (nomor ganda, tidak ada tulisan trip 1 atau trip 2, dll). Berangkat jam 9 lebih. Macet banget, gak tau keluar dari Jakarta jam berapa, seingat penulis, sekitar jam 11 malam. Setengah 2 dini hari, makan malam (kayak sahur aja) di daerah Indramayu, RM Sinar Minang (kalo gak salah). Menu makan malamnya, 'jatah travel cuma sama telor'. Dan para penumpang yang sudah 'kalap' mengambil ayam plus rendang pun harus membayar tambahan sekian belas ribu. habisnya, di awal nggak dibilangin sih, kan biasanya makan malam kalo pake travel, ya prasmanan gitu. Perjalanan dilanjut, pagi hari sekitar jam 10an, berhenti lagi di wilayah Kab. batang, Jateng. Kali ini RM Sabana Jaya yang jadi tempat perhentiannya nggak nakal, harga makanan sudah dipajang di dinding. Terus ke timur, sampai Semarang sekitar tengah hari. Sore hari tiba di Tuban, sekitar jam 4 sore, berhenti lagi di RM apa gitu. Kali ini sepenuhnya sadar, bahwa makanan bayar sendiri (nggak kayak pas pertama kali tadi). Masuk Lamongan hari sudah gelap, dan baru tiba di terminal Purbaya alias Bungurasih, sekitar jam 8 malam lebih dikit. Oper bis patas ke arah Malang, alhamdulillah wilayah sidoarjo nggak macet. Lancar jaya, sampai Lawang sekitar setengah 1 malam. Total perjalanan, kurang lebih 24,5 jam.
  • Kembali ke Jakarta, 19 Mei kemarin, naik bis Safari Dharma Raya jam 7 malam ke arah Semarang (soalnya kalo yang arah Jakarta langsung, berangkatnya jam setengah 3 sore, jadi milih lewat Semarang dulu biar bisa memaksimalkan waktu pulkam). Bis baru datang jam 8 lebih, hampir setengah sembilan. Paginya, tiba di Semarang sekitar jam setengah 6. Agak bingung soalnya nggak diturunin di terminal, dan mulai ada firasat nggak enak. Jalan pagi ke terminal Terboyo, ditawari bis ke Jakarta oleh orang tak dikenal. Sedikit trauma calo, jadi agak antipati. Tapi ketika ada bis lewat dan (terduga) calo berteriak-teriak mencegat bis tersebut, akhirnya bayar juga 110 (katanya) sampai Jakarta. Naik ke bis agak ragu, namun tanya kondektur 'Jakarta Mas' dia mengangguk setuju. Sempet ketiduran di perjalanan, tau-tau dibangunin temen, katanya 'kita dioper ke bis lain'. Setengah ngantuk, ya nurut aja pindah bis. Tengok kanan kiri, masih di daerah Pekalongan, sekitar jam setengah 11 siang. Rupanya ada penumpang dari bis lain yang dioper ke sini juga. Perjalanan lumayan macet, sekitar jam 12 siang tiba di terminal Tegal. Firasat nggak enak, eh beneran dioper lagi, nambah goceng, kali ini bisnya beneran ada tulisan 'Jakarta' di kaca depan. Nggak usah ditanya, makin ke barat macetnya makin menggila. Selepas isya baru masuk tol cikampek, sekitar jam 9 sampai Pulogadung, lalu naik angkot sampai Rawamangun, sekitar setengah 10 sampai kosan. Total perjalanan, sekitar 25 jam.

Well, perjalanan darat lebih dari 24 jam, lelah itu pasti. Tapi demi bertemu keluarga dan orang-orang tercinta di rumah, sejauh apapun jaraknya akan ditempuh. Hanya saja,memang diperlukan stamina ekstra dan kesabaran berlipat ganda untuk menghadapinya :)

*kalau nggak sabar, ya udah dapet capek, gak dapet enjoy - seperti saya yang kurang sabar dalam perjalanan kemarin. jangan ditiru yaaa

Rabu, 16 Mei 2012

Urgensi Tarbiyah Dzatiyah

Mentoring Selasa malam bersama Mentor Cepy. Membahas mengenai pentingnya tarbiyah dzatiyah.
Apaan tuh, kagak pernah denger, mungkin begitu pikir sebagian pembaca. Oke, Yang belum tahu, tanya ke temen yang udah ngerti aja ya :p
Eh jangan ding, saya jelasin aja, ntar kalo tanya ke temennya malah gak jadi baca blog ini lagi...
Tarbiyah dzatiyah adalah suatu cara bagi seorang muslim untuk mendidik dirinya sendiri melalui perantara dirinya sendiri. Caranya? Ya dengan bersungguh-sungguh berusaha memperbaiki diri, meningkatkan ilmunya tentang Islam dan mempraktekkannya demi menjadi seorang muslim yang sesungguhnya.
Apa urgensinya? Simak penjelasan singkat berikut ini :
  • dalam bertarbiyah, mendahulukan diri sendiri itu yang paling utama. Bukan berarti tarbiyah kepada orang lain (keluarga, teman, ummat) tidak penting, namun mentarbiyahi diri sendiri itu adalah yang paling utama. Bagaimana bisa mentarbiyahi orang lain jika dirinya sendiri belum mendapat tarbiyah?
  • jika bukan diri kita sendiri, siapa lagi yang akan mentarbiyah i diri kita? Oke lah, semasa sekolah sampai kuliah, kita masih dapet pelajaran/kuliah agama, meski dosisnya sedikit sekali. namun ketika sudah disibukkan dengan dunia kerja, mungkin tak banyak yang bertahan untuk mengikuti kajian-kajian keagamaan dan majlis ilmu. Ya kalo sempet mah alhamdulillah, lha kalo kagak sempet?
  • kelak di akhirat, hisab tuh bersifat individual. Kita akan ditanyai segala macam tentang kita, nggak ada urusan sama oran lain. Udah kagak inget ama ortu, istri/suami, anak, teman, apalagi orang lain. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Jadi nggak ada alasan 'saya nggak ngerti, nggak ada yang ngasih tau' ketika ditanya tentang kewajiban yang ditinggalkan, misalnya. Nah lo, salah sendiri nggak tarbiyah dzatiyah. . .
  • metode ini lebih berdampak pada diri sendiri. Kenapa? Karena hal ini dimulai dari dirinya sendiri. Bukankah motivasi terbesar bagi seseorang untuk berubah, adalah melalui perantara dirinya sendiri (dengan hidayah Allah tentunya)? Coba tanya pada para perokok yang bertobat, sekuat apapun keluarga, rekan atau siapapun yang membujuiknya untuk berhenti, akan selalu ada alasan untuk ngeles dan terus merokok. Namun ketika dirinya sendiri yang telah sadar, maka biasanya proses itu akan lebih mudah.
  • sebagai sarana untuk tsabat(tegar) dan istiqomah. Untuk melakukan suatu kebaikan itu nggak gampang cuy, selalu adaaa aja godaan untuk meleng. Ngawalinya aja susah, pun dengan merutinkannya. Nah, sementara amalan yang terbaik adalah yang istiqomah meskipun kecil-kecil. Nah, metode mendidik diri sendiri ini bisa menjadi salah satu cara kita untuk tetap tegar dan istiqomah di jalan yang lurus
  • sarana dakwah yang paling kuat. mengapa? Karena dalam metode ini, kita yang mengajar, kita sendiri yang diajari. Tentu kita sendiri lebih tahu mengenai diri kita dibanding orang lain, kelemahan kita, ilmu apa yang kurang dalam diri kita, apa yang harus ditambah, metode apa yang harus dipakai. berbeda dengan media dakwah lain, misalnya semacam pengajian di kampung, di mana materi yang dibrikan belum tentu pas untuk seluruh hadirin yang hadir. Karena kondisi, ilmu, dan kebutuhan tiap orang dalam hal ini berbeda. Jadi pemateri yang paling pas untuk setiap orang, adalah masing-masing orang itu sendiri
  • cara paling tepat menghadapi realitas kehidupan yang begitu jauh dari ajaran Islam. Kondisi umat saat ini tentu jauh dari ideal untuk penegakan syariat Islam seutuhnya. Karena umatnya sendiri masih banyak yang belum memahami tentang Islam. Imbasnya, malah kebanyakan umat Islam sendiri menolak pemberlakuan syariat Islam. Agar umat mau menerima, maka kita selaku umat harus siap dengan syariat itu. Bagaimana supaya kita bisa siap? Ya kita harus paham mengenai Islam, ya harus belajar, dan harus mulai belajar dari masing-masing orang
  • fleksibel dalam waktu, tempat, metode, dan materinya. Kita sendiri yang mendakwahi diri kita. Waktunya, ya setiap saat bisa dilakukan, dimanapun, dalam kondisi apapun. Misalnya, ketika ada kesempatan mengikuti majlis ilmu, kita harus mendorong diri kita sendiri untuk ikut di dalamnya. Ketika ada rezeki lebih, kita harus memaksa diri kita bersedekah lebih banyak. Ketika sedang sakit atau mendapat musibah, kita berusaha bersabar. Pokoknya, tiada hari tanpa mendakwahi diri sendiri

Wallahu'alam bish showab.

Semoga kita, terutama penulis sendiri, termasuk orang-orang yang rajin mentarbiyah i dirinya sendiri, dan selalu istiqomah dalam melakukannya. Aamiin

*materi ini dipaparkan oleh mentor kami, namun saya kurang tahu sumbernya. kebetulan pas onlen dan searching tentang topik ini, ada suatu pembahasan yang mirip di sini. Mungkin mentor penulis mengambil dari situ atau sumber lain (belum tanya)

Selasa, 15 Mei 2012

When Something Bad Strikes You...

Pasti kita pernah mengalami hal (yang kita anggap) buruk, atau setidaknya memancing emosi negatif (sedih, marah, kecewa, sebel, dsb). Oke, saya yakin bahwa kita pasti sadar, bahwa ada hikmah di balik itu semua, dan yang terjadi itulah keputusan terbaik buat kita yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Saya ulangi. Pasti, pasti ada hikmah di balik itu semua. Mungkin tidak sekarang kita mengetahuinya, namun segera akan terungkap hikmah di balik kejadian itu.

Selain hikmah tersembunyi, barangkali itu adalah momen untuk kita introspeksi diri. Mungkin hal itu adalah peringatan dari Allah, atau balasan di dunia atas hal buruk yang pernah kita lakukan. Balasan yang datang beberapa saat setelah kita melakukan perbuatan buruk. Tentu kita masih ingat tentang cerita bola tenis dan tembok kan? Barangkali ketika itu, kita sedang menerima pantulan dari bola tenis yang pernah kita lemparkan ke dinding. Barangkali kita pernah melemparkan bola itu terlalu keras, sehingga pantulannya saat kembali kepada kita juga keras.
"Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab." (QS. Al-Mu'min ayat 40)

Bersyukurlah jika kita termasuk orang-orang yang mendapat balasan tunai ketika kita berada di dunia, atas perbuatan buruk (dan dosa yang kita pernah perbuat) . Karena balasan yang kita dapat semasa di dunia, akan menghapus sebagian dosa kita. Rasulullah SAW bersabda :

“Jika Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba-Nya maka Allah akan menyegerakan hukuman untuknya didunia. Sebaliknya jika Allah menghendaki keburukan untuk seorang hamba maka Allah akan biarkan orang tersebut dengan dosa-dosanya sehingga Allah akan memberikan balasan untuk dosa tersebut pada hari Kiamat nanti.”
(HR Tirmidzi, hasan)

Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).

Tentu saja, bukan berarti kita bisa seenaknya melakukan perbuatan dosa dengan sengaja, berharap mendapatkan balasan tunai di dunia. Justru, kejadian itu bisa jadi sekaligus merupakan peringatan bagi kita, agar segera kembali ke jalan yang benar, dan menghindari perbuatan yang salah tersebut (bukan malah diulangi berharap 'balasan' lain agar dirontokkan sebagian dosa kita).
"Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. As-Sajadah ayat 21)

Di sisi lain, mungkin juga, kejadian itu adalah murni ujian bagi kita. Bukankah Allah SWT berfirman :

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. " (QS. Al-Ankabut ayat 2-4)

Maka bersabarlah, beristighfar, lalu berawakal kepada Allah ketika mendapat suatu musibah. Janganlah kita berburuk sangka kepada Allah ketika mendapat musibah, karena segala sesuatu itu telah ditetapkan oleh Allah SWT.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al Hadid ayat 22)

Wallahu'alam bish showab...

*ngutip dari :
http://dewiyana.abatasa.com/post/detail/3931/perbedaan-antara-ujian-dan-azab
http://www.scribd.com/doc/8259607/Balasan-Di-Dunia-Mencuci-Dosa
http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2011/05/23/dosa-dosa-yang-disegerakan-adzabnya/
http://www.facebook.com/note.php?note_id=234081299953753

Life Is A Race

Kadang, hidup ini kayak balapan. Kalo mau menang, ya kudu cepet, kalo nggak, kita bakal tersingkir. Tapi sayangnya, bahkan kadang ketika kita berusaha secepat mungkin, itu juga belum bisa menjadi pemenang. Beberapa orang berbuat curang untuk memenangkan balapan ini. Bukan hanya menyalip di tikungan yang terlarang, mengambil jalan pintas, bahkan mencelakai pembalap lain. Apa saja dilakukan untuk memenangkan balapan, yang penting menang.
Sementara sebagian pembalap lain, memilih bermain aman. Tanpa main curang yang berakibat penalti. Meski kadang, itu membuat para pembalap yang memilih safe play menjadi tertinggal.
Untungnya, ada pengawas balapan yang merekam dan mencatat segala kelakuan para pembalap. Para pelaku kecurangan, akan dikenai sanksi dan penalti yang bisa menurunkan poin mereka, bahkan ada yang sampai didiskualifikasi. Sementara para pembalap yang jujur, mendapatkan poin penuh tanpa minus poin. Bergantung pada seberapa cepat mereka, makin tinggi juga posisi mereka di klasemen.


Kita yang jadi pembalapnya. Finishnya adalah berbagai tujuan di dunia. Kecepatan adalah banyaknya amal ibadah. Kecurangan adalah dosa. Penalti adalah balasan atas dosa kita. Pengawas balapannya adalah Allah SWT. Dan puncak klasemen adalah surga-Nya.

Senin, 14 Mei 2012

Suatu Hari Di Stasiun Senen . . .


12 Mei, Sabtu malam. Menginap di stasiun Senen bersama puluhan calon penumpang lainnya (belasan orang di masing-masing loket). Memburu tiket Brantas Kediri-Jakarta tanggal 20 Mei. Loket dibuka Minggu pagi, pukul 7 lebih dikit. Dan sudah banyak pengantri baru yang datang pagi-pagi (nggak nginep).
Dan ketika loket dibuka, tak satupun caloN (dengan "N") penumpang mendapat tiket. Tampaknya tiket memang sudah dijatahkan untuk para calo (tanpa "N"). Ini bukan tuduhan ngawur, karena memang para calo (tanpa "N") itu sendiri yang bercerita, bahwa memang demikian itulah adanya.
Dan para pengantri kecewa. Termasuk saya.
Betapa teganya para oknum pejabat PT. KAI yang menjual tiket tersebut bukan kepada para caloN (dengan "N") penumpang, melainkan kepada para calo (tanpa "N") yang nantinya akan menjual tiket tersebut dengan harga berkali ilpat harga seharusnya. Dan tentu saja, para calo (tanpa "N") itu juga 'menyisihkan' sebagian keuntungan dengan para oknum petugas stasiun yang telah memberi jatah tiket kepada mereka. Dengan mengorbankan hak ribuan caloN (dengan "N") penumpang kereta.
Sayang sekali jika angkutan (seharusnya untuk) rakyat, malah dimonopoli oleh segelintir oknum PT. KAI demi keuntungan kelompoknya.


Kamis, 10 Mei 2012

Kehabisan Tiket

Selepas maghrib di sebuah kos-kosan.

A : ente kagak sholat bro? #ngelipet sarung yang habis dipake

B : udah pernah.hehehehe #mainan hape

A : tapi kan sholat tuh amalan yang pertama dihitung pas kita mati ntar bro. kalo sholatnya baik, semuanya baik juga

B : ah, yang penting kan sudah syahadat, jadi ntar pasti masuk surga

A : Iya, tapi kan dicuci, diperes, dibilas dulu di neraka

B : yah kan hampir semua juga bakalan dicuci dulu di neraka, cuman lama apa enggaknya aja yang beda-beda. yang penting kan akhirnya sampe di surga

A : tapi kan ya kita ngusahain biar diri kita nggak lama-lama di sono, kan nggak enak bro. Kan enak kalo cepet masuk surga

B : iya sih, ibadah buat ke surga tuh kayak perjuangan berburu tiket buat ke kampung. Kalo mau dapet ya harus bersusah-susah dulu, antri jauh-jauh hari, kalo perlu nginep di depan loket, bahkan kalo apes ya dapet tiket lebih mahal di calo, yang penting dapet. kalo mau cepet sampe tujuan ya harus siapin duit lebih buat beli tiket angkutan kelas satu

A : iya juga ya, perjuanganya mirip. . .

B : bahkan sampe ada tiket berdiri buat di kereta pas pulang kampung. demi pulang kampung ngelakuin apa aja rela ya, yang penting dapet tiket dan keangkut sampe tujuan

A : iya emang. tapi bro . . .

B : kenapa?

A : itu kalo kebagian tiket, lhah kalo kehabisan? kan banyak juga yang kehabisan tiket dan nggak keangkut buat pulang kampung

B : . . .

A : nggak keangkut pas pulang kampung mah mending kali, kalo kehabisan tiket surga trus nggak keangkut trus nggak sampe surga gimana bro?

B : . . . ane sholat dulu #ngacir ambil wudhu

#true story dengan sedikit perubahan

Selasa, 08 Mei 2012

Magang Ceria

Magang itu adalah suatu masa di mana kantor yang ditempati saat ini hanyalah penempatan sementara, belum yang sebenarnya. Saat di mana belum ada komputer untuk bebas menjelajah internet dengan 3 macam browser. Tongkrongan sehari-hari di dekat printer, siapkan kertas A4 atau F4 karena tugasnya jadi paper feeder. Kalo ada yang memanggil 'Dek, sini' artinya siap-siap untuk memainkan mesin fotocopy atau antar dokumen ke sana-sini.

Tidak apa, namanya juga anggota termuda, harus siap membantu apa saja. Meski kadang sempat membatin, ini dikasih tugas atau lagi dikerjain. Santai saja, anggap saja mental sedang ditempa. Tetap hormati senior, karena mereka juga pasti sayang sama kamu, wahai junior. Mungkin kadang ada yang ngeselin, tapi jangan sampai bikin tekanan batin.

Mungkin sekarang cuma ngerjain hal kecil, tapi kan setiap hal besar dimulai dari yang kecil. Jangan pernah minder, meski pas hormat sama pejabat berpangkat bintang suaranya agak gemeter. Tetaplah berbesar hati, meski belum ada yang mengenal siapa sih kamu ini. Hari ini memang kamu masih nobody, tapi suatu saat pasti jadi somebody. Jangan bilang mungkin, karena untuk jadi somebody cuma kamu sendiri yang bisa buktiin.


sahabat sehari-hari sang paper feeder

Senin, 07 Mei 2012

Dengan Maskawin ... Mobil Yang Harganya Semilyar, Sah !!!

Sarapan pagi ini di Warung Mbak Yanti, menikmati seporsi pecel ditemani siaran televisi. Berita selebriti yang menikah dengan semua-muanya serba mewah. Maskawin tentu ada seperangkat alat sholat, tapi embel-embel dibelakangnya bikin penonton terperanjat. Mercedez putih yang harganya semilyar lebih. Mahar mobil sebagai syarat pasti, katanya sudah jadi tradisi dalam keluarga sang selebriti. Penonton geleng-geleng kepala, pernikahan semacam itu tentu bukan level mereka. Kembali pada seporsi pecel di meja, mensyukuri rizki pagi ini dari-Nya.


