Cari Blog Ini

Jumat, 30 September 2011

3 Ciri (Yang Seharusnya Ada Pada) Orang Muslim

Dapat sedikit ilmu dari khotbah Jumat siang tadi. tentang 3 ciri kaum muslim, yang seharusnya ada pada diri kita, namun seringkali kita lupakan, sehingga membuat citra muslimin menjadi jatuh. Jangankan untuk membuat lawan-lawan Islam menjadi berbalik mengagumi dan memeluk Islam, bahkan orang Islam sendiri pun seringkali tampak ogah dengan segala sesuatu yang berbau Islam. Berikut poin-poin yang saya dapat dari khotbah Jumat tadi :

- bersegera dalam menaati Alah dan Rasulnya

- bersegera meninggalkan kemaksiatan

- membalas dengan kebaikan bahkan terhadap orang yang memperlakukannya dengan buruk

Ciri-ciri tadi, jika benar-benar diterapkan pada muslimin, maka insyaAllah, akan membuat umat muslim sendiri bangga dengan identitas keislamannya. Dan bahkan, orang-orang yang saat ini memusuhi Islam pun bisa jadi jatuh hati dan berhijrah ke Islam. InsyaAllah

Dan sebagai muslim, apa lagi tugas kita kalau bukan menggu orang lain, tanpa menunggu hari lain, mari kita lakukan.

*maaf, belum sempet posting panjang, hanya ingat poin-poin intinya. Di lain kesempatan, akan saya jabarkan detailnya

Jumat, 16 September 2011

Sometime, Life Seems So Harsh

Suatu sore yang cerah, ketika saya sedang menikmati birunya langit sore Jakarta, saya menemukan (lebih tepatnya, baru menyadari) suatu pemandangan yang unik di sebuah rumah di dekat kos-kosan saya. Tepatnya pada salah satu dinding rumah tersebut, yang berada persis di bawah genteng. Ada sesuatu yang tidak lazim di sana.

Bisa Anda lihat?

Apakah kurang jelas? Ya iyalah, gambar pecah hasil zooming begitu, pasti kamera murahan, mungkin begitu pikir Anda. Maaf, memang kamera HP saya nggak bagus-bagus amat sih. . .

Oke, saya jelasin. Itu adalah gambar sebatang beringin yang sebatang kara (dalam arti sesungguhnya) yang tumbuh di dinding tersebut. Entah sejak kapan dia ada di sana (saya aja baru nyadar...padahal sudah hampir 2 tahun kos di sini). Entah bagaimana dia bisa ada di sana. yang jelas beringin kecil itu tumbuh, hidup, daun-daunnya pun masih hijau. Mungkin, biji beringin itu tercampur dalam adukan semen yang akhirnya menjadi tembok rumah ini, atau mungkin biji tersebut terbawa oleh burung gereja (atau burung lain) yang biasa beterbangan di sekitar rumah, terjatuh di celah di dinding, lalu tumbuh di sana.

Oke, saya nggak lagi ngebahas berbagai teori kemungkinan bagaimana dia tumbuh di sana, dan saya juga gak lagi ngebayangin gimana nasib rumah tersebut kalau pohon itu tumbuh sampai gede banget. Saya cuma sedikit merenung. . .

Betapa sulitnya hidup beringin kecil tersebut. . .

Tinggal di dinding yang tingginya mungkin sekitar 6 meter dari permukaan, akar-akar kecilnya tidak mungkin menjangkau tanah untuk mendapatkan air. Mungkin dia hanya mendapatkan air dari hujan dan uap air yang mengembun pada permukaan genteng di pagi hari, lalu menetes ke celah-celah retakan di dinding. Zat hara? Entah bagaimana dia mendapatkan zat-zat yang dibutuhkannya (apa mungkin dengan melapukkan semen di dinding???). Terpapar panasnya matahari Jakarta dalam kondisi kekurangan air, dia masih bisa tetap tumbuh dan hidup.

Tentu saja, Allah lah yang mengatur hidup dan mati seluruh makhluk yang ada di jagat raya ini, yang telah mencukupkan rizki bagi beringin kecil tersebut. Dan menumbuhkannya dalam kondisi sedemikian, yang sanggup membuat mata yang menatapnya berpikir, merengung, dan menyadari.

Bahwa sesulit apapun kondisi kita, saat kita (tampaknya) begitu jauh dengan apa yang kita butuhkan, saat kita (tampaknya) sedang sendirian tanpa seorangpun yang membantu kita, saat kita (tampaknya) berada pada kondisi yang sangat terjepit (kalau ini secara harfiah, memang dia terjepit di dinding), sesungguhnya Allah masih bersama kita. Allah lah yang mencukupkan rizki kita, yang senantiasa menemani kita, yang senantiasa menolong kita, bagaimanapun kondisi kita.

Dan kalau sudah begitu, kenapa (sebagian dari) kita masih enggan untuk mendekatkan diri pada-Nya???

Sabtu, 10 September 2011

Evaluasi Pasca-Ramadhan

Assalamu'alaikum

Ehm, sebelumnya saya minta maaf soalnya sempet lamaaa banget gak nulis lagi. Terhitung terakhir kali nulis, tanggal 11 Agusus, dan baru nulis lagi tanggal 10 September (itu pun baru posting hari ini). Maklum, tanggal merah, lebaran :p

Sebenarnya, malu juga sih, kenapa ketika Ramadhan usai, kok malah produktivitasnya (terutama dalam hal menulis) menurun drastis. Entah karena di rumah jarang online, atau karena sebab-sebab lain, apapun alasannya, ini adalah hal yang nggak bisa diterima. Dan nggak cuma berlaku untuk hal ini, tapi juga hal-hal lain.

Pas Ramadhan, masjid penuh dalam 5 kali waktu sholat wajib. Setelah Ramadhan? Jama'ah kembali menyusut ke jumlah semula. Seolah-olah, saat Ramadhan tuh banyak 'pendatang baru' di Masjid, tapi khusus Ramadhan. Setelah Ramadhan, banyak yang ogah berjama'ah di masjid. Jangankan setelah Ramadhan, di pekan terakhir Ramadhan yang seharusnya ibadah lebih ditingkatkan pun biasanya masjid sudah mulai ditinggalkan jama'ahnya (ada yang mudik, ada juga yang malas; sama-sama 'm').

Pas Ramadhan, tilawahnya ngebut, gak kalah sama Casey Stoner dah. Sehari bisa sampai 1 juz. Sebulan udah khatam. Tapi setelah Ramadhan, memble. Ngebuka Al-Qur'an aja, belum tentu sehari sekali.

Pas Ramadhan, pada berlomba-lomba bersedekah ke panti, ke fakir miskin. Setelah Ramadhan, bakhilnya pulang kampung lagi. Ada peminta-minta, dikasih telapak tangan. Ada masjid yang perlu sumbangan, pasti mikirnya 'ah, udah banyak yang nyumbang kok'.

Pas Ramadhan, rajin ikut pengajian, jama'ah ini jama'ah itu. Setelah Ramadhan, balik lagi kongkow-kongkow di mall, cafe, pinggir jalan (gak elit banget sih)

Suatu ironi (kebanyakan) masyarakat kita, yang menganggap Ramadhan sebagai bulan khusus untuk ibadah. Jadi ibadahnya pas Ramadhan doang. Malu dng kalo gak ikutan puasa. Sungkan kalo nggak ikut tarawih (tapi sholat wajib 5 waktu masih bolong-bolong?). Gengsi kalo gak ikutan nyumbang acara keagamaan. Selain Ramadhan, ya ibadahnya kalo inget doang sih. jangankan ibadah sunnah, ibadah wajib pun kadangkala dikalahkan oleh aktivitas sehari-hari.

Sungguh disayangkan, ketika kita salah memaknai Ramadhan. Sebab Ramadhan usai bukan berarti tadarus, tahajud, puasa dan sedekah usai. Karena sejatinya, Ramadhan adalah sebuah 'training center' bagi kita, bagaimana kita me'maintance' ibadah kita untuk 11 bulan ke depan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa ingat untuk terus meningkatkan kualitas diri kita, terutama dalam hal ibadah dan ilmu. Agar kita nantinya termasuk orang-orang yang memanen buah dari segala usaha kita, dan bukannya termasuk orang-orang yang merugi bagaikan petani yang ladangnya diserbu wereng karena menyia-nyiakan hidupnya.

*sebuah teguran untuk diri saya sendiri dan para pembaca yang merasa tertegur