Cari Blog Ini

Sabtu, 31 Desember 2011

Perayaan Tahun Baru - Sebuah Bencana Aqidah

Assalamu'alaikum pembaca. Langsung aja ya, males basa-basi nih.
Mungkin dari judul postingan ini, sebagian pembaca udah menyeringitkan alis. Mungkin ada yang menganggap saya sok suci, sok alim, ato sok-sok lainnya selain Sok'imah tentunya. Mungkin ada yang menganggap, ah, apa salahnya merayakan even setahun sekali. Atau menfanggap saya ketinggalan jaman karena nggak mau ikut-ikutan merayakan tahun baru. Atau apapun, terserah. Yang jelas, memang postingan ini adalah postingan dakwah, jadi kalau ada pembaca yang merasa di KTP-nya tidak ada tulisan 'Islam' di kolom agama, ya boleh aja kok meninggalkan laman ini. Kalau yang merasa Islam, insya Allah ada baiknya membaca tulisan ini sampai selesai.
Jadi kali ini saya mau ngebahas tentang kontroversi perayaan tahun baru masehi di kalangan umat Islam (dari judul juga udah jelas kan?)
Oke lanjuut. Kita sepakat bahwa dalam ajaran Islam, gak ada namanya perayaan tahun baru masehi. Tahun baru Islam, karena menggunakan kalender Hijriyah, maka jatuhnya pun berbeda dengan tahun baru masehi. Dan cara orang Islam menyambutnya, adalah dengan berkumpul di masjid/mushola, atau di mana saja juga boleh, untuk membaca doa akhir tahun pada hari terakhir tahun sekian, setelah ashar, dan membaca doa awal tahun pada hari pertama awal tahun, selepas maghrib. Udah pada tahu kan? Oke, kali ini saya nggak membahas tahun baru Islam. Tapi tahun baru masehi, alias 1 Januari 2012 besok.
Jadi gini, kita kan udah tahu sama tahu nih, kalau dalam Islam, nggak ada yang namanya perayaan tahun baru masehi. Sementara kenyataannya, banyak sekali orang yang merayakan tahun baru masehi. Jadi bisa disimpulkan bahwa perayaan tahun baru masehi itu bukan berasal dari ajaran Islam. Saya bold biar jelas. Dari ajaran mana? Kagak tahu, yang jelas bukan ajaran Islam titik. Jadi sekali lagi, karena bukan ajaran Islam, maka kita yang Islam, nggak perlu dan nggak boleh mengikutinya.
Cukup jelas sampai di sini?
Dari khotbah Jumat kemarin, yang dapat saya tangkap adalah jangan sampai kita mengikuti hal-hal yang menjadi tradisi kaum selain Islam. Dalam sebuah hadits diriwayatkan "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". (sumber)
Perayaan Tahun baru, dan even-even lain serupa itu yang diekspos besar-besaran oleh media, yang dijadikan sebuah tradisi masyarakat 'masa kini', bisa jadi hanyalah suatu cara yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk menjauhkan umat Islam dari akidah yang benar. Semakin melenceng umat Islam dari akidah yang benar, maka semakin senang lah musuh-musuh Islam tersebut. Dalam satu riwayat, dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, rejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim). (sumber)
Nah lo, apa kita mau digolongkan bersama 'mereka'? Kalo saya sih nggak mau...
terus ngapain dong taun baruannya?, mungkin sebagian berpikir begitu.
Yaelah, taun baru doang, apa serunya sih. Wong cuman besok libur, gitu aja kok. Nggak beda sama malam minggu atau malam liburan yang lain. Gak perlu lah hura-hura atau hambur-hambur duit gak jelas. Lagian kan macet banget nih bakalan, maen-maen kemana gitu juga gak enak toh? Mending juga di rumah, tidur (saya mah hampir tiap taun baruan ya tidur aja, kagak ada yang aneh-aneh).
Kalo masih ngotot aja mau merayakan atau setidaknya menganggap malam tahun baru adalah hal yang istimewa, saya ngasih saran aja deh. Yang penting tuh, bukan perayaannya. Lebih baik Anda membuat suatu resolusi tahun baru (ceileh bahasanya, resolusi), target-target apa aja yang bakal Anda perjuangkan mati-matian untuk dicapai. Dan tentu aja, nggak cuma bikin janji atau resolusi tanpa bukti, nol besar itu mah. Tetep lebih penting gimana kita aja yang mewujudkan target itu untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Oiya, boleh juga ngebikin suatu daftar kesalahan, kekurangan, atau kelemahan Anda di tahun ini, yang harus diperbaiki dan jangan sampai terulang di tahun depan. Meski sebenarnya, introspeksi dan resolusi perbaikan diri bisa dilakukan kapan saja, nggak cuma pas tahun baru.
Saya rasa ngelakuin hal beginian lebih bermanfaat daripada sekedar begadang atau kelayapan nggak jelas. . .
Goodbye, 2011. Welcome, 2012 . . .

Jumat, 16 Desember 2011

Takutlah (Hanya) Kepada Allah

Coba Anda keluar rumah (setelah membaca tulisan ini tentunya), lalu lihat ke kubah langit yang megah tanpa tiang itu, dan juga segala hal di balik birunya yang menyejukkan mata (kecuali kalau sedang mendung, atau malam hari). Oke, sekarang kan malam hari, jadi mari kita sejenak melihat langit malam. Bintang, bulan, dan benda-benda langit lainnya yang hanya memberkaskan seikit cahayanya untuk kita. Lihat pula bentangan bumi yang luas ini. Datarannya, gunungnya, lembahnya, sungainya, dan samudranya, beserta seluruh kehidupan di atasnya. Semua terpelihara sempurna. Pernahkah Anda renungkan semua itu? Siapakah yang menciptakannya? Siapa pula yang memeliharanya?

Tentulah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang melakukan itu semua, yang menciptakan dan memelihara jagad raya ini dengan penuh perhitungan dan dengan segala kesempurnaan mereka (sempurna dilihat dari perspektif makhluk, yakni sempurna penciptaan dan perhitungannya). Subhanallah, betapa Maha Besar nya Allah SWT itu ya... Kalau lagi ngebayangin hal ini, bawaannya damai gitu. Allah Maha Pengasih dan Penyayang banget deh...

Tapi tunggu!
Alam semesta yang megah ini tetaplah 'hanya' sebuah ciptaan yang ringan bagi Allah untuk mencipta dan memeliharanya. Alam semesta tidaklah abadi. Dia, beserta kita di dalamnya, hanyalah makhluk yang kelak akan dibinasakan. Ketika tiba waktunya Malaikat Isrofil meniup sangkakalanya, maka hancurlah alam semesta ini, tak bersisa kecuali mereka yang dipilih-Nya untuk tetap hidup.
Tentu tak perlu dijabarkan kejadian macam apakah kiamat itu, karena penulis sendiri pun tak sanggup membayangkannya. Yang jelas, bih mengerikan sangat jauh ledibandingkan berbagai film Hollywood (atau wood-wood yang lain) yan bertema bencana dan kiamat, unimaginable pokoknya.
Dan setelah itu, telah meanti padang mahsyar, da pada gilirannya nanti, neraka bagi kaum yang membangkang. Oke, kita skip dulu tentang surga, penulis ingin mengajak pembaca sedikit merenungkan, betapa ngerinya hari akhir.

Betapa ngerinya hari akhir tu, siapakah yang membuat skenarionya? Tentu saja, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dzat Yang Maha Adil dalam menetapkan perhitungan dan balasan bagi setiap manusia atas amal perbuatannya selama di dunia.
Glek!
Kalo inget gini aja deh, rasanya nyali ciut dah. Seolah kagak ada lagi keberanian tersisa, bahkan anya untuk tersenyum.

Mari kembali merenung sejenak. Mari kita gunakan akal kita untuk salah satu fungsi yang benar : agar takut kepada Allah dan murka-Nya, bukan untuk mengagungkan logika dan ilmu pengetahuan yang dimiliki, lalu berkata bahwa tuhan itu tidak ada.
Ketika mati nanti, setiap amal perbuatan kita akan dihisab oleh Allah. Yang baik akan mendapat ganjaran, dan yang buruk berarti voucher tour ke neraka. Seringkali kita merasa bahwa sudah banyak perbuatan kita yang 'baik' dan layak medapat ganjaran surga, tapi apakah kita benar-benar yakin bahwa amalan (yang kita anggap) baik tersebut diterim oleh Allah SWT?
Di sisi lain, kita lebih yakin bahwa kita telah cukup banyak melakukan maksiat (baik secara sembunyi-sebunyi maupun trang-terangan) dan itu artinya, kita telah mengumpulkan tiket ke neraka, dan vouchernya pun hampir pasti sudah cukup banyak untuk ditukar dengan perjalanan yang tidak singka di neraka. . . .

Jadi, apakah masih ingin tambah voucher lagi? Padahal neraka itu, ah, siksanya sungguh mengerikan, berkepanjangan dan tak dapat dibayangkan. . .
Sekedar mengingatkan, Rasulullah saja, manusia maksum yang terbebas dari dosa dan kesalahan, yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT, setiap harinya beristighfar tak kurang dari 70 kali dalam sehari (riwayat lain mengatakan, 100 kali - cek referensi). Nabi Nuh, yang mendapat sedikit teguran dari Allah karena memohonkan keselamatan bagi salah satu anaknya yang hampir tenggelam saat terjadi air bah yang menenggelamkan bumi, sangat menyesali perbuatan beliau tersebut, bertaubatselama 40 tahun tidak berani menatap ke langit karena malu pada Allah SWT (cek referensi). Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain dari para Nabi, Rasul, an manusia-manusia pilihan Alah yang lainnya.
Lalu bagaimana dengan kita?
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah pengingat bagi diri penulis yang masih banyak dosa, dan semoga dapat mengingatkan sahabat pembaca sekalian.
Topik ini dibahas pada khotbah Jum'at tadi siang

Minggu, 04 Desember 2011

Hujan Lagi, Hujan Lagi

Hujan jangan diumpat karena dia adalah rahmat. Bayangkan kalau tak hujan, petani gagal produksi pangan. Kalau hujan lama tak turun, tanaman meranggas banyak kehilangan daun. Lagi pergi tiba tiba hujan deras, nggak bisa pulang emosi jadi memanas. Salah sendiri, nggak mempersiapkan diri. Pepatah bilang sedia payung sebelum hujan, atau boleh juga bawa jas hujan. Hujan deras bikin jalanan macet, siapa suruh nyampah di kali sampai airnya mampet. Hujan deras longsorkan tebing, jeritan korban terdengar sayup-sayup, tanyakan pada yang memangkas bukit dan gunung sampai tak ada lagi pohon yang hidup.
Hujan adalah rahmat, diturunkan dari langit dengan perhitungan yang maha-cermat. Matahari panaskan samudra, membentuk awan yang siap mengembara. Awan berkelana ke penjuru dunia, siap turunkan hujan di mana saja.
Coba kita sedikit mengaji. buka Al-Qur'an lalu baca dan resapi. . .
"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Ar Rum ayat 48)
Hujan adalah rahmat, hanya persepsi yang salah yang membuat kita mengumpat.

Selasa, 15 November 2011

Nggak Ada Yang Namanya Bad Day

Mengingat beberapa hari ke belakang, mendapatkan info yang bisa dibilang kurang menyenangkan. Terkait masalah magang dan penempatan yang bisa jadi tertunda sampai februari tahun depan. Masih tanpa ada penjelasan yang memadai ataupun solusi pasti. Sempat misuh-misuh di dunia maya, namun belakangan saya hapus pisuhan tersebut ketika tersadar bahwa kata 'janc**' tak akan memperbaiki keadaan.
Kejutan dalam kehidupan, itu biasa. Tak mendapatkan hal yang diinginkan, pun wajar. Mendapatkan hal yang tak terduga, sangat lumrah. Itulah hidup. Ada skenario yang kita tidak tahu, kita hanya memainkan peranan kita tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Berusaha menjalani sebaik-baiknya, atau dengan biasa-biasa pun tak apa, itu terserah Anda. Hadapi masalah dengan kepala dingin, walau lebih sering kepala pening dibuatnya. Itulah hidup, kalau tak mau dapat masalah, jangan hidup, tapi Anda sudah terlanjur ada di dunia. Ingin mengakhiri hidup begitu saja? Itu cengeng namanya, belum lagi pasti ada konsekuensi di akhirat sana.
Skenario hidup, Allah yang ciptakan. Dia berikan yang terbaik untuk umat-Nya, entah mereka percaya atau ingkar. Perhitungan dan ketetapan-Nya jauh di luar jangkauan manusia, karena Dia lah Dzat Yang Maha Sempurna. Penilaian baik buruk oleh kita, bisa jadi berbeda dengan ketetapan-Nya. Karena ilmu kita tak ada setetes air dalam samudera-Nya, maka sepatutnya kita percaya. Percaya saja, Allah akan berikan yang terbaik bagi umatnya.
Nggak ada itu nasib sial, hari buruk atau kurang keberuntungan. Masalah rejeki dan sebagainya sudah ditetapkan sebelum kamu dilahirkan. Hanya masalah sudut pandang yang sering bikin kita bimbang. Ini yang terbaik dari Allah tapi kita yang tak bisa mengartikan. Sekali lagi, percayalah Allah Maha Adil dan selalu tepat saat membuat perhitungan. Ubahlah cara pandang dan dunia akan tampak lebih lapang.
Mulut bisa bilang sabar, tapi hati sudah gerah menanti kepastian. Pikiran mulai terganggu dengan label 'pengangguran'. Katanya lulusan sekolah kedinasan tapi kok nggak ada pekerjaan. Ah, biar saja orang bicara, mereka kan tak tahu apa-apa, bergumam menghibur diri sendiri, meski telinga sudah mulai terasa perih. Rupanya begini rasanya jadi pengangguran. Tak ada pekerjaan, tak punya penghasilan, hidup tak jelas malah dapat cibiran. Sabar saja, ini cuma sementara, nanti ketika sudah jadi pegawai, penghasilan mencukupi sudah tak lagi dalam andai-andai. Setidaknya kita sudah belajar empati terhadap para pengangguran, asal tak jadi pengangguran betulan. Nanti saat lihat koran ada pengangguran bunuh diri, setidaknya sedikit bisa memberi empati.
Sekarang jalani saja masa tenang bersama keluarga, teman, dan kegiatan yang tak bisa dilakukan saat sedang di perantauan. Nanti setelah penempatan di ujung nusantara, kampungmu yang ndeso pasti akan kau rindukan.
---------------------------------------------------------------------------------------
*sindrom galau nganggur akibat tertundanya masalah pemberkasan, magang dan penempatan (masih isu)

Kamis, 27 Oktober 2011

Mengutip Khotbah (Beberapa Pekan Lalu)

Sedikit mengutip kata-kata dari sebuah khobah Jumat, pada suatu hari yang menggenapkan usia saya menjadi 21 tahun secara matematis.
"Kita lahir dalam keadaan suci tanpa dosa, maka mengapa kita tidak berusaha untuk mengakhiri hidu kita juga dalam keadaan yang suci?"
kurang lebih seperti itulah, saya lupa persisnya (dan khotbah lengkapnya).
Mission impossible, mungkin itu yang Anda pikirkan ketika mendengar (lebih tepatnya, membaca) kalimat di atas.
Bagaimana tidak, kita hanyalah manusia-manusia biasa yang penuh dosa. Hamba-hamba yan penuh khilaf. Bagaimana kita bisa jadi manusia yang seperti itu sementara kita bukanlah seorang Nabi yang maksum (terjaga dari sifat dosa)?
Ditambah lagi, kita tak tahu kapan ajal akan tiba. Jangankan tahu, ingat saja, sebagian besar dari kita juga enggak. Kebanyakan manusia emang ogah kalo diajak ngomongin kematian, apalagi ngomongin yang setelah kematian nanti.
Oke, saya tahu perasaan Anda. Mana mungkin kita jadi manusia sempurna yang mati dalam keadaan suci . . . mana mungkin . . . jelas gak mungkin, kalau Anda diam saja.
Tentu saja kita nggak tahu kapan akan dijemput malaikat maut. Tapi selama kita ingat bahwa akan ada Sang Penjemput yang akan menarik jiwa kita hingga lepas dari raga, maka kita bisa mengusahakan hal itu (mati khusnul khotimah).
USAHA. Itulah kata kuncinya. Kita memang nggak tahu kapan akan mati (saya udah ngomong gini berapa kali ya), tapi kan kita bisa mempersiapkan diri untuk mati. Maksudnya, mempersiapkan bekal untuk kematian kita.
Memperbanyak amal ibadah dan menjauhi maksiat. Agar kalau sewaktu-waktu kita meninggal, kita sudah punya perbekalan. Agar ketika kita mati nanti, tidak dalam keadaan bermaksiat dan berlumur dosa. Agar nanti ketika mati, kita dalam keadaan berbuat kebajikan dan mengingat Allah.

Jadi ingat kata-kata dalam SMS yang suka dikirimin sama teman-teman dulu. "Ketika kita lahir, kita menangis dan orang-orang tersenyum bahagia. Maka berusahalah agar ketika nanti kita mati, kita tersenyum bahagia dan orang-orang menangis".
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Maaf ya, lama gak posting nih

Selasa, 11 Oktober 2011

Pemberkasan; Berakit-rakit Dahulu, Bermagang-magang Kemudian

Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh 3 tahun pendidikan DIII spesialisasi kepabeanan dan Cukai di STAN, saya dan kawan-kawan dinyatakan lulus (dalam yudisium 30 September silam). Status geje; mahasiswa sudah bukan, pegawai masih belum. Maka diperlukan suatu ritual lagi bagi kami untuk memulai langkah perjuangan menjadi pegawai. Pemberkasan.

Saya sendiri gak tau pasti apa definisi resmi dari pemberkasan ini, yang jelas, kami disuruh mengumpulkan berkas-berkas untuk memenuhi (sebagian) persyaratan sebelum menjadi PNS (atau lebih tepatnya, CCPNS). Ada jeda (libur, katakanlah) selama sekitar sepekan untuk mengurus berkas-berkas yang belum selesai (mengingat surat keterangan sehat-bebas narkoba sudah diurus saat libur setelah ujian kompre-sebelum yudisium).

Apa saja berkas yang dibutuhkan? Anda bisa lihat di sini, saya males jelasinnya satu-satu.

Dan perburuan berkas pun dimulai.

Intinya, selama beberapa hari, saya sempet keteteran ngurusin pemberkasan. Maklum, meski yang diurus sebenarnya cuma beberapa dokumen, masing-masing dokumen punya syarat wajibnya. SKCK misalnya, harus ngurus surat pengantar dari RT, desa, kecamatan, koramil, polsek, baru diurus ke polres. Dan pada masing-masing tahap, perlu beberapa syarat juga (fotocopy KTP, KK, foto, dll). Surat keterangan sehat paru-paru, perlu foto rontgen dulu. Dan lain-lain deh pokoknya. Agak males juga sih inget-ingetnya.

Intinya, pemberkasan ini lumayan menguras tenaga (bolak-balik ke kantor ini itu tempat fotocopy tempat cetak foto - sebagian ditempuh dengan jalan kaki), hati (kadang makan ati juga, karena kagak tau syarat apa yang dibawa, jadi pas di tempat tujuan ternyata kurang syaratnya, jadi ya bolak balik lagi ke fotocopy, ambil dokumen yang ketinggalan, cetak foto) dan duit (bayar sana bayar sini, alhamdulillah sebelumnya sempet dapat pesangon PKL, jadi gak banyak-banyak minta duit ke ortu). Tapi tak apa, karena selalu ada hikmah di balik semua itu. Ya kan ya kan?

Yang pertama, harus belajar sabar. Karena tiap hal butuh proses. Dan kadang, prosesnya gak cepet juga. Apalagi yang namanya birokrasi, meski nggak dipersulit, tetap saja yang diurusin harus berjenjang. Setidaknya, dengan ikut merasakan betapa menyebalkannya birokrasi, ntar kalo udah jadi birokrat, jangan lah sampai ada keinginan untuk mempersulit orang lain.

Kedua, harus belajar tanggap, sigap dan cermat dalam bersiap-siap. Cari informasi apa aja yang dibutuhin. Biar ntar gak malah repot karena harus mondar-mandir untuk ngelengkapin persyaratan yang dibutuhin.

Ketiga, bersyukurlah karena dengan cobaan kecil ini, Anda bisa belajar banyak hal. Bersyukurlah, karena cobaan Anda hanyalah merupakan batu loncatan untuk meraih kesuksesan. Emang lumayan ngerepotin sih ngurusin persyaratan pemberkasan ini, tapi kan juga demi masa depan ntar, demi jadi pegawai ntar. Bersusah-susah dulu, biar bisa senang-senang ntar. Emang sih, ada beberapa adegan yang bikin makan ati, atau apa lah namanya. Tapi ternyata, kalau dibandingin sama yang dialami orang lain, yang kita alami gak ada apa-apanya.

Ketika bercerita tentang pemberkasan ini bersama keluarga, ayah pun mengisahkan kisah perjuangannya dulu saat mengikuti seleksi PNS. Jadi malu, yang saya alami nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami ayah dulu. Satu lagi, ketika sedang mengurus salah satu dokumen di Kepanjen (harus di sana, urusannya dengan instansi di level kabupaten), teman saya nggak bawa salah satu persyaratannya. Akibatnya, ya besok harus balik lagi, membawa persyaratan ini. Padahal jaraknya dari rumah bisa sampai satu jam perjalanan dengan motor. Saya jadi malu, kemarin bolak-balik mondar-mandir masih di wilayah sekecamatan (itu pun gak sampe separoh wilayah kecamatan yang saya mondar-mandirin) udah ngeluh.

Saya sempat sedikit merenung sambil jalan. Ternyata, seberat apapun cobaan yang kamu alami, masih banyak orang lain yuang mengalami cobaan yang lebih berat dari Kamu. Kalau mereka bisa melewati cobaan-cobaan mereka, bagaimana dengan Kamu?
Bukankah Allah hanya akan memberi cobaan pada kita sesuai kemampuan kita? Bukankah cobaan diberikan oleh Allah untuk mengetahui siapa saja di antara hamba-hambaNya yang beriman?

" ... Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? ... " (QS Al Furqon ayat 20)

" .... Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). ... " ( QS Al Anbiya ayat 35)

Jadi tenanglah, tersenyumlah. Jalani hidupmu, hadapi cobaanmu, yakinlah Allah selalu bersamamu.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (QS Alam Nasyrah ayat 5-6)

Jumat, 30 September 2011

3 Ciri (Yang Seharusnya Ada Pada) Orang Muslim

Dapat sedikit ilmu dari khotbah Jumat siang tadi. tentang 3 ciri kaum muslim, yang seharusnya ada pada diri kita, namun seringkali kita lupakan, sehingga membuat citra muslimin menjadi jatuh. Jangankan untuk membuat lawan-lawan Islam menjadi berbalik mengagumi dan memeluk Islam, bahkan orang Islam sendiri pun seringkali tampak ogah dengan segala sesuatu yang berbau Islam. Berikut poin-poin yang saya dapat dari khotbah Jumat tadi :

- bersegera dalam menaati Alah dan Rasulnya

- bersegera meninggalkan kemaksiatan

- membalas dengan kebaikan bahkan terhadap orang yang memperlakukannya dengan buruk

Ciri-ciri tadi, jika benar-benar diterapkan pada muslimin, maka insyaAllah, akan membuat umat muslim sendiri bangga dengan identitas keislamannya. Dan bahkan, orang-orang yang saat ini memusuhi Islam pun bisa jadi jatuh hati dan berhijrah ke Islam. InsyaAllah

Dan sebagai muslim, apa lagi tugas kita kalau bukan menggu orang lain, tanpa menunggu hari lain, mari kita lakukan.

*maaf, belum sempet posting panjang, hanya ingat poin-poin intinya. Di lain kesempatan, akan saya jabarkan detailnya

Jumat, 16 September 2011

Sometime, Life Seems So Harsh

Suatu sore yang cerah, ketika saya sedang menikmati birunya langit sore Jakarta, saya menemukan (lebih tepatnya, baru menyadari) suatu pemandangan yang unik di sebuah rumah di dekat kos-kosan saya. Tepatnya pada salah satu dinding rumah tersebut, yang berada persis di bawah genteng. Ada sesuatu yang tidak lazim di sana.

Bisa Anda lihat?

Apakah kurang jelas? Ya iyalah, gambar pecah hasil zooming begitu, pasti kamera murahan, mungkin begitu pikir Anda. Maaf, memang kamera HP saya nggak bagus-bagus amat sih. . .

Oke, saya jelasin. Itu adalah gambar sebatang beringin yang sebatang kara (dalam arti sesungguhnya) yang tumbuh di dinding tersebut. Entah sejak kapan dia ada di sana (saya aja baru nyadar...padahal sudah hampir 2 tahun kos di sini). Entah bagaimana dia bisa ada di sana. yang jelas beringin kecil itu tumbuh, hidup, daun-daunnya pun masih hijau. Mungkin, biji beringin itu tercampur dalam adukan semen yang akhirnya menjadi tembok rumah ini, atau mungkin biji tersebut terbawa oleh burung gereja (atau burung lain) yang biasa beterbangan di sekitar rumah, terjatuh di celah di dinding, lalu tumbuh di sana.

Oke, saya nggak lagi ngebahas berbagai teori kemungkinan bagaimana dia tumbuh di sana, dan saya juga gak lagi ngebayangin gimana nasib rumah tersebut kalau pohon itu tumbuh sampai gede banget. Saya cuma sedikit merenung. . .

Betapa sulitnya hidup beringin kecil tersebut. . .

Tinggal di dinding yang tingginya mungkin sekitar 6 meter dari permukaan, akar-akar kecilnya tidak mungkin menjangkau tanah untuk mendapatkan air. Mungkin dia hanya mendapatkan air dari hujan dan uap air yang mengembun pada permukaan genteng di pagi hari, lalu menetes ke celah-celah retakan di dinding. Zat hara? Entah bagaimana dia mendapatkan zat-zat yang dibutuhkannya (apa mungkin dengan melapukkan semen di dinding???). Terpapar panasnya matahari Jakarta dalam kondisi kekurangan air, dia masih bisa tetap tumbuh dan hidup.

Tentu saja, Allah lah yang mengatur hidup dan mati seluruh makhluk yang ada di jagat raya ini, yang telah mencukupkan rizki bagi beringin kecil tersebut. Dan menumbuhkannya dalam kondisi sedemikian, yang sanggup membuat mata yang menatapnya berpikir, merengung, dan menyadari.

Bahwa sesulit apapun kondisi kita, saat kita (tampaknya) begitu jauh dengan apa yang kita butuhkan, saat kita (tampaknya) sedang sendirian tanpa seorangpun yang membantu kita, saat kita (tampaknya) berada pada kondisi yang sangat terjepit (kalau ini secara harfiah, memang dia terjepit di dinding), sesungguhnya Allah masih bersama kita. Allah lah yang mencukupkan rizki kita, yang senantiasa menemani kita, yang senantiasa menolong kita, bagaimanapun kondisi kita.

Dan kalau sudah begitu, kenapa (sebagian dari) kita masih enggan untuk mendekatkan diri pada-Nya???

Sabtu, 10 September 2011

Evaluasi Pasca-Ramadhan

Assalamu'alaikum

Ehm, sebelumnya saya minta maaf soalnya sempet lamaaa banget gak nulis lagi. Terhitung terakhir kali nulis, tanggal 11 Agusus, dan baru nulis lagi tanggal 10 September (itu pun baru posting hari ini). Maklum, tanggal merah, lebaran :p

Sebenarnya, malu juga sih, kenapa ketika Ramadhan usai, kok malah produktivitasnya (terutama dalam hal menulis) menurun drastis. Entah karena di rumah jarang online, atau karena sebab-sebab lain, apapun alasannya, ini adalah hal yang nggak bisa diterima. Dan nggak cuma berlaku untuk hal ini, tapi juga hal-hal lain.

Pas Ramadhan, masjid penuh dalam 5 kali waktu sholat wajib. Setelah Ramadhan? Jama'ah kembali menyusut ke jumlah semula. Seolah-olah, saat Ramadhan tuh banyak 'pendatang baru' di Masjid, tapi khusus Ramadhan. Setelah Ramadhan, banyak yang ogah berjama'ah di masjid. Jangankan setelah Ramadhan, di pekan terakhir Ramadhan yang seharusnya ibadah lebih ditingkatkan pun biasanya masjid sudah mulai ditinggalkan jama'ahnya (ada yang mudik, ada juga yang malas; sama-sama 'm').

Pas Ramadhan, tilawahnya ngebut, gak kalah sama Casey Stoner dah. Sehari bisa sampai 1 juz. Sebulan udah khatam. Tapi setelah Ramadhan, memble. Ngebuka Al-Qur'an aja, belum tentu sehari sekali.

Pas Ramadhan, pada berlomba-lomba bersedekah ke panti, ke fakir miskin. Setelah Ramadhan, bakhilnya pulang kampung lagi. Ada peminta-minta, dikasih telapak tangan. Ada masjid yang perlu sumbangan, pasti mikirnya 'ah, udah banyak yang nyumbang kok'.

Pas Ramadhan, rajin ikut pengajian, jama'ah ini jama'ah itu. Setelah Ramadhan, balik lagi kongkow-kongkow di mall, cafe, pinggir jalan (gak elit banget sih)

Suatu ironi (kebanyakan) masyarakat kita, yang menganggap Ramadhan sebagai bulan khusus untuk ibadah. Jadi ibadahnya pas Ramadhan doang. Malu dng kalo gak ikutan puasa. Sungkan kalo nggak ikut tarawih (tapi sholat wajib 5 waktu masih bolong-bolong?). Gengsi kalo gak ikutan nyumbang acara keagamaan. Selain Ramadhan, ya ibadahnya kalo inget doang sih. jangankan ibadah sunnah, ibadah wajib pun kadangkala dikalahkan oleh aktivitas sehari-hari.

Sungguh disayangkan, ketika kita salah memaknai Ramadhan. Sebab Ramadhan usai bukan berarti tadarus, tahajud, puasa dan sedekah usai. Karena sejatinya, Ramadhan adalah sebuah 'training center' bagi kita, bagaimana kita me'maintance' ibadah kita untuk 11 bulan ke depan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa ingat untuk terus meningkatkan kualitas diri kita, terutama dalam hal ibadah dan ilmu. Agar kita nantinya termasuk orang-orang yang memanen buah dari segala usaha kita, dan bukannya termasuk orang-orang yang merugi bagaikan petani yang ladangnya diserbu wereng karena menyia-nyiakan hidupnya.

*sebuah teguran untuk diri saya sendiri dan para pembaca yang merasa tertegur

Kamis, 11 Agustus 2011

Hal yang Paling . . . di Dunia

Yang paling dekat dengan kita di dunia ini adalah maut

Yang paling jauh dengan kita di dunia ini adalah masa lalu

Yang paling besar di dunia ini adalah hawa nafsu

Yang paling berat bagi kita di dunia ini adalah menjaga amanah

Yang paling ringan bagi kita di dunia ini adalah meninggalkan sholat

Yang paling tajam di dunia ini adalah lidah manusia

*dari Imam Ghazali, pertanyaan kepada murid-muridnya tentang beberapa hal yang paling 'wah' di dunia ini. Didengarkan oleh penulis saat ceramah dzuhur Rabu kemarin, di Masjid Pusdiklat Bea dan Cukai.


**sepertinya penulis tidak perlu memberikan keterangan tambahan bagi pembaca sekalian, kan? Sepertinya sudah cukup jelas untuk kita renungkan bersama. . .

Selasa, 09 Agustus 2011

Khatam Al-Qur'an dalam Sebulan? Biiiisaaaa. . .

Suatu hari di awal Ramadhan ini, saya mendapat SMS dari teman-teman, isinya adalah ajakan untuk mengkhatamkan Al-Qur'an dalam sebulan, terutama pas Ramadhan ini. Kurang lebih begini tipsnya:

Al-Qur'an terdiri atas 30 Juz . Dalam sebulan, ada 30 hari. Jadi satu hari usahakan membaca 1 juz.
Pada mushaf kita, rata-rata 1 Juz terdiri dari 10 lembar (tergantung cetakannya sih). Dalam sehari, kita melaksanakan sholat 5 waktu. Jadi kalau 1 Juz yang 10 lembar tadi dibaca setiap habis sholat, maka jadinya adalah 2 lembar/4 halaman setiap kali waktu sholat.

Sedikit kan? Yang bikin berat memang hanya rasa malas kok. Coba deh dimulai, insya Allah bia.

Tapi kan, kalau Ramadhan gini emang kegiatan nggak terlalu banyak, lha kalau hari-hari biasa yang super sibuk?, begitu mungkin pikir Anda.

Sebuah tips dari seorang senior di kampus, kalaulah misalnya kita melewatkan 1 waktu sholat tanpa sempat membaca Al-Qur'an, karena kesibukan misalnya, maka 'jatah' yang tidak terambil tadi harus dirapel pada malam harinya.

Mungkin jadi terasa agak berat, soalnya jadi banyak. Tapi kalau nggak berusaha gitu, kapan bisa istiqomah?
Anggaplah sesibuk-sibuknya adalah pas jatah dzuhur dan ashar, jadi ada 2 kali jatah nggak terambil tepat waktu. Kalau 'rapelan' malam dirasa terlalu banyak, coba jatah pas subuh diperbanyak, untuk berjaga-jaga kalau-kalau pas dzuhur nggak sempet. Kalau perlu, pas waktu senggang di sela-sela kegiatan (pas jam kerja lagi lowong, atau jadwal ngampus gak padet) sempatkanlah sholat dhuha, dan setelahnya, sempatkanlah ambil jatah, anggap saja ambil jatah untuk ashar nanti. Jadi jatah maghrib dan isya' tetap normal.

Sedikit tips dari saya, coba pakai mushaf yang ada terjemahannya. Jadi setiap selesai baca satu halaman, baca terjemahannya. Asik loh, kayak membaca cerita bersambung (tentu saja, 'cerita' yang satu ini penuh ilmu dan hikmah). Dan lagi, kalau membaca terjemahannya tuh jadi kerasa banget kalau satu halaman yang kita baca tuh sebenarnya sedikit sekali, paling cuma berapa ayat tuh (tergantung juga sih, juz berapa; kalau juz 30 beda cerita kali ya). Kalau pas nyadar bahwa yang sudah kita baca itu barusediiikit, cuma seimprit, maka insyaAllah akan timbul rasa malu. Malu, karena baca sekian ayat aja udah malas-malasan. Padahal kalau baca koran, Kompas-JawaPos-PosKota juga langsung habis sekali lahap. Kalau baca novel aja, Harry Potter, seminggu dua minggu udah khatam. Masa baca Al-Qur'an yang merupakan bacaan wajib umat Islam, masih malas. Malu dong.

Mungkin Anda akan sedikit terbebani dengan target besarnya, yakni khatam dalam sebulan.
Kalau begitu, mari ubah targetnya : 1 juz setiap hari. Lebih ringan kan?
Atau kita ubah lagi targetnya : 2 lembar setiap habis sholat. Nggak terasa berat kan?

Makanya, ayo kita coba. Khatam Al-Qur'an dalam sebulan? Siapa takut :D

Minggu, 07 Agustus 2011

Siapa Yang Sebenarnya Tertipu?

Allah SWT berfirman : (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Al Anfaal ayat 49).

Membaca ayat ini jadi teringat akan kata-kata orang-orang atheis di sebuah forum diskusi di internet (lupa forumnya apaan). Dengan sombongnya mereka berkata, 'Jangan mau ditipu agama', 'agama itu cuma omong kosong', 'agama itu membatasi kehidupan kita' dan omongan ngawur sebangsanya yang intinya mencacimaki dan merendahkan orang-orang beragama (Islam khususnya).

Ah, andaikan mereka tahu dan sadar bahwasanya merekalah yang ditipu oleh setan dan antek-anteknya . . . .

"Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya." (QS Ath Thuur ayat 42).

"Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk." (QS Ar Ra'd ayat 13)

Naudzubillahi min dzaalik. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya syaitan yang terkutuk. . .

Senin, 01 Agustus 2011

Mumpung Masih Ketemu . . .

Alhamdulillah, Allah SWT masih memperkenankan kita untuk bertemu dengan bulan nan mulia ini. Kita bertemu lagi dengan Ramadhan. Subhanallah, sudah berapa banyak Ramadhan yang kita alami sampai saat ini?
Mungkin masih ingat, pencapaian apa saja yang berhasil diraih pada Ramadhan yang lalu?

Jumat, 29 Juli 2011

Memaknai Kalimat Tauhid

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Oke, ini ending dari 4 edisi khotbah selama PKL di KPPBC Malang. Langsung saja, inilah ringkasan dari khotbah pekan pertama PKL, 24 Juni 2011. Tentang keimanan juga, sedikit banyak nyambung sama khotbah pekan kedua (posting sebelum ini).

-----------------------------------------------------------------------------------------

* Konsekuensi kalimat tauhid 'Laa illaha ilallah' :

- menolak adanya sesembahan selain Allah SWT --> tak ada berhala-berhala yang menandingi Allah SWT, menjauhi segala pengagungan berlebihan dan pengkultusan terhadap makhluk

- mencintai Allah SWT lebih dari segala hal lain --> layaknya orang yang jatuh cinta, lakukan yang terbaik untuk yang dicintai. Tak ada yang lebih penting selain mencari ridho Allah SWT dan hal-hal yang membuat Allah senang jika kita melakukannya

- memilih yang haq dan meninggalkan yang batil --> karena yang haq akan mendekatkan diri kita kepada Allah, sedangkan yang batil akan membuat kita semakin jauh dari cahaya dan hidayah-Nya

- mengikatkan diri terhadap segala aturan yang telah dibuat oleh Allah SWT --> yakni Islam, satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah, dan telah disempurnakan, agama rahmatan lil alamin, yang berlaku bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Firman Allah dalam QS Al-Maa'idah ayat 3 : " . . .Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu . . ."

* Untuk meraih derajat ketaqwaan yang sebenarnya, harus dengan keimanan dan keislaman yang sempurna --> masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan sebaik mungkin.

* Hidup dalam Islam, matipun tetap dalam Islam. Firman Allah dalam QS Ali-Imran ayat 102 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. "

* Allah SWT akan menilai sejauh mana kesabaran kita dalam menegakkan agama Islam

-----------------------------------------------------------------------------------------

Sekian poin-poin penting yang dapat penulis tulis ulang di sini (karena tulisannya jelek, jadi nggak semua catatan khotbahnya terbaca T.T )

Semoga secuil ilmu ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Secuil Ilmu Tentang Iman

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kali ini posting dari catatan khotbah Jumat tanggal 1 Juli 2011 kemarin (pekan kedua PKL di KPPBC Malang)

Khotbah Jumat kali ini mengenai aqidah dan keimanan. Tapi maaf, karena keterbatasan saya, cuma sempet mencatat beberapa poin saja, maklum yang diomongin buanyak buanget.

* Kita pasti pernah mendengar kalimat berikut ini : "iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan" --> jadi tidak benar kalau ada orang yang mengaku beriman, tanpa menjalankan ibadah dengan alasan "iman itu kan yang penting yakin" (yakin doang tanpa ada realisasi? Nol besar tauuu... )

* Allah SWT berfirman : "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa" (QS Al Baqarah ayat 21) --> perintah langsung dari Allah agar kita menyembah-Nya agar menjadi orang yang bertaqwa

* Dalam khotbah tadi, disebutkan bahwa 4 hal yang penting dalam keimanan adalah :

- rububiyah : yakni mempercayai bahwa ada Rabb yang mengatur seluruh alam semesta, baik yang terlihat oleh mata maupun tidak, baik yang makro maupun yang mikro, yakni Allah SWT

- ulluhiyah : yakni mempercayai bahwa tidak ada sesembahan lain selain Allah, segala bentuk penyembahan dan penghambaan manusia, hanya kepada Allah SWT

- i'tiqodiyah : yakni hal-hal yang tidak berhubungan dengan tatacara amal

- a'maliyah : yakni hal-hal yang berhubungan dengan tatacara amal

* Orang yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa

----------------------------------------------------------------------------------------

Mohon maaf sekali, karena keterbatasan penulis, maka hanya sedikit hal yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Senin, 25 Juli 2011

Oh Negeriku. . .

Menepati janji saya untuk memposting ringkasan khotbah Jumat selama PKL di Malang, kali ini adalah khotbah dari Jumat ketiga yang akan saya posting (8 Juli 2011). Tema yang dibahas adalah rusaknya negeri ini adalah karena rusaknya para pemimpin negeri.

Khotbah yang sangat menohok, menurut saya. Karena sebagian dari yang mendengar khotbahnya adalah para pejabat pemerintah dari salah satu instansi yang memiliki citra negatif di masa lalunya (sekarang? kurang tahu ya :p sepertinya sih sudah lebih baik).

Khotbah dibuka dengan suatu ajakan untuk menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala ayang dilarang oleh-Nya, yang terutama diwujudkan dalam pengelolaan negeri ini. Karena jika tidak, maka jangan harap negeri ini akan menjadi negeri yang barokah, aman dan sentosa, meski sering digembor-gemborkan sebagai tanah yang gemah ripah loh jinawi.

Allah SWT berfirman "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. . . . " (QS An-Nahl ayat 90)

Adil, adalah suatu tuntutan mutlak bagi setiap muslim dalam berbuat, terutama ketika menyangkut hak orang lain. Apalagi jika hak orang lain yang diurus itu banyak (seorang pemimpin kan ngurusin banyak orang).

Lalu, bagaimana dengan para pemimpin bangsa ini? Ketika banyak rakyat yang masih miskin, makan pun seadanya, sang pemimpin malah ngeluh gajinya gak naik-naik. Ketika rakyatnya kesulitan membeli bahan bakar untuk memasak, pejabatnya rebutan jatah mobil dinas yang masih gres. Ketika jutaan tunas bangsa tak mampu meneruskan pendidikan, yang mewakili suara rakyat berbondong-bondong study banding ke luar negeri.

Adilkah?

Bukankah setiap pemimpin nantinya akan diminta pertanggungan jjawab atas apa-apa yang dipimpinnya? Atas amanat yang diembankan kepadanya?

Sadarkah mereka, bahwa ketidakadilan seorang pemimpin, tidak jujurnya pengelola bangsa ini, kecurangan yang terjadi di berbagai instansi, adalah faktor terbesar dalam perusakan bangsa ini?

Bukankah pemerintah beserta seluruh lembaga dan instansi di dalamnya adalah pelayan masyarakat? mengapa masih sering tidak ingat sama rakyat?

Kalau begini terus, kapan orang-orang negeri ini bebas dari kata 'melarat' ?

*sebuah renungan bagi kita semua, yang kelak akan menjadi barisan pemimpin negeri ini, insyaAllah

Minggu, 24 Juli 2011

Nikmat Senikmat-nikmatnya

Hayooo . . . apa yang ada di pikiran Pembaca sekalian pas ngebaca judul di atas?

Pasti pada mikir yang enak-enak kan?

Makanan enak? Tubuh sehat? Rejeki lancar? Profesi yang dimimpikan? Pasangan hidup yang soleh/solehah? Keluarga bahagia? Atau apapun yang ada di pikiran Anda?

Terserah deh mau mikir apa, saya cuma mau ngebahas suatu nikmat, yang bener-bener begitu iiiiiindah banget, tapi banyak orang yang melupakannya.

Apa coba?

Silahkan tebak.

Yaak, Anda di sana, yang lagi ngebaca blog ini, menjawab dengan benar. Hadiahnya adalah secuil ilmu yang semoga bisa membawa kita ke arah yang lebih baik.

Mau tau? Mau tau beneran nih? Yaudah terusin aja bacanya.

Nikmat iman dan Islam, yang saya maksud di sini, Saudara-saudaraku sekalian.

Hayo ngaku, seberapa ingatkah Anda, bahwa keimanan ini adalah suatu nikmat yang tak terkira? Jangan disangka label "Islam" yang tertera di KTP kita hanya sebagai warisan orangtua, yang dimaknai apa adanya, dijalani apa adanya, tanpa perenungan lebih lanjut. Seolah itu memang hal yang lumrah, apa adanya dan diwariskan secara turun-temurun dari bapak-ibu kita ke kita, ke anak-anak kita, ke cucu kita dan seterusnya. Seperti silsilah kesukuan kita; kalau bapak orang Batak, maka saya juga orang Batak; kalau ibu orang Minang, maka saya orang Minang.
Bukaaan, bukan seperti itu.

Keimanan dan keislaman kita adalah suatu rahmat dari Allah, yang patut disyukuri.
Kita yang merupakan orang-orang Islam dari keturunan (beragama Islam sejak dari sononya, ngikut orangtua) sebenarnya sangat beruntung, karena sudah punya modal awal, tinggal mencari tahu lebih dalam tentang iman dan Islam itu apa sih.
Bandingkan dengan saudara-saudara para mualaf kita yang mendapatkannya dengan susah payah, melalui pencarian akan kebenaran, pergolakan batin, serta pertentangan dengan keluarga (sejujurnya kadang saya iri dengan mereka, karena kadang mereka benar-benar mendapatkan suatu pencerahan yang menyeluruh; tapi saya juga bersyukur deh, diberi freepass Islam melalui keluarga).

Tanpa iman dan Islam, kita akan hidup secara jahiliyah. Tak akan ada aturan yang membatasi kita, tanpa ada tanggung jawab yang membebani kita, tak akan ada kekhawatiran akan apa yang akan terjadi setelah kita mati.
Ah, tak perlu lah kiranya saya memberi contoh kepada pembaca sekalian, akan apa yang dimaksud kejahiliyahan jaman modern. Tak perlu lah saya membahas manusia era digital yang kelakuannya (seringkali, tapi tidak semua) tak lebih bagus daripada binatang. Tak perlu, saya rasa, karena pembaca sekalian juga sudah paham apa yang saya bicarakan.

Dengan nikmat iman dan Islam inilah, kita jadi mengetahui mana yang haq, dan mana yang batil. Mana yang halal, dan mana yang haram. Mana yang boleh dilakukan, dan mana yang dilarang.
Dengan nikmat iman dan Islam inilah, kita jadi tahu, mengapa kita ada, darimanakah asalmula kita, dan bagaimana kita seharusnya berbuat.
Dengan nikmat iman dan Islam inilah, kita jadi tahu bahwa keberadaan kita di sini, saat ini ( termasuk yang sedang membaca blog ini) adalah semata karena ada yang menciptakan dan memelihara kita, beserta seluruh alam semesta ini, dan Dia pulalah yang nanti akan mengakhiri seluruh alam raya ini, hanya kepadaNya lah kita akan kembali. Berkat nikmat iman dan Islam pulalah, kita jadi mengenal "Dia", yakni Allah Subhanahu WaTa'ala.

Ah, sungguh enak jadi orang beriman. Bingung dengan kehidupan yang makin ruwet, kembali saja ke undang-undang dasar yang menjadi sumber dari segala sumber hukum yang seharusnya kita patuhi; Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ada masalah menerpa? No problem, ini semua adalah ujian bagi kita, sebagai batu loncatan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi. Mengalami musibah? Tak lain adalah peringatan bagi kita, agar semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Rejeki kurang lancar? Tenanglah, semua ada jatahnya, kita hanya harus berusaha dan berdoa. Hal yang kita rencanakan gagal total berantakan? Sudahlah, Alah pasti punya rencana yang lebih baik untuk kita.

Nikmat bukan, hidup yang seperti itu? Kalaulah kiranya pembaca sekalian sudah memahami betapa nikmatnya memiliki iman dan Islam dalam diri kita, maka sudah sepantasnyalah kita yang memiliki iman di dalam dada ini, untuk mensyukurinya.
Bagaimana caranya?
Tak lain, adalah dengan menjalankan segala yang diperintahkan oleh-Nya, dan menjauhi apapun yang dilarang oleh-Nya. Lakukan apa-apa yang jika kita lakukan, Allah senang dan ridho atas perbuatan itu, dan hindari segala hal yang jika kita lakukan, Allah akan murka dan membencinya.

Terdengar sederhana memang, namun pasti tak semudah kedengarannya, mungkin begitu pikir Anda. Tapi kalau nggak dicoba, apa kita akan diam saja?

Tapi . . .

Ah sudah nggak pake tapi. Mari kita coba saja sebisa mungkin :)

-----------------------------------------------------------------

Dari khotbah Jumat di Masjid (lupa namanya) KPPBC TMC Malang, 15 Juli 2011

InsyaAllah khotbah dari Jumat-jumat yang lain (ada 4 Jumat) selama saya PKL di sana, akan saya posting juga, itung-itung sebagai 'tebusan' karena selama PKL (20 Juni-15 Juli 2011) dan selama di Malang (pulkam 17 Juni, baru balik Jakarta 21 Juli) saya hampir gak posting samasekali. Maklum, internet di rumah lagi trobel, dan di kantor pas PKL lumayan sibuk, jarang banget bisa onlen, apalagi posting. Tapi nyicil ya, soalnya disambi ngerjakan laporan PKL :p

Jumat, 22 Juli 2011

It's just an excuse . . .

Mohon maaf kalau selama ini saya jaraaang banget, nyaris nggak pernah posting, karena terhitung sejak 20 Juni hingga 15 Juli yang lalu, saya disibukkan dengan kegiatan PKL. Yah, meski sekilas terlihat hanya ikut nimbrung di kantor, ternyata nggak santai-santai amat, dan nggak sempet online setiap saat (apalagi posting). Padahal sebenarnya banyaaaak sekali yang bisa dituliskan selama PKL. Jadi, tunggu ya, nanti kalau ada waktu luang, akan saya post satu-persatu. Soalnya sekarang ini juga lagi nyicil laporan PKL-nya. Doakan saja Laporan PKL saya cepet kelar, biar bisa cepet blogging lagi...

Selasa, 05 Juli 2011

I've Just Heard This Quote . . .

Suatu sore, saya mendengar kalimat ini "Tuhan sudah memperlihatkan pada kita 2 jalan; yang ini jalan ke neraka, yang itu jalan ke surga. Kita diberi pilihan, terserah yang mana. Kita nggak dipaksa kok."

Kalimat yang singkat, padat dan bermakna, bagi saya.

Nggak usah mikirin ruwet-ruwet lah kalau mau ke surga. Tinggal ikutin aja 'jalan ke surga' seperti apa yang ditunjukan oleh Allah.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus"(QS Ali Imran 51).
Dan masih pada surah yang sama, Allah berfirman : "Dan barang siapa yang berpegang teguh dengan (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus" (QS Ali Imron 101).

Sebaliknya, kalau kita mau mengikuti petunjuk-petunjuk ke neraka (kan biasanya, yang dilarang agama adalah yang enak-enak menurut manusia) ya silahkan saja, terserah. Tapi ya inget aja, ujung dari jalan ini adalah neraka.

Sekali lagi, kita nggak dipaksa untuk mengikuti perintah agama, atau menjauhi hal-hal yang dilarang. Terserah. Tapi kita kudu inget aja, segala konsekuensinya kita sendiri yang tanggung.
Mau neraka? Atau kepengen surga? Make your choice

Jumat, 17 Juni 2011

Matarmaja (dan Kereta Ekonomi Jarak Jauh Lainnya); Hanya Untuk Orang-orang Terpilih



Bagi para pelanggan setia Matarmaja dan kereta ekonomi jarak jauh lainnya, pernahkan Anda merasa iri dengan orang-orang yang bisa pulang kampung (atau balik ke kota) dengan moda transportasi yang lebih baik dari Anda? Katakanlah, pengguna setia bus malam, kereta eksekutif/bisnis, atau pesawat terbang? Mungkin Anda berpikir bahwa mereka lebih baik dari Anda, namun tak pernahkah Anda berpikir bahwa KITA (bukan cuma Anda yang setia dengan kereta ekonomi jarak jauh, saya juga lho *shakehand) lah yang lebih baik daripada mereka???

Tahukah Anda, bahwa kita adalah orang-orang yang begitu santai dan hidupnya tidak dikejar-kejar waktu dan deadline meeting atau urusan ini itu? Mereka-mereka yang harus pulang kampung dengan pesawat terbang sejatinya cukup menderita juga. Mereka naik pesawat terbang karena dikejar waktu, keburu ini lah, kesusu itu lah. Sedangkan kita? Gujes gujes tuuuut tuuut . . . . dengan santainya menikmati setiap kilometer yang dilalui, menikmati pemandangan sawah, sungai, jurang, perumahan, atau apapun di sekitar rel kereta.

Sadarkah Anda, bahwa wahana ekonomis ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki fisik prima, untuk menghadapi perubahan suhu yang cukup ekstrim, berkeringat ria ketika siang hari (dan terutama ketika kereta berhenti) sekaligus menggigil kedinginan ketika kereta melaju maksimal menembus pekatnya malam (terutama ketika hujan). Untuk setengah begadang ketika tak ada tempat yang cukup nyaman untuk tidur pulas. Bahkan bagi mereka yang mendapatkankeistimewaan lebih, untuk melatih kekuatan otot kaki dengan berdiri selama sekian persen dari seluruh perjalanan? Tidak, para penumpang wahana eksklusif dan eksekutif tak akan mampu untuk menjalani cobaan fisik serupa ini. Kita lebih kuat dari mereka.

Kalau mau berhitung, sebenarnya pengguna kereta ekonomi ini adalah orang-orang yang paling pintar mengatur keuangan. Bagaimana tidak, untuk menempuh jarak hampir seribu kilometer Jakarta-Malang, cukup dengan Rp. 51.000,00. 20 jam perjalanan. Hitung saja, maka akan Anda dapatkan tarif perjam yang sangat murah. Hanya berkisaar 2500 rupiah perjam. Bayangkan itu sodara-sodara. Lebih murah daripada online di warnet selama sejam. Apalagi jika Anda memilih tidak membeli tiket (alias mbayar nduwur; jangan ditiru yaaa). Terlebih lagi jika kita mendapat bonus waktu penggunaan (kayak internet time-based aja) alias molor. Entah karena ada kecelakaan yang menghalangi jalur kereta Anda, atau karena stasiun banjir, perjalanan Anda bisa extended hingga berjam-jam. Rekor saya sih, 28 jam, ketika ada kereta Argo yang salto di rel di daerah pantura, dekat stasiun Plabuan, membuat pengguna matar (dari Malang ke Jakarta) dipaksa untuk turun, lalu dialihkan dengan bus ke stasiun berikutnya, baru naik matar lagi (yang seharusnya dari Jakarta ke Malang). Jadi tarif perjamnya turun drastis sampai di bawah Rp. 2.000/jam. Luar biasa murah kan?
Sedangkan para pengguna pesawat coba, sekian ratus ribu dihabiskkan untuk sejam perjalanan Jakarta-Malang? Rugi abis lah itu namanya. . .

Hanya orang-orang yang pemberani dan selalu waspada yang mampu untuk tetap setia menaiki wahana ini. Menghadapi aksi copet dan orang-orang berniat tak baik dalam kereta, yang kita tak tahu kapan mereka akan menyerang. Barangkali salah satunya mengincar dompet atau henpon Anda sejak Anda menaiki gerbong, ketika berdesak-desakan di pintu masuk. Atau mengincar laptop dalam tas Anda, dan menunggu waktu untuk beraksi ketika Anda terlelap.

Fitur lain yang bisa dimanfaatkan adalah sebagai bahan ajar sosiologi atau antropologi bagi mahasiswa ilmu sosial. Lihat saja, ada berbagai jenis manusia di dalam perut ular besi yang satu ini. Mulai kaum yang benar-benar ekonomis (sampai-sampai tak mampu beli tiket), sampai kaum eksekutif yang ketinggalan wahananya atau bahkan kaum penerbang yang tak kebagian tiket. Anda bisa belajar banyak tentang nilai-nilai kemanisaan dan budaya sepanjang perjalanan. 20 jam sodara, bayangkan, berapa SKS kuliah itu. . .