Mahar adalah salah satu syarat wajib dalam pernikahan, berupa pemberian dari suami kepada istrinya, yang diberikan dengan penuh kerelaan. Perlu diingat bahwa dalam konsep hukum Islam (baca di sini), mahar bukan merupakan “harga” dari seorang perempuan yang dinikahi, sebab pernikahan bukanlah akad jual beli.Allah SWT berfirman :

"Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan." (QS An-Nisa' ayat 4)

"Kawinilah mereka dengan seijin keluarga mereka dan berikanlah mas kawin mereka sesuai dengan kadar yang pas" (QS An-Nisa'ayat 25)

Memang tidak ada batasan mengenai besarnya mahar, ia bersifat relatif disesuaikan dengan kemampuan dan kepantasan dalam suatu masyarakat (baca di sini). Bahkan Kalau mampu memberikan mahar dalam jumlah yang besar juga boleh-boleh saja. Karena mahar diberikan oleh sang suami, maka secara tidak langsung itu menunjukkan kemampuan ekonominya dalam menafkahi istri dan keluarga.
Di sisi lain, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar tidak berlebihan di dalam menentukan besarnya mahar agar tidak menimbulkan kesulitan bagi para pemuda yang bermaksud untuk menikah, karena mempersulit pernikahan akan berdampak negatif bagi mereka yang sudah memiliki keinginan untuk menjalankannya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda,

التمس ولو خاتما من حديد
“Carilah olehmu (mahar) meskipun hanya sebuah cincin dari besi”. (HR. Bukhari).
خيرهن أيسرهن صداقا
“Sebaik-baik perempuan adalah yang paling mudah (ringan) maskawinnya.” (HR. Ibn Hibban).

Jadi memang sebaiknya, masalah mahar ini dibicarakan oleh kedua belah pihak. Memang ini merupakan hak istri, namun juga disesuaikan dengan kemampuan suami. Tidak boleh ada paksaan, harus ada kerelaan dari pihak suami.

Saya sih cuman komentarin hal ini aja, no offense buat mempelai Aisyahrani dan Jeffry Geovani. Kan memang mampu beli mobil milyaran, jadi ya no problem. Hanya saja, sebagian menilai itu sedikit berlebihan (mengingat kalimat mempelai wanita yang mengatakan 'aku maunya mas kawinnya mobil, sama kayak mama dulu', meskipun mempelai pria pun mampu menuruti). Memang standar 'wajar' dan 'berlebihan' masing-masing orang berbeda ya, jadi yang menurut sebagian orang 'biasa', bagi banyak orang lainnya 'luar biasa' (alias berlebihan).
Opini saya sih, buat yang mau nikah, maharnya sebaiknya jangan hemat-hemat amat, namun juga jangan sampai berlebihan, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Berikanlah mahar dengan penuh kerelaan, semampunya tapi jangan seadanya :)

Jumat, 04 Mei 2012

Kenali Potensimu

Suatu ketika seorang rekan meng-SMS saya, meminta pendapat terkait tugas kuliahnya. "Apakah manfaat yang dapat diperoleh jika kita mampu mengenali kelebihan dan kekurangan kita dengan baik?".

Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, kita tahu itu. Tapi kadang, ada beberapa orang yang nggak mampu mengenali dirinya sendiri. Ada yang nggak tahu kelebihannya di bidang apa, mungkin karena dia punya kecerdasan yang merata sehingga bisa melakukan banyak hal sama baiknya. Ada juga yang nggak nyadar kekurangannya dalam hal apa; entah karena memang sempurna, atau cuma kurang tahu diri.

Oke, serius nih. Jadi kan kalo menurut para ahli nih, ada beberapa jenis kecerdasan yang dimiliki manusia. Ada IQ, yang kalo di lembar hasil tes nya (setidaknya lembaran hasil tes saya dulu), mencakup 8 jenis kecerdasan menurut teori Howard Gardner yakni : linguistik, logis/matematis, spasial, kinestesik/jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan natural. Ada juga EQ yang mencakup 5 dimensi kepribadian. Dan juga ada duo SQ, yang satunya adalah Social IQ, yang satunya spiritual IQ. Sama-sama SQ kan ya?
Oke oke, pembaca bosan dengan teori berbelit macam ini, saya tahu. Ini cuma pengantar kok
#terus pembahasannya serumit apa eh?

Pembahasannya simpel aja sih. Kembali ke apa pentingnya mengenali kelebihan dan kekurangan kita. Saya kasih contoh simpel. Anda tahu Andi Oddang? Salah satu pesepakbola terkenal di Indonesia, kini bermain di kompetisi LPI membela PSM Makassar. Dalam salah satu wawancara di televisi, dikisahkan bahwa dulunya Andi adalah pegawai kantoran yang hobi main bola. Lalu suatu ketika, ntah iseng atau apa, dia cuti meninggalkan kantornya untuk sementara waktu, demi menjadi pemain bola (kalau tidak salah, main di PSM). Cuti setahun Andi ketagihan. Hingga pemimpin di kantornya mengatakan, pilih kantor atau lapangan hijau. Dan Andi memilih lapangan. Sekarang, dia menjadi salah satu striker lokal yang mampu mengangkat performa timnya. Kalau saja dulu ia tetap di kantor, mungkin tak akan ada orang dari seberang pulau yang kenal namanya. Tak akan ada website yang memuat berita tentang gol-gol yang ia cetak ke gawang lawan.

kalo nggak tahu, ini nih yang namanya Andi Oddang

Ini adalah salah satu contoh sukses orang yang mengenali bakatnya. Mungkin dia sadar, kalau saya di kantor, gini-gini aja, kalau saya main bola, karena saya suka, mungkin akan lebih berkembang. Dan itu benar. Ini adalah salah satu contoh sukses orang yang mengenali kelebihannya, kemudian berani mengembangkan kelebihannya itu, menjaadi prestasi.

Bagaimana dengan Anda? Potensi apa yang Anda miliki? Sudahkah, atau beranikah Anda mengembangkannya seoptimal mungkin?

#bersambung

Rabu, 02 Mei 2012

Sumpah Ngguapleki

ekspresi marah, sebel, ngumpat, dan sebangsanya

Kadangkala kita bisa bersikap begitu menyebalkan di hadapan orang-orang di sekitar kita, namun kita tidak merasa, karena mungkin memang kita sudah biasa bersikap seperti itu.

Kadangkala maksud yang baik, ketika disampaikan dengan cara yang kurang tepat, atau ketika waktu atau tempatnya nggak pas, bisa ditanggapi berbeda. Atau mungkin orang lain yang salah menangkap maksud baik kita.

Kadang itu terjadi karena miskomunikasi, atau juga karena berbeda persepsi.
Apapun itu, penting untuk menghindari menjadi orang yang menyebalkan. Kenapa? Karena ketika seseorang dibikin sebal oleh kita, bisa jadi 'si korban' merasa terdzolimi. Dan doa orang yang terdzolimi insya Allah lebih manjur. Dan kebanyakan orang terdzolimi akan mengumpati dan menyumpahi sang pendzolim itu; sedikit saja yang mendoakan kebaikan untuknya.

So, saatnya introspeksi diri, apa kita masih sering bikin orang di sekitar kita ngerasa sebel ato nggak? :)

Selasa, 01 Mei 2012

Kepedean

Kadangkala ketika kita tertimpa suatu hal yang tidak kita sukai, kita anggap itu musibah. Jika tidak mendapatkan yang kita inginkan, kita anggap sedang sial.

Namun kadang kita lupa, bahwa tak selamanya yang kita inginkan itu baik bagi kita. Kadang kita juga lupa, bahwa yang tidak kita inginkan, justru lebih baik bagi kita karena itulah yang sebenarnya kita butuhkan.

Kadang kita mengira bahwa diri kita layak untuk menerima rezeki lebih banyak dibanding yang kita terima saat ini. Begitu yakinnya bahwa kita memang layak, sampai-sampai lupa untuk meminta dan memohon kepada-Nya, Yang Maha Kaya. Sampai-sampai lupa berusaha menggapai ridho-Nya, yang juga akan mempermudah datangnya rezeki pada kita.

Mari coba sedikit introspeksi; apakah kita benar-benar layak mendapatkan lebih dari yang kita dapatkan, apakah kita seharusnya mendapatkan lebih dari yang sudah kita dapatkan . . .

Berapa banyak kebaikan yang sudah kita lakukan, berapa banyak dosa yang sudah kita kerjakan?

Lalu apakah kita memang layak untuk mendapatkan lebih, di kala kita masih sering lupa untuk mensyukuri apa yang telah kita dapat sekarang. Ketika masih banyak kekhilafan, atau mungkin kesengajaan? Ketika banyak kebablasan, atau sengaja membuat pelanggaran?

Mari kita sedikit berintrospeksi, dan menilai kelayakan kita atas rezeki dan limpahan rahmat-Nya, terutama untuk mendapatkan tiket ke surga nantinya. Sudah layakkah kita?

#Sebuah pengingat bagi saya sendiri terutama, dan juga pembaca blog ini.
Renungan ini muncul sehabis surfing dan tenggelam di situs ini

Persepsi

Kejadian yang sama, bisa saja dirasakan secara berbeda oleh orang yang berbeda (bahkan oleh orang yang sama ketika suasana hatinya berbeda). Semua tergantung bagaimana masing-masing menyikapinya.
Misalnya :

- hujan di pagi hari :
  • petani : alhamdulillah, tanamanku cukup air
  • siswa SMP endhel : yah, hujan, gimana nih berangkatnya (padahal tinggal pake payung juga beres)
  • penjual es degan : hujan begini mana laku
  • tukang ojek payung : rejeki nih, banyak yang nyewa payung
  • mahasiswa cuek : #nutupin kepala pake tas, tetep jalan ke kampus dengan santai
  • siswa SMA lagi jatuh cinta : #bikin puisi tentang indahnya hujan, sambil muterin lagu tentang hujan
  • pengusaha kaya : #ngga ngaruh, kemana-mana naik mobil bagus, kaga keujanan
- siang hari yang cerah bin terik ;
  • siswa SMA pengen masuk akmil : #lari-lari pakai training panjang dan jaket ber-hoody
  • penjual es degan : alhamdulillah laris
  • mahasiswa gak punya duit buat laundry : #cuci-cuci pakaian kotor
  • siswi SMP endhel : aduh, panas banget bo'...
  • petani : #berteduh sambil kipas-kipas di saung, sambil minum air putih dari kendhi

- sore hari yang mendung :

  • siswa SMA lagi broken heart : #melamun sambil meratapi hati yang sekelabu mendung di luar
  • siswi SMP endhel : aduh, mau hujan nih, berangkat les gak ya.. (padahal tinggal bawa payung)
  • petani : #udah di rumah, ngobrol sama istrinya tentang harga sembako yang makin mahal
  • mahasiswa cuek : mampus nih, jemuran belum diangkat, kuliah gak kelar-kelar
  • tukang ojek payung : #harap-harap cemas, menanti hujan dan pelanggan
  • penjual es : pulang aja lah, dingin-dingin gini mana ada yang demen minum es

- kehilangan duit gocengan ;

  • siswi SMP endhel : Ayah, minta duit dong buat transport, tadi uangku hiiilaaang T.T #sambil memelas
  • penjual es : yaelah, nyarinya susah-susah, malah ilang gitu aja. Ya nasiib
  • mahasiswa pas-pasan : anjrit, mana goceng gua tadi ya? Kalo ilang kaga jadi makan nih
  • pengusaha kaya : #kagak nyadar kalo yang ilang goceng doang mah. Kalo credit card baru bingung
  • siswa SMA : yaelah, pake ilang segala #pulang cari tebengan
  • ustadz : yaudah, biar jadi rejekinya yang nemuin aja lah

Well, saya yakin bahwa kita sering mengalami kejadian-kejadian yang dikomentari secara berbeda oleh orang-orang yang mengalaminya. Semua tergantung cara pandang orang tersebut.

Ada yang bisa tetep enjoy di kondisi apapun, setidaknya bisa melihat sisi baik dari hal yang tampak buruk. Sebaliknya ada juga yang selalu menemukan kekurangan dan mengeluh dalam berbagai keadaan.

Saran aja sih, keadaan apapun yang kita alami, lihatlah sisi positifnya. Jangan keluhkan keadaan itu. Kalaupun tidak menemukan sisi positif dari kejadian 'sial' yang barusan dialami, diam itu lebih baik daripada memaki dan marah-marah, yang hanya akan membuat mood kita makin kacau. Bukankah yang terjadi adalah yang terbaik?

So, berani enjoy?