Cari Blog Ini

Kamis, 27 Oktober 2011

Mengutip Khotbah (Beberapa Pekan Lalu)

Sedikit mengutip kata-kata dari sebuah khobah Jumat, pada suatu hari yang menggenapkan usia saya menjadi 21 tahun secara matematis.
"Kita lahir dalam keadaan suci tanpa dosa, maka mengapa kita tidak berusaha untuk mengakhiri hidu kita juga dalam keadaan yang suci?"
kurang lebih seperti itulah, saya lupa persisnya (dan khotbah lengkapnya).
Mission impossible, mungkin itu yang Anda pikirkan ketika mendengar (lebih tepatnya, membaca) kalimat di atas.
Bagaimana tidak, kita hanyalah manusia-manusia biasa yang penuh dosa. Hamba-hamba yan penuh khilaf. Bagaimana kita bisa jadi manusia yang seperti itu sementara kita bukanlah seorang Nabi yang maksum (terjaga dari sifat dosa)?
Ditambah lagi, kita tak tahu kapan ajal akan tiba. Jangankan tahu, ingat saja, sebagian besar dari kita juga enggak. Kebanyakan manusia emang ogah kalo diajak ngomongin kematian, apalagi ngomongin yang setelah kematian nanti.
Oke, saya tahu perasaan Anda. Mana mungkin kita jadi manusia sempurna yang mati dalam keadaan suci . . . mana mungkin . . . jelas gak mungkin, kalau Anda diam saja.
Tentu saja kita nggak tahu kapan akan dijemput malaikat maut. Tapi selama kita ingat bahwa akan ada Sang Penjemput yang akan menarik jiwa kita hingga lepas dari raga, maka kita bisa mengusahakan hal itu (mati khusnul khotimah).
USAHA. Itulah kata kuncinya. Kita memang nggak tahu kapan akan mati (saya udah ngomong gini berapa kali ya), tapi kan kita bisa mempersiapkan diri untuk mati. Maksudnya, mempersiapkan bekal untuk kematian kita.
Memperbanyak amal ibadah dan menjauhi maksiat. Agar kalau sewaktu-waktu kita meninggal, kita sudah punya perbekalan. Agar ketika kita mati nanti, tidak dalam keadaan bermaksiat dan berlumur dosa. Agar nanti ketika mati, kita dalam keadaan berbuat kebajikan dan mengingat Allah.

Jadi ingat kata-kata dalam SMS yang suka dikirimin sama teman-teman dulu. "Ketika kita lahir, kita menangis dan orang-orang tersenyum bahagia. Maka berusahalah agar ketika nanti kita mati, kita tersenyum bahagia dan orang-orang menangis".
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Maaf ya, lama gak posting nih

Selasa, 11 Oktober 2011

Pemberkasan; Berakit-rakit Dahulu, Bermagang-magang Kemudian

Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh 3 tahun pendidikan DIII spesialisasi kepabeanan dan Cukai di STAN, saya dan kawan-kawan dinyatakan lulus (dalam yudisium 30 September silam). Status geje; mahasiswa sudah bukan, pegawai masih belum. Maka diperlukan suatu ritual lagi bagi kami untuk memulai langkah perjuangan menjadi pegawai. Pemberkasan.

Saya sendiri gak tau pasti apa definisi resmi dari pemberkasan ini, yang jelas, kami disuruh mengumpulkan berkas-berkas untuk memenuhi (sebagian) persyaratan sebelum menjadi PNS (atau lebih tepatnya, CCPNS). Ada jeda (libur, katakanlah) selama sekitar sepekan untuk mengurus berkas-berkas yang belum selesai (mengingat surat keterangan sehat-bebas narkoba sudah diurus saat libur setelah ujian kompre-sebelum yudisium).

Apa saja berkas yang dibutuhkan? Anda bisa lihat di sini, saya males jelasinnya satu-satu.

Dan perburuan berkas pun dimulai.

Intinya, selama beberapa hari, saya sempet keteteran ngurusin pemberkasan. Maklum, meski yang diurus sebenarnya cuma beberapa dokumen, masing-masing dokumen punya syarat wajibnya. SKCK misalnya, harus ngurus surat pengantar dari RT, desa, kecamatan, koramil, polsek, baru diurus ke polres. Dan pada masing-masing tahap, perlu beberapa syarat juga (fotocopy KTP, KK, foto, dll). Surat keterangan sehat paru-paru, perlu foto rontgen dulu. Dan lain-lain deh pokoknya. Agak males juga sih inget-ingetnya.

Intinya, pemberkasan ini lumayan menguras tenaga (bolak-balik ke kantor ini itu tempat fotocopy tempat cetak foto - sebagian ditempuh dengan jalan kaki), hati (kadang makan ati juga, karena kagak tau syarat apa yang dibawa, jadi pas di tempat tujuan ternyata kurang syaratnya, jadi ya bolak balik lagi ke fotocopy, ambil dokumen yang ketinggalan, cetak foto) dan duit (bayar sana bayar sini, alhamdulillah sebelumnya sempet dapat pesangon PKL, jadi gak banyak-banyak minta duit ke ortu). Tapi tak apa, karena selalu ada hikmah di balik semua itu. Ya kan ya kan?

Yang pertama, harus belajar sabar. Karena tiap hal butuh proses. Dan kadang, prosesnya gak cepet juga. Apalagi yang namanya birokrasi, meski nggak dipersulit, tetap saja yang diurusin harus berjenjang. Setidaknya, dengan ikut merasakan betapa menyebalkannya birokrasi, ntar kalo udah jadi birokrat, jangan lah sampai ada keinginan untuk mempersulit orang lain.

Kedua, harus belajar tanggap, sigap dan cermat dalam bersiap-siap. Cari informasi apa aja yang dibutuhin. Biar ntar gak malah repot karena harus mondar-mandir untuk ngelengkapin persyaratan yang dibutuhin.

Ketiga, bersyukurlah karena dengan cobaan kecil ini, Anda bisa belajar banyak hal. Bersyukurlah, karena cobaan Anda hanyalah merupakan batu loncatan untuk meraih kesuksesan. Emang lumayan ngerepotin sih ngurusin persyaratan pemberkasan ini, tapi kan juga demi masa depan ntar, demi jadi pegawai ntar. Bersusah-susah dulu, biar bisa senang-senang ntar. Emang sih, ada beberapa adegan yang bikin makan ati, atau apa lah namanya. Tapi ternyata, kalau dibandingin sama yang dialami orang lain, yang kita alami gak ada apa-apanya.

Ketika bercerita tentang pemberkasan ini bersama keluarga, ayah pun mengisahkan kisah perjuangannya dulu saat mengikuti seleksi PNS. Jadi malu, yang saya alami nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami ayah dulu. Satu lagi, ketika sedang mengurus salah satu dokumen di Kepanjen (harus di sana, urusannya dengan instansi di level kabupaten), teman saya nggak bawa salah satu persyaratannya. Akibatnya, ya besok harus balik lagi, membawa persyaratan ini. Padahal jaraknya dari rumah bisa sampai satu jam perjalanan dengan motor. Saya jadi malu, kemarin bolak-balik mondar-mandir masih di wilayah sekecamatan (itu pun gak sampe separoh wilayah kecamatan yang saya mondar-mandirin) udah ngeluh.

Saya sempat sedikit merenung sambil jalan. Ternyata, seberat apapun cobaan yang kamu alami, masih banyak orang lain yuang mengalami cobaan yang lebih berat dari Kamu. Kalau mereka bisa melewati cobaan-cobaan mereka, bagaimana dengan Kamu?
Bukankah Allah hanya akan memberi cobaan pada kita sesuai kemampuan kita? Bukankah cobaan diberikan oleh Allah untuk mengetahui siapa saja di antara hamba-hambaNya yang beriman?

" ... Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? ... " (QS Al Furqon ayat 20)

" .... Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). ... " ( QS Al Anbiya ayat 35)

Jadi tenanglah, tersenyumlah. Jalani hidupmu, hadapi cobaanmu, yakinlah Allah selalu bersamamu.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS Alam Nasyrah ayat 5-6)