Cari Blog Ini

Sabtu, 30 April 2011

Lagi-lagi Tentang Kegundulan Saya

Satu lagi manfaat gundul yang tidak banyak orang menyadari. Yakni, gundul bisa menyehatkan orang yang melihat.

Lho? Kok bisa? Ngelantur ni bocah . . . , mungkin begitu pikir Anda.
Nggak kok, ini beneran.
Saya sudah lama mengalaminya, tapi baru nyadar pas baca status seorang teman, yang merasa sedih ketika rambutnya entah karena apa, jadi gundul.
Dia merasa sedih, malu, risih dan gak pede karena gundul.
Saya teringat, ketika teman-teman menertawakan kegundulan saya.

Aha, itu dia, salah satu manfaat gundul yang baru saya sadari.

Teman-teman selalu merespon kegundulan saya dengan mengolok-olok saya (dan percuma, karena saya sih pede aja meski gundul). Berbagai julukan baru melekat (termasuk 'maling ayam ketangkep', 'napi', 'pasien RSJ', 'mikrofon' dan sebagainya yang belum sempat saya bahas pada posting sebelumnya). Dan teman-teman pun senang, menemukan obyek tertawaan baru. Atau paling tidak, si pendiam dan si pemurung di pojok kelas yang nggak ikut-ikutan melakukan bullying bisa tersenyum melihat adegan absurd di kelas (seorang rekan, tiba-tiba memegang kepala saya dari belakang, kemudian berteriak-menyanyi- keras-keras di atas kepala saya, sepertinya dia tidak menyadari bahwa itu saya, bukan mikrofon).

Nah, bukankah tersenyum dan tertawa itu menyehatkan?
Jika 'satu senyuman kepada saudaramu adalah sedekah', bagaimana jika mendatangkan keceriaan pada orang lain? Bergantung pada niatnya, bisa jadi bernilai sedekah juga.

Eh, tapi bagaimana dengan si gundul yang menjadi obyek tertawaan? Bisa jadi dia malah tertekan dan malu, malah menimbulkan dampak negatif pada dirinya kan? mungkin begitu pikir Anda.

Nah, maka dari itu, si gundul tadi harus menyadari bahwa dia bisa memberi manfaat pada orang lain, bahwa kegundulannya bisa membawa senyuman paling tidak. kalau sudah begitu, semua pun bisa tersenyum :)

Jumat, 29 April 2011

Matarmaja; Against Boredom

(lanjutan lagi dari posting sebelumnya)

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam postingan yang sebelumnya lagi, perjalanan darat via Matarmaja, bakalan berlangsung sekitar 20 jam, atau lebih.
Untungnya, kami biasa pulang kampung dalam rombongan, jadi paling tidak, ada teman seperjalanan yang sudah sangat akrab. Meskipun kalau sendirian (dalam artian tanpa teman sekampus) juga nggak terlalu masalah, karena banyak penumpang Matarmaja adalah orang Malang juga, dan karena perasaan senasib juga sedaerah, kebanyakan juga mudah akrab dan enak diajak ngobrol.

Lelah dan bosan itu pasti. Panas? Nggak selalu, kadang juga dingin. Lapar? Tenang saja, asongan selalu ada - pecel, nasi rames, nasi goreng, nasi ayam, dan yang selalu ada, popmie (bukan promosi). Haus? Selalu ada kopi-susu-jahe (sepaket dengan popmie, sesama produk yang butuh air panas), air mineral ataupun isotonik, selalu ada.

Tapi yang paling susah diatasi adalah rasa bosan.

Bercanda? Selalu, sampai perut ini sakit rasanya dan hampir selalu dilihatin sama penumpang lain. Selalu ada yang dijadikan bahan candaan, namun akhirnya kehabisan bahan juga.

Mengobrol yang agak serius? Kadang, sebagai alternatif saat kehabisan candaan. Namun tetap saja, akhirnya kehabisan bahan obrolan, atau memang sudah bosan ngobrol, atau memang mulut sudah capek.

Membawa kartu bisa jadi memperlambat datangnya kebosanan, tapi bagaimanapun kebosanan tetap melanda.

Melihat pemandangan bisa sedikit menghibur, namun hanya bertahan sampai matahari terbenam, sebab selepas maghrib, pemandangan di luar tampak gelap saja, sambil sesekali diselingi cahaya kota yang dilewati.

Melihat lalu lalang orang-orang dalam kereta, terutama para asongan yang silih berganti di tiap zona, kadang cukup menghibur. Tapi karena sudah hafal, ya jadinya biasa saja. Misalnya, di daerah Jakarta sampai Bekasi, yang menarik (selain asongan makanan) adalah penjual peralatan elektronik semacam baterei, alat isi ulang baterei, senter tanpa baterei, DVD bajakan berbagai film (paling banyak sih, lagu dangdut koplo atau lagu pop) atau gambar hiasan berupa gambar 3D.
Yang bisa bertahan sampai Cirebon atau sekitar Brebes, adalah penjual aksesoris HP, aksesoris maunya-modis-tapi-malah-norak, kadang juga, tasbih.
Yang khas ketika memsauki zona Pekalongan, adalah pakaian batik berbagai ukuran. Zona Semarang dan sisa perjalanan di Jawa Tengah, tak ada yang menarik, karena kereta melewati daerah Jateng pada malam hari, orang tak akan tertarik mleihat barang-barang.

Lebih menarik melihat para penumpang daripada para asongan. Biasanya kalau kereta tidak terlalu penuh, beberapa dari kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan, cari angin di bordes atau sambungan gerbong, atau kalau beruntung, ada pemandangan (cewek manis di kereta ekonomi, limited banget).
Melihat ekspresi para penumpang dari berbagai jenis; jangan dikira penumpang kereta ekonomi cuma kaum ekonomi bawah, kadang juga ada kaum penumpang eksekutif/bisnis yang nyasar kesini karena kehabisan tiket. Dan mereka bisa jadi sangat lucu, panik di dalam kerete ekonomi ini.
Melihat keluarga kecil yang bepergian dengan Matar, kadang sedikit miris juga, kasihan anak-anaknya (terutama kalau pas tidur malam, posisi gak enak, panas pula), meskipun anak-anak itu juga bisa sangat menyebalkan saat melek.
Melihat para penumpang wanita yang sangat tidak nyaman dalam perjalanan, dan sedikit banyak mengkomplain pasangannya 'ngapain sih naik ini, nggak bis aja'.
Melihat kaum 'BDR' yang bergeletakan bagai mayat, tidur dimana saja bisa ditiduri, duduk dimana saja bisa diduduki, membiarkan kaki-kaki asongan melewati kepala mereka, tanpa bisa berbuat apa-apa selain menunggu 'kursi warisan'.
Melihat orang-orang pasrah yang berada di bordes atau sambungan gerbong, menatap keluar sambil mengisap dalam-dalam nikotin bungkusan linting, tampak sangat lelah, pasrah, namun tetap kuat bertahan.

Dan kamipun tersadar pada akhirnya.

Yeah, sebosan apapun, setidaknya kami tidak sendiri. Semua juga mengalami perasaan yang sama kok. Dan satu hal yang pasti, setiap menit yang telah berlalu, setiap kilometer yang ditempuh, setiap stasiun yang disinggahi, memiliki satu makna pasti. Kami semakin dekat dengan rumah :)

(bersambung lagi . . .)

Khotbah Jumat

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Sudah lama nih nggak posting dakwah. Kali ini, merangkum dari beberapa Jumat (maaf, secara singkat aja, cuma bagian yg saya inget).

*Mengenai obat bagi hati yang bermasalah, ada 2 hal yang disebutkan oleh khotib ketika itu, yakni membaca Al-Qur'an dan banyak mengingat kematian.

Mengapa membaca Al-Qur'an? Tentu saja karena Al-Qur'an adalah firman Allah, yang di dalamnya terdapat berbagai intisari ajaran Islam, berbagai kisah umat terdahulu. Dengan membacanya (tentu juga sekalian membaca artinya) maka kita insyaAllah akan bisa mendapatkan jawaban atas permasalahan hidup. Dan lagi, menemukan ketenangan hati. Tentunya, jika kita benar-benar meresapi dan memaknai kandungan ayat-ayat suci Al-Qur'an tadi, bukan sekedar dibaca asal baca tanpa ada bekas di hati.

Mengapa mengingat kematian? Tentu saja karena kita semua pada akhirnya akan mati, entah siapa dapat giliran duluan. Kematian bukanlah akhir segalanya, karena setelahkematian, akhirat yang lebih kekal telah bersiap menanti kita. Apakah surga, atau neraka (naudzubilah)? Semua bergantung pada amalan kita sendiri. kalau kita sudah mengingat kematian, maka dengan sendirinya kehidupan dan segala gemerlapnya tak akan menarik lagi. Masalah yang membuat murung di dunia, tak sebanding dengan azab di akhirat nantinya. Kesenangan semu di dunia, tak akan sebanding dengan ganjaran di surga nanti. Maka, makin banyak kita mengingat kematian, akan semakin jauh lah dunia dari hati kita. Ada masalah di dunia? Tak perlulah terlalu dimasukkan ke hati, jika hati kita selalu ingat akan akhirat.

*Mengenai 4 hal yang dirahasiakan oleh Allah.
Pertama, ridho Allah tersembunyi dalam ketaatan. Janganmeremehkan amalan apapun, karena siapa tahu, dalam amalan tersebut teradpat ridho Allah.
Kedua, murka Allah tersembunyi dalam maksiat. Jangan remehkan maksiat, sekecil apapun, karena siapa tahu, murka Allah tersembunyi dalam salah satu maksiat yang kita lakukan tersebut.
Ketiga, jangan meremehkan seseorang yang tampak remeh bagi kita, karena siapa tahu orang tersebut lebih mulia daripada kita, siapa tahu doanya lebih diijabahi daripada kita.
Keempat,kematian tersembunyi dalam waktu. Kita tak tahu kapan kematian akan menjemput kita, karena itulah, yang bisa kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk menyambut kematian, akar hidup kita berakhir khusnul khotimah dan termasuk orang-orang yang mendapat perlindungan dan ampunan Allah di akhirat nanti.

Sekian dulu rangkuman singkat khotbah Jumat kali ini, semoga banyak lagi yang bisa saya share untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Briptu Norman, Nikahan William-Kate, dan Lebaynya Media Indonesia

Masih segar dari ingatan, beberapa waktu lalu, berbagai media di Indonesia mengulas sesosok polisi (anggota Brimob Gorontalo) yang sedang 'beraksi', melakukan lipsync lagu 'Chaiyya chaiyya' milik aktor kenamaan Bollywood, Sharukh Khan. Aksi tersebut direkam dengan kamera HP, lalu di-upload ke youtube. Sekian ratus ribu orang menontonnya, dan itulah yang terendus oleh media. Dan tak pelak, menjadi bahan pemberitaan. Briptu Norman Kamaru, namanya. Maksud hati, ia ingin menghibur rekannya yang sedang murung karena masalah rumah tangga, dengan berlipsync, lalu direkam. Tanpa sepengetahuannya, ada yang meng-upload video tersebut ke youtube dengan judul 'Polisi Gorontalo menggila'. Begitulah pengakuannya, sebagaimana berkali-kali ia jelaskan ketika diwawancara oleh berbagai media. Dan kelanjutannya, kita semua sudah tahu. Briptu sempat akan diberi sanksi oleh atasannya, namun akhirnya hanya sebatas sanksi peringatan dan disuruh berlipsync dan bernyanyi di hadapan korpsnya (tindakan 'tidak berwibawa saat mengenakan seragam' diampuni karena 'di luar jam dinasnya'). Norman makin terkenal, semua media ingin meliputnya, sampai-sampai diberi cuti 2 pekan untuk berbagai kegiatan di Jakarta. Liputan, wawancara, menjadi bintang tamu, hingga rekaman. Pulang ke Gorontalo, Norman disambut sangat meriah bagai pahlawan, dan setelahnya, terkapar sakit.
Luar biasa detilnya media Indonesia dalam mengupas hal yang satu ini. Mari kita sisihkan sebentar, ada hal lain yang ingin saya bahas.

Pernikahan Abad Ini. Itulah judul yang muncul di beberapa media Indonesia mengenai pernikahan pangeran William dari Inggris, dengan seorang kate Middleton. Sejak beberapa hari yang lalu sudah dibahas begitu heboh. Dan hari ini, di hari pernikahan mereka, bahkan disiarkan secara langsung. Live, Sodara-sodara. Hebat sekali. Dari Inggris sana, disiarkan secara live. Seingat saya, hanya beberapa acara resmi kenegaraan di NKRI ini yang disiarkan secara live. Misalnya, Upacara Peringatan Kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus, live dari IStana. Lalu acara sholat Ied (iedul Fitri maupun Iedul Adha). Lalu pengangkatan presiden dan jajaran menteri. Serta beberapa acara lain, nggak banyak. Bahkan seingat saya, nggak ada acara presiden duwe gawe, hajatan mantu diliput secara live. Dan ini, yang punya hajat mantu adalah ratu Inggris. Gak ada urusan sama NKRI selain hubungan bilateral dan masa lalu yang kelam di era penjajahan dan era perang revolusi. Kita bukan negara persemakmuran Inggris kan? Ngapain pula nyiarin secara live? Entah apa untungnya, toh mereka yang menikah juga nggak peduli dengan apakah disiarkan live di Indonesia ataupun tidak. Aneh memang. Oke, sekali lagi, mari kita skip yang ini.

Masuk ke pembahasan otak ruwet saya, yang sebenarnya juga sama-sama kurang kerjaan aja ngomentarin beginian.
Intinya, yang saya bahas bukan Norman, atau William-Kate. Yang saya bahas adalah media yang meliputnya.
Lebay, kalau kata saya.
Betapa tidak, pada kisah Norman, semua media berebutan melakukan wawancara eksklusif, hampir semua channel televisi nasional mengundang Norman pada berbagai acara. Mulai acara talkshow, acara lagu-lagu, acara liputan jalan-jalan, sampai acara kuliner, berebutan untuk memajang Norman sebagai bintang tamu. Hampir setiap hari wajah Norman muncul di televisi, dan saya yakin, banyak orang merasa bosan melihat berita yang itu-itu saja, seolah seorang polisi yang mendadak tenar karena youtube adalah sesuatu yang luar biasa penting sampai-sampai diliput setiap hari. Saya sih kasihan aja ngeliatnya, sampai-sampai pas pulang ke Gorontalo (setelah diarak dengan kendaraan lapis baja, keliling ke rumah Kapolda dan Gubernur), dia jatuh sakit. Hm, jadi teringat almarhum Mbah Surip.
Sekali lagi, berlebihan sekali.

Berlanjut ke kisah William-Kate, ini juga bisa dibilang berlebihan. Okelah, ini peristiwa besar, tapi di Inggris sana. Menurut saya, nggak pada tempatnya lah kalau media di Indonesia ikut meliput sampai sehebooh ini, sampai sedetil ini. Mulai persiapan acara, sekian jam sebelum kick-off, prosesi pernikahan, sampai setelahnya.

Bukan sekali dua kali media-media di Indonesia bersikap lebay seperti ini. Ingat kisah Piala AFF silam? Atau yang agak lamaan, Mbah Surip (alm)? Shinta-Jojo? Atau isu-isu ringan lainnya, yang mendadak memenuhi kolom surat kabar dan tayangan berita selama beberapa hari.

Sepertinya penting sekali membahas peristiwa-peristiwa ini. Seolah nggak ada isu lebih penting untuk dibahas.

Apa memang betul tidak ada? Eits, tentu ada. Misalnya, bagaimana kelanjutan nasib para awak kapal Sinar Kudus yang disandera perompak Somalia? Bagaimana kelanjutan penanganan peristiwa kekerasan (yang belum jelas siapa yang memulai) di kebumen? Bagaimana kasus NII (yang ditengarai ada keterlibatan BIN dalam peristiwa NII 'gadungan')? Bagaimana kasus 'Pepi the Bookbomb-er'? Atau kasus pencucian uang 'Malinda Dee'?
Belum lagi bicara masalah keseharian masyarakat. Ekonomi rakyat yang makin melarat, masalah pendidikan yang makin menekan, kualitas lingkungan hidup yang makin buruk, kinerja aparat pemerintahan yang tak kunjung membaik?

Mengapa malah peristiwa-peristiwa yang tak terlalu penting dibahas, malah menjadi headline?

Apakah memang dibikin demikian biar masyarakat terlena dan sejenak melupakan masalah pelik lainnya?

Apakah memang ada kehendak dari 'atas' sana untuk mengalihkan isu?

Apakah, , , apakah, , ,
Ah, sudahlah. Terlalu banyak hal yang tidak saya mengerti di negeri ini.
Kembali kepada kita, masyarakat akar rumput yang tak tahu apa-apa selain dari pemberitaan media yang tak jelas berpihak pada siapa (sepertinya, bukan pada rakyat). Pintar-pintarlah kita mencerna informasi, agar tak terus-terusan dibodohi oleh . . . entah oleh siapa.

*sekedar opini, no offfense

Rabu, 27 April 2011

Matarmaja; The Luck Factor

(Lanjutan dari postingan sebelumnya)

Suatu siang di stasiun Jatinegara , Si Cepak sedang mengantri tiket Matarmaja. Saat itu adalah h-2 idul Adha, dan memang banyak sekali orang mengantri ingin pulang kampung. Antrian begitu panjang, dan kalau tidak karena ingin bertemu keluarga di kampung halaman, tak mungkin ia rela berdiri sekian lama hanya untuk selembar tiket bertuliskan nama tempat kelahirannya. Tau-tau ada SMS masuk, dari Si Gundul, temannya, katanya mau nitip tiket pulkam, dan dia sedang dalam perjalanan ke stasiun. Beres, balasnya singkat.

Antrian semakin berkurang jumlahnya, setapak demi setapak ia melangkah maju. Dari 10 orang di depan, berkurang menjadi 9, dan terus berkurang. 5 orang lagi, dan tiket di tangan. 4 lagi. 3 lagi. Dan . . . heyy... apa-apaan ini? Loket ditutup? Kereta penuh? Dialihkan ke kereta jurusan lain? Oh God, this is very very good news . . . Sisi baiknya, saya bakalan punya pengalaman naik kereta berjudul lain.

Dan Si Cepak pun pindah antrian. Kereta Brantas, Jurusan Kediri. Itu artinya, dari Kediri, masih harus oper kereta lain lagi. Bagus.

Akhirnya tiket didapat, dua lembar tiket pulang kampung. Tak apalah, meski harus oper dari Kediri nantinya. Hanya saja, yang sedikit menyesakkan, pada kolom yang seharusnya tercantum nomor kursi, tidak ada angka tertera. Alih-alih nomor kursi yang bakal menjadi singgahsana dalam kereta, hanya ada tulisan "BDR_TANPA_TMPT_DUDUK". BDR, tga huruf yang jika dirangkai bersamaan bisa mempunyai makna yang tidak menyenangkan.

Dan itu artinya, dia dan rekannya harus rela berdiri di antara kursi kereta, di bordes gerbong, atau di kamar mandi kalau perlu. Tidak ada kursi, kecuali jika ada orang yang turun lebih awal dari dirinya dan meninggalkan kursi kosong untuknya. Ralat, bukan untuknya, melainkan untuk siapa saja yang cukup cepat untuk merebut singgahsana itu.

Entah berapa jam akan terlewati dengan berdiri, atau setidaknya duduk di antara kursi penumpang beralaskan bagian belakang celana sendiri. Entah berapa kota akan terlewati sebelum ia mendapatkan 'warisan' kursi dari penumpang yang turun lebih dulu.

Temannya, si Gundul akhirnya datang, mau tak mau menerima kenyataan ini. Saling menguatkan, mereka berdua mencoba menghibur diri dengan mengatakan bahwa ini sebagai pengalaman. Matarmaja tiba terlebih dahulu, dan mereka hanya bisa melihat, kali ini, mereka tidak menaiki ular besi yang ini. Melainkan yang satunya lagi, yang akan berangkat sekitar 2 jam lagi. Melihat begitu banyaknya penumpang yang naik, mereka sedikit bersyukur juga karena tidak menaiki kereta yang satu ini. Saking banyaknya, sepertinya tidak bakalan ada tempat untuk sekedar duduk ngesot di antara kursi penumpang. Dan paling tidak, kalau mayoritas penumpang sudah terangkut Matarmaja, maka Brantas akan lebih sepi nantinya.

Dan merekapun menunggu, sembari menghibur diri. Berlama-lama mereka duduk di peron, mengistirahatkan kaki terlebih dahulu, bersiap saja kalau-kalau memang harus berdiri entah sejauh apa. Sesekali berdiri melakukan peregangan otot kaki.

Dan Brantas pun tiba. Melihat banyak penumpang yang antusias menyambutnya, perasaan kedua bocah ini mulai was-was. Akankah sepenuh Matarmaja juga?, begitu terlintas di pikiran mereka. Yang jelas, sebelum memikirkan itu, lebih penting berjuang memasuki kereta. Seperti biasa, memasuki kereta ekonomi selalu membutuhkan kejelian untuk melihat celah, timing yang bagus untuk menentukan kapan saatnya mengalah dan kapan harus maju, sedikit sikutan untuk memberi ruang bagi diri sendiri, sedikit dorongan lebih untuk melewati manusia-manusia yang sudah berjejalan lebih dulu dalam kereta, dan kewaspadaan dari para pencopet yang rajin merogoh saku penumpang yang baru masuk. Benar-benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Melewati bordes, mereka masuk lebih dalam ke dalam gerbong. Tentu tidak berharap ada kursi kosong. Mereka hanya masuk lebih dalam, mencari ruang lebih untuk sekedar duduk ngesot atau sekedar jongkok. Orang-orang di belakang masih terus mendorong, memaksa mereka terus maju. . .maju. . .dan maju. Dan mentok, karena di depan sudah ada kerumunan orang-orang senasib, para pemilik tiket BDR. Melihat betapa penuhnya gerbong ini, dan tidak memungkinkan untuk pindah gerbong saking penuhnya, mereka hanya bertukar pandang. Kita kurang beruntung, kurang lebih begitulah maknanya.

(bersambung . . . )

Selasa, 26 April 2011

Matarmaja; Sedikit Cerita, Bukan Cuma Derita

Matarmania, begitulah (sebagian) kami menjuluki diri kami sendiri. Tentu saja karena kami teramat sangat menggemari naik kereta ekonomi Jurusan Malang-Jakarta ini. Ralat, bukan kami senang dengan kereta ini, hanya saja karena jika kami sudah menaiki kereta ini dari Jakarta, artinya liburan telah tiba, pulang kampung.

Ah, kalau Anda tak pernah merantau, tahu apa soal pulang kampung. Sensasi luar biasa saat akan bertemu keluarga di kampung, kami lampiaskan dengan antusiasme tinggi sejak pertama kali memasuki stasiun Jatinegara, saat dikumandangkan bahwa sesaat lagi kereta Matarmaja akan memasuki stasiun. Tanpa dikomando, senyum sumringah langsung terpajang di bibir kami.

Sekedar informasi, dari jakarta, tepatnya dari Stasiun Senen, Matarmaja take-off pukul 14.00 dan tiba di Stasiun jatinegara sekitar pukul 14.12, jika tak molor (biasanya sih tepat waktu sejauh ini). Di tiket, tertulis waktu tiba di Stasiun Malang Kota Baru sekitar pukul 6.30 keesokan harinya. Faktanya? Jelas jauh meleset, biasanya pukul 9 atau 10 pagi baru sampai stasiun Malang Kota Baru. Dan itu berarti sekitar 20 jam perjalanan. Ah, kalau 20 jam harus ditempuh demi pulang kampung, tak masalah bagi kami, karena harga masih menjadi pertimbangan bagi kami. Dengan 51 ribu, sudah bisa sampai ke Malang, kenapa tidak?

20 jam, akan seperti apakah rasanya? Bosan, capek, atau segala rasa negatif, akan terhapus dengan sendirinya, karena setiap menit yang berlalu, setiap kilometer yang terlewati, akan mendekatkan kami pada kampung halaman. Kesabaran, itulah kuncinya. Sedikit pengorbanan, demi kesenangan yang lebih besar nantinya. Berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, kurang lebih seperti itulah rasanya. Bermatar-matar dahulu, bersenang-senanglah saat di Malang.

20 jam perjalanan, bukan tidak mungkin akan bertambah, akan ada banyak hal terjadi. Ada banyak kisah untuk diceritakan. Akan ada banyak orang untuk diamati. Yang jelas, akan ada banyak hal untuk dibagi.

Ah, Matarmaja, bersama nafas tua lokomotifmu, tersimpan ribuan kisah dan rasa bercampur aduk di dalamnya.

Penasaran? Nantikan posting selanjutnya :)

*baru kali ini sepertinya, saya membuat suatu posting bersambung

Dilema Rokok

Saya selalu suka iklan rokok. Tentu nggak perlu ditanya alasannya, kan?

Iklan rokok tuh selalu saja kreatif, menarik, dan begitu lihai sehingga membuat orang tertarik pada produknya. Dan uniknya, tanpa pernah memperlihatkan keburukan produknya.

Oh, bukan, saya bukan pecinta rokok, saya cuma suka iklannya.
Kalau dulu, paling suka iklan A-Mild (gak masalah kan saya sebut merk, tahu sama tahu lah. Eh, tapi beneran bukan promosi lho, saya nggak dibayar sepeseerpun untuk menuliskan nama produk mereka). Yang punya jargon 'others can only follow'. Kisahnya, ada suatu tokoh, berbentuk huruf 'A' lambang mereka, yang selalu melakukan hal-hal yang 'berani', 'jantan', 'keren'. Dan karakter-karakter lain, biasanya mengikuti dia dan gagal. Ya itu tadi, others can only follow.
Ada juga Bentoel biru, yang jargonnya 'I Love The Blue Of Indonesia'. Pada saat itu, yang paling seru adalah iklan yang menggandeng gitaris tenar Balawan (I Wayan Balawan) sebagai bintang iklan, yang memainkan suatu komposisi musik (jazz? dengan sentuhan musik tradisional Bali) dengan menggunakan sebuah gitar double. Keren banget lah.
Ingat dengan iklan bersambung Sampoerna Hijau, 'asiknya rame-rame'? Mengisahkan beberapa sekawan yang seringkali terjebak pada situasi yang mengharuskan mereka menunjukkan kekompakan persahabatan yang dikemas menjadi suatu adegan kocak. Kalau nggak salah, dilanjutkan dengan 'nggak ada loe nggak rame' dan sekarang, sekuelnya adalah 'teman yang asik'. Benar-benar presahabatan yang kental.
Lalu Gudang Garam, 'selera pemberani'. Selalu menunjukkan para pria kekar, macho, keren lah pokoknya, melakukan adegan-adegan ekstrim, misal, terjun payung, panjat tebing, atau yang paling saya ingat, menaiki gunung dengan sebuah sepeda trail tanpa tempat duduk. Luar biasa.
Yang paling baru sekarang, iklan jin Djarum 76 'yang penting hepiii', mengisahkan jin usil yang sering mengabulkan permintaan manusia, tapi lebih banyak gagalnya.
Dan favorit saya, adalah iklan Djarum Super, 'my great adventure Indonesia'. Mengisahkan sekelompok petualang yang berkeliling Indonesia, melakukan perjalanan luar biasa dan yang jelas, keren abis.

Oke, lama-lama postingan ini mirip sinopsis iklan rokok (beneran, saya nggak dibayar samasekali untuk nulisin merk-merk tersebut).

Intinya, marketing yang sangat buagus telah dilakukan oleh para perusahaan rokok tersebut, sehingga membuat mindset konsumen pun terbentuk. 'Rokok ini, biar jantan', 'rokok itu biar keren' dan semacamnya lah, mungkin itu yang dipikirkan olehpara konsumen rokok.

Oke, saya nggak mau menuliskan tentang bahaya merokok, kandungan apa saja di dalamnya, serta risiko apa saja yang terdapat pada asapnya, atau tentang kontroversi haram-makruh dalam rokok (yang jelas, rokok tuh nggak diwajibin atau disunnahin dalam agama) karena kita semua sudah pada tahu. Ya kan?
Saya lebih tertarik mengomentari para perokoknya.

Para perokok itu sepertinya sudah ketularan iklan rokok, pada kreatif. Kreatif sekali pas cari-cari alasan untuk membenarkan kegiatan tersebut.

Dibilangi 'merokok dapat menyebabkan bla bla bla...' ada aja yang ngeles begini : 'itu kan kalau merokok DAPAT (dalam artian, dapat rokok gratis), saya kan merokok BELI' (emang ngaruh ya?).

Dibilangi 'berdasarkan hasil penelitian, merokok dapat memperpendek harapan hidup seseorang bla bla bla ...' jawabnya malah gini : 'ngerokok ato gak, ntar juga sama-sama mati' atau 'kakek saya perokok berat, sampai sekarang sehat-sehat aja tuh' atau 'hidup mati kan sudah ada yang ngatur, bukan rokok yang ngatur' (sok agamis banget,,cuih).

Dilibangi kalau 'merokok tuh merupakan pemborosan, coba hitung kalau sehari merokok sebungkus, dalam setahun berapa duit kamu bakar sia-sia bla bla bla' , dengan santainya direspon : 'gak ikut beli aja kok kamu yang ribut' atau 'aku merokok kalo ada yang ngasih' (nista banget, udah ngerokok, minta mulu lagi) atau 'kalaupun ditabung, ntar juga tabungannya dipake buat senang-senang' atau 'merokok kan menambah pendapatan negara melalui cukai' (padahal belinya rokok polos tanpa pita cukai).

Dibilang kalau 'nikotin dalam rokok dapat menyebabkan kecanduan bla bla bla ... ' dijawab dengan santainya : 'hanya inilah yang dapat membuatku sejenak melupakan permasalahan hidup ini' (puitis banget, mungkin karena pengaruh iklan rokok).

Dibilang 'rokok haram karena merusak tubuh bla bla bla ...' malah ngamuk-ngamuk: 'tau apa lu soal agama' atau ngles 'hak asasi dong'(ketauan begonya, mana ada hak asasi untuk melanggar hak orang lain untuk menghirup udara bersih).

Yang paling gokil, ketika seorang (oknum) guru, dikritik muridnya karena merokok.
Murid: pak, kok merokok sih, kan merokok dapat menyebabkan IMPOTENSI (ditekankan pada impotensi karena gurunya cowok)
(Oknum) guru : jare sopo, iyo lek mbok nyonyokno [translate: kata siapa, iya kalo kamu sundut (ke organ vitalmu)]

Dan masih ada sejuta sangkalan lain yang hampir pasti pernah Anda dengar.

Pendapat saya sih, memang betul, merokok dapat(bukan merokok karena dikasih, maksudnya merokok bisa saja) membuat orang tampak lebih jantan, lebih macho, lebih 'wah'. Pokoknya sesuai karakter dalam iklan rokok itu lah.
mengapa begitu? Bukan karena saya membela perokok, ini lebih karena penanaman mindset kita, yang sudah sering melihat iklan di tivi, suatu gejala akibat pemaksaan informasi (namun sayangya informasi yang salah atau lebih tepatnya sesat) yang membuat otak kita berpikir bahwa rokok itu identik dengan image yang diusung dalam iklannya.
Melihat orang merokok, maka otak kita otomatis teringat pada betapa keren iklan produk rokok tersebut. Dan hampir otomatis, membuat kita berpikir si perokok itu keren.

Mengapa kita justru tidak ingat bahwa 'merokok dapat menyebabkan serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin' ? Tentu saja karena dalam iklan rokok, posri waktu untuk menampilkan peringatan ini sangat singkat. Lihat iklannya yang berdurasi sekian menit sekian detik, mungkin lebih dari 90% durasinya habis untuk menampilkan image 'jantan, macho, keren'. Lalu bandingkan dengan porsi durasi untuk menampilkan peringatan klasik tersebut. Kalau seingat saya, kebanyakan cuma sekitar sedetik saja, bahkan ada yang hanya sekilas malah. Adilkah?

Oke, bukan salah kita kalau iklan rokok memang bagus. Kesalahan kita adalah, kok mau-maunya otak kita terbujuk oleh keindahan iklan rokok tersebut.

Si perokok, sebenarnya juga bermasalah menurut saya. Mereka ingin tampak keren, macho, jantan, dengan cara merokok.

Dan Anda tahu alasannya?

Tentu saja karena sebenarnya mereka itu nggak terlalu macho, merasa kurang keren, ingin terlihat lebih jantan. Itu adalah masalah kepercayaan diri.
Kalau nggak percaya, coba tanyai mereka. Kebanyakan dari mereka merokok karena penasaran saat melihat orang lain merokok, kok kelihatannya enak, kok kelihatannya keren, membuatnya tampak lebih dewasa (kebanyakan perokok yang menjadi panutan adalah orang-orang yang lebih tua;bapak-bapak, kakek-kakek, om-om, mas-mas). Ada juga yang merokok karena biar terlihat sama dengan teman-teman lingkungannya, biar ikutan keren.

Sebenarnya yang salah adalah pola asuh, saya rasa. Mungkin perlu dikembalikan ke orang tua sebagai pengasuh, karena bagaimanapun lingkungannya, jika orang tua bisa memberi mindset dasar yang kuat, si anak nggak akan mudah terpengaruh. Ingat kasus Sandy balita perokok? Kurang lebih seperti itulah.

Sekali lagi, yang saya ingin tekankan adalah para perokok itu sebenarnya mengalami krisis percaya diri, karena itu mereka membutuhkan suatu properti untuk mendongkrak rasa PD mereka, agar terlihat (atau setidaknya, dia sendiri yang merasa) keren lah, macho lah, jantan lah. . .

Oke saya akui, saya juga pernah merokok (lain postingan deh ceritanya,,,tapi nggak janji) tapi sekarang udah nggak pernah lagi.
Ya soalnya saya udah nyadar, masak merokok buat keren-kerenan doang. Apa memang saya se-cupu itu, sampai-sampai perlu mengisap rokok biar terlihat keren. Nggak juga deh, kalo diliat-liat, gue nggak cupu-cupu amat kok, masih ada kerennya lah dikit-dikit :)

*postingan ini hanya merupakan opini pribadi penulis, bukan bermaksud menyudutkan pihak-pihak tertentu atau mempromosikan produk tertentu

Senin, 25 April 2011

Satu senyum di perjalanan

Tak bisa dipungkiri, perjalanan kembali ke tanah rantau adalah hal yang tidak terlalu menyenangkan. Harus kembali ke rutinitas perjuangan, meninggalklan keluarga, saudara, kekasih, teman-teman dan segala sesuatu yang dicintai di tanah kelahiran.

Tapi apa daya, memang perjuangan harus kembali dilanjutkan. Se-boring apapun perjalanan itu, tetap harus dijalani.

Tapi apakah memang se-boring itu?
kenapa kita nggak milih untuk enjoy aja?
menikmati pemandangan sepanjang perjalanan toh nggak jelek-jelek amat, dan lagi, pasti banyak hal menarik yang bisa kita temui di perjalanan.

Yang selalu bisa membuat tersenyum dalam perjalanan adalah berbagai nama tempat yang aneh, unik dan nggak umum. Atau juga, tulisan-tulisan pada kendaraan yang lewat di sekitar tumpangan saya. Oh iya, ini kisahnya saya lagi melakukan perjalanan dari Malang ke Jakarta, dengan bis, melalui jalur pantura.

Contohnya, saat bis sedang berhenti di terminal Gresik. Ada sebuah bis mini, dengan stiker bertulisan 'kumis beracun'. Mari kita tebak artinya. Mungkin pemilik bis, atau sopirnya, orangnya berkumis. Terus, tingkah lakunya seperti yang disebutkan dalam lagu 'keong racun'. Membahayakan wanita. Mungkin seperti itu, bisa juga tidak. Ada usulan lain?

Tak lama kemudian, bis melewati suatu kecamatan bernama 'duduk sampeyan'. Apa pula itu maksudnya. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya 'bukan Kamu'. Saya juga masih bertanya-tanya apa maknanya. . .

Di daerah lamongan, atau Tuban (lupa), ada kedai bakso berlabel 'bakso krismon'. HM, mungkin nih orang mulai merintis usaha bakso saat krisis moneter tahun 1998 gara-gara di-PHK sama perusahaan tempat dia bekerja.

Ketika gelap malam mulai membatasi pandangan, maka kegiatan melihat-lihat nama tempat pun terhenti sejenak, dan kembali dilanjutkan ketika pagi kembali hadir. Jawa Tengah terlewati, mulai memasuki Jawa Barat.

Pernah dengar nama desa Sukamaju, atau Sukamakmur? BIasanya dalam buku paket Bahasa Indonesia jaman SD dulu, nama desanya sebangsa itu. Percaya atau tidak, ada sebuah tempat yang saya lewati, bernama 'Sukamandi'. Pasti orang yang tinggal di sini bersih-bersih dan selalu tampak segar :D

Pada kesempatan berikutnya, mata saya tertuju pada sebuah angkot dengan tulisan 'antar nona dalam kota' (plesetan dari tulisan 'antar kota dalam provinsi' pada bis-bis rupanya). Nih sopir pilih kasih, masak yang dianter cuma nona-nya aja. Hahahaha

Well, siapapun yang membuat nama-nama dan tulisan-tulisan tersebut, semoga dilimpahkan 1 pahala untuknya. Karena, hal-hal tersebut bisa sedikit menjadi hiburan dan menuai senyuman dari yang membacanya. Sedikit meringankan perasaan di kala harus kembali ke tanah perantauan.

Masih banyak yang lain sebenarnya, namun keterbatasan ingatan memaksa saya berhenti menulis untuk postingan kali ini. Sampai jumpa di postingan berikutnya, insyaAllah :)

Senin, 11 April 2011

Semut di Dinding Pun Bisa Memberikan Sebuah Pelajaran

Kali ini mata iseng saya menatap segerombolan semut hitam di dinding kamar mandi (plis, jangan bayangkan adegan absurd ini). Di tengah kesibukan mereka menggotong makanan untuk dibawa ke sarang, tampak mereka berbaris dengan rapi, dan hampir selalu, menyempatkan diri untuk 'bersalaman' dengan rekannya yang berpapasan dengannya. Oke, saya nggak mbahas kenapa mereka melakukan itu ( sebenarnya, mereka saling membaui dengan antena mereka, untuk saling mengenali satu sama lain, apakah si dia rekan satu sarang atau bukan, dan untuk mencium jejak feromon yang dilepaskan kawannya agar bisa mengetahui jalan pulang serta informasi lainnya yang disampaikan oleh rekannya tadi) namun lihat suatu hikmah yang kita dapat ambil dari hewan kecil yang seringkali kita anggap remeh ini.

Yakni, dalam keadaan bagaimanapun, mereka selalu sempat untuk sekedar bersilaturahi dengan rekan-rekannya. Bagaimana dengan kita? Bagaimana silaturahmi kita dengan rekan-rekan? Jangankan bersalaman tiap ketemu, bahkan ada yang ketemu tiap hari tanpa saling menyapa. Luar biasa manusia, tinggi amat gengsinya ya. Masak sebagai makhluk yang katanya paling mulia, kalah sama hewan kecil item, yang kalau digites pake ujung jari pun nggak berdaya? Kkalah sama semut? Malu deh . . .

*sebenernya ini nyindir 2 orang teman saya yang berantem dan sampai sekarang masih belum saling menyapa. Tinggi amat gengsinya . . .

Minggu, 10 April 2011

Gundul; Never Ending Style

'Gundul', begitu beberapa sobat memanggil saya. Nggak perlu dijelasin alasannya kan, tentu saja karena saya memang gundul. Kadang ada juga yang memanggil 'botak', meskipun berbeda makna, yah saya terima sajalah. Ada juga panggilan-panggilan lain yang serupa, misal : bola basket, penthol (bakso, osob ngalam), lampu taman, biksu, avatar, dan lain-lain yang semakna.

Seringkali teman-teman saya (terutama teman SMA dan kuliah) bertanya, 'opo enake sih gundul iku?'. Mungkin mereka gemes juga liat saya tiap kali potong gundul, padahal rambut saya belum terlalu panjang menurut penilaian mereka (dan sebaliknya, itu sudah terlalu panjang bagi saya).

Ada beberapa alasan memang, yang pertama adalah kebiasaan. Saya sudah terbiasa potong gundul sejak sebelum masa SMA, seingat saya sejak kelas 2 atau 3 SMP malah. Nah, dari sini muncul pertanyaan baru, 'kok sampai terbiasa gundul gitu?'.

Alasannya adalah bentukan rambut saya, yang agak gak jelas. Lurus enggak, keriting juga enggak. Jadi repot, kalo udah mulai panjang (standard panjang menurut saya adalah saat rambut sudah bisa disisir pake tangan) bentuknya gak karuan. Susah nurutnya pas disisir, soalnya arahnya pun gak jelas. Disisir ke depan salah, ke samping juga salah. Selain itu juga tumbuhnya cepet banget, nggak sampe sebulan biasanya sudah panjang (standar saya). Paling ogah tuh kalo pas lagi keluar kemana-mana, pasti posisinya udah gak karuan. Jelek banget pokoknya, apalagi kalo udah kering gitu. Sumpah, semrawut, jadi risih sendiri.
Jadi berdasarkan alasan di atas, potongan rambut gundul adalah yang paling tepat. Selain simpel dan gak ngerepotin (karena samasekali nggak perlu sisir atau gel rambut), juga potongnya gak perlu sering-sering (bandingkan kalau potongannya nanggung, misalnya cuma mendekin jadi sekian senti, atau potongan 3-2-1, belum sampai sebulan udah panjang lagi). Eh, ini bukan karena saya malas lho ya, tapi demi kepraktisan aja. Buktinya, meski gundul tetep aja saya keramas tiap kali mandi (kecuali kalo shampo habs dan belum sempet beli).

Ada juga yang bilang kalo 'gundul itu panas'. Ini lagi, ketauan begonya. Yang ngomong kayak gini nih adalah orang-orang yang tidak adil, melihat dari satu sisi saja. Kalo cuaca panas, ya meski gak gundul juga tetep aja panas (cuma emang bagi orang gundul, pasti merasakan panas yang lebih tinggi di kulit kepalanya, kan gak terlindung rambut). Di sisi lain, kalo lagi ada angin semilir, atau cuaca lagi dingin, orang gundul tuh yang paling bisa merasakan kesejukan. beneran, kalo gak percaya, coba deh. Kalo udah begini, jadi seimbang kan? Ya panas ya dingin.

Meski udah menunjukkan alasan yang logis, tetep aja ada yang protes. Kali ini yang diprotes adalah masalah style, 'gak keren banget, gundul terus'. Ini juga protes yang nggak masuk akal.
Coba lihat aja, berapa banyak orang-orang terkenal yang meiliki potongan rambut gundul. Dari lapangan hijau sampai lapangan basket, dari tokoh pendidikan sampai politikus, dari musisi sampai bintang film, berapa banyak yang punya potongan gundul? (saya sendiri juga gak tau ada berapa banyak) Jadi nggak ada alasan bahwa potongan gundul itu nggak keren (membela diri). Lihat saja, sebutlah David Becham misalnya, yang merupakan salah satu pesepakbola dunia paling stylish, dia juga pernah memakai potongan gundul. Apalagi pemain-pemain lokal. Dan potongan gundul ini, tak akan lekang dimakan zaman. Sejak jaman jadul, jaman orang-orang berambut kriwul ngetrend, potongan gundul sudah ada, dan nggak dibilang aneh. Jaman yang ngetrend rambut ala punk, yang gundul juga tetep eksis. Jaman harajuku style, yang gundul juga tetep seru. udah deh, nggak ada alasan kalo bilang gundul itu gak keren.

Lagian, saya bukan orang yang suka mengikuti mode. Buat apa sok-sok keren dengan mengikuti tren yang sedang ada, kalau nyatanya malah nggak cocok sama kita? Lebih baik jadi diri sendiri, pilih style yang membuat nyaman dan cocok dengan diri sendiri. Saya rasa itu lebih bijak. Hidup gundul !!!


Sabtu, 09 April 2011

Peringatan HUT ke-65 TNI AU

Bandara Halim Perdanakusuma, 9 April 2011, kick off pukul 7.45 WIB.

Saya bersama beberapa rekan kuliah menyempatkan diri untuk berangkat ke sana, karena berdasarkan info dari seorang teman yang tinggal di lingkungan Halim, acara tersebut juga terbuka untuk umum dan terlebih lagi tidak dipungut biaya (mahasiswa banget deh) :)

Yang paling menarik, tentu bukan upacaranya, namun airshownya. Kapan lagi ada kesempatan menonton para penjaga langit NKRI beraksi secara live. Memang sejak beberapa hari sebelumnya, kalo nggak salah mulai hari selasa, langit Jakarta seolah dijadikan 'taman bermain' bagi para burung besi ini. Mulai dari Hawk, Tiger, Hercules sampai Flanker, seolah asik berkejar-kejaran di atas ibukota. Rupanya mereka sedang berlatih untuk airshow hari ini.

Sekitar pukul 8.30 WIB, saya dan rekan-rekan akhirnya tiba di tempat. Upacara sudah setengah jalan dan hampir berakhir, namun kami tidak peduli, karena yang kami tunggu bukan upacaranya. Kami terus bergerak dari tepian keramaian dan terus mendekat sedekat mungkin ke podium, mencari tempat paling enak untuk menonton. Upacara usai, berlanjut dengan Defile yang diiringi marching band anak-anak karbol, diikuti dengan pertunjukan kesenian tabuh beduk yang berasal dari daerah Banten. Pertunjukan ini dilakukan secara masif, oleh ratusan personil paskhas AU yang ditata secara eksotis, rancak dan meriah, dipimpin beberapa mayoret (pria, kekar, berpakaian kamuflase rumput) seperti sebuah marcing band yang bergenre unik.

Sampai sejauh ini penonton memang sudah bertepuk tangan, tapi tentu saja bukan ini menu utama yang ingin kami nikmati.

Acara dilanjutkan dengan simulasi penyelamatan sandera yang dilakukan oleh detasemen Bravo TNI AU. Diawali dengan ledakan keras di depan podium, lalu tim sniper yang entah nangkring di mana melakukan tembakan ke beberapa sasaran dummy di tengah 'panggung aksi' (seolah yang ditembak adalah para terosis. Lalu tim bravo dengan berkekuatan 2 APV (gak tau jenisnya apa, sepertinya Baraccuda) dan beberapa pasang personil berkendara motor trail, mulai merangsek ke dalam bis Damri yang disimulasikan sebagai tempat para teroris menyandera para sandera, termasuk kepala bandara. dan tim bravo dengan sukses menyikat habis para teroris dan menyelamatkan sandera (horeeee...penonton bertepuk riuh).

Berikutnya adalah atraksi terjun payung oleh personil TNI AU (entah berapa banyak penerjun yang diterjunkan dan pesawat apa yang digunakan, tidak terlihat, soalnya terlalu tinggi, namun sepertinya sih hercules) yang membuat langit Halim dipenuhi oleh para penerjun parasutnya. Sungguh bukan tontonan biasa, nggak setiap hari kita bisa melihat langit dipenuhi para penerjun.

video

Jupiter Aerobatic Team

Acara berlanjut ke atraksi aerobatik oleh Jupiter Aerobatic team dengan 6 pesawat KT-1B Wong Bee, pesawat dengan single propeller di bagian nose buatan Korea Selatan yang menampilkan 17 manuver yang membuat para penonton bertepuk tangan begitu riuh. Diiringi narasi dari pembawa acara yang menjelaskan formasi apa yang digunakan dan info-info lainnya, lagu dari Bruno Mars 'Just The Way You Are', Band Cokelat 'Bendera', Netral 'Garuda Di Dadaku' serta terkadang juga terdengar instruksi dari leader JAT yang dihubungkan ke speaker.


Dimulai sisi kanan podium, JAT dlam formasi Arrowhead (6 pesawat membentuk 3 baris ke belakang, 1 leader di depan, kemudian di belakangnya 2 pesawat, dan paling belakang 3 pesawat, membentuk segitiga; gampangnya, bayangkan formasi sepakbola, 1 striker, 2 gelandang serang di belakangnya sejajar, dan 3 gelandang bertahan di belakangnya lagi sejajar juga). Manuver pertama mereka adalah Jupiter Roll , yaitu berputar 360 derajat longitudinal bersamaan, sejajar garis langit. Langsung dilanjut dengan arrowhead loop, dimana 6 pesawat membentuk lintasan lingkaran vertikal, kemudian formasi clover leaf yang membentuk daun semanggi jika dilihat dari atas.

video

Lalu formasi leader benefit dimana Jupiter 1 berada di depan, smentara 5 pesawat lainnya berjajar di belakang leader (anggaplah seperti 1 striker dengan 5 gelandang dengan posisi sejajar).

video

"Dan hadirin, jangan biarkan mata Anda kehilangan momen langka yang akan Anda saksikan sesaat lagi", ujar narator. Dimana formasi arrowhead dipecah, 4 pesawat masih terus terbang tanpa mengubah posisi relatif mereka, sementara Jupiter 5 dan 6 (yang berada di baris paling belakang, sisi luar) memisahkan diri (split) ke arah yang berlawanan dengan posisi mereka (Jupiter 5, posisi di sisi kanan, berbelok ke kiri sementara Jupiter 6 dari sisi kiri, berbelok ke kanan; dua pesawat ini berbelok di bawah formasi utama, dan berpapasan sangat dekat sampai-sampai membuat penonton khawatir mereka akan bertabrakan), dilanjutkan dengan suatu gerakan dimana 2 pesawat tadi melintas di depan podium melewati titik yang sama berkali-kali(Terdengar seperti Rodall Jupiter atau apa gitu), sementara 4 pesawat lain membentuk formasi Tango (3 striker, 1 gelandang serang di belakang striker utama; seperti huruf T) berlanjut ke formasi diamond (seperti posisi gelandang di formasi 4-4-2 diamond pada sepakbola, 1 gelandang serang, 2 winger, 1 gelandang jangkar). Peralihannya, disebut tango to diamond.
Berikutnya manuver mirror, dimana 2 pesawat terbang beriringan, satu pesawat terbang pada posisi normal, sementara pesawat yang satunya ( Jupiter 5) berada tepat di atasnya dengan posisi inverted (terbalik, cockpit di bawah), begitu rapat sehingga nampaknya cockpit mereka nyaris berdempetan.

video

Berlanjut ke 4 pesawat lainnya, membentuk formasi screw roll (3 pesawat terbang normal, membentuk segitiga; 1 striker, 2 gelandang serang; sementara 1 pesawat lain mengekor dan berputar-putar pada suatu sumbu imajiner berupa jejak asap 3 pesawat lain, seperti gerakan sekrup yang berputar).

video

Lalu manuver heart "sebagai tanda cinta kepada Indonesia" (2 pesawat terbang lurus, lalu menanjak vertikal sejajar, lalu saat terdengar aba-aba pilot "...heart...break...NOW ! ! ! " masing-masing berpisah ke arah luar, masing-masing ke kiri dan ke kanan, berputar ke bawah membentuk gambar hati di langit dan berpapasan di titik terendah), sementara 4 pesawat lain melintas berurutan dari arah depan podium, dengan posisi tidak sejajar, nyaris diagonal.
Berlanjut ke single show-off dari Jupiter 6, solo spin, terbang menanjak vertikal, lalu di titik tertinggi, pesawat akan berada pada kecepatan nol sehingga tampak diam melayang di udara, lalu perlahan 'terjatuh' berputar ke bawah dan melanjutkan terbangnya.

video

Kembali single show-off, satu pesawat melakukan roll berulang-ulang (apa nggak pusing gitu pilotnya).

video

Dilanjut ke formasi kite, yakni seperti formasi diamond ditambah 1 pesawat mengekor di belakang, seperti layang-layang. Setelah kite, Jupiter 6 yang tadi melakukan single show ikut bergabung kembali ke formasi arrowhead.
Ini belum selesai, karena masih ada formasi roll back (dari formasi arrowhead, satu persatu pesawat keluar dari formasi, terbang keluar dengan sedikit roll, lalu kembali ke posisi semula, begitu bergantian.

video
Lalu 6 pesawat tersebut akan membentuk "lintasan semi vertikal" yang menurut saya, terlihat seperti mereka terbang sejajar dalam formasi arrowhead, namun tidak dalam kondidi flat, melainkan seolah-olah berada pada lintasan yang miring 45 derajat.

video

Dan terakhir, manuver ke-17, mereka melakukan manuver spektakuler bomb burst loop sebagai salam penghormatan kepada hadirin.

video

Kali ini, saya berani mengklaim bahwa liputan saya tentang manuver-manuver oleh JAT ini lebih lengkap dibandingkan situs berita yang meliput hari ini (tapi jangan dibandingkan dengan situs fans yang seringkali menonton latihan dan airshow mereka). Beneran, ada 17 manuver yang saya rekam semuanya (meski cuma kualitas kamera HP, dengan video kualitas CIF). Saya nggak ambil foto, soalnya ngak bakalan keliatan pesawatnya, selain kalah cepat, juga karena tingginya itu loh. Di video saja, pada banyak bagian, seringkali hanya terlihat langit yang seolah kosong (padahal beneran ada pesaatnya T.T).

Parade Pesawat Tempur

Dimulai dengan sepasang Hawk 100-200 dari skuadron 12 pekanbaru, yang melakukan simulasi reconnaisance dan re-attack terhadap instalasi musuh.
video

video

Lalu dilanjutkan dengan aksi heroik 4 ekor F-16 Fighting Falcon yang membawa nama 'Falcon Flight', melakukan simulasi ground attack dari arah yang berbeda-beda. Raungan mesinnya terdengar begitu memekakan telinga, entah itu karena afterburner atau sonic boom.

video

Selanjutnya adalah simulasi air refueling oleh pesawat Hercules (? sepertinya begitu) dan 5 Hawk (? sepertinya begitu). Mereka terbang terlalu tinggi, jadi nggak keliatan bentuknya. Di video pun, nggak kalah samar dibandingkan video Jupiter tadi, padahal pesawat tanker kan gede banget pastinya.

Lalu ada 9 ekor C-130 Hercules yang menerjunkan sejumlah penerjun dari ketinggian 900 feet AGL dan kecepatan 125-130 knot, diiringi air cover oleh 4 ekor F-5 Tiger yang terbang berpasangan dengan sandi 'Tiger Flight' untuk memastikan tidak adanya ancaman udara oleh musuh demi keamanan lokasi pendaratan.

video

'Tiger Flight' kembali unjuk gigi di atas pangkalan, memamerkan sonic boom mereka.

video

Episode berikutnya adalah 3 ekor Puma (NAS 330J/NAS 332 yang dibuat di Indonesia, di IPTN) dengan sandi 'Heli Flight' yang menurunkan tim pengaman untuk melakukan penyelamatan terhadap survivors di zona musuh. Tim penyelamat diturunkan dengan teknik rapling menggunakan tali. Simulasi kali ini diiringi sepasang Hawk 100-200 yang melakukan air cover.
video

Dan sebagai penutup, adalah 'Thunder Aerobatic Team', yakni bintang utama dalam airshow kali ini, yang paling ditungu-tunggu oleh para pemirsa. Apalagi kalau bukan Sukhoi Su-27 dan Su-30 dari pangkalan udara Hasanuddin Makassar. Untuk yang satu ini saya nggak banyak komentar, saya bahkan nggak menyimak apa kata narator danapa saja nama manuvernya. Saya cuma sempet terbengong-bengong, terbius oleh kegagahan pesawat multirole fighter buatan Russia ini.

video

video

Kamis, 07 April 2011

Endorphin vs Lactic acid; who'll be the winner

Kali ini mbahas sesuatu yang berbau ilmiah dikit lah, buat ganti suasana aja.

Beberapa istilah yang sedikit memelintir lidah ini terkait dengan ilmu biologi (mengobati rasa kangen pada pelajaran SMA). Oh iya, subjek yang dibicarakan di sini, secara khusus adalah kita, manusia.

Sedikit mengulas, intinya endorphin adalah suatu senyawa peptida yang berfungsi sebagai neurotransmitter, dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan hipotalamus, pada saat subjek mengalami suatu perasaan yang menyenangkan. Dapat dibilang, endophrin adalah semacam morfin alami dalam tubuh kita yang membantu mengurangi rasa sakit atau stress.

Sementara Lactic acid alias asam laktat, adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh tubuh dalam proses metabolisme anaerob dalam tubuh subjek.
Tunggu dulu, anaerob? Kita kan manusia?, mungkin begitu pikir Anda. Oke, mari kita buka sejenak buku pelajaran biologi kelas 3 SMA mengenai metabolisme. Dalam keadaan tertentu, ketika aktivitas kita membutuhkan pasokan energi yang besar, sementara pasokan oksigen kurang, mitokondria kita juga bisa melakukan proses metabolisme anaerob, mengubah glukosa menjadi energi, dengan asam laktat sebagai produk sampingan. Jadi jangan berkecil hati karena merasa bahwa kita (secara biologis) sama derajatnya dengan bakteri ragi yang dipakai dalam pembuatan tempe atau tape.

Sialnya bagi kita, asam laktat yang menumpuk dalam tubuh membutuhkan waktu lama untuk di'bersihkan' dan selama penumpukan itu, tubuh kita akan merasakan suatu reaksi yang kita sebut pegal-pegal, capek, dan sejenisnya.

Lalu apa hubungannya artikel ini dengan dua jenis benda-dengan-nama-biologis-yang-menyulitkan-lidah tadi?, begitu pikir Anda mungkin.

Naah, berdasar suatu pengalaman saya (nanti insya Allah akan saya posting di lain kesempatan), satu taktik dalam mengalahkan asam laktat adalah dengan endorphin.

Lho kok bisa? Apakah dua jenis benda-dengan-nama-biologis-yang-menyulitkan-lidah tadi akan bertarung satu sama lain?

Tentu tidak. Namun, melihat bagaimana efek yang ditimbulkan masing-masing, yang dapat kita lihat, saling berlawanan, maka dapat kita akali dengan memperhitungkan efek netto.

Rumit ya? Sejujurnya saya juga bingung memikirkan ini, apalagi menuliskannya.

Intinya gini, ketika terjadi timbunan asam laktat akibat dari aktivitas berlebih, maka badan akan terasa pegal-pegal.
Sementara ketika kita mengalami suatu hal yang menyenangkan, maka tubuh akan memproduksi endorphin, yang memiliki efek membantu meredakan stress atau rasa sakit, dan menimbulkan perasaan senang.
Jadi, ketika badan sedang pegal-pegal, lakukanlah sesuatu yang memancing emosi positif (gembira, bahagia, senang, ceria). Misalnya, mendengarkan musik favorit, menonton film lucu, mengobrol dengan orang yang disayangi, atau apapun yang anda suka. Sehingga, rasa pegal akibat penumpukan asam laktat tadi, dapat tercover oleh produksi endorphin yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan perasaan senang. Begitu . . .

Mungkin sebagian dari Anda sudah mempraktekkan tentang hal ini, dan merasakan bahwa taktik ini cukup manjur. Bagi yang belum mencoba, silahkan coba deh.

Ngapain sih, memberikan penjelasan yang rumit tentang hal yang lumrah dilakukan, mungkin begitu pikir Anda.

Tapi nggak ada salahnya kan, sedikit mengintip 'rahasia sains' di balik kejadian sehari-hari?

Lagian, ini kan blog saya, terserah dong mau nulis postingan kayak gimana. Sebagai tamu, silahkan Anda menikmati suguhan saya, nggak usah sungkan :p


Rabu, 06 April 2011

Panas..panas..

Panasnya Jakarta memang sudah menjadi trademark. Hampir tiap hari, orang-orang yang tinggal di sini pun mengeluh karena panas. Kalau saya lihat di termometer, suhu rata-rata sekitar 33 °C, kadang sampai 34, jarang turun sampai 32 apalagi lebih rendah (bahkan pada malam hari setelah matahari terbenam). Sebagai pengecualian, tentunya pada saat turun hujan deras dan setelahnya, baru agak seger dikit. Seringkali, melihat status teman-teman di Fb, pada ngeluh soal panasnya Jakarta (yg tinggal di Jakarta, meski kadang teman-teman di manapun juga mengeluh kepanasan kalo cuaca lagi panas).

Tapi sepanas-panasnya jakarta, atau bahkan Abu Dhabi sekalipun, itu cuma panas duniawi. Jangan dibandingkan kalau dengan panasnya neraka Allah, naudzubillah, semoga kita termasuk orang-orang yang terlindung dari api neraka.

Dalam salah satu hadits, Rasulullah bersabda : Apimu (yang kamu semua menyalakannya di dunia) ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya neraka jahanam, setiap bagian sama suhu panasnya dengan api di dunia ini (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

Oke, mari kita berhitung sedikit. Katakanlah, 'api' yang dimaksud dalam hadits di atas adalah api yang dinyalakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan termasuk api lain di alam semesta (misal, api bintang). Misalnya, api dari batubara. Berapa suhunya? Kata wikipedia, 750-1200 °C. Wow. Kalau api lilin? Katanya, berkisar antara 1100 sampai 1400 °C.
Anggaplah kita nggak membahas api lain seperti api yang digunakan dalam pengelasan, atau semburan api dari mesin jet (anggaplah pada zaman hadits ini diturunkan, belum ada mesin las dan mesin jet).
Lalu, kalau api neraka adalah 70 kali lipat dikalikan 1400, berarti 84000 °C. Wow. Habis sudah badan ini.
Sepertinya nggak perlu lah kita menghitung suhunya jika 'api' yang dimaksud termasuk api lain di alam semesta ini, termasuk api dalam bintang yang suhunya mencapai jutaan Kelvin.

Tidak bijak bila kita bermain hitung-hitungan matematis macam itu. Siksa neraka terlalu seram untuk dihitung. Apalagi siksa neraka bukan 'hanya' dalam bentuk panas saja, masih banyak bentuk siksaan lainnya.

Seorang kawan berkata, "duh, panasnya Jakarta aja udah kayak gini, gimana panasnya neraka".

Nah, kalau kita sadar betapa panasnya neraka, maka mengapa kita masih merasa enteng dalam melakukan perbuatan dosa?

Menurut riwayat Abu Daud bahwa Nabi SAW bersabda : ”Jika kamu melakukan shalat Shubuh, maka ucapkanlah sebelum berbicara dengan siapapun : “ Allahumma ajirni minan naar !” (Artinya :Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka) sebanyak 7 kali, karena jika kebetulan kamu meninggal pada hari itu, maka Allah pasti melindungimu dari api neraka. Dan jika kamu shalat Maghrib, maka bacalah sebelum berbicara dengan seorang pun juga : Allahumma ajirni minan naar !” sebanyak 7 kali, maka jika kebetulan kamu meninggal pada malam itu, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla,akan melindungimu dari api neraka!”.(H.R. Abu Daud)

Mari memperbaiki diri. . .

Sabtu, 02 April 2011

Jenis-jenis Blogger

Seperti halnya status facebook, tipe postingan seseorang dalam blog-nya juga bisa mencerminkan dirinya. Mau tahu? Yuuk disimak . . .

Blogger amatir : isi blog-nya hanya bercerita tentang hal-hal sepele, kisah awal bagaimana dia blogging, atau kesehariannya yang biasa saja. Bisa dibilang, postingannya belumlah berbobot dan hampir pasti gak bakalan sampe tersangkut oleh search engine. Hampir semua bloger pernah melewati fase ini.

Blogger curhat : isi postingannya terutama tentang kejadian yang dialaminya, terutama pada momen-momen yang sarat emosi. Mulai dari luapan kegembiraan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan, kebahagiaan, jatuh cinta atau apapun deh. Jadi saat membaca blog-nya, rasanya seperti membaca diary seseorang. Yang bikin gak enak, kalau pas si pembaca disebutkan dalam kisah di blog tersebut, dalam posisi yang kurang mengenakkan. . .

Blogger alay : Yakni blogger yang penulisannya bergaya alay, membicarakan hal-hal gak penting yang ditanggapi secara lebay, senada dengan status/notes fb atau tweet-nya. Untungnya, saya belum pernah menemukan jenis ini. Mungkin pegel juga kalau posting blog dengan gaya penulisan alay, atau mungkin anak alay pada malas blogging.

Blogger pelawak : postingannya berisi berbagai kisah yang lucu, garing, ironis, atau apapun yang bisa membuat seseorang tertawa, atau paling tidak tersenyum, atau paling tidak berkata "ah, udah pernah baca lelucon itu". Kadang yang diposting hanyalah lawakan basi (meski nggak semua orang pernah tau) atau lelucon abadi (yang kalau diceritakan berkali-kali pun, pembaca tetap bisa tertawa), dan kadang merupakan kesehariannya saja yang entah kebetulan sedang mengalami kejadian lucu atau memang gaya penulisannya saja yang kreatif (mampu mengubah derita dan kesialan menjadi tawa dan canda).

Blogger pujangga : isi postingnya adalah berbagai prosa, sajak, puisi, lirik lagu atau bahkan pantun. Kebanyakan berasal dari kejadian sehari-hari, namun dirangkai dengan kata-kata yang begitu berseni (baca : gombal) dan bercitarasa tinggi sehingga tidak setiap orang yang membaca mampu memahami artinya (baca : mbulet, gak jelas). Blogger macam ini biasanya orangnya perasa, lembut, dan, ehm, cengeng :p

Blogger petualang : yakni petualang yang merangkap blogger. Jadi dia adalah orang yang gemar berpetualang kemana-mana dan menuliskan pengalamannya dalam bentuk blog, jadi seperti membuat log book (buku catatan perjalanan). Membaca blog jenis ini sangat mengasyikkan, apalagi jika penulis menceritakan pengalamannya dengan detil dan dilengkapi buanyak foto indah . . .

Blogger beritawan : isi blognya terutama adalah berita-berita terkini, heboh, dan pasti laris manis di search engine. Wajar kalau traffic blog mereka tinggi. Sayangnya, kebanyakan blogger jenis ini bukanlah wartawan asli, jadi untuk mendapatkan berita heboh tersebut, mereka hanya meng-copas (copy-paste) artikel orang lain, entah dari sumber berita terpercaya atau bahkan dari blog atau forum yang gak jelas benar-tidaknya. Blogger jenis ini kadang menelan mentah-mentah semua jenis info tanpa dicerna dahulu, dan kadang tidak bisa membedakan berita nyata dengan hoax. Parahnya lagi, kebanyakan nggak mencantumkan sumber berita yang mereka copas. . .

Blogger informan : sebenarnya setipe dengan blogger berita, kebanyakan adalah tukang copas tanpa ijin minus keterangan sumber data. Hanya saja yang satu ini punya spesialisasi di bidang informasi yang tidak peka waktu/berbagai tips-tips yang bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sepertinya dua jenis blogger ini hanya mengincar trafic blog yang tinggi dan follower yang banyak. . .

Blogger berita (asli) : isi blognya adalah berita yang benar-benar orisinil, berasal dari pencarian yang profesional maupun amatir, namun mandiri, dalam artian, dia sendiriah (atau tim dari blog tersebut) yang mencari berita tersebut. Umumnya, blgger jenis ini adalah wartawan (atau sekelompok wartawan) nyambi blogging.

Blogger analis : berbeda dengan bloger berita, jenis yang satu ini lebih cerdas, karena bukannya menelan mentah-mentah segala informasi yang beredar di internet, mereka memilih untuk mengkritisi, menganalisa, dan menguji kebenaran berita/informasi tadi. Biasanya mereka memiliki spesialisasi dalam topik yang dibahas. Misalnya, bidang agama, militer, sosial budaya, sains, misteri atau yang lain.

Blogger spesialis : blogger jenis ini memiliki spesialisasi dalam penulisan dan postingan-postingannya. Misal, mengulas sepakbola, berita seputar bisnis, hal-hal berbau sains, dunia perfilman atau bahkan, ehm, pornografi.

Blogger cari duit : ini blogger bisa merupakan jenis blogger mana saja, terutama blogger copas, yang engejar traffic blog yang tinggi. Blognya biasanya berisi banyak pop-up dan iklan yang minta di-klik, serta link-link yang kurang lebih isinya "mau dapet duit dari internet dengan cepat? bla bla bla. . ." semacam itu.

Blogger bisnis (beneran) : yakni orang yang mempromosikan barang-barang dagangannya (atau kadang-kadang dagangan orang lain) melalui blognya. Biasanya ini diadopsi oleh seorang pengusaha yang tak mau melewatkan kesempatan apapun untuk mempromosikan produknya dengan berbagai metode.

Blogger bijaksana : postingan dalam blognya sebenarnya hanyalah hal-hal biasa, kejadian sehari-hari saja. Namun yang memberi nilai lebih, adalah si penulis mampu menyelipkan pesan-pesan moral yang bisa diambil hikmahnya. Blogger macam ini adalah orang-orang yang tanggap dengan keadaan, tangguh menghadapi tantangan kehidupan dan cerdas memikirkan solusi. itulah yang membedakannya dengan blogger curhat. Kadang juga memposting kisah-kisah inspiratif, motivatif, atau kisah-kisah penuh hikmah lainnya.

Blogger religius : sejenis dengan blogger bijak, hanya saja jenis yang satu ini memiliki nilai tambah dengan hadirnya pembahasan dari sudut pandang agama (sesuai keyakinan masing-masing penulis). Bisa dibilang, mereka adalah sejenis pendakwah online. Seringkali tujuan utama postingan mereka adalah demi saling mengingatkan sesama dan menyebarkan ilmu yang dimilikinya agar bisa bemanfaat bagi para pembacanya.

Blogger kombinasi : sudah jelas, blogger jenis ini memiliki lebih dari satu ciri yang telah disebutkan di atas. Nggak perlu dijelaskan lebih lanjut kan? kebanyakan blogger adalah jenis ini, kadang religius, kadang curhat, kadang berpetualang . . .

Naaah, rekan blogger, termasuk jenis yang manakah Anda-anda sekalian? Atau Anda termasuk dalam jenis yang belum tercantumkan? Monggo beri usulan . . .


Jakarta oh Jakarta

Panasnya Jakarta membangunkan si gundul dari tidur siangnya. Gerah, badannya berkeringat semua. Si gundul terdiam sejenak sembari mengumpulkan sukma yang masih berceceran di alam mimpi. Setelah benar-benar sadar, dirinya bangun, menatap sekeliling. Kepalanya menoleh ke empat penjuru mata angin. Oh, masih di kosan rupanya, pikirnya setelah melihat empat sisi dinding kamar kosannya. Rupanya, dia tadi bermimpi sedang berada di kampung halamannya, berkumpul bersama sahabat-sahabatnya di tempat favorit mereka. Di sebuah sekolah menengah atas, di kaki gunung Arjuna. Di mana dari sekolah itu, memandang ke segala arah, mereka bisa menyaksikan bukit dan gunung. Di mana angin sepi-sepoi selalu menemani mereka bercengkrama sambil tertawa-tawa tanpa henti mengingat kekonyolan mereka saat masih SMA dulu.

Si gundul beranjak bangkit dari kasurnya. Melangkah keluar kamar menuju teras depan kosannya. Memanjat pagar biru dan nangkring di sana, melihat langit dan merasakan angin seperti biasanya. Biru cerah. Kembali ia teringat akan kampung halamannya. Melihat langit sedikit mengobati kerinduannya akan kampung halaman, karena hanya langitlah yang tampak selalu sama dimanapun berada. Meski di kota ini, langit juga seringkali tampak berbeda.

Jakarta. Sudah sekian tahun ia tinggal di ibukota Indonesia Raya ini, tanpa pernah membayangkan akan pergi ke Jakarta sebelumnya. Baginya, Jakarta adalah tempat para artis, para pejabat, dan para-para lainnya selain paralayang tentunya. Jakarta hanya diketahuinya dari televisi, dari berita di koran atau internet, dan dari cerita katanya entah kata siapa yang pernah pergi ke Jakarta. Yang diketahuinya tetntang Jakarta hanyalah bahwa Jakarta itu macet, panas, padat penduduknya dan tentu saja sumpek, berbeda dengan daerah asli tempatnya tinggal. Mimpi ke Jakarta? Tidak kawan, sekali lagi tidak. Dia samasekali tidak tertarik ke Jakarta.

Tapi yang namanya takdir, manusia merencanakan apapun tapi tetap takdir akan berjalan sesuai apa yang telah tertulis dalam Lauh Mahfudz, tanpa manusia bisa mengelak. Si Gundul akhirnyapun benar-benar menginjakkan kaki di tanah Jakarta. Memang sebelum ini, dia sudah pernah beberapa kali melewati Jakarta, namun ketika dalam perjalanan yang bertujuan ke lain tempat, bukan ke Jakarta.

Jalan menuju Jakarta mulai terlihat di pertengahan masa putih abu-abu, ketika sang ayah mulai mengarahkan dirinya, akan kemana setelah melepas seragam putih abu-abunya. Bahwa sebagai laki-laki, ia nantinya akan menjadi seorang kepala rumah tangga, seorang suami dan menjadi seorang ayah pada akhirnya. Beitulah yang dikatakan sang ayah padanya. Tanggung jawab yang besar, bukan hanya secara moril, namun tentu saja secara materiil. Pekerjaan yang layak haruslah didapatkannya, bukan sekedar meneruskan sekolah menjadi sarjana yang setelah diwisuda masih bingung melamar pekerjaan ke mana-mana.

Ayahnya adalah seorang guru yang budiman dan berdedikasi selama lebih dari 20 tahun dalam dunia pendidikan (namun sayang pada jaman itu, pemerintah belum terlalu perhatian dengan nasib para tenaga pendidikan di Indonesia) dan ibunya adalah wanita luar biasa yang memiliki dedikasi tinggi untuk menjadi pendidik bagi adik-adiknya di rumah. Ia memiliki 2 adik laki-laki, yang masing-masing lebih muda 8 tahun dan 16 tahun. Masa depan mereka masih panjang, demikian pula pembiayaannya. Sedang kakak perempuannya, yang 3 tahun lebih tua, bersekolah di sebuah sekolah tinggi kedinasan.

Dengan demikian, opsi paling masuk akal baginya adalah dengan mengikuti jejak kakaknya, bersekolah di sekolah kedinasan yang bebas biaya pendidikan. Demi pendidikan, akhirnya ia mulai menapakkan kakinya pada jalan takdir yang telah ditetapkan baginya.

Dan disinilah ia sekarang, jakarta. Ibukota Indonesia Raya, yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Yang katanya merupakan salah satu kota dengan tingkat polusi terparah di dunia. Salah satu kota dengan ketimpangan sosial yang begitu mencolok. Jakarta, dengan beribu kisahnya, sudah 3 tahun menjadi latar belakang kisah kesehariannya yang terasa monoton baginya, meski dilihatnya kisah kehidupan orang-orang lain yang berjuang hidup di Jakarta terus berputar cepat seperti roda bajaj.

Orang-orang yang berusaha tetap bernafas diantara asap polusi yang merongrong paru-paru. Orang-orang yang terus berusaha untuk tidak tenggelam bersama sampah kali Ciliwung. Orang-orang yang berusaha tetap berdiri di antara megahnya gedung pencakar langit. Orang-orang yang terus berpacu dengan deru kereta api di persimpangan rel. Orang-orang yang terus berjuang untuk hidup, dimana banyak yang telah berguguran dan terus ada yang menggantikan.

Jakarta, dengan ribuan kisahmu, entah berapa lama lagi akan menjadi latar hari-hariku.

Si gundul kembali menatap langit dan merasakan angin, meski di kota ini, langit seringkali tampak berbeda.

* saya sedang homesick dan mengalami kondisi yang berkebalikan dengan falling in love. itu saja