Cari Blog Ini

Senin, 30 April 2012

Misunderstanding

Komunikasi, adalah proses perpindahan informasi dari komunikator (pemberi pesan) ke komunikan (penerima pesan)melalui suatu media.
Itu yang saya dapat dari salah seorang dosen.
Dan komunikasi yang efektif adalah saat informasi yang diterima oleh komunikan semirip mungkin dengan yang dimaksudkan oleh sang komunikator. Atau dengan kata lain, bias/penyimpangan makna yang terjadi adalah seminimal mungkin. Kita hampir tidak bisa menghilangkan samasekali bias tersebut, karena hampir selalu terjadi gangguan yang dapat mengurangi pesan yang diterima, sehingga dapat terjadi bias makna yang diterima oleh komunikan.
Oke, sampai di sini, posting ini tampak seperti materi ilmu komunikasi dasar. Jadi saya putuskan untuk berhenti memberikan penjelasan macam materi kuliah.

Di kehidupan nyata, sering banget kita mengalami kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Entah karena ada gangguan (misalnya, suasana yang bising sehingga menimbulkan salah dengar), atau memang salah persepsi (mungkin gangguan yang ini muncul di dalam kepala kita sendiri).
Akibatnya, bermacam-macam. Yang paling ringan, ya mungkin akan membuat lawan bicara kita sedikit kesal karena menganggap kita tidak menyimak. Yang paling gawat, bisa menimbulkan kecelakaan yang merenggut ratusan nyawa (lihat, kecelakaan pesawaat di Tenerife yang diduga merupakan buah dari miskomunikasi antara petugas di menara pengawas dengan pilot pesawat).
Tentu, yang saya sebut terakhir adalah contoh ekstrim. Kita tentu tidak berharap bahwa miskomunikasi yang terjadi dalam keseharian kita akan mengakibatkan kejadian sefatal itu.
Lebih-lebih dimana komunikasi secara tidak langsung (tanpa tatap muka) makin besar presentasenya dalam kehidupan kita. Telepon, SMS, email, dan semacamnya. Tanpa tatap muka, tanpa ada ekspresi yang terlihat dan intonasi yang terdengar, akan makin besar peluang terjadinya kesalahpahaman. Ya gak? Hayoo, pada ngaku ayo. Hahahaha

Jadi ada baiknya kita 'belajar' lagi tentang berkomunikasi yang baik; meminimalisir kesalahpahaman agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh lawan 'bicara' kita dengan seutuh mungkin.

Jumat, 27 April 2012

Boediono Dan Adzan

Copas berita dari Koran Fesbuk (sebenarnya tadi juga udah baca, ntah di globalmuslim atau situs apa gitu, lupa, jadi aku copas yang dari Koran Fesbuk ini) :
"WAPRES MINTA DMI BUAT ATURAN PENGGUNAAN PENGERAS SUARA DI MASJID
Dalam sambutannya pada pembukaan Muktamar ke-6 Dewan Masjid Indonesia, Jum'at (27/4). Wakil Presiden Boediono meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) untuk membuat aturan mengenai penggunaan pengeras suara di masjid masjid. Wapres menyatakan, masjid sebagai tempat untuk mensyiarkan ajaran Islam harus memberi contoh-contoh baik dan memberi citra positif bagi dunia Islam maupun umat Islam Indonesia.

Semua muslim, sangat memahami azan adalah panggilan suci bagi umat Islam untuk melaksanakan kewajiban sholat. “Namun saya rasa – barangkali juga dirasakan oleh orang lain, suara azan yang terdengar sayup-sayup dari jauh lebih merasuk ke sanubari dibanding suara yang terlalu keras, menyentak, dan terlalu dekat ke telinga.Umat Islam juga dianjurkan beribadah dan berdoa dengan kerendahan hati. Al-Qur’an pun mengajarkan kepada kita untuk merendahkan suara kita sambil merendahkan hati ketika berdoa memohon bimbingan dan petunjuk-Nya” papar Boediono. (KF-Vey/1/14/Viva) | Follow KF di Twitter: @koranfesbuk"
Hal ini menuai beragam reaksi. Ada yang setuju, mungkin terganggu dengan suara adzan. Dalih mereka adalah, bahwa 'Tuhan itu nggak tuli, jadi buat apa adzan keras-keras'.

Sedikit meluruskan aja. Adzan itu bukan untuk memanggil Tuhan, dan Tuhan pastilah tidak tuli. Tapi adzan itu untuk memanggil umat Islam agar segera memenuhi ajakan untuk sholat. Adzan jaman sekarang pakai pengeras itu biar menjangkau tempat yang luas, agar banyak orang muslim yang mendengarkan panggilan itu di tengah ramainya hiruk pikuk kehidupan duniawi (secara, dunia jaman ini pasti lebih 'ramai' oleh suara kendaraan, orang, dan lain sebagainya, dibanding jaman Rasullu Muhammad SAW dulu), terus berangkat ke masjid untuk sholat (bukan untuk tukeran sandal).
Lha sekarang, adzan yang keras aja masih banyak yg g sholat, apalagi pelan.

Kaum yang sepikiran sama pak wapres akan bilang, sholat itu harusnya kesadaran pribadi, nggak perlu pake pengingat harusnya sadar, iya gak? Ayo ngaku!
Nah sekarang, faktanya banyak orang yang nggak sadar. Ada adzan yang ngingetin aja masih banyak yang nggak sholat, apalagi kalau disuruh pake kesadaran sendiri. Yang ngomong gitu, mungkin lupa bahwa muslim itu harusnya saling mengingatkan dalam kebaikan. Ya gak?


Yang dikhawatirkan oleh banyak pihak, adalah nanti kalau si wapres ini diturutin, akan tambah ngelunjak. Nari lama-lama masjid gak boleh lagi pake pengeras suara lagi pas adzan. Dan negara yang katanya mempunyai dasar negara dengan sila pertama 'Ketuhanan Yang Maha Esa' ini akan menjadi makin mirip dengan negara-negara sekuler di eropa, di mana kaum muslim di asingkan dan dibatasi hak-haknya. Sungguh ironis kalau itu terjadi, mengingat sebagian besar rakyat negeri ini ber-KTP Islam.
Tapi tentu saja, kita nggak tahu apa yang ada di pikiran pak wapres saat mengatakan pendapatnya tadi. Who knows..

Kompilasi Ilmu Pekan Ini

#Dari mentoring Rabu malam :

Kultum dari Sodara Bayi (bukan nama sebenarnya) :
(Sebagian) Hak orang tua terhadap anak/kewajiban anak terhadap orang tua, antara lain :
  • Menaati kedua orang tua, kecuali jika diminta melakukan maksiat
  • Menjaga & merawat dengan penuh kasih sayang (tidak dg terpaksa)
  • Berbicara dengan penuh sepan santun dan adab, serta jangan sampai mengatakan "ah" (ngomong 'ah' aja nggak boleh, apalagi pake ngedumel/ngeles)
  • Dilarang mengangkat suara/meninggikan nada bicara (apalagi membentak)
  • Menghormati dalam setiap keadaan apapun kondisi kita (misal nih, ortu kita dulunya cuma lulusan SMA, kta bisa sampe S3, itu bukanberarti kita boleh merasa 'lebih tinggi' daripada orangtua)
  • Mencium tangan orang tua ketika akan bepergian
  • Bermusyawarah ketika ingin bertindak (misalnya mau nikah, jadi jangan taiba2 "yah, aku udah nikah sama cewek ini")
  • Menempatkan orang tua di tempat yang mulia di depan tamu/orang-orang terhormat
  • Tidak keluar dari rumah kecuali setelah mendapat izin dari orang tua (jadi jangan kabur atau minggat)
  • Berbuat segala sesuatu yang dapat menyenangkan orang tua (misalnya, ortu bakalan seneng kalo kita banyak ngaji dirumah, maka lakukanlah)
  • Tidak boleh mendahulukan isteri daripada orang tua (tapi bagi istri, menurutlah kepada suami itu nomer 3 -setelah menaati Allah dan Rasul-Nya --> makanya pilih suami yang agamanya bener biar kalo nurutin, nggak jadi sesat)
  • Mengalah kepada orang tua terhadap apa-apa yang disenangi (salah satu sahabat, berkata bahwa beliau tidak pernah makan mendahului/bersama dengan ibunya, karena khawatir bahwa makanan yang diamibilnya ternyata kesukaan ibundanya)
  • Cepat memenuhi panggilan & keinginginan sebisa mungkin (jangan ditunda-tunda, nanti bisa celaka)
  • Jangan menggangggu ketika orang tua sedang tidur / makan
  • Dan yang paling penting, Selalu mendoakan dan memohonkan pengampunan baik kepada orang tua yang masih hidup atau telah tiada... Karena doa dari anak yang soleh untuk orangtuanya yang telah meninggal, adalah salah satu amalan yang akan terus mengalir bagi sang almarhum)
Materi dari Mas Cepy :
Tanda-tanda kepribadian muslim :
  • aqidah yang bersih
  • ibadah yang benar
  • ahlaq yang kokoh
  • badan yang sehat/kuat (makanya olahraga + makan makanan bergizi + istirahat cukup)
  • pemikiran yang cerdas/kreatif/memberi solusi
  • bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (nah lo, banyakan memerangi atau menyerahnya nih)
  • pandai mengatur waktu (nggak telatan dalam segala acara)
  • teratur dalam urusannya
  • mampu dalam pekerjaan, mampu menghidupi diri (dan berkeluarga)
  • bermanfaat bagi orang lain (gak melulu ambil manfaat dari orang lain, tapi menebar manfaat juga)

Hmm..sudahkan kita memenuhi syarat-syarat tersebut?


#Dari khotbah Jumat siang tadi :

5 musuh orang mukmin :

  • orang kafir yang tak pernah berhenti memerangi (baik perang sebenarnya, seperti perang di Palestin, Iraq, Afghan, maupun perang ideologi, yang ironisnya terjadi di seluruh penjuru dunia)
  • orang munafiq yang selalu membenci dan mencari peluang untuk menjatuhkan
  • syetan yang senantiasa berusaha untuk menyesatkan
  • nafsu yang menjadikan yang haram terlihat enak dan yang halal terasa menyusahkan
  • orang mukmin yang mendengki

Semoga sharing yang singkat ini bisa membuat masing-masing kita semakin sadar dan semakin berazam untuk memperbaiki kualitas keimanan kita (yang nantinya akan berdampak pada kualitas pribadi kita)

Rabu, 25 April 2012

Jadi, 'Itu' Tidak Dianggap Benda? Mungkin Termasuk Hal Gaib Ya...

Another fail. Di sebuah toilet, di rumah makan yang menyediakan berbagai jenis sambal sebagai andalan (mungkin Anda tahu yang saya maksud).
" Terimakasih
untuk tidak membuang BENDA
BERUPA APAPUN ke dalam lubang WC "


Yah, kita semua tahu, bahwa WC difungsikan sebagai tempat pembuangan limbah organik sisa pencernaan kita. Wajar kalau ada larangan membuang sampah berupa puntung rokok, tisu, kertas, atau plastik ke dalam WC.
Tapi WC yang satu ini berbeda, karena tidak boleh dimasuki oleh benda apapun, termasuk 'itu' tadi. Hmm, mungkin ini cara lain untuk mengatakan bahwa WC ini sudah penuh dan nggak bisa diisi lagi, atau memang ada fungsi lain; untuk tempat cuci kaki misalnya... Who knows... :)

Penunggang Kartu? Sekuel Ghost Rider Kali Ya...

Suatu ketika, saya lagi online di warnet dan ketemu tulisan ini di salah satu biliknya. Dan saya ngakak.
"Apabila butuh BLOOTOTH (the sky is now in bloo, lol), CARD RIDERS (sekuel Ghost Rider, atau sejenis geng motor nih?), WEB CAMB (ternyata yang ngetik ini orang @LaY) harap hubungi operator"

Plis deeh, ini warnet Maaaan, tapi ah sudahlah. Kesalahan dalam menuliskan istilah dari bahasa asing memang cukup wajar di negeri tercinta ini. Tapi tetep wajar juga kan, kalo yang ngebaca tulisan semacam itu ketawa? :D

Senin, 23 April 2012

Kecewa Sama Nama

Suatu ketika, saya diminta oleh seorang senior di kantor untuk mengetik data tentang daftar nama perusahaan minuman beralkohol. Data yang diinput termasuk nama perusahaan, alamat, nama penanggung jawab, dan lain-lain.
Nah, ironisnya, dari sekian ratus perusahaan tadi, ada beberapa (gak ngitung detilnya) yang pemiliknya tuh memiliki nama yang Islami banget. Nama-nama semacam Muhammad, Jainuddin, Ridwan dan bahkan ada beberapa yang punya embel-embel 'H' di depan namanya. Entah haji, atau nama depannya memang diawali huruf 'H'.
Sedikit menohok, kalau memang pemilik nama-nama Islami tadi benar-benar Islam (tidak ada identitas agama mereka dalam data yang saya ketik). Di mana kita tahu, bahwa minuman beralkohol (penekanan bukan pada 'alkoholnya', melainkan pada sifat minuman tersebut), adalah minuman yang memabukkan. Dan segala yang memabukkan (menurut salah seorang penceramah, yang menimbulkan sifat 'hilangnya kesadaran'-saya gak inget istilahnya) itu termasuk khamr. Dan khamr, jelas haram. Titik, tanpa kecuali.
Dan sebagian penanggung jawab dari perusahaan/toko yang memperdagangkan miras tersebut, memiliki nama yang Islami, bahkan sebagian memiliki embel-embel 'H'. Rupanya, memang benar istilah yang mengatakan bahwa nama adalah do'a. Nama yang baik dari orang tua, adalah suatu do'a yang melekat pada si anak, agar kelak dia jadi orang baik-baik. Sayangnya, tidak semua do'a terkabulkan. . .
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu menjaga amanat yang trkandung dalam nama kita, dan mewujudkan do'a orangtua kita yang memberi nama pada kita.

Kamis, 19 April 2012

Simplicity; Cheap, Easy, And Tetep Happy

Bagi sebagian orang, makan malam sederhana asalkan bersama keluarga sudah memberikan cukup kebahagiaan, sebagian lainnya baru bisa bahagia dengan gala dinner di bawah sinar bulan berharga jutaan, dengan wine dan live accoustic

Bagi sebagian orang, berjalan-jalan di sekitar kampung sambil menuntun si buah hati sudah cukup menyenangkan, sebagian lainnya, kalau jalan-jalan harus ke luar negeri meski untuk urusan bahasa masih belum mengerti

Bagi sebagian orang, nongkrong di teras rumah teman ditambah gitar, kopi dan kacang sudah cukup untuk melepas penat, sebagian lainnya memilih gemerlap lampu disco, menari bersemangat sampai badan berkeringat

Sebagian orang bisa tetap ceria di dalam gerbong kereta ekonomi lima puluh ribuan, sebagian lainnya alergi kalau tidak naik pesawat kelas satu

Bagi sebagian orang, kesenangan dan kebahagian terbalut dalam kemewahan dan kemegahan. Sementara bagi orang yang tidak memiliki segala keglamoran dunia, biasanya akan lebih teliti dalam melihat kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam hidup, dalam hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita, namun seringkali terlewatkan oleh kebanyakan orang.
Beruntunglah orang-orang yang mampu melihat segala keindahan dan menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang sederhana, karena mereka telah memahami bahwa kebahagiaan itu letaknya di dalam hati, bukan materi :)

Republik Tawur



Ibukota republik, malam akhir pekan. Sekelompok pemuda gagah-gagahan di jalan raya. Blokir sana blokir sini, menyulap jalan umum jadi sirkuit balap. Bandar berkoar, ayo siapa juaranya, kumpulkan duit panas dari para penonton. Warga sudah tak bisa terima, akses jalan raya diblokir seenaknya. Warga panggil polisi, tentara, dan segala kekuatan yang ada. Balap liar digerebek, pembalap liar lari kocar-kacir. Cari pertolongan ke para preman sewaan bandar. Bentrok masa tak terhindarkan, darah berceceran tak terelakkan.

Bergeser ke luar pulau. Mahasiswa tuntut dekan mundur. Kebijakannya bikin kehidupan kampus makin tak teratur. Dekan sembunyi di kolong meja, menelepon satpol PP juga tim Gegana. Minta dievakuasi dengan mobil lapis baja. Mahasiswa sudah tak sabar, provokator bicara emosi makin terbakar. Ban bekas jadi sasaran, lalu meja kursi dari kantin, lalu gedung kelas dibakar. Biar sekalian tak ada kuliah sampai semester depan.

Terminal kota besar. Banyak pendatang mengadu nasib di kota besar. Pendatang terdahulu, lebih dulu kalah di undian nasib. Sudah bosan gagal cari kerjaan halal. Dibisiki setan, cari duit cara instan. Bermodal kelincahan tangan, kantong pendatang jadi sasaran. Menawarkan bantuan dengan wajah ramah, disaat tak terlihat tangan bergerak menjarah. Sekali lagi, pendatang lama kalah undian nasib. Kepergok saksi mata, langsung dikeroyok. Warga masih tersulut amarah, lalu ambil minyak tanah. Pendatang lama menyambi copet dibakar habis. Biar saja, sampah masyarakat, kata mereka.

Salah satu stadion termegah di republik. Pertandingan klasik dua tim raksasa. Tim tamu cetak gol lebih dulu. Supporter tuan rumah tak terima. Tim kami kuat dan bersejarah, tak mungkin bisa kalah, pikir mereka. Supporter menggila, menjarah dagangan warga. Lalu menggila keliling kota. Sweeping kendaraan dengan plat nomor kota tim lawan, lalu dilempari dengan makian dan bebatuan. Tim tamu lalu dievakuasi dengan mobil polisi.

Beranjak ke stadion lain. Dua kesebelasan bertanding. 11 lawan 14, pertandingan berlangsung tak adil. Penonton kecewa. Lempar botol ke lapangan. Pengadil lapangan jadi sasaran. Lemparan berubah jadi pukulan, lalu terjadi kejar-kejaran, membesar jadi keributan. Lapangan membara, keributan meluas ke luar juga. Warga terusik, keributan bikin suasana kota tak asik. Warga ikut mengejar, supporter semburat berpencar. Terlihat seperti perang kota, kata yang menonton di warta berita.

Pulau kecil di republik, dimana warga biasa bertenggang rasa antar umat beragama. Namun entah dari mulut siapa, tiba-tiba fitnah merajalela. Kedua umat merasa saling dihina. Dihasut setan, semua seperti lupa menyebut nama Tuhan. Tempat ibadah diratakan dengan tanah. Tenggang rasa seolah sudah tiada, yang ada warga yang ketakutan bingung mau mengungsi kemana.

Rumah sakit sebuah kota, dimana keluarga dan kerabat jenazah berkabung bersedih. Tiba-tiba, datang tamu tak diundang. Bawa pedang juga parang. Kelihatan, mereka orang suruhan pesaing bisnis. Pelayat semburat, penyerang merangsek. Pelayat ditebas, ada yang tewas di tempat. Satu jenazah bertambah jadi tiga. Kelompok penyerang menghilang entah kemana, seperti ninja.

Depan sekolah. Anak-anak remaja, dengan seragam putih abu-abu, berdiri berjajar. Bukan di depan sekolah sendiri, tapi sekolah orang lain. Orang lain yang katanya menghina rekan satu sekolah mereka. Harga diri almamater diinjak-injak, kata mereka. Masih ingusan sudah berkata harga diri. Rantai, gear, pentungan bahkan parang dan pedang jadi senjata. Sekolah jujugan tak tinggal diam, mereka juga tahu, 'utusan' sekolah lawan akan datang, cepat atau lambat. Dan sepulang jam sekolah, mereka beraksi. Bukan ekskul atau pelajaran tambahan, mereka cuma tawuran.

Kota wisata, tempatnya orang belanja kebutuhan buat bergaya. Tiba-tiba terdengar raung belasan motor, nampaknya geng motor masih ada yang eksis. Cuma melintas sekilas, tapi sudah bikin warga waswas. Polisi atur strategi, daripada nanti jatuh korban lagi. Hari yang ditentukan, polisi lancarkan serangan. Geng motor digerebek, geng motor melawan. Di kedua belah pihak berjatuhan korban. Segelintir anggota lolos, bersembunyi. Menanti waktu yang tepat untuk beraksi lagi.

Ujung lain republik. Dimana warga masih berburu dengan panah dan sumpit beracun. Warga dua desa terlibat pertikaian. Entah ada yang salah atau memang kesalahpahaman. 1 nyawa dibayar dengan 1 nyawa, begitu aturannya. Maka panah pun terlepas dari busurnya, tombak pun terlepas dari genggaman pelontarnya. Dan perang tak akan berhenti sampai korban mati seimbang di kedua sisi.

Pulau lain, masih di republik. Massa berdemo menuntut janji bupati. Katanya mau berdialog, nyatanya massa cuma bermonolog. Katanya bikin kebijakan, kok malah rakyat yang dikesampingkan. Janji dialog tinggal janji, bupati entah lari atau pergi. Massa emosi, merobohkan pagar besi. Aparat lakukan tembakan peringatan, tapi kelas kalah jumlah personil di lapangan. Warga merangsek lagi, mulai membakari semua yang bisa terbakar. Pemadam kebakaran tertahan, hanya bisa menonton api unggun dengan bahan bakar kantor bupati.

Itulah secuil kisah tentang Republik Tawur, yang diperjuangkan oleh para pejuangnya dulu dengan perang dan diplomasi. Ketika diplomasi dengan kata-kata sudah tak mampu menghasilkan solusi, maka perjuangan fisiklah yang dilakukan, yang dianggap lebih mampu membuahkan hasil. Ya, ada perang dan genangan darah dalam sejarah republik ini. Mungkin warga masa kini hanya ingin meneladani, apa yang terjadi di sana ketika jaman penjajahan dulu.

Ya, rakyat Republik ini masiih terjajah. Oleh kebijakan yang tak merakyat, oleh kemiskinan yang melekat, oleh kebodohan yang mengendap, oleh emosi yang meracuni nurani, oleh bujuk rayu setan berkepala hitam yang hembuskan fitnah dimana-mana. Ya, rakyat Republik ini sedang berusaha meraih. Kemerdekaan di bidang ekonomi, pendidikan, rasa aman, jaminan kesehatan dan lainnya, masih banyak yang harus mereka raih. Ya, rakyat Republik ini masih harus terus berjuang, entah dengan diplomasi atau perang, melawan para penjajah yang tak kelihatan.

*tulisan ini tidak menganjurkan ataupun menyetujui segala bentuk kekerasan dalam mencapai tujuan, selama masih ada cara lain yang lebih efektif. Mungkin kekerasan akan bisa menyelesaikan hampir semua masalah, hanya saja dia selalu membawa masalah lain yang tidak kalah rumit.
**tulisan ini terinspirasi dari berbagai bentuk tindakan anarkisme di negeri ini.
***sekali lagi,
penulis samasekali tidak menganjurkan pembaca untuk ikut terlibat dalam segala bentuk kekerasan dalam menyelesaikan segala bentuk masalah, kecuali darurat (dalam keadaan perang, misalnya).

Senin, 16 April 2012

Sombong Atau PeDe?

Tadi pas onlen (emang sekarang kagak onlen apa?) sekilas saya melihat tulisan seseorang, entah di fb atau apaan, pokoknya dia membandingkan sifat sombong dan apa gitu, minder atau apa lupa, pokoknya dia melihat bahwa ada sisi positif dari sombong, yakni mengetahui dan yakin dengan kemampuan diri. Nah lo, ini nih, salah konsep (menurut saya).
Mana ada baik-baiknya tuh sifat sombong. Lagian, sombong dan PD itu beda jauh.... Let's check this out.
Definisi sombong : menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah
Nah, lihat, berlebihan. Bukankah segala yang berlebihan itu tidak baik? Kalau nggak percaya, tengoklah kaum alay; apakah terlihat baik? (asumsi saya, Anda bilang tidak)
Percaya, definisinya : yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang atau sesuatu (bahwa akan dapat memenuhi harapannya dsb). Maka percaya diri adalah yakin akan kemampuan dirinya (bahwa akan dapat melakukan sesuatu, mewujudkan sesuatu). Atau menurut definisi W.H.Miskell : Percaya diri adalah kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki, serta dapat memanfaatkannya secara tepat.
Lihat, ada perbedaan di sana.
Lagian, sombong tuh salah satu tiket ke neraka (saya udah pernah nulisin di sini, baca sendiri aja ya), jadi mengapa masih menganggap ada 'kebaikan' dalam sifat sombong itu? Saya jadi kasihan dengan orang yang menginspirasi saya tadi, lupa sih, siapa ya yang menganggap sombong itu baik tadi... Kasian. Barangkali pembaca bisa bantu untuk saling mengingatkan?

Meine Doppelgänger; Is It Real?

I just want to post something different. Beberapa postingan terakhir cenderung renungan atau agamis mulu, dan kali ini saya lagi capek merengung. Kebetulan keinget tentang hal ini, jadi tak posting aja.
Doppelgänger, atau dopplegaenger, adalah sebuah fenomena misterius, penampakan yang berwujud sesosok orang yang masih hidup, entah dilihat oleh kerabat (kalau dilihat oleh orang yang tidak dikenal, tentu dia tidak tahu siapa itu, bodo amat mau kembaran, hantu atau apa) atau orang itu sendiri (yang belakangan, katanya merupakan pertanda dia akan meninggal).
Mungkin beberapa dari kita pernah mengalaminya, namun hal ini nampaknya tidak pernah terlalu dipikirkan oleh yang mengalaminya. Jujur saja, budaya kita (kebanyakan orang Indonesia) lah yang membuat hal ini terkesan remeh. Kebanyakan dari kita cenderung mempercayai & dan meyakini hal-hal ghaib, maka fenomena ini dianggap tidak aneh. Tidak lebih aneh dari penampakan jin atau sebangsanya, yang mengambil rupa seseorang yang masih hidup. Sementara di dunia barat, hal semacam ini diteliti benar-benar, mungkin karena kebanyakan dari mereka tidak meyakini, atau setidaknya skeptis terhadap hal-hal ghaib. Dan dalam beberapa kasus, menimpa orang terkenal.
Berikut kisah-kisah doppelgaenger yang pernah saya dengar dan ketahui, yang terkait dengan orang-orang yang saya kenal :

- entah kapan kisah ini mulai diceritakan oleh mama saya. seingat saya, ini terjadi sekitar jaman saya SD atau SMP. Krtika itu, ayah saya (seorang guru) seringkali mengikuti program penataran guru (sekarang, mungkin istilahnya workshop atau training apalah, u know what i mean). Nah, acaranya tuh kebanyakan di luar kota selama beberapa hari. Jadi, di rumah pasti sepi, tanpa ada pria dewasa. Uniknya, seringkali tetangga mengaku melihat sosok ayah saya, keluar malam-malam, hanya mengenakan celana pendek dan kaos kutang, duduk-duduk di bangku halaman. Dan tentu saja, ketika mereka bercerita ke anggota keluarga di rumah, mereka berkata bahwa ayah sedang tidak di rumah.
Ini jelas bukan ayah saya, dan kecil kemungkinan ada orang lain yang berlagak seperti itu. Dan kalaupun itu orang lain yang berlagak seperti itu, mereka kemungkinan besar akan mengenali bahwa itu bukan ayah saya (namanya juga tetangga, hafal dong kebiasaan tetangganya). So who (or what) the hell did they see? hahahaha

- yang ini ketika saya SMP, sedang ada acara LDK, nginep di sekolah. Waktu itu udah sore, saya dan Momon, teman saya, sedang akan menyalakan kran air di dekat sumur belakang sekolah, supaya nanti air di tempat wudhu mushola nggak sampe habis gitu. Nah, tempat kran air itu, di terletak di sebelah kantin, ada di belakang deretan kelas, dan ada pohon gede yang buahnya merah-merah berjatuhan gitu (menambah unsur mistis). Pas jalan ke kran, kami melihat Mbak As (penjual di kantin sekolah) masuk ke kantin, nggak tau ngapain. Saya langsung aja ke kran air, sementara teman saya nungguin di belakang. Posisinya, saya di samping kantin, nggak bisa ngelihat ke pintu kantin, dan Momon agak ke belakang saya, masih di depan kantin gitu-dengan kata lain, bisa ngeliat ke arah kantin. Karena bingung muter kran tersebut ke arah kiri atau kanan, saya akhirnya berkata ke Momon, 'ayo tanya ke Mbak As aja' sambil jalan ke kantin. Dan ketika masuk ke kantin, 'Mbak As, muterin kran....' pertanyaan kami terhenti. Kantin kosong, nggak ada orang.
Kalau Mbak As keluar, pasti Momon udah ngeliat, soalnya posisi dia di depan kantin. Nggak mungkin mbak As keluar lewat pintu lain, soalnya cuma ada satu pintu di kantin itu. Dan gak mungkin juga Mbak As keselip di antara barang-barang di kantin, soalnya orangnya lumayan gede, dan kalaupun keselip, ah gak mungkin keselip pokoknya. Mungkin Mbak As ada di dalam, entah di mana, dan nggak denger panggilan kami? Nggak mungkin, karena suasananya sepi banget, bisik-bisik aja pasti kedengeran. Masih ada kemungkinan Mbak As sembunyi di mana, dan menggoda kami dengan tidak menjawab panggilan kami. Tapi kayaknya Mbak As nggak seiseng itu deh...Then what the hell did we see just before??? Kami berdua langsung berbalik badan, bertanya-tanya dan menahan diri untuk tidak membahasnya.

- Yang terakhir, terjadi ketika saya masih kuliah di Jakarta. Ketika itu orangtua saya menelepon dan mendapat cerita dari salah seorang Pakde saya (kakak dari mamayang tinggal di Ketindan,dekat kebun teh Wonosari) bahwa Bude (istrinya Pakde) mengatakan bahwa beliau melihat saya, lewat di jalan depan rumah mereka, mengendarai motor warna hitam, saling menyapa dengan bude, namun mengatakan bahwa tidak sempat mampir ketika bude menyuruh 'saya' mampir. Kalau yang ini jelas nggak mungkin. Pertama, saya lagi di Jakarta. Kedua, saya nggak bisa mengendarai motor. Ketiga, kayaknya bude nggak mungkin salah mengenali orang deh, soalnya ceritanya Bude menyapa dan memanggil nama saya, dan 'saya' itu pun menoleh dan menjawab. Hmmm, lalu siapakah itu?

Well, begitulah kisah terkait dopplegaenger yang pernah saya alami. Tidak usah disimak terlalu serius, ini sama umumnya dengan cerita penampakan yang lain. Barangkali para pembaca ada yang pernah mengalami kejadian serupa?
Obama's Doppelgaenger :) lol


Rabu, 11 April 2012

Jika Hidup Adalah Perjalanan, Maka . . .

Surga pastilah merupakan tujuan akhiryang diimpikan semua orang. Kenapa? Karena semua orang pasti menginginkan kebahagiaan yang abadi. Kematian adalah gerbang ke sana, karena tak ada orang yang masih hidup di dunia yang bisa masuk ke surga. Karena itu, dunia adalah kegelapan yang menyelimuti kita, menghambat kita dari surga.

Iman adalah kompasnya, yang mengarahkan kita ke arah itu. Agama adalah sebenar-benarnya peta menuju kesana, yang menunjukkan berbagai jalan ke sana. Sementara jalan yang ditunjukkan oleh peta tersebut adalah berbagai amal kebaikan dan ibadah. Ilmu dan pengetahuan adalah penerang jalannya, karena melakukan amalan tanpa ilmunya akan membuat kita terperosok, sama dengan melewati sebuah jalan yang diliputi kegelapan tanpa membawa penerang.

Keluarga dan sahabat adalah orang-orang yang kita inginkan untuk tiba di sana bersama kita, kebersamaan yang bahkan lebih baik daripada kebersamaan kita saat di dunia. Sementara guru, mentor, dosen atau ustadz kita adalah yang memberitahu dan mengajarkan kita sebagian cara untuk kesana.

Harta dan kekuasaan ibarat kendaraannya. Kita bisa saja tiba tanpa mengendarai apapun, namun akan lebih cepat dan lebih baik jika menggunakan kendaraan tersebut. Hanya saja, dia bisa membuat kita terperosok ke jalur yang salah, jika tak dilengkapi dengan kompas, peta yang benar dan penerang jalan.

Sayangnya, tidak semua orang akan mampu tiba di tujuan akhir. Banyak yang terperosok atau menempuh jalan yang salah, semua berakhir ke dalam jurang yang gelap dan dalam, jauh dari tujuan akhir yang diinginkan semua orang. Mereka adalah orang-orang yang kehilangan arah dan tersesat. Mereka tidak memiliki kompas, peta yang benar dan penerang jalan, atau menggunakan kendaraannya dengan cara yang salah. Dan apakah yang merupakan jurang tersebut? Tidak lain adalah neraka dan adzab Allah, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mendzalimi diri sendiri.

Lalu perjalanan macam apakah yang kita ingin tempuh?
#sebuah renungan yang semoga bisa mengingatkan diri penulis sendiri dan orang lain

Selasa, 03 April 2012

Pro-Kontra Kenaikan BBM

Beberapa hari ini media santer memberitakan demo di berbagai wilayah Indonesia terkait rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Bagaimana menurut Anda? Kalo saya sih cuma ngomentarin, mencoba bersikap netral, menengahi dan tidak terbawa propaganda pemerintah maupun emosi pendemo, mencoba menganalisa berdasarkan pemahaman dan pendapat saya sendiri.

- Kata pemerintah (termasuk dalam iklan 'propaganda' Kementrian ESDM, yang 'mengapa harga BBM harus naik') ini demi menyelamatkan keuangan negara. Kata (teriak) pendemo, kebijakan ini tidak berpihak kepada rakyat, karena secara tidak langsung, harga barang-barang akan naik karena semua tergantung pada berbagai moda transportasi (jelas butuh BBM) untuk pendistribusiannya. Transportasi makin mahal=harga barang mahal=dibebankan kepada pembeli (rakyat). Kata saya, baik pemerintah maupun para pendemo maupun rakyat yang nggak ikut demo, harus lebih pinter ngatur anggaran; biar anggaran pemerintah nggak kecolongan untuk pos-pos yang nggak perlu dan nggak kecolongan dikorupsi, biar para rakyat lebih jeli membelanjakan kebutuhan hidupnya dengan penghasilan yang seadanya. Contohnya, buat pemerintah, kurangi anggaran belanja untuk DPR, Menteri, dan aparat pemerintah lain, terutama untuk pos-pos pengadaan gedung baru (padahal gedung yang lama masih tegak berdiri), kendaraan dinas pejabat (padahal sudah punya mobil pribadi), anggaran studi banding ke luar negeri (yang gak jelas dapat ilmu apa), dan pos-pos lain yang bukan kebutuhan pokok untuk menyelenggarakan pemerintahan yang rawan mark-up. Untuk para pendemo, misalnya dengan mengurangi/meniadakan anggaran untuk hura-hura dan rokok, bisa hemat beberapa puluh ribu sebulan.

- Kata analis yang kecipratan unsur politis, naiknya harga BBM adalah untuk menekan konsumsi BBM, dengan kata lain, menahan orang-orang biar nggak boros BBM, karena kalau boros, ya keluar duit banyak. Kata pendemo, kebijakan ini cuma menguntungkan asing, yang tanem modal di sumur minyak RI. Kata saya, cobalah untuk sering-sering jalan kaki, kalo cuma untuk makan ke warteg dekat kosan, nggak perlu lah menstarter motor, padahal cuma berapa puluh meter. Atau galakkan bike to everywhere (as far as u can). Atau bantu para peneliti hasilkan bahan bakar alternatif. Kan lebih baik daripada membayar BBM yang kebanyakan duitnya lari ke perusahaan-perusahaan minyak kapitalis itu.

- Yang gak ikut demo dikatain banci, karena gak berani menyuarakan kepentingan rakyat, diam saja melihat kedzaliman pemerintah. Sementara yang demo, beberapa bertindak anarkis, dan belum tentu juga ngeh dengan ide-ide yang disuarakan, dan belum tentu juga demo dengan ikhlas (ada pengakuan mengenai pendemo bayaran-saya dapet cerita dari temen). Kata saya, demo boleh asalkan : nggak ngeganggu kepentingan umum (jangan bikin macet), nggak anarkis (masak lempar-lempar batu, ngerusak fasilitas umum), dan sampaikan 'suara' dengan lebih smart; bukankah yang demo kebanyakan adalah mahasiswa, orang-orang terpelajar?!

- Kata pendemo, pemerintah nggak sayang sama rakyatnya, karena udah tau biaya hidup tinggi, malah nambahin beban rakyat. Kata pemerintah, ini demi rakyat juga, ngurangi subsidi BBM untuk kepentingan pembangunan (teoritis, belum lagi kalo dikorup), biar rakyat nggak manja. Kata saya, ngapain juga ngarep dimanja terus sama pemerintah, udah tau kalo pemerintah tuh jarang banget bisa diandelin. Kayaknya lebih baik energi dan pemikiran para mahasiswa pendemo dialihkan untuk cari solusi, bukan cuma demo yang hampir-hampir nggak digubris sama pemerintah.

- Kata pemerintah, kenaikan harga BBM dikompensasi dalam bentuk BLT dan program-program lain. Kata pendemo, mana cukup duit BLT buat nyambung hidup. Kata saya, biar cukup buat nyambung hidup ya kerja, mungkin para mahasiswa bisa membantu rakyat kecil mendapat lapangan pekerjaan, pengabdian masyarakat dalam arti sesungguhnya, daripada demo melulu.

Intinya, pemerintah akan selalu mencari cara dan alasan untuk membela diri dan membenarkan kebijakan yang akan diputuskan. (Sebagian) mahasiswa dan ormas-ormas, akan terus turun ke jalan menentang kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan rasa keadilan untuk rakyat.
Menurut saya, protes dan kritik terhadap ketidakadilan pemerintah memang harus terus dilakukan, namun lakukanlah dengan cara yang baik, jangan sampai malah merugikan pihak-pihak lain, atau menggunakan kekerasan. Oke, kekerasan mungkin bisa menyelesaikan hampir semua masalah. Hanya saja, dia selalu membawa masalah yang lain. Jadi kalo mau demo ya bolehlah (emang siapa saya, nggak punya hak untuk ngelarang) tapi jangan anarkis.
Dan jangan lupa, yang lebih penting daripada protes adalah dengan mencari solusi. Jika ada ketidakadilan pemerintah yang merugikan rakyat, kita bisa melawan dengan cara cerdik, melakukan aksi yang meminimalisir kerugian yang timbul akibat kebijakan yang tidak bijak tersebut. Ya misalnya, ketika harga BBM naik, mari kita sama-sama coba berhemat dan berkreasi untuk menemukan bahan bakar alternatif, atau ada solusi-solusi cerdas lainnya?

* tulisan ini sepenuhnya mencerminkan opini penulis, tidak bermaksud menyinggung atau menyudutkan pihak tertentu. Mohon maaf kalau ada yang tersinggung (mungkin ada yang ikut demo, ups..)