Moda transportasi ini juga sebenarnya sangat selektif dalam memilih para penumpangnya, terutama dalam sikap mental mereka. Hanya orang-orang berjiwa besar, senang mengalah dan berjiwa sosial tinggi, yang merelakan kendaraan yang ditumpanginya berhenti hanya sekedar untuk memudahkan kendaraaan lain lewat duluan (baca:kereta eksekutif, kereta bisnis, dan bahkan kereta pengangkut barang harus lewat duluan). Benar-benar, hanya orang-orang yang berdada besar. . .eh, salah, maksudnya berlapang dada dan berhati besar yang mampu mementingkan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri.

*sekedar tulisan untuk membesarkan hati para pengguna kereta ekonomi

Disadari atau tidak, sarana transportasi berwujud Matarmaja dan sejenisnya adalah salah satu sarana melatih mental positif. Kita diajari untuk bersabar menghadapi lamanya perjalanan. Kita dituntut kreatif untuk mengatasi kebosanan. Untuk saling menguatkan ketika ada yang mulai jenuh dan mulai negatif. Kita menjadi lebih peka ketika melihat orang-orang yang lebih sengsara daripada kita (misalnya, sekeluarga yang naik tanpa tiket duduk, padahal ada anak-anak dalam kelompok mereka). Dan masih banyak manfaat lainnya jika kita mau melihat dengan mata terbuka dan berpikir positif; bukan hanya memaki keadaan yang sudah Anda pilih sendiri. Membeli tiket matarmaja dan KEJJL = siap menghadapi perjalanan bersamanya, apapun resikonya.

Jadi, mengapa masih merasa minder dengan tiket kereta ekonomi Anda?

Mari memilih Matarmaja :D

Matarmaja; Sering Panas, Kadang Juga Dingin

Kalau kereta eksekutif ada AC-nya, kereta bisnis ada kipas anginnya, maka Matarmaja punya AJ (angin jendela).

Well, sebagian orang ogah naik Matarmaja (dan kereta ekonomi lainnya) dengan alasan gerah dan panas. Tentu saja panas, lha wong Jakarta. Nggak ada AC, kipas angin pun, keknya gak selalu berfungsi (kadang nyala, kadang nggak; dan berbeda kelas dengan kipas angin kereta bisnis). Untungnya, para pedagang asongan selalu saja membawa barang-barang sesuai kebutuhan di dalam kereta api, salah satunya adalah kipas (terbuat dari anyaman bambu, harganya seeribu rupiah saja; kalau mau murah lagi, beli aja koran bekas yang biasanya dijual untuk alas duduk/tidur di bawah bagi kaum tak berkursi, cuma gopek dan multifungsi; mau lebih murah lagi? Bawa aja sendiri sebelum naik kereta, gitu aja kok repooot ! ).

Panasnya Jakarta emang sudah rahasia umum, apalagi Anda berada dalam suatu ruangan yang terbuat dari logam dengan ventilasi yang kurang memadai (baca:gerbong) dan ada lebih dari seratus orang di dalamnya, maka rasanya sudah seperti neraka bagi sebagian orang. Kalau kereta lagi jalan mah lumayan, angin masuk. Kalo lagi berhenti di stasiun, mbooook. Sanap lop kalo orang Malang bilangnya.

Saya pernah mendengar dialog konyol dalam sebuah kereta ekonomi (bukan Matarmaja; tapi mungkin di dalam Matarmaja juga ada dialog semacam ini) ketika kereta berhenti di suatu tempat antah berantah (malem sih, gak tau nama stasiunnya; yang jelas cuma stasiun kecil di pinggir sawah, dan kereta ekonomi berhenti untuk sekedar menunggu kereta lain lewat).

#penumpang satu : Jancok, panase koyok ndek neroko rek
*penumpang dua (sok bijak) : lhaiyo, koen iku ngomong ngunu iku loh, wes tau ngerasakno neroko ta?
-saya menimpali : lek neroko e koyok ngene mas, tak jamin rame. Kan enak, masiyo panas, sek onok wong dodolan ngombe ambek panganan

Oke, kita semua yakin bahwa penumpang satu belum pernah ke neraka, dan neraka pastinya sangat mengerikan di luar gambaran manusia, jadi nggak usah memperdebatkan nerakanya.

Di waktu malam, justru hal yang berkebalikan terjadi.

Ketika kereta melaju, angin dingin nan jahat menyelinap masuk dari tiap ventilasi yang ada. Memasuki celah-celah pakaian para penumpang dan jadilah masuk angin (kalau si penumpang nggak tahan dingin; seperti saya :p ). Ini makin parah ketika musim hujan tiba. Ventilasi yang jadi teman di kala cuaca panas, mendadak jadi musuh ketika hujan mengguyur deras. Bocor gilak. Airnya kadang sampai merembes ke lantai, ke kursi, kemana-mana deh. Parahnya kalau ada ventilasi yang sulit ditutup, jadi menganga gitu. Maka bersiaplah untuk sedikit berbasah-basah.

Masuk angin? Itu resiko. Kebasahan? Itu nasib. Untungnya (sekali lagi), para pedagang asongan selalu adaaa aja yang membawa barang sesuai kebutuhan. Minyak kayu putih, tolak angin dan sebangsanya, permen jahe, koyo, dan tentu saja, kopi-popmie-susu anget.

Yah, itulah dilema Matarmaja dan KEJJL(kereta ekonomi jarak jauh lainnya). Seringkali bikin kita bmandikeringat kepanasan, kadang juga bisa bikin kita menggigil kedinginan. Sudah resikonya, jadi terima saja dan jangan mengeluh yaaa :p

Kamis, 16 Juni 2011

Bedanya Apaaaa????

Di Stasiun Bandung, ada plang di peron tulisannya demikian . . .

Kaga jelas? Nih lebih jelas . . .

Bukannya saya sok pinter, tapi juga bukannya nggak nggak ngerti english samasekali. . .
Tapi kenapa ditulis dua kali dengan bahasa inggris, dan berbeda penulisan?
North exit, lalu ada juga North gate
South exit, tapi ditulis juga South gate

Saya cuma penasaran aja sih, kenapa didobel yang penulisan bahasa inggrisnya? Ada yang bisa bantu???

Di Atas Langit Bandung; Contrails atau Chemtrails?

Kali ini saya membahas jejak-jejak asap di langit yang seringkali menimbulkan rasa ingin tahu bagi siapapun yang melihatnya. Pertama kali saya ngelihat hal ini, kalau nggak salah pas masih SD (atau SMP ya? Lupa). SMA gak pernah tau (atau gak pernah merhatiin ya? Lupa) .

Kalau Bro Enigma membahasnya dari sudut pandang konspirasi, saya cuma ingin memamerkan beberapa contrails (semoga saja bukan chemtrails) yang kebetulan saya lihat di langit kota Bandung tadi pagi. Maaf kalau hasilnya jelek, maklum, kamera henpon (belum punya kamera pro sih). Mungkin ada pembaca yang bersedia meminjami saya kamera pro miliknya?? :D (ngarep)

Let's check it out . . .

Yang ini, sebut saja contrail 1, saya ngeliat emang ada pesawatnya . . .

Kalo yang ini, sebut saja contrail 2, tau-tau aja ada, nggak sempet ngeliat sumber asapnya . . .

Kalau yang ini, ada pesawat yang melintas, membentuk contrail baru (sebut saja contrail 3) yang menyilang contrail 2 tadi, dan terbentuklah simbol 'X' superbesar di langit . . .






Dan ini adalah contrail 3 ketika meneruskan perjalanannya . . .



Ini, bisa jadi contrail lain, sebut saja contrail 4, atau bisa saja hanyalah contrail 1 yang terlihat dari sudut pandang lain (maaf, saya hilang arah selama di Bandung). Tipis banget emang, tapi perhatiin deh, di atas foto pohon, ada segaris tipis awan lurus. . . (maaf sekali lagi, motretnya pake kamera henpon doang sih)


Man vs Nature

Bikinan manusia cuma bisa merusak alam?



Tapi kadang, hal-hal bikinan manusia juga bisa terlihat begitu sinkron dengan alam :)



* inside Argo Parahyangan, Jakarta-Bandung

Cintai Produk Indonesia : Semoga Bukan Cuma Slogan

Seringkali kita melihat tulisan semacam ini, di berbagai tempat dan kesempatan. Tapi apa nyatanya demikian?

Sayangnya belum. Kebanyakan orang indonesia masih brand minded, lebih milih barang yang bermerk dan berharga mahal, padahal belum tentu produk lokal yang 'kurang bermerk' tuh kalah kualitasnya.

Memang sih, banyak produk dalam negeri yang kualitasnya masih di bawah standar produk luar negeri yang kita pakai sehari-hari, tapi apa salahnya mulai mencoba memaksimalkan produk-produk dalam negeri.

Memang sih, belum semua produk kebutuhan umat manusia sudah bisa diproduksi di dalam negeri, tapi setidaknya, kalau ada barang-barang produksi dalam negeri, kenapa nggak kita coba pakai?

Sekedar contoh skala besar saja, beberapa SMK di Indonesia (contohnya SMK Singosari, alias SMK Mondoroko, kata orang pribumi) sudah mampu merakit mobil (beneran, bukan mobil mainan), kenapa para anggota DPR yang (ngakunya) terhormat, atau para pejabat dari berbagai instansi negeri ini nggak pesen ke mereka aja ya kalau ada pengadaan mobil dinas? Lebih murah dan lebih menunjukkan cinta tanah air (agak pemborosan sih, tapi gak boros-boros banget lah dibandingkan kalau beli mobil impor; ditambah lagi mempromosikan mobil-mobil karya anak bangsa). Kalaupun nantinya kualitasnya masih kurang memuaskan, kan mereka yang merasakan duluan (itung-itung mereka sebagai konsumen percobaan) sehingga nantinya, biar kualitasnya lebih bagus, harus ada dana untuk pengembangan lebih lanjut.

Kalau Pindad sudah bisa bikin 'panser nasional' untuk TNI (dan sudah operasional) masa mobil nasional belum ada?

Semoga saja ini bukan cuma slogan, namun juga untuk diimplementasikan. Kalau bukan kita sendiri yang memakai produk dalam negeri, siapa lagi?

Minggu, 12 Juni 2011

Belajarlah dari Kesalahan

anonymous -- "Sometimes, you didn't even realize your mistakes till it's been too late, and when it's been too late, it's another mistake".

Maka belajarlah untuk menjadi peka terhadap apa-apa yang kita kerjakan. Ketika kita pikir itu benar, belum tentu memang benar. Bahkan ketika kita memang benar, belum tentu orang lain menangkap maksud kita dengan benar.

Lakukan hal yang benar, dengan cara yang benar.

Mustahil untuk tidak melakukan kesalahan, tapi jangan sampai Anda melakukan kesalahan dengan sengaja. Ketika Anda melakukan suatu kesalahan, bahkan meski itu bukanlah suatu kesengajaan, bukan hanya itu bisa menyakiti orang lain, itu juga bisa menurunkan nilai Anda di hadapan orang tersebut; apalagi jika itu merupakan suatu kesengajaan dan Anda samasekali tidak menunjukkan penyesalan dan meminta maaf, muke Lu jauh...

Maka berhati-hatilah dalam berbuat.

Jangan sampai Anda melakukan kesalahan sepele yang seharusnya bisa dihindari, yang merugikan orang lain dan Anda sendiri.

*pengalaman pribadi

Sabtu, 11 Juni 2011

Kersen Hijau-Merah

Saya pernah baca di sebuah situs berita tentang buah apel yang mengalami mutasi, sehingga memiliki warna setengah merah, dan setengah hijau, di mana pembagian warna itu tepat di tengah-tengahnya.

Dan beberapa waktu lalu, saya sempat menemukan suatu kejadian serupa, pada buah ceri, atau kersen.

Ini fotonya :


Saya nggak tahu apakah ini hasil mutasi juga, atau hanya kematangan yang tidak merata karena sebab lain. Soalnya, setau saya, gak umum aja kematangan yang kayak gini. Sepanjang saya pernah tahu, biasanya kersen setengah matang tuh, warnanya mengalami perubahan yang merata. Dari ijo, terus muncul bintik-bintik merah, di seluruh permukaan, terus warnyanya jadi ijo agak kuning, terus mendekati oranye, baru jadi merah. Lha yang ini, satu sisi merah, sisi lain masih ijo (meski batas warna merah sama ijonya gak seekstrim apel tadi). Yang jelas, ketika dimakan, rasanya setengah-setangah. Bagian yang berwarna merah, sudah matang, empuk, manis dan berair. Sementara yang masih hijau, masih mentah, agak keras, sepet dan kurang berair.

Wallahu'alam bish showab

Jumat, 10 Juni 2011

Sombong? Nggak Banget Laaah . . .

Satu hal sederhana, yang sering kita remehkan, namun bisa membawa celaka pada kita.

Yup, sifat sombong. Alias takabur.

Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk sorga, seseorang yang di dalam hatinya ada sebijih atom (dzarrah) dari sifat sombong”. Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakainnya itu indah atau sandalnya juga baik”. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain” (HR Muslim)

Manusia tidak berhak untuk sombong, karena memang tidak punya sesuatu apapun untuk disombongkan. Emang apa yang bisa disombongkan?
Ilmu dan gelar master of this, master of that?
Kekayaan melimpah sampai-sampai mampu membeli pulau pribadi dan seluruh isisnya untuk kebutuhan tujuh turunan?
Keturunan ningrat kerajaan masa lalu yang nama rajanya ada di buku sejarah?
Ketampanan/kecantikan yang bikin tenar macam bintang Hollywood?
Jabatan dan kedudukan tinggi beserta massa pendukung yang buanyaknya bisa bikin jalanan macet kalo lagi konvoi menggalang dukungan?
Punya bakat multitalenta dan prestasi mentereng sampai-sampai perlu ruang khusus untuk nyimpen piala medali dan piagam penghargaan?
Apa lagi hayo, coba sebutin satu-satu.

Sadar nggak sih, kalau itu semua tuh cuma titipan dari Allah SWT?

Sadar nggak sih, kalau sebenarnya kita nggak punya apa-apa? Apakah nanti ketika kita mati, semua itu akan kita bawa?
Adakah kita punya ilmu untuk memperpanjang umur dan membangkitkan mayat dari kuburnya?
Adakah kekayaan kita dapat digunakan untuk menambah umur kita, menunda kematian walau barang sehari?
Adakah raja-raja masa lalu yang darahnya mengalir di nadi kita akan menolong kita dari pelukan Izrail?
Akankah ketampanan/kecantikan akan memalingkan wajah malaikat Munkar dan Nakir?
Adakah jabatan tinggi nanti mampu meringankan hukuman kita, sebagaimana pengadilan dunia memberi toleransi pada orang-orang besar?
Adakah massa pengikut kita akan setia sampai-sampai mengikuti dan menemani kita nanti dalam kubur?
Adakah piala, medali dan piagam akan membuat para pengadil di alam barzakh terkesan dan memberi nilai plus pada kita, seperti jaman penerimaan masuk sekolah dulu?
Adakah?
Nggak kan? Lalu apa yang mau disombongkan, wahai manusia?

Imam Ghazali dalam kitabnya, ”Ihya’ ’Uluumuddiin” menulis bagaimana mungkin manusia bisa bersifat sombong sementara dalam dirinya terdapat 1-2 kilogram kotoran yang bau?

Bagaimana kita bisa bersikap sombong, padahal kita adalah makhluk lemah yang jauh dari sempurna, penuh dosa, pernah melakukan banyak maksiat, dan berlumur aib?

Kita samasekali tak berhak untuk memiliki sifat sombong, wahai Saudaraku. Dari al-Aghar dari Abu Hurarirah dan Abu Sa’id, Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt berfirman; Kemuliaan adalah pakaian-Ku, sedangkan sombong adalah selendang-Ku. Barang siapa yang melepaskan keduanya dari-Ku, maka Aku akan menyiksanya”. (HR Muslim)

Terlebih lagi, masih adakah keinginan untuk menyombongkan diri ketika sifat sombong itu adalah salah satu hal yang tidak disukai Allah SWT?

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Luqman ayat 18)

Sekaligus merupakan tiket gratis masuk neraka?

"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al Mu'min ayat 60)

(Dikatakan kepada mereka): "Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong."(QS Al Mu'min ayat 76)

Sekaligus jaminan tertutupnya pintu surga?

“Tidak akan masuk sorga orang yang di hatinya ada sebiji sawi kesombongan” (HR. Muslim)

Jadi, masihkah kita ingin menyombongkan diri?

Khotbah Jumat : Rajab Bulan Tepat Untuk Taubat

Assalamu'alaikum Pembaca sekalian,

Khotbah Jumat kali ini membahas tentang salah satu cara meraih keridhoan Allah SWT, yakni dengan bertaubat. Apalagi sekarang adalah bulan Rajab, momen yang pas untuk kita bertaubat.

Bulan Romadhon adalah bulannya umat Nabi Muhammad SAW, sementara Sya'ban adalah bulannya Rasulullah SAW sendiri, maka Rajab ini adalah bulannya Allah Subhanahu Wata'ala. Maka, hendaknya kita tidak menodai bulan ini dengan perbuatan-perbuatan maksiat ataupun mendzholimi diri sendiri. Dalam satu riwayat, dikisahkan Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Uzair, "Wahai 'Uzair, jika engkau melakukan dosa kecil, maka janganlah melihat kecilnya dosa, tapi lihatlah kepada Dzat yang engkau durhakai". Ya, di hadapan Allah yang Maha Besar, sekecil apapun dosa yang kita lakukan, tetap saja itu adalah sebuah dosa yang bernilai besar.

Di bulan ini kita dianjurkan memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Salah satu yang sering diajarkan adalah dengan membaca "Robbighfirli warhamni watubb alayya" setiap habis sholat subuh dan maghrib, masing-masing sebanyak satu kali ( menurut salah satu sumberlain, malah menyebutkan setiap selesai sholat fardhu, sebanyak 70 kali. Kerjakan yang mana saja, asal istiqomah, dan makin banyak makin baik tentunya). Insya Allah, dengan mengamalkannya, kita akan dilindungi dari api neraka (tentunya jika kita juga bersungguh-sungguh bertaubat, tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi).

Sungguh mudah 'fasilitas' taubat bagi kita, umat Nabi Muhammad SAW. 'Hanya' dengan istighfar (dan tentu dengan taubat nasuha yang tulus) dosa kita bakal diampuni. Bandingkan dengan umat Nabi Musa As, ketika mereka hendak bertaubat dari menyembah patung anak sapi bikinan Samiri. Ketika itu, sebagian dari umat Nabi Musa As yang masih 'selamat' dari kesesatan bikinan Samiri, ingin bertaubat dan menghadap pada Nabi Musa As. Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa As, bahwa agar taubat mereka diterima, dan agar anak istri yang telah mereka sesatkan diampuni dan dimasukkan ke dalam surga, mereka harus membunuhi diri mereka sendiri, yakni, mereka yang belum 'tersesat' harus membunuhi kerabat-kerabat mereka, anak istri yang telah mereka sesatkan. Dan Allah SWT memberi sedikit keringanan kepada mereka dengan menurunkan kabut tebal, sehingga anak istri mereka tidak melihat bahwa suami dan ayah mereka sendirilah yang membunuh mereka.

"Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu[49]. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."" (QS Al Baqarah ayat 54)

Bayangkan saja sendiri deh. Syukur alhamdulillah kita terlahir sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah menerima taubat hambaNya selama belum sakaratul maut.”

Maka, Kawanku sekalian, mumpung nafas ini masih berhembus, mumpung jantung ini masih berdetak, mumpung ruh ini masih melekat pada jasad, mari kita memperbanyak istighfar, memohon ampunan dan bertaubat kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman ; "Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Mari bertaubat . . .

Senin, 06 Juni 2011

I'm back

Saya kembali. Ya, cuma itu yang ingin saya sampaikan setelah selama liburan yang kurang lebih 2 pekan ini saya jarang posting (cuma sekali saja posting selama liburan kemarin). Jangankan posting, online pun jarang. Maklum lah, pulang kampung mana bisa disamakan dengan di jakarta. saya pasti bakal dimarahin kalau di rumah kerjaannya online melulu. Di rumah adalah jatahnya bercengkrama dengan keluarga dan teman-teman. Jadi maaf saja kalau ada yang menunggu kisah-kisah dari si gundul. Maaf membuat Anda menunggu (emang ada yang menunggu? Ge-eR banget sih). Well, cukup sekian sajalah salam pembukanya. Semoga kedepannya nanti saya bisa lebih kreatif dan bisa bikin lebih banyak postingan yang bermanfaat untuk semua pembaca. . .

Baiti Jannati

Tak peduli kemanapun kau merantau, kau pasti akan tetap ingin kembali, sejauh apapun jarak yang akan kau tempuh

Tak peduli seindah apapun tempatmu di tanah rantau, kau pasti akan tetap merindukan rumahmu, sesederhana apapun rumahmu itu

Tak peduli sebawel apapun ibumu, kau akan tetap ingin mencium tangannya, karena kasih sayang dan kelezatan masakannya yang tak tertandingi

Tak peduli segalak apapun ayahmu, kau pasti ingin memeluk erat dirinya, karena perhatian dan nasihat-nasihat bijaknya tak terkalahkan

Tak peduli sejahil apapun kakakmu, kau akan tetap merindukannya, untuk sekedar berbagi cerita dan saling menjahili satu sama lain

Tak peduli seberisik dan semanja apapun adik-adikmu, kau pasti ingin kembali dan menjahili mereka

Tak peduli betapapun menyebalkannya tetangga-tetangga, kau pasti ingin pulang dan sekedar melewati rumah mereka, dan mereka akan menyapa 'apa kabar di sana'

Tak peduli kemanapun kau merantau, kau pasti akan tetap ingin kembali, sejauh apapun jarak yang akan kau tempuh

Jumat, 27 Mei 2011

Khotbah Jumat : Berbakti Pada Kedua Orangtua

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Setelah absen cukup lama, akhirnya saya bisa kembali online dan posting lagi tentunya.
Oke,langsung saja pada intinya.

Khotbah Jumat kali ini, menyebutkan 2 dari 15 hal yang merupakan 'indikator' pantas atau tidaknya suatu negeri ditimpa bencana. Jika tanda-tanda ini muncul dan sudah membudaya, maka bisa dibilang negeri tersebut masuk kategori layak ditimpa bencana.

Dalam khotbah ini, hanya diulas 2 hal saja, yakni :
- ketika seorang lelaki lebih patuh pada istrinya daripada ibunya, dan bahkan menyakiti hati ibunya
- ketika seseorang begitu loyal dan hormat pada teman-temannya, namun mendurhakai bapaknya

Intinya sih sama, durhaka ke orangtua, yan kayaknya sudah mulai ngetren di negeri kita tercinta. Liat aja, berapa banyak berita anak ngebunuh ortunya gara-gara masalah sepele doang?

Betapa pentingnya berbakti pada kedua orangtua dalam ajaran Islam, bahkan diriwayatkan bahwa Allah lebih ridho kepada seseorang yang berbakti kepada orangtuanya meski orang tersebut masih banyak dosa dan maksiat; dibandingkan dengan seorang ahli ibadah yang menyakiti hati orangtuanya. (ridho Alah diberikan dalam bentuk hidayah kepada si ahli maksiat nan bebakti pada orangtua, sehingga dia bertaubat dari maksiat yang dilakukannya. Dan tentu saja ini bukan alasan untuk tetap bermaksiat)

Yang dicontohkan, adalah kisah salah satu sahabat yang mengalami sakratul maut, namun tak kunjung bisa mengucap kalimat tauhid bahkan ketika ditalqin oleh Rasulullah. Lalu Rasulullah bertanya kepada para sahabat, apakah ibu dari orang tersebut masih hidup. Lalu sahabat mengiyakan, dan Rasulullah menitahkan kepada salah satu di antara sahabat untuk mengabarkan kepada sang ibu, bahwa Rasulullah memanggilnya;dan jika beliau berhalangan, maka Rasulullah lah yang akan mendatangi sang ibu. Maka seorang sahabat pun berangkat menjemput sang ibu dari pria yang tengah sakratul maut tersebut, dan sang ibu pun berkata bahwa sepantasnyalah dia yang mendatangi Rasulullah. Ketika tiba di tempat anaknya yang tengah mengalami kesulitan mengucap kalimat tauhid, maka sang ibu pun berkata pada Rasulullah bahwa si anak pernah menyakiti hatinya. Namun karena tak tega melihat penderitaan si anak, di hadapan Rasulullah, dia pun mengatakan bahwa dia sudah ridho pada anaknya. Dan si anak pun mampu mengikuti kalimat tauhid yang diucapkan ketika Rasulullah mentalqinnya.

Kisah lain, adalah ketika seorang sahabat meminta ijin pada Rasulullah untuk ikut pergi berperang. Lalu Rasulullah bertanya padanya, perihal apakah ibunya masih hidup. Dan sahaba tersebut mengiyakan. Maka Rasulullah pun menyuruhnya untuk kembali pada ibunya dan berbakti padanya.

Kisah lain, adalah ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah perihal siapakah yang paling berhak mendapat penghormatan dan penghargaannya. Rasulullah menjawab, "ibumu". Sahabat tersebut bertanya lagi, dan Rasulullah pun memberikan jwabana yang sama. Sahabat tersebut bertanya untuk kali ketiga, dan Rasulullah masih memberikan jawaban yang sama. Baru ketika sahabat tersebut bertanya kali keempat, Rasulullah menjawab "ayahmu".

Berbakti pada kedua orangtua merupakan kewajiban kita, bagaimanapun keadaan mereka, bahkan ketika orangtua kita adalah non muslim, kita tetap harus menyayangi dan berbakti pada mereka, meski hanya sebatas dalam perkara duniawi. Jika orangtua sudah meninggal, maa doakanlah mereka agar mendapat tempat yang mulia di sisi Allah dan lakukanlah amalan-amalan yang diniatkan pahalanya untuk mereka.

Para pembaca, kapan terakhir kali bertemu atau setidaknya menelepon kedua orangtua dan menanyakan kabar mereka? Kapan terakhir kali kita menyenangkan hati mereka? Kapan terakhir kali kita mendoakan mereka?
Mari kita lakukan, selagi masih ada kesempatan . . .

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Senin, 16 Mei 2011

Selamat Ulang Tahun!!!!!!!

Kalau ada di antara kita yang ulang tahun, biasanya, rekan-rekan memberi ucapan 'selamat ulang tahun', doa semoga panjang umur de el el, kadang diiringi permintaan traktiran, serta kadang, keusilan yang terlampau jahil dengan maksud agar yang ulang tahun merasa hari itu begitu meriah dan pantas dikenang.

kadang keusilannya di atas batas kewajaran. Mulai sebatas menyiram dengan air, menambahkan telur, bahkan kadang tepung juga. Hm, tinggal dikocok, terus digoreng, bisa jadi camilan tuh.
Tentu saja, bagi Anda-anda yang sudah berpikir dewasa, nggak patut lah kiranya merayakan ulang tahun kawan dengan cara-cara norak semacam itu (saya juga pernah melakukannya kok, tapi sekarang sudah nggak). Mubadzir, mending dibikin kue aja. Tepung, telor, air, tambah gula mentega de el el, terus dimakan bareng-bareng.

Eh, mulai ngelantur deh.

Oke, kembali ke topik. Sadar nggak sih, kalau sebenarnya orang yang berulang tahun tuh (sebenarnya, kita semua juga sih), bukan bertambah umurnya, melainkan berkurang umurnya. Kalaulah, misalnya dia dijatah hidup 60 tahun, kalau berulangtahun yang ke 17, maka jatah hidupnya tersisa 43 tahun lagi. Berkurangnya jatah hidup, tentu bukan sesuatu yang pantas dirayakan dengan hura-hura apalagi perbuatan yang mubadzir seperti tadi (lempa tepung+telur). Harusnya, kita prihatin, karena setiap detiknya, jatah hidup kita berkurang. Kita akan semakin dekat kepada yang namanya kematian.

Ah, postingannya nggak asik nih, masih muda kok bicara kematian, mungkin begitu protes Anda.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Alloh, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR: Ath-Thabrani, dishahihkan al-Mundziri)

Toh faktanya, semua orang juga akan mengalami mati kan?

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. " (QS Al Ankabut, 29:57)

Dan justru itu, mumpung masih muda, sebaiknya kita sudah mempersiapkan perbekalan kita untuk nanti saat ajal menjemput. Bukan dengan persiapan menumpuk harta untuk ikut dipendam di makam seperti fir'aun Mesir dan Raja-raja China kuno, melainkan dengan mempersiapkan 3 bekal seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)

Jadi, apa salahnya memperbanyak mengingat kematian?

Kita Makin Dekat (hanya sebuah renungan)

Setiap satu nafas kita hirup, kita mendekat kepada Sang Pemberi Nafas sebanyak satu hembusan nafas. . .

Setiap jantung kita berdetak, maka kita akan mendekati Sang Pemberi Detak Jantung, sebanyak satu denyutan jantung. . .

Setiap kali mata kita berkedip, maka semakin dekatlah kita, kepada Sang Pemberi Kedipan Mata, sedekat satu kedipan mata. . .

Setiap detik yang kita lalui, setiap menit yang terlewati, setiap jam, setiap hari, setiap saat, akan selalu membawa kita makin dekat kepada Sang Pemberi Hidup.

Maka, ketika kita sadar bahwa kita akan kembali kepada-Nya,

akankah kita masih melewatkan sisa usia kita dengan kesia-siaan,
dengan masih memperbanyak perbuatan dosa,
dengan meremehkan ibadah-ibadah,
atau dengan sombongnya berkata "ah, tobat ntar kalau sudah tua" ?

Akankah kita melewatkan setiap kesempatan untuk memperbaiki diri,
untuk menambah amal ibadah kita,
untuk mempersiapkan hari di mana raga tak lagi sanggup menopang jiwa,
ketika nyawa akan dikembalikan kepada Sang Pemberi Kehidupan?

----------------------------------------------

Masing-masing dari kita akan kembali kepada-Nya, dengan perbekalan yang telah kita kumpulkan di dunia.

Perbekalan itu adalah : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang selalu mendoakan dirinya.

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

*hanya sebuah renungan harian untuk kita renungkan sehari-hari

Minggu, 15 Mei 2011

Sepenggal Ilmu . . .

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Ceramah ini terdengar dari kosan saya, saat ada peringatan seorang ulama yang mendirikan madrasah di deket kosan. Saya nggak ngikutin adri awal, kebetulan baru sampai di kosan nih, ceramahnya udah dimulai. Jadi yang saya catat hanya sebagian.

-------------------------------------------------------

*Peringatan haul semacam ini adalah sebagai peringatan bagi kita, bahwa kita hidup di akhir zaman.
Dimana salah satu dari tanda-tanda hari akhir adalah dicabutnya ilmu hikmah. Dalam suatu hadits disebutkan,
"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) hamba-hambaNya. Tetapi Allah Ta’ala menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim-ulama sehingga apabila tidak tertinggal satu orang alimpun, manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan." (Hadits riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidhi dan Ibn Majah)

*Ulama bukanlah suatu gelar yang diberikan oleh manusia, melainkan disebutkan dalam Al Quran dan As Sunnah.

Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah: 11)

Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para nabi. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), dirham (perak), tetapi mereka meninggalkan warisan berupa ilmu.(HR Ibnu Hibban dengan derajat yang shahih)

Ini berbeda dengan sebutan bikinan manusia, seperti Gus, Kyai, Pak Haji dan sebagainya.

* Ulama adalah orang yang paling mengerti, mengerti bahwa hanya Allah-lah yang harusnya ditaati dan ditakuti (murkanya).

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[oran yang berilmu]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir: 28)

Taat dan takut, hanya pada Allah. Bukan pada para penguasa yang jauh dari nilai-nilai Islam, bukan pula pada penguasa yang mempunyai banyak uang (kekuatan ekonomi).

*Ketika suatu negeri mulai membenci para ulama, maka jangan harap negeri itu akan mendapat keberkahan dari Allah. Lalu bagaimana dengan negeri kita yang mulai ikut-ikutan 'memburu' para ulama dengan dalih 'memberantas terorisme dan ekstrimisme', ikut-ikutan perang salib ala barat? Kenapa pula yang diberantas bukan korupsi dan rekan-rekannya, bukan aliran sesat, bukan simpatisan zionis laknatullah (yang kemarin sempet-sempetnya mengikuti peringatan 'berdirinya' suatu negara penjajah yang bahkan legalitasnya tidak sah di mata dunia)?? Suatu PR besar bagi umat Islam di negeri ini.

*Satu lagi tanda-tanda kiamat, adalah ketika banyak dibangun pasar-pasar secara bermegah-megahan dan berdekatan. Sementara, masjid juga dibangun bermegah-megahan namun tidak ada yang memakmurkan. Itulah sebabnya para musuh Allah tidak takut dengan bbanyaknya masjid di seantero negeri. karena mereka tahu bahwa masjid-masjid tersebut sepi, tidak ada yang memakmurkan.
Mereka lebih takut dengan pembangunan madrasah-madrasah dan pondok-pondok, karena mereka tahu, di sanalah para pejuang Allah akan dididik dan ditempa.

-----------------------------------------------------------------

Saya lupa tadi ending ceramahnya dimana, jadi yang saya tulis hanyalah sejauh yang saya bisa ingat. yang jelas sih, tadiada pembacaan doa lagi, terus hadirin iinstruksikan untuk membentuk shaf-shaf untuk mempermudah panitia membagikan suguhan. Sepertinya sih, nasi kebuli lagi (biasanya sih begitu).

Mohon koreksi, atau tambahan dari para pembaca yang tahu lebih banyak daripada saya. . .

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh