Cari Blog Ini

Kamis, 20 Desember 2012

Besok Kiamat? Ciyus?



Beberapa hari ini (bahkan mungkin sejak beberapa bulan, dan tahun lalu), media internet ramai membicarakan "Kiamat 2012", yang katanya berdasarkan penelitian dan penghitungan kalender suku maya. Menurut para peneliti tersebut, suku Maya memperhitungkan akhir dari alam semesta, alias kiamat pada 21 Desember 2012 masehi, alias besok. Nah, kesan ini diperkuat dengan munculnya film "2012" dari Holywood, yang menggambarkan kejadian bencana tektonik yang mengguncang dunia (dalam film tersebut) dalam artian sebenarnya di tahun 2012. Nah, masyarakat awam pun heboh. Sebagian langsung bertanya-tanya, panik, akankah bumi dan seluruh semesta hancur pada 21 Desember tersebut? Banyak yang langsung mempersiapkan diri menghadapi kiamat (seperti di acara "Doomsday Preppers" di National Geographic Channel).

Lalu pertanyaannya, apakah benar, kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012, alias besok?
Jawabannya, menurut saya, ya liat aja besok. Hehehe
Enggak ding, maksud saya, bisa jadi iya, bisa jadi tidak.
Plin plan nih orang,  mungkin begitu pendapat pembaca. Tapi sabar, tunggu dulu kelanjutannya.
Kalau kita ingat pelajaran agama jaman dulu, kimat itu ada 2 jenis, yakni kiamat kecil (kiamat sughro) alias kematian, dan kiamat besar (kiamat kubro) alias hancurnya alam semesta.
Nah, bisa saja besok terjadi kiamat sughro, bagi sebagian dari kita. Bukankah kematian akan selalu membayangi setiap jiwa yang hidup? Tapi naudzubillah deh, penulis belum siap menghadapinya, masih banyak kekurangan dan belum cukup bekal untuk menghadapi kematian . . .
Tapi, kalau yang dimaksud adalah kiamat kubro, alias peristiwa hancurnya alam semesta, insya Allah saya jawab dengan yakin: TIDAK.
Sotoy nih orang, mungkin begitu pikir pembaca. Namun, saya bilang begitu karena ada dasar-dasarnya yang menyertai.

Pertama, yang mengatakan bahwa kiamat itu akan terjadi tanggal 21 Desember 2012 tahun Masehi, sebenarnya bukan suku Maya sendiri, yang memiliki kalender menghebohkan tersebut.  Adalah para ilmuan Barat, yang salah menduga bahwa akhir dari siklus kalender suku maya tersebut merupakan akhir dunia. Sementara Suku Maya sendiri, mengatakan bahwa akhir dari kalender mereka adalah sama dengan 31 Desember di kalender kita. Singkatnya, itu berarti akhir dari sebuah satuan waktu (akhir dari satu baktun atau apa gitu), dan besoknya adalah awal dari suatu satuan waktu yang lain. Alias sama saja seperti tahun baru; buang kalender lama, ganti dengan yang baru. Tidak ada prediksi kiamat samasekali!!!

Kedua, dalam ajaran Islam, kiamat adalah suatu hal yang pasti, namun tak seorangpun mengetahuinya. Bahkan Rasulullah sekalipun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam wujud seorang Arab Badui, beliau ditanya mengenai kapan hari kiamat terjadi. Lantas beliau menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” (HR. Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9, 10). Dalam Al-Qur'an pun dijelaskan bahwa kiamat adalah salah satu rahasia Illahi, dan tak seorangpun mengetahuinya.
"Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (Q.S. Al Ahzab ayat 63)

Nah, meskipun kapan terjadinya kiamat merupakan sebuah misteri, namun bukan berarti tidak ada tanda-tanda yang akan muncul sebagai 'petunjuk' akan tibanya kiamat. Dan berikut ini sebagian dari tanda-tanda kiamat, baik tanda-tanda 'kecil' maupun tanda-tanda yang 'besar':
Para ulama banyak menyebutkan tanda-tanda kiamat kecil dalam kitab-kitab mereka dan jumlahnya cukup banyak. Namun dari semua keterangan yang diperoleh, tak satu pun dalil yang menunjukkan adanya urutan-urutan terjadinya tanda-tanda kiamat kecil
Di antara tanda-tanda tersebut adalah :
  1. Penaklukan baitul maqdis
  2. Terjadinya berbagai macam fitnah.
  3. Menyebarnya perjudian, arak, zina, perampokan dan musik dianggap halal.
  4. Banyaknya kemusyrikan di kalangan umat Islam.
  5. Orang tua banyak yang bersikap seperti anak muda.
  6. Tersebarnya penyakit kikir dan bakhil.
  7. Banyaknya perdagangan dan pasar semakin berdekatan.
  8. Mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenalnya.
  9. Lenyapnya orang-orang salih.
  10. Banyaknya kebohongan dan sumpah palsu.
  11. Banyaknya kematian mendadak.
  12. Wanita-wanita berpakaian tapi telanjang.
  13. Manusia mulai tidak saling mengenal.
  14. Binatang buas dan benda mati dapat berbicara.
  15. Terjadinya hujan asam.
  16. Banyak huru hara dan pembunuhan.
  17. Disia-siakannya amanat.
  18. Munculnya orang-orang yang mengaku sebagai nabi, bahkan jumlahnya mencapai 30 orang.
  19. Banyaknya kaum wanita dan sedikitnya kaum pria, hingga perbandingan mereka mencapai 50 : 1.
  20. Banyaknya perbuatan keji, pemutusan silaturahmi dan buruknya hubungan antar tetangga.
  21. Dihilangkannya ilmu dan kebodohan merajalela.
  22. Terjadinya fitnah Ahlas, fitnah Sarra’ dan Fitnah Duhaima’ sebelum keluarnya Dajjal.
  23. Orang-orang gunung berlomba-lomba dalam membangun gedung.
  24. Sering terjadinya gempa bumi, tanah longsor, perubahan muka dan kerusuhan.
  25. Orang yang hina diberi kedudukan yang terhormat.
  26. Budak wanita melahirkan tuannya.
Adapun tentang tanda-tanda kiamat Kubra (besar), sebagian ulama hanya membaginya dalam 9 tanda : Munculnya Imam Mahdi, Turunnya nabi Isa as., Munculnya Dajjal, Munculnya Ya’juj wa Ma’juj, Gempa bumi / tanah longsor di tiga wilayah, Adanya kabut (dukhan), Terbitnya matahari dari barat, Keluarnya binatang dari perut bumi dan Api yang mengumpulkan manusia. 

Sebagian penulis mencoba untuk melakukan penertiban tanda tanda tersebut berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Dan tertib ini merupakan kesepakatan para ulama atas dasar hadits-hadits tersebut dan logika. Di antaranya apa yang dilakukan oleh Abdul Haq dalam kitabnya yang berjudul : “Hal Thaliban wal Qaeda Ashhabur Rayatis Suud ?”
  1. Tentara Arab (Sufyani) dengan tindak kerusakannya di muka bumi (Syam, Irak dan utara Jazirah Arab), dan di tengah-tengah peristiwa itu muncullah para pembawa bendera hitam dari Khurasan untuk mendukung Al-Mahdi. Yang tahu tentang kabar keluarnya Al-Mahdi ini adalah Sufyani, lalu ia mengirim pasukan untuk memeranginya yang kemu­dian dibenamkan ke dalam bumi.
  2. Munculnya Al-Mahdi dan kembalinya khilafah islamiyah sesuai dengan manhaj Nabi setelah para pemegang bendera hitam itu. memangku kekuasaan khilafah.
  3. Penaklukan Konstantinopel dan Roma (Roma ibukota Italia, dan lebih tepatnya lagi adalah Vatikan).
  4. Keluarnya Dajjal.
  5. Turunnya ‘Isa dari langit dan kemudian membunuh Dajjal.
  6. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.
  7. ‘Isa Al-Masih menjadi penguasa di bumi beberapa tahun (dalam sebuah hadits disebutkan tujuh tahun, dan dalam hadits lainnya disebutkan empat puluh tahun).
*tulisan dalam warna oranye merupakan kutipan dari artikel ini, dan kalo nggak salah, begitulah yang ditulis dalam buku "Huru-hara akhir zaman" karangan Kelompok Tela'ah Kitab Ar-Risalah.

Ketiga, kejadian ramal-ramalan kiamat sudah berkali-kali terjadi, da sampai saat ini tak satupun yang tepat. Ingat dengan 9 September tahun 1999? Kala itu penulis masih kelas 4 SD, dan oran-orang di jaman itu banyak yang galau juga, khawatir kiamat aka terjadi pada tanggal 'triple nine' tersebut.  Bahkan sebelum itu, ada beberapa 'peramal' lain, yang menggunakan berbagai metode 'unik' yang tidak ada dalam syariat Islam (lihat di sini untuk beberapa contohnya). Jadi, kalau ada yang berani memprediksikan kapan terjadinya kiamat tanpa mengacu pada sumber-sumber yang sahih, maka nggak usah digubris deh ya :)

TAPI . . . .  meski berbagai ramalan 'ngawur tentang kiamat bisa dibilang tidak valid, sebagai muslim, kita tetap wajib mengimani adanya hari akhir, dan tidak boleh lalai terhadap hari kiamat!!!
Nah, karena sudah ada tanda-tanda kiamat yang diuraikan dengan jelas dalam berbagai hadits (secara garis besar, tidak ada perbedaan mencolok, namun tetap kita perlu untuk menyeleksi kesahihan hadits-hadits tersebut/tanya pada ahlinya), maka kita, Umaat Islam, tak perlulah memperdulikan berbagai prediksi kiamat yang ngawur itu. 
Yang jelas, kita harus tetap mempersiapkan diri kita untuk menghadapi dua jenis kiamat tadi. Kematian, dan akhir dari alam semesta ini. Yuuk, siap-siap :)

Beberapa referensi:

- aksi konyol para "doomsday prepper":
  • http://www.bersamadakwah.com/2012/12/inilah-4-cara-orang-kafir-hadapi-kiamat.html
  • http://www.bersamadakwah.com/2012/12/termakan-ramalan-warga-rusia-borong.html
 - tentang kalender suku maya:
  • http://www.apakabardunia.com/2012/01/2012-kiamat-dibatalkan.html 
  • http://www.apakabardunia.com/2012/12/ini-cara-membaca-kalender-kiamat-maya.html
 - tentang kiamat dan tanda-tandanya menurut Islam:
  • http://organisasi.org/pengertian-hari-kiamat-tanda-ciri-dan-macam-jenis-kiamat-hari-akhir
  • http://buletin.muslim.or.id/aqidah/prediksi-kiamat-2012-benarkah
  • http://granadamediatama.wordpress.com/2009/05/19/petaka-akhir-zaman/
  • http://granadamediatama.files.wordpress.com/2012/12/petaka-akhir-zaman.jpg
  • http://www.bersamadakwah.com/2012/12/tanda-tanda-kiamat.html
  • http://www.bersamadakwah.com/2012/12/hukum-mempercayai-kiamat-21-desember.html

Selasa, 18 Desember 2012

Biar Semangat Ibadahnya :)

Lumrah bagi manusia untuk gampang merasa bosan. Bosan sama suasana kantor, sama keadaan rumah, bosan sama baju yang biasanya dipakai, bosen berlibur ke Bali, bosen makan malam di restoran itu terus, dan sebagainya. Sama hal-hal yang nyenengin aja gampang bosen, apalagi kalau ngomongin ibadah, pasti lebih sering bosennya, ya nggak?
Padahal, amalan yang disukai oleh Allah adalah yang istiqomah, meskipun sedikit-sedikit (apalagi banyak). 
Dalam hadits yang di riwayatkan oleh Syaikhani dari ‘Aisyah ra, Rasulullah telah bersabda: 
"Amal – amal yang paling disukai oleh Allah SWT adalah yang dawam (istiqomah) walaupun sedikit". (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah, berikut ini, penulis ada sedikit tips yang didapat dari majlis Selasa siang di kantor, agar kita tetep semangat dalam beribadah. Ini dia tipsnya:

1. berharap kehidupan yang berkah 

Ya, karena semakin kita menaati perintah Allah dan melakukan hal-hal yang membuat Allah suka ketika kita melakukannya, maka Allah akan memberikan ramhat-Nya kepada kita. "Lakukanlah apa yang disukai Allah sekalipun hal itu tidak disukaimu, tinggalkanlah apa yang dibenci Allah sekalipun engkau menyukainya, niscaya engkau akan selamat di dunia dan akhirat.Lihatlah apa yang membawamu pada kebaikan lalu pertahankanlah sekalipun itu dinilai tidak baik oleh manusia.Lihatlah apa yang membawa dirimu pada kerusakan lalu tinggalkanlah sekalipun dipandang baik oleh kebanyakan manusia." (sebuah nasihat dari Salamah bin Dinar, seorang salafush shalih dan termasuk perawi hadis terpercaya)

" Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Q.S. Al-Imron ayat 200)

2. berharap pahala Allah 

Kalau kita berbuat baik dengan menaruh harapan kepada manusia, maka kita akan sering kecewa karena manusia nggak akan selamanya bersikap seperti yang kita harapkan.  Misalnya, berinfaq dengan harapan ada yang ngeliat trus ntar kita dibilang dermawan, eh tau-tau beneran nggak ada yang ngeliat dan memuji. Nah, akhirnya jadi males berinfaq lagi deh . . . Rugi kan, kalau ibadah dan amalan kita hanya untuk menaruh harapan pada manusia (berharap dipuji, disukai, dsb)?
Hanya kepada Allah lah kita mengharapkan balasan atas setiap perbuatan kita, ibadah dan amalan-amalan lainnya. Kalau bukan kepada Allah, siapa lagi?
" . . . orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya. (Q.S. Al-Insyiqoq ayat 25)

3. berharap mampu mewariskan kebaikan tersebut kepada generasi berikutnya

Alkisah, suatu ketika ada seorang kakek yang sedang menanam benih di tanah. Seorang pemuda yang melihat hal itu bertanya kepada sang kakek, benih apakah gerangan yang ditanamnya. Sang kakek menjawab bahwa itu adalah benih kurma. Si pemuda kemudian mengatakan bahwa sang kakek tak akan sempat menikmati hasil dari kurma yang ditanamnya tersebut, mengingat usia sang kakek yang sudah senja, dan lamanya waktu yang dibutuhkan oleh sebatang pohon kurma untuk tumbuh hingga berbuah. Namun sang kakek dengan bijak menjawab, bahwa ia tidak menanam kurma itu untuk dirinya sendiri, melainkan untuk generasi berikutnya, untuk anak atau cucunya nanti.

Seperti itulah kiasan mengenai suatu kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Bukan untuk mendapat pujian, namun untuk dijadikan contoh baik bagi siapapun yang melihatnya, syukur-syukur ikut mengamalkannya. Ketika seseorang yag memiliki ilmu tentang suatu ibadah/amal sholeh, maka wajib baginya untuk mengajarkannya. Tentu, tidak saja mengajarkan hal tersebut secara teori, namun juga dalam prakteknya sehari-hari. Bisa dibilang, ini adalah salah satu pengajaran yang paling baik. Bukankah seorang anak akan lebih rajin sholat jika dia melihat orangtuanya sholat meski tanpa menyuruhnya dengan kata-kata, dibandingkan dengan orangtua yang sering menyuruh anaknya sholat namun sang orang tua sendiri malah tidak melaksanakan sholat?
"Barangsiapa mengajak pada petunjuk (amal saleh), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali; dan barangsiapa mengajak pada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali." (HR Muslim)

 ====================================================
Demikian tadi yang dapat penulis sampaikan, semoga tips in ibermanfaat bagi penulis dan juga pembaca, syukur-syukur kalau dapat kita amalkan secara istiqomah dan kita ajarkan, Aamiin . . .
 "Beribadahlah menurut kemampuanmu. Demi Allah. Allah tidak akan bosan memberi pahala sampai kamu sendiri yang bosan beribadah." (HR. Bukhari)

 sumber tambahan:
http://www.bersamadakwah.com/2012/10/hadits-43-amal-yang-paling-dicintai.html
http://www.bersamadakwah.com/2011/03/hadits-20-beramal-sesuai-sunnah-tidak.html
http://akal.faktualita.com/2008/07/penilaian-allah-dan-manusia.html (artikel tertua yang saya temukan ttg hal ini, banyak hasil serupa, persis, kurang tahu sumber aslinya yang mana)
http://tawbat.com/hadits-hadits-tentang-keutamaan-mengajarkan-kebaikan/

Rabu, 12 Desember 2012

Indonesia Itu Luas, Bung!


Setelah sekitar 10 bulan menanti, setelah sekitar 10 bulan menyandang status CCPNS, setelah lebih dari satu tahun sejak kelulusan, akhirnya kabar mengenai penempatan sudah makin mendekati kenyataan. Meski sekarang baru sebatas desas-desus berhembus yang belum diumumkan secara resmi, kabar itu bisa dibilang sudah pasti terjadi, tinggal tunggu tanggal rilisnya. Pasti ada rasa penasaran, "di manakah nantinya saya ditempatkan, di mana teman-teman saya". Mungkin juga ada sedikit rasa takut, setelah 4 tahun berada di lingkungan ini dan sudah merasakan zona nyaman, tiba-tiba harus keluar dari zona tersebut. Nggak tanggung-tanggung, peluang tempat tujuan ketika keluar dari zona nyaman itu adalah seluruh Indonesia, yang luas daratannya sekitar 1.811.569  km2, yang terletak antara 950 Bujur Timur dan 1410 Bujur Timur, serta 60 Lintang Utara dan 110 Lintang Selatan, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, serta dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote dan membentang sepanjang. . .
Oke, cukup, kita nggak sedang belajar geografi.

Teringat kalimat dari salah seorang dosen mengenai penempatan. "Kalian harusnya BANGGA kalau ditempatkan di perbatasan negara, sebagai ujung tombak pemerintah dalam mengawasi arus barang yang keluar-masuk wilayah NKRI . . ." bla bla bla dan seterusnya dan sebagainya. Intinya, ntar kalau penempatan di mana saja, jangan minder atau merasa dikucilkan atau merasa 'dibuang' karena dapat penempatan di daerah pelosok, jauh dari pusat. Justru harusnya bangga, bisa mendapat kesempatan menjelajah bagian-bagian lain dari Indonesia, suatu kesempatan langka yang nggak setiap orang bisa dapatkan.

Tentu, jika memang rezekinya mendapat penempatan di wilayah 'garis depan', memang ada beberapa kesulitan yang akan dialami. Misalnya transportasi kalau mau pulang kampung mahal, harga barang mahal, jauh dari akses kemana-mana seperti di kota besar, dan sebagainya. Apalagi setelah sekitar 10 bulan magang di ibukota republik yang banyak tempat belanja, lokasi wisata dan hiburan, akses kesehatan dan sebagainya. Tapi toh apa daya, sudah terlanjur teken kontrak dengan materai dan tanda tangan untuk "bersedia ditempatkan di mana saja di seluruh wilayah Indonesia", ya kan? Hayoo, ada yang nyesel gak nih?

Indonesia, mencakup sekitar 17.ooo pulau, dari Sabang sampai Merauke, 
dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote
Jadi, dimanapun dapat lokasi penempatan nantinya, itu harus tetap disyukuri. Bukankah di mana saja di bumi ini merupakan bumi Allah, yang mana telah dijaminkan rejeki untuk tiap makhluk-Nya?
"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (Q.S. Al-Mulk ayat 15)
" . . . Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. . ." (Q.S. At-Thalaq ayat 2-3)

Mari kita jalani saja penempatan ini, di manapun nanti kita ditempatkan. Lakukan saja pekerjaan kita sebaik-baiknya, jauhi korupsi, raih prestasi, pertahankan eksistensi. Lakukan yang terbaik demi agamamu, negerimu, instansimu, teman-temanmu, keluargamu, dan dirimu sendiri.

So, siap menjelajahi luasnya Indonesia, Kawan?

Jumat, 07 Desember 2012

Jangan Jadi (Kayak) Keledai

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim." 
*Q.S. Al-Jum'ah (surat ke 11) ayat 5



Itulah perumpamaan yang diberikan oleh Allah kepada bani Israil, umat yang telah dianugerahi banyak kelebihan atas umat lain di jamannya, yang telah berkali-kali diselamatkan oleh Allah dari penguasa zalim yang menindas mereka, yang telah diturunkan kepada umat mereka banyak Nabi untuk mengajarkan ketauhidan namun justru mereka ingkari ajaran Nabi-nabi mereka tersebut. Bahkan mereka bunuhi Nabi yang diutus kepada mereka. Seolah pengingkaran dan pembunuhan terhadap Nabi belum cukup, mereka cemari ajaran tauhid tersebut dengan 'agama' dan 'kitab suci' buatan rabbi-rabbi mereka (yang diklaim lebih 'lurus' daripada ajaran para Nabi. Dan hingga kini, mereka adalah umat yang senantiasa membuat kerusakan di muka bumi, serta paling keras permusuhannya terhadap kaum muslimin.

Maka Allah memberikan perumpamaan yang sangat buruk bagi mereka dalam Surat Al-Jum'ah tadi, di samping jaminan neraka bagi mereka. Sebuah perumpamaan buruk, yang akan terus dikenang hingga akhir jaman kelak, hingga Al-Qur'an diangkat dari muka bumi.

Maka kita, kaum muslimin, akankah berperilaku seperti layaknya mereka, bagai keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal? Adakah manfaatnya bagi si keledai, kitab-kitab tersebut? Tentu tidak, karena keledai tidak diberi kelengkapan pikiran oleh Allah, sehingga tak ada gunanya kitab-kitab tebal yang berisi ajaran-ajaran agama tersebut. Sementara kita, manusia, diberi kelengkapan berupa akal pikiran oleh Allah SWT, serta diberi tuntunan agama yang begitu lengkap dan menyeluruh, dan ditambah lagi, nikmat iman yang masih kita rasakan hingga kini. Tentu tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempelajari dan mengamalkan ajaran tersebut bukan?

Maka pantaskah kalau kita bersikap layaknya keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal?

Jumat, 30 November 2012

Klasifikasi Manusia

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW (semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau) bersabda:
عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289). (sumber di sini)

Sehubungan dengan hal tersebut (manfaatnya bagi manusia), maka manusia bisa dikelompokkan menjadi 5 tingkatan, yakni sebagai berikut:
  1. manusia wajib : adalah pribadi yang kehadirannya dibutuhkan oleh orang lain. Ketika ada dia, kerjaan beres, semua ceria, bawa banyak makanan, temen-temen dibantuin, pokoknya nyenengin. Ketika dia nggak ada, maka kondisi kaca, orang-orang pada galau, nggak ada loe nggak rame, pada kelaperan karena nggak ada yang bawain makanan . . .
  2. manusia sunnah : adalah pribadi yang kehadirannya membuat segalanya lebih baik, meskipun kalau nggak ada dia pun, temen-temennya juga nggak masalah sih. Dalam pergaulannya dengan teman-temannya, dia ini ibarat NOS pada mobil; kalau ada dia, mobil bisa melaju lebih kenceng, kalaupun nggak ada juga, mobilnya bisa tetep melaju sebenarnya. Tapi kalau ada dia lebih baik lagi jadinya;
  3. manusia mubah : adalah orang yang kehadirannya nggak ngaruh ke komunitasnya. Ada nggak pa pa, nggak ada pun nggak pa pa. Dia datang nggak ada yang terganggu, kalau nggak ada juga nggak ada yang kangen sama dia;
  4. manusia makruh : adalah tipikal orang yang membuat temannya merasa kalau ada dia, nggak pa pa, tapi kalau nggak ada dia, akan lebih baik (misalnya ada yang mau nraktir temen se-geng dengan uang 100ribu untuk 5 orang, semuanya doyan makan. Eh ternyata ada satu orang, sebut saja si fulan, yang nggak hadir, naah, dengan ketidakhadirannya itu orang-orang jadi lebih seneng soalnya bujet makan sebesar 100ribu nggak jadi dibagi 5, tapi dibagi 4 saja, jadi lebih untung)
  5. manusia haram : adalah manusia yang kira-kira bikin temennya (setidaknya) membatin "lu tuh, ngeselin, resek, habis-habisin makanan, nggak guna, nggangguin orang lain mulu, idup lagi. . . ". Kehadirannya membuat orang-orang merasa terganggu, sementara kalau dia nggak ada, maka teman-temannya akan lebih bahagia. Naudzubillah deh kalo jadi kayak gitu . . .
Nah, nggak  usah lirik kanan kiri deh, nggak usah mengklasifikasikan teman sekelas/sekantor/sekosan ke dalam 5 kategori tadi deh, kita pake buat cerminan diri aja. Kalo kita sendiri, sekarang masuk kategori mana nih? Wajib kah, atau sunnah, mubah, atau yang lain . . .

*5 tingkatan manusia ini, pernah saya dengan dari seorang penceramah (entah khotib Jumat atau ceramah di even lain). ditulis ulang dengan modifikasi seperlunya tanpa mengubah esensinya

Senin, 26 November 2012

Saya Anggap Itu Doa

Setelah sekian lama menghilang dari dunia pergundulan, akhirnya saya kembali menggunduli rambut kepala ini. Risih, udah sekitar sebulan nggak potong rambut, terakhir kali potong rambut sebelum 30 Oktober kemarin, pas mau ikutan upacara peringatan Hari Oeang (itupun nggak saya gundulin, cuma cepak ala tentara). Nah, ketika saya kembali ke style gundul ini, seperti biasa, reaksi orang kantor pun bermacam-macam. Ada yang bilang "lu stres ya", "gila, keren amat rambutnya", habis ketangkep hansip, sensi, macem-macem deh pokoknya. Untung saya udah kebal dengan komentar semacam itu.
 
Cuma, ada beberapa orang yang reaksinya agak berbeda. "Habis dari Haji ya?", begitu kata beberapa orang. Kebetulan ini musimnya orang habis hajian pada pulang kampung. Dan orang habis ibadah haji, biasanya kan gundul, habis tahallul. Saya mah cuma senyum-senyum aja dan mengamini. Siapa sih yang nggak kepingin naik haji? Mungkin tidak tahun ini, tidak, ini bukan gundul karena habis tahallul. Mungkin kali ini cuma gundul biasa, tapi siapa tahu, tahun depan, atau tahun depannya lagi, saya benar-benar menggunduli kepala karena habis menunaikan ibadah haji. Insya Allah :)
 
 prosesi tahallul.

Selasa, 20 November 2012

Palestina Diserang, Kita Bisa Apa?

Untuk kesekian kalinya, zionis israel menggempur Palestina. Untuk kesekian kalinya, darah warga sipil tertumpah di tanah Palestina. Mereka itu saudara-saudara kita, jangan campakkan mereka.

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menganiayanya, menelantarkannya, mendustakannya dan menghinanya..." (HR Muslim)

"Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim, maka ia tidaklah termasuk golongan mereka." [HR. ath-Thabrani dari Abu Dzar al-Ghifari].

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mereka, selain hanya menonton beritanya di TV dan internet, lalu menyerapahi kebiadaban israel?? Apakah harus kita datang ke sana dan ikut berperang, sementara peralatan saja kita belum mencukupi . . . Lalu apa???
Mengutip kata-kata dari Ustadz Feri Nur, intinya ada 3 hal yang dapat kita lakukan, yakni:
  • pertama dan yang paling mudah, kita harus mendoakan mereka di setiap sholat kita. "Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, "Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa." (HR. Muslim no. 2733, Abu Daud no. 1534, Ibnu Majah no. 2895 dan Ahmad no. 21708)
  • kedua, lakukan penggalangan dana. ada banyak organisasi yang peduli pada palestina, dan kita dapat memberikan infaq melalui organisasi tersebut. Di antaranya melalui KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina; organisasi ini ikut mengirim relawan dalam misi Mavi Marmara beberapa waktu silam), MER-C ( Medical Emergency Rescue Committee; memiliki program membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina) atau KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina; dengan program 'one man one dollar to save Palestine')
  • ketiga, jika kita memiliki lebih dari sekedar dana, maka bisa ikut turun dalam mobilisasi aksi relawan ke Gaza, seperti aksi Mavi Marmara atau gerakan Viva Palestina. Insya Allah, saya optimis umat muslim di Indonesia akan segera mencanangkan aksi untuk turun ke sana, mungkin melalui organisasi-organisasi yang saya sebutkan di atas tadi.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Apapun itu, mari melakukan yang terbaik untuk membantu saudara-saudara muslim kita di Palestina.

Beberapa rekening untuk menyumbangkan bantuan ke Palestina :
  • Infaq Al- Aqsha Palestina via Bank Muammalat Indonesia No Rek : 311.01856.22 (an. Nurdin QQ KISPA)
  • Infaq untuk operasional relawan KISPA untuk Palestina via Bank Syariah Mandiri (BSM) No Rek : 116 70246 96 (a.n Muhendri)
  • One Man One Dollar; Rek. BCA  No.7600 325 099 cab. Kelapa Gading, atau Rek. Bank Syariah Mandiri (BSM) No. 18000 22210 cab. Kelapa Gading, a.n. Komnas untuk Rakyat Palestina
  • RS. Indonesia di Gaza, Bank Syariah Mandiri (BSM), cabang Kramat Acc. No. 700.1352.061, atau Bank Central Asia (BCA), cabang Kwitang Acc. No. 686.0153678, a.n. Medical Emergency Rescue Committee
Semoga Allah merahmati Palestina, umatnya yang berjuang di sana, serta kita, sesama muslim yang membantu perjuangan mereka di Palestina. Allahu akbar,  save Palestina!!!

Selasa, 13 November 2012

Masih tentang Iblis . . .

Masih terkait dengan postingan sebelumnya, kali ini saya masih membahas tentang Iblis.

Sebagaimana kata saya orang bijak, seburuk-buruknya manusia pasti masih ada sisi baiknya, begitupun iblis (meskipun ia bukan manusia). Ya, benar, sebenarnya iblis pun masih punya sifat yang sebenarnya positif, hanya saja penerapannya yang salah sehingga membuahkan hasil vonis hukuman seumur akhirat di neraka jahanam bagi iblis. Padahal kalau sifat-sifat tersebut diterapkan sesuai dengan ajaran Agama, maka tentu hasilnya akan baik sekali. 

Yuk kita bahas satu-persatu :
  • Selalu menepati janji. Ketika iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam As, maka seketika itu juga Allah melaknat iblis, dan memberikan vonis neraka baginya. Dan iblis pun makin geram dengan Nabi Adam yang dianggapnya lebih hina daripada dirinya, kemudian berjanji akan menyesatkan setiap dari keturunan bani Adam. Dan sejauh ini, berapa ribu tahun setelah kejadian tersebut, kita dapat rasakan bahwa iblis masih konsisten menepati janjinya dalammenggoda umat manusia ke dalam kesesatan. Memang, menepati janji itu baik, hanya saja, janji macam apakah yang ditetapkan sebelumnya? Tentu, sebagai umat muslim, kita mana boleh mengucapkan janji-janji yang melanggar syariat, apalagi mengamalkannya.Yuk, kita berjanji untuk selalu memperbaiki kualitas iman dan taqwa kita . . .
  • Konsisten. Dari jaman nabi Adam sampai ke jaman detik-detik menjelang kiamat, iblis akan senantiasa konsisten menggoda umat manusia untuk melenceng dari jalan-Nya. Kita pun harus konsisten juga, namun beda dengan iblis, kita harus konsisten alias istiqomah dalam mengajak orang-orang ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT (dan juga menjalankan apa-apa yang kita ajak orang lain untuk melakukan, jangan ngajak doang tapi nggak ngelaksanain). 
  • Pantang menyerah dan kreatif dalam menggapai tujuannya. Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, iblis selalu punya berbagai cara untuk menggapai tujuannya. Satu cara gagal, dia pakai cara lain. Masih gagal lagi? Tenang, masih seribu cara yang lain. Tangguh kan? Kita pun harus seperti itu dalam menggapai tujuan kita. Hanya saja, kalau tujuan iblis untuk menyesatkan umat manusia, tujuan kita tentu untuk menggapai ridho Allah SWT agar mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat.
  • Solid dan kompak. Iblis dan bala tentaranya, senantiasa tolong menolong dalam menggapai tujuannya. Mereka punya teamwork yang kuat, solid, dan memiliki visi yang sama, tanpa terpecah-pecah oleh kepentingan individu. Sementara kita? Sayang sekali, umat kita masih seringkali terpecah-pecah, bahkan oleh hal-hal yang kecil. Misalnya saja, masalah sholat subuh pakai qunut atau tidak, bisa membuat jama'ah ini menghindari masjid itu, jama'ah itu menghindari mushola ini, dan sebagainya. Nah, seharusnya kita, umat Islam, harus memiliki semangat kebersamaan yang kuat juga untuk menggapai tujuan bersama, membentuk kekhalifahan Islam, misalnya. Kalau terpecah-pecah, mana bisa tujuan bersama tercapai? Yang ada, tim besar ini (lebih dari 1 milyar umat Islam di dunia saat ini) menjadi pecahan-pecahan kecil yang punya tujuan dan kemauan sendiri-sendiri. Lalu, kapan tujuan bersama itu bisa tercapai?
Nah, itu tadi sebagian sifat iblis yang sebenarnya baik, namun salah dalam penerapannya. Hayo, bahkan iblis yang terlaknat pun, masih punya sifat baik (namun salah dalam penerapannya). Bagaimana dengan kita, umat manusia yang katanya merupakan makhluk paling mulia? Malu dong sama iblis, kalau kita nggak punya sifat-sifat seperti tadi (menepati janji, konsisten, pantang menyerah dan kreatif, serta kompak demi kepentingan kelompok). jangan mau kalah, kita pun harus kembangkan sifat-sifat mulia tadi, dan jangan lupa, harus diterapkan dalam  kegiatan yang sesuai perintah agama yaaa . . .

Kamis, 08 November 2012

Pria Itu (Mungkin) Jelmaan Malaikat Allah

Ardi galau, berkali-kali ia pindah tempat duduk. Kemudian berdiri lagi, berkeliling di area tunggu terminal, sesekali berjalan di antara bis-bis yang sudah tiba di terminal, melihat kalau-kalau bis yang ditumpanginya sudah tiba di terminal. Sudah pukul 6.30, artinya sudah setengah jam dari jadwal yang ditetapkan dan bis yang akan dinaikinya belum datang juga. Kembali ia duduk di salah satu kursi kosong di terminal.

Pikirannya gamang, masih terngiang di telinganya, suara tangis ayahnya tadi pagi, ketika mengabarinya bahwa neneknya telah tiada. Belum pernah dia mendengar ayahnya menangis seperti itu, dan itulah yang membuat pikirannya seharian ini kalut. Ia ingin segera pulang dan bertemu ayahnya. Hal inilah yang membuatnya memaksakan diri untuk pulang kampung secara mendadak.
Jumat malam artinya akhir pekan, dan harga tiket pesawat melambung bagai disuntik helium, tentu tak mampu ia membeli tiket pesawat yang hari itu, harga paling murah saja tinggal selisih 100 ribuan dari gaji bulanannya. Tiket kereta api pun telah ludes, karena sudah dipesan sejak jauh-jauh hari oleh para calon penumpangnya. Maka pilihan terakhir adalah bus malam, meskipun memiliki risiko mengalami kemacetan yang berakibat molornya waktu perjalanan.

Ardi meraba sakunya. Sisa duit di kantongnya hanya 40 ribuan, sudah habis dipakai untuk membeli tiket bis seharga 230 ribu rupiah, itupun dengan 70 ribu hasil memalak temannya sepulang dari kantor tadi. Sisa uang di ATM nya tak sampai 100 ribu, maka sudah tidak bisa tarik tunai lagi. Beruntung, kebetulan ada temannya yang melintas di dekat mesin ATM. Tanpa basa-basi, Ardi meminta pinjaman uang, dan beruntung temannya tadi masih lebih bagus kondisi finansialnya, dan bersedia meminjaminya uang 70 ribu. Dikurangi 30 ribu untuk membayar kekurangan harga tiket yang dibelinya siang tadi, hanya tersisa sekitar 40 ribu di kantongnya. Ongkos bis dari terminal Surabaya sampai rumahnya di Malang 20 ribu rupiah, dan tanpa memiliki bekal makanan, sisa 20 ribu itulah yang harus digunakannya dengan bijak untuk keperluan di perjalanan nanti.  
Sebenarnya bisa saja dia meminta subsidi transferan pada ayah atau kakaknya, hanya saja dia tak ingin merepotkan keduanya. Ayahnya sedang berkabung, sementara kakaknya sedang ada ujian, sehingga ia bungkam saja mengenai rencana pulang dan kondisi ATMnya yang tengah kritis.

Sesekali ia melihat ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada wajah yang dikenalnya di antara ratusan calon penumpang bus di terminal. Sedikit kecewa, karena ia tak mendapati satupun orang yang dikenalinya. Tentu saja, ini bukan tanggal favorit bagi teman-teman sekantornya untuk pulang kampung, kebanyakan temannya memilih pulang kampung pekan depan, karena ada dua tanggal merah pekan itu. Kali ini dia merasa kesepian di tengah ramainya suasana terminal. Setidaknya sampai ada suara yang menyapanya.

'Pulang kemana Dik?', seorang pria muda dengan jaket kulit warna hitam menyapanya. raut mukanya ramah dan tampak bersahabat.
'Surabaya Mas', sedikit kaget Ardi menjawab, sembari mengingat-ingat wajah yang tampak asing tersebut. 'Sampean ke mana mas?'
'Semarang', jawab pria tersebut, senyumnya seolah seorang yang sudah kenal lama saja. Dan itu membuat Ardi semakin bingung karena ia tak berhasil mengingat siapa orang itu sebenarnya. Akhirnya ia berpindah duduk ke sebelah pria tersebut.
'Maaf mas, aku nggak inget samasekali ke Sampean, siapa ya?', tanyanya jujur, tanpa bermaksud SKSD.
Orang itu tersenyum dan malah balik bertanya, 'Kamu di kosan nomor 30 kan?'
'Kok tahu Mas, berarti sampean temennya Mas Heru juga? Atau malah satu kosan juga?', Ardi makin penasaran.
Si orang misterius mengangguk.
'Maaf Mas, saya beneran nggak tahu sama Mas. Saya Ardi', Ardi mengulurkan tangannya dan langsung disambut orang tersebut. 'Dodo', jawabnya sambil tersenyum. 'Saya emang jarang di kosan, wajar sih kalau kamu nggak tahu siapa saya, tapi saya pernah tahu kamu, temannya si Gatut kan? Aku di kamar nomor 6'.
'Iya Mas, wah, jadi merasa bersalah nih, masak sampai nggak kenal sama temen sekosan', Ardi salah tingkah jadinya. Gimana enggak, masa sama orang satu kos nggak kenal, eh malah dia yang menyapa lebih dulu.
'Magang di mana kamu Dik? Saya di gedung B lantai 4', kata pria itu lagi. Lagi-lagi membuat Ardi terkejut, berarti  dia juga sekantor dengan orang ini, dan dia belum pernah sekalipun melihatnya. 'Saya di lantai 4 gedung utama Mas, dan maaf banget Mas, saya beneran nggak pernah ngelihat Mas di kantor juga', Ardi makin kikuk.
'Hahahaha, wajar lah, saya sering dinas luar, di kantor jarang-jarang, di kosan juga jarang, tapi saya cepet hafal muka orang, makanya saya tahu kamu', jawab pria itu sambil terkekeh.
'Saya malah sebaliknya Mas, susah hafal kalo nggak sering ketemu, hehehe', Ardi terkekeh, sedikit tersindir juga karena kemampuannya menghafal muka orang memang payah, membuatnya seringkali lupa dengan orang-orang yang pernah dijumpainya.
'Ini angkatan kamu sama Gatut, masih magang ya? Kalau pemberkasan sudah kan?', tanya orang itu lagi, kali ini menyangkut topik sensitif bagi Ardi.
'Iya Mas, udah pemberkasan tapi masih magang', jawabnya pendek. Ia tak suka kalau sudah membahas masalah magang ataupun pengangkatan CPNS.
'Berarti gajinya masih yang di bawah UMR itu ya? Hahahaha. Nggak pa pa, semua dulu juga gitu kok. Anggap saja perjuangan sebelum pengangkatan, tirakat dulu', orang itu mencoba membesarkan hati Ardi. Ardi hanya sedikit menyunggingkan senyum, sedikit dan dipaksakan.
'Eh berapa tiket ke Surabaya?' tanya orang itu, mencoba mengalihkan topik. Ia menangkap tanda ketidaksukaan Ardi pada pembicaraan barusan.
'230 Mas. Kalo ke Semarang?', Ardi balik bertanya.
'180 Dik, nggak semahal ke Jatim, jadi lumayan bisa pulang tiap pekan', jawab pria itu santai.
Ardi ber 'oooh'. Baginya,  180 ribu pun masih terasa mahal. Kalau bukan karena ingin segera menemui ayahnya, tentu Ardi tak akan bela-belain pulang mendadak, naik bis lagi, yang harga tiketnya untuk sekali jalan bisa dipakai untuk naik kereta ekonomi 2 kali pualng pergi.

Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa bis jurusan Surabaya sudah tiba dan siap diberangkatkan. Ardi bergegas bangkit. 'Mas, bisa saya udah datang ini, saya duluan ya', pamitnya pada orang itu.
'Ati-ati ya Dik', orang itu menjabat erat tangan Ardi. Ada sesuatu di telapak tangan itu yang ditempelkan pada tangan Ardi. 'Buat ongkos bis', ucap pria tersebut dengan tersenyum.
Ardi melongo, tak sanggup berkata-kata, kaget karena tiba-tiba mendapatkan salam tempel dari seseorang yang baru saja dikenalnya.
'Udah buruan, bisnya keburu berangkat ntar Dik', seruan pria itu menyadarkan Ardi.
'Tapi Mas, saya . . .', Ardi bingung mau berkata apa. matanya bergantian memandang pria tersebut, lalu ke uang yang kini berpindah ke genggaman tangannya, lalu kembali ke pria tersebut. Logikanya masih sedikit sulit mencerna kejadian barusan.
'Udah, bawa aja. Ati-ati ya Dik. Salam buat keluarga di rumah', ujar pria itu sambil menepuk pundak Ardi, 'Bis saya juga udah datang tuh', ucapnya lagi sembari melangkah ke arah bis jurusan Semarang yang baru saja memasuki area terminal.
'Matursuwun Mas', kata Ardi buru-buru menyusul kemudian menjabat tangan pria itu. Pria itu membalas dengan senyuman. Ardi lalu bergegas berlari ke arah bis yang hendak ditumpanginya.
Sesekali ia menoleh ke belakang, mencari pria tadi di antara kerumunan penumpang bis ke arah Semarang lainnya, namun tidak didapatinya pria ramah yang memberinya ongkos pulang kampung tadi.

Ardi bergegas mencari tempat duduknya di bis, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi bis. Perlahan dibukanya genggaman tangannya lalu diambilnya salam tempel dari pria tadi. Dihitungnya, 2 lembar ratusan ribu dan selembar lima puluh ribuan. Berarti dua ratus lima puluh ribu, pas untuk mengganti ongkos bis jakarta-Surabaya ditambah Surabaya-Malang.
'Ya Allah. . .pertolonganmu sungguh datang dari arah yang tidak disangka-sangka', ucapnya lirih. Bibirnya komat-kamit mengucap syukur, matanya khusyuk terpejam. Dalam hati ia menduga, mungkin saja pria tadi adalah jelmaan malaikat Allah yang ditugaskan untuk membantunya. . .
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